----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 16/III/15-21 Mei 2000
- ----------------------------------------

BIARINISME KELOMPOK PRO-DEM

(POLITIK): Gara-gara pernyataan dan ulah kontroversialnya Gus Dur,
kelompok pro-demokrasi kesal. Tak bisa saring informasi atau memang
berniat KKN?

Lama-lama semua kelompok memusuhi Gus Dur," ujar seorang direktur
eksekutif sebuah lembaga swadaya masyarakat ternama. Ia begitu kesal
membaca berita dalam beberapa minggu terakhir yang berkaitan dengan
banyak pernyataan serta ulah kontroversial Presiden Abdurrahman Wahid.
Setelah mencopot dua menteri, Laksamana Sukardi dan Jusuf Kalla, ia
menuduh keduanya terlibat KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme)
- --pernyataan yang disebut "fitnah' oleh Jusuf Kalla. Di saat
bersamaan, ia salah menuduh Tommy Winata sebagai bandar judi di kapal
pesiar. Ia juga menuduh Prabowo Subianto terlibat di pembunuhan di
Papua --meskipun beberapa sumber bilang bahwa tuduhan itu muncul
karena Gus Dur kecewa pada Prabowo yang dianggap bermain mata dengan
Amien Rais. Belakangan, ketahuan lagi kalau Gus Im alias Hasyim Wahid,
adik kandung Gus Dur, ternyata memegang pos "basah" di BPPN (Badan
Penyehatan Perbankan Nasional). Gara-gara itu semua, banyak simpatisan
Gus Dur kecewa, mirip tokoh LSM tadi.

Apa yang membuat Gus Dur bersikap begitu, tak ada yang bisa
menjelaskan secara pasti. Ia seperti biasa cuek dengan "gitu-'aja-
kok-repot-nya." Mereka yang disebut "orang-orang dekat" Gus Dur di
seputar istana pun tak bisa "memegang buntut" kyai yang sejak dulu
sikapnya sulit ditebak ini. Sumber Xpos menduga, itu terjadi karena
terlalu banyak orang yang setiap saat datang, kasih masukan serta
"minta" sesuatu pada Gus Dur. "Ia selalu bilang 'iya." Tapi, "soal
tanggapannya akan bagaimana, itu terserah dia." Di satu sisi, hal ini
menguntungkan, karena Gus Dur jadi punya banyak referensi. Tapi, di
sisi lain, hal ini berisiko tak tersaringnya informasi mana yang
akurat, mana yang tidak. Sehingga, amat mungkin, Gus Dur ambil
tindakan berdasar informasi yang salah --seperti kasus pengungkapan
praktek judi Tommy Winata. Sumber tadi membantah anggapan bahwa hanya
"orang tertentu" yang selalu membisiki Gus Dur.

Kekecewaan pada Gus Dur, sebetulnya bukan lantaran
pernyataan-pernyataannya yang seenaknya. Tapi, "sengaja atau tidak,
mulai membiarkan praktek KKN (baca: ne-potisme -red.) di sekitarnya,"
ujar seorang mantan aktifis angkatan '66. Ia merujuk penunjukkan Rozy
Munir sebagai menteri, pengangkatan Gus Im sebagai staf ahli BPPN
sampai penipuan dana Yayasan Bina Sejahtera Karyawan Bulog sebesar
Rp35 miliar oleh "tukang pijit" presiden, Suwondo. Parahnya, sebagian
orang beranggapan, tindakan ini murni politik Gus Dur untuk
menunjangnya tetap berkuasa --meskipun ada juga yang masih melihat
sisi positif tindakan Gus Dur. Sementara pihak lainnya, termasuk insan
pers, kecewa berat pada sikap Gus Dur yang bernada mendukung sewaktu
Banser NU menduduki kantor redaksi Jawa Pos.

Sebelum peristiwa ini, Gus Dur amat disukai kalangan aktifis
pro-demokrasi karena dianggap menghormati pluralisme, serta wawasannya
visioner. Pihak luar negeri juga kebanyakan mendukung Gus Dur, karena
dianggap bisa memainkan peran penting untuk menstabilkan gejolak
politik regional Asia Tenggara. Bagi keduanya, siapapun yang memimpin
negara ini tak terlalu menjadi soal, selama sang pemimpin itu memiliki
visi dan komitmen pada demokratisasi. Gus Dur diganti pun, asal
kualitasnya lebih baik, tak masalah. Dalam kenyataannya --paling tidak
menurut kelompok pro-demokrasi, pihak yang mungkin mengganti Gus Dur
bila ia turun tahta, kualitasnya tak ada yang lebih baik.

Setidaknya, ada tiga kekuatan politik yang "menunggu" Gus Dur
tergusur. Pertama, Megawati Soekarnoputri dengan PDI-P-nya. Sejumlah
pengamat khawatir, selain kapabilitas Mega yang dianggap berada di
bawah Gus Dur, orang-orang di sekitar putri presiden RI pertama itu,
moralnya tidak lebih baik ketimbang orang-orang di sekitar Gus Dur. Di
sejumlah daerah, banyak anggota DPRD asal PDI-P yang disinyalir
menerima suap dan merelakan kursi pemerintah daerah ke partai lain
yang jumlah kursinya lebih sedikit. Hasil putusan Kongres PDI-P di
Semarang beberapa waktu lalu merekomendasikan mekanisme pemilihan
presiden tidak secara langsung, juga dianggap sebagai tanda munculnya
konservatisme di PDI-P.

Kekuatan kedua, Akbar Tanjung dengan Partai Golkarnya. Keberatan
terbesar pada Akbar Tanjung adalah kekhawatiran bakal kembalinya
orang-orang Orde Baru yang punya reputasi buruk dalam soal KKN.
Kendati berusaha menampilkan Golkar dengan citra baru, tapi bagi
kelompok pro-demokrasi, Akbar belum bisa sama sekali menghilangkan
perilaku para pejabat eselon di bawah menteri yang hobi bermain
politik uang. Untuk mengisi pos-pos penting dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia pun, Akbar cenderung memilih orang-orang yang
tidak bersih. Ia misalnya setuju Syahril Sabirin dan Aulia Pohan yang
terkait pemalsuan uang duduk di jajaran direksi BI.

Kekuatan ketiga, Amien Rais dan Poros Tengah. Keberatan terbesar pada
Amien Rais adalah sikapnya yang cenderung oportunis. Di satu waktu ia
mengaku sebagai seorang demokrat, namun ternyata ia bergabung dengan
kelompok yang tak memperjuangkan pluralitas sebagai kendaraan
politiknya. Belum jadi orang nomor satu, ia sudah minta "jatah"
sejumlah pos BUMN untuk orangnya di Poros Tengah. Ada lelucon yang
beredar di kalangan aktifis: "Jangan sampai Poros Tengah berada di
kekuasaan, karena banyak yang beristri dua (baca: serakah -red.)."

Lantaran menghadapi keadaan dilematis seperti ini, kelompok
pro-demokrasi mulai bersikap "biarin" pada Gus Dur --sebagian malah
terang-terangan mengecam. Sungguh, ini merugikan. Sebab, Agustus
mendatang, ketika lawan politik Gus Dur berkomplot menyingkirkannya,
semestinya ia bisa meraih dukungan moral kelompok pro-demokrasi. Masih
belum juga repot, Gus?. (*)

- -------------------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 May 2000 jam 09:28:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke