----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 16/III/15-21 Mei 2000
- ----------------------------------------

MENGAPA HARUS GUS IM?

(POLITIK): Hasyim Wahid, adik kandung Presiden jadi staf ahli BPPN.
Hasyim Wahid memang berjasa membawa Cacuk Sudarijanto jadi Ketua BPPN.

Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) memang lahan empuk, selain
Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dua sektor yang menjanjikan
kelimpahan harta benda itu kini memang "dikuasai" orang-orang sekitar
Gus Dur. Di sektor BUMN, Rozy Munir, Ketua PBNU, orang dekat Gus Dur
dan sepupu tokoh NU lainnya KH Said Aqiel Siraj, kini menguasai Kantor
Menteri Penanaman Modal dan Pendayagunaan BUMN, setelah berhasil
membujuk Gus Dur untuk mendepak Laksamana Sukardi.

Lalu, Cacuk Sudarijanto, juga orang dekat Gus Dur dan Hasyim Wahid,
adik Gus Dur yang biasa dipanggil Gus Im, jadi Staf Ahli  Bidang
Khusus BPPN. Staf Ahli Bidang Khusus sebenarnya tak ada sama sekali
dalam struktur BPPN, dan jabatan itu tiba-tiba saja muncul bersamaan
dengan bergabungnya Gus Im di lembaga yang menangani aset perbankan
senilai lebih dari Rp300 triliun. Dari BPPN ini Gus Im memperoleh
mobil mewah Toyota Soluna dan jatah duit sewa rumah di daerah elite
Kemang, Jakarta Selatan. Sebelumnya Rozy Munir saat menjadi Sekretaris
Menteri mendapat jatah sebuah mobil Toyota Land Cruiser dari Cacuk.
Mobil yang dipakai Rozy adalah mobil aset BPPN yang disita dari para
pengutang yang utangnya macet.

Gus Im, kendati adik Gus Dur dan orang NU, ia bukan orang PKB. Gus Im
adalah Ketua DPP PDI-Perjuangan. Dua tahun lalu, ia masuk ramai-ramai
dengan para purnawirawan TNI ke PDI-P.

Semula, masuknya Gus Im ke BPPN tidak diketahui publik, kendati ia
sudah jadi staf ahli Cacuk, sejak Desember 1999. Namun, lama-lama
terendus juga. Cacuk pun mengakui Gus Im memang staf ahli di BPPN.
Tugasnya adalah mempercepat penagihan kredit macet. Gus Im diberi
tugas untuk mengejar aset-aset lain yang kemungkinan besar masih
disembunyikan para pengutang sebagai jaminan atas utang-utangnya.

Toh demikian, Cacuk masih berkilah bahwa masuknya Gus Im bukan
berdasar atas Surat Keputusan (SK) darinya, namun berdasarkan SK yang
ditandatangani Glenn Yusuf, saat masih menjabat Kepala BPPN. Namun,
Glenn, ketika Cacuk jadi Wakil Kepala BPPN, praktis tak punya kuasa
lagi karena Cacuklah ketika itu yang berkuasa di BPPN. Glenn akhirnya
memang tergusur dan Cacuk menggantikannya.

Nah, masuknya Cacuk ke BPPN, akhir tahun lalu, memang tidak bisa
dipisahkan dengan peran Gus Im. Berkat Gus Im, Cacuk yang dipersiapkan
mengganti Glenn berhasil dimasukkan Gus Im jadi Wakil Ketua BPPN. Gus
Im lah ketika itu yang jadi humas Cacuk. Misalnya, pada 18 November
1999, Gus Im memberi keterangan kepada wartawan bahwa Cacuk akan
menjadi Wakil Ketua BPPN. "Cacuk adalah orang yang ahli di bidang
teknologi informasi. Dia juga seorang corporate man yang sukses dan
bankir yang baik. Bahkan sewaktu menjadi birokrat (Dirjen di
Departemen Koperasi saat Menkop dijabat Adi Sasono), dia juga sukses.
Gus Dur melihat bahwa Cacuk memiliki karakter," ujar Gus Im ketika
itu. Dan, benar. Beberapa hari kemudian pemerintah mengumumkan Cacuk
menjadi Wakil Ketua BPPN.

Ketika itu, kabar amat amat santer mengatakan Gus Im lah yang
merekomendasi Cacuk kepada Gus Dur. Namun, Gus Im membantahnya. Ia
bilang: "Saya kan cuma disuruh manggil, ya saya lakukan. Gus Dur sudah
lama mengenal Cacuk jauh sebelum saya mengenal dia. Jadi saya tidak
ada urusan dengan soal itu."

Gus Im boleh saja membantah, namun, kenyataannya, ia toh ikut ke
gerbong Cacuk. Kalau Gus Im tak punya peran jadi broker itu, tentu ia
tak akan kebagian jabatan yang memang diciptakan Cacuk untuk dirinya
itu.

Nah, kalau mau mengulas lebih lanjut soal hubungan BPPN dengan bisnis
tokoh-tokoh NU yang dekat dengan Gus Dur, kita bisa menunjuk kasus
ditunjukknya Choirul Anam, mantan Ketua Umum GP Ansor, sebagai salah
satu Komisaris Balai Lelang Surabaya. Ihwal penunjukkan Anam, mantan
wartawan Tempo yang hengkang ke Editor ini, ada sejarahnya tersendiri.
Balai Lelang Surabaya, yang dikelola sebuah perusahaan swasta,
dianggap Cacuk tidak menjalankan tugas yang diberi BPPN yakni merawat
dan melelang aset-aset BPPN dengan baik. Balai Lelang Surabaya bahkan
kedapatan memanipulasi aset-aset itu. BPPN marah dan akan memutuskan
hubungan dengan perusahaan pengelola Balai Lelang Surabaya itu.

Mengetahui hal ini, pemilik perusahaan pengelola Balai Lelang Surabaya
meminta bantuan Anam, yang kini Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKB Jawa
Timur. Anam pun melobi Cacuk. Hasilnya kontrak dengan Balai Lelang
Surabaya diteruskan dan sebagai imbalannya Anam diangkat jadi salah
satu komisaris. Keputusan Cacuk ini dulu membuat para deputi BPPN yang
terdiri dari para profesional kesal, namun tak mampu berbuat apa-apa,
keculai berbisik-bisik ke wartawan.

Kembali ke Gus Im. Dengan masuknya Gus Im ke BPPN, setelah kasus Rozy
Munir dan Anam, kredibilitas Gus Dur dalam hal anti nepotisme dan anti
kroniisme, tampaknya makin menyurut. Selian kasus lain seperti
pendudukan Kantor Redaksi Jawa Pos oleh Banser Gerakan Pemuda Anshor.

Lawan-lawan politik Gus Dur makin memiliki amunisi yang banyak untuk
menembaki Gus Dur. Tak hanya musuh-musuh politik Gus Dur, ekonom yang
tak berpolitikpun seperti Dr Sri Adiningsih, pengajar UGM, mengkritik
masuknya Gus Im ke BPPN, kendati tidak punya latar belakang ekonomi
(Gus Im pernah kuliah di ITB dan Fakultas Psikologi UI).

Fuad Bawazier, pengurus PAN, menganggap penempatan Gus Im itu tidak
logis, tidak transparan, dan tidak jelas kriterianya. "Tiba-tiba orang
nyelonong di situ. Dasarnya apa, keahliannya apa, apakah ada di
struktur organisasi? Yang begini-begini saban hari ada, pasar jadi
sakit kepala," ujar Fuad.

Soal ini, Gus Im, kepada Tempo (Edisi 14 Mei 2000), mengatakan di
BPPN, ia bertugas memaksa pemilik aset yang disita  BPPN membayar
utangnya. "Tugas saya memaksa orang supaya datang ke BPPN dan membayar
utangnya," kata Gus Im.

Tudingan nepotisme dan kroniisme kepada keluarga Presiden membuat
Alisa Qotrunnada Munawaroh, menulis surat ke para pimpinan departemen
dan BUMN untuk berhati-hati pada orang yang mengaku-ngaku sebagai
kerabat atau dekat dengan ayahnya.

Surat tersebut akhirnya ia kirimkan juga ke media massa untuk menolak
tudingan KKN yang dialamatkan ke keluarga besar Presiden, yang sedang
gencar dipublikasikan oleh media massa. Namun surat Lisa ini, begitu
panggilan putri sulung Gus Dur, tampaknya tak akan banyak berarti
kalau kasus-kasus seperti kasus Gus Im, Rozy Munir, Anam dan
sebagainya, tidak segera berhenti. (*)

- -------------------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 May 2000 jam 09:47:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke