----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000
================================================

MAHASISWA TOLAK SI MPR

(POLITIK): Menumbangkan pemerintahan Gus Dur akan memperparah keadaan.
Mahasiswa bakal menolak Sidang Istimewa MPR, Agustus mendatang.

Lain dulu lain sekarang. Haluan berputar ikuti angin baru. Tujuan
bukan lagi labuhan dahulu. Kalau pada masa pemerintahan Soeharto
Sidang Istimewa (SI) MPR menjadi isu gerakan demokrasi, kini kebalikan
terjadi. Justru dipetakan anti demokrasi. Paling tidak dituduh menjadi
sebab munculnya arus balik terhadap demokratisasi yang tengah
bergulir. Kalau dulu, sebutlah 14 Desember 1993, 21 mahasiswa
dipenjarakan gara-gara spanduk ungu bertulis "Seret Soeharto ke Sidang
Istimewa MPR", sekarang ramai usulan menyidang istimewakan Presiden
Abdurrahman Wahid ditolak.

Usulan yang datang dari Ketua MPR-RI Amien Rais untuk menjadikan
sidang tahunan MPR bulan Agustus mendatang menjadi Sidang Istimewa
bagi Gus Dur itu ramai ramai diperdebatkan. Tetapi jika dilihat dari
awal, sebenarnya dia dan Poros Tengah-nya telah meninggalkan Gus Dur.
Padahal, tahun lalu saat pemilihan presiden, dengan getolnya dia dan
Poros Tengah-nya menggotong-gotong Gus Dur untuk dicalonkan sebagai
presiden. Dan sekarang, Amien dkk. juga ngotot mencegah Wakil Presiden
Megawati Soekarnoputri untuk menggantikan posisi presiden apabila
berhalangan tetap. Entah  itu berhalangan lantaran alasan kesehatan
atau di-impeach.

Padahal dalam hukum ketatanegaraan di Indonesia menyebutkan, Wakil
Presiden akan tampil memegang jabatan presiden sampai sisa periodenya
berakhir manakala presiden terpilih berhalangan tetap. Sudah pasti
manuver Amien Rais dan Poros Tengah-nya itu mempunyai maksud
tersembunyi. Sepertinya figur Amien Rais yang dijuluki media massa
sebagai "tokoh reformasi" ini tidak puas 'sekedar' menjabat sebagai
Ketua MPR.

Lantas maunya Amien apa? Batas "puas"-nya itu sampai dimana? Manusia
lain di luar Amien sudah pasti tidak bisa menjawab. Paling banter
melempar duga. Namanya juga politik. Motivasi sejati siapa tahu
kecuali aktor bersangkutan.

Sementara itu Presiden Gus Dur tampil sebagai figur sejuta fenomena.
Di satu sisi pernyataan-pernyataannya kerap mengundang orang bertanya.
Sejak isu Lautze sampai kabar ada kelompok yang mau menggoyangnya.
Bukan cuma itu. Kebijakan menaikkan tunjangan hingga ratusan persen
buat pejabat eselon, tarif listrik dan harga BBM (meski yang terakhir
ini diundur hingga bulan Juni) mengundang pro-kontra besar. Termasuk
keputusannya 'memulangkan' Laksamana Sukardi ke PDI-P dari kementerian
Penanaman Modal dan Pemberdayaan BUMN. Lalu menggantikanya dengan HM
Rozy Munir.

Begitulah satu sisi Gus Dur. Toh, di sisi lain kelompok-kelompok
kritis menyadari betul nilai RI-1 bagi Indonesia. Apa jadinya kalau
pada 300 hari kepemimpinannya nanti harus di-lengser pesantren-kan.
Bagaimanapun ia sudah mempunyai komitmen untuk secara bertahap
mengurangi peran militer dalam politik. Itu terlihat dari
langkah-langkah akomodatif dalam penyelesaian kasus-kasus konflik
Aceh, Papua, 27 Juli 1996, Tanjung Priok,G 30 S, dan sebagainya. Gus
Dur juga mempunyai posisi tawar yang kuat terhadap negara donor. Juga
posisinya di mata sesama negara-negara dunia ketiga. Tak urung
Presiden negara Sosialis Kuba, Fidel Castro, sempat berdiskusi
bersamanya tentang sosialisme dewasa ini, saat Gus Dur menghadiri
pertemuan negara-negara dunia ketiga di Kuba.

Beberapa kalangan juga bersuara mendukung Gus Dur. "Saya yakin betul
kok bahwa Gus Dur seorang yang anti militerisme dan anti
neo-liberalisme," tukas Ketua PRD Budiman Sudjatmiko. Lewat bahasa
yang berbeda, kelompok-kelompok gerakan mahasiswa menyepakati
sinyalemen "penilaian terhadap  Gus Dur" itu. Dedengkot Forum Kota,
Adrian, seusai demonstrasi Jaringan Kota (Jarkot) di Kejagung (12/5)
sempat menutur. "Gerakan demokrasi khususnya mahasiswa berkepentingan
atas kelangsungan Pemerintahan Gus Dur". Dengan kata lain, isu Agsutus
menjadi SI akan ditolak?

"Mahasiswa dalam waktu dekat akan mulai menyuarakan penolakan SI,"
uangkap Dodo, aktivis salah satu elemen Paguyuban Kota (Pakot).
Belakangan aliansi Jarkot terbelah menjadi Pakot selain Jarkot. Namun
isu anti SI tetap bakal digulirkan oleh kelompok mahasiswa lainnya.
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) bahkan mulai melempar
statement-statement kecaman terhadap para penggulir SI. Menurut
rencana, aliansi besar anti SI akan memulai aksinya satu bulan sebelum
sidang tahunan berlangsung. "Kali ini kami akan memulainya dengan
bentuk lain," lanjut Dodo. "Sambil juga menghapus kesan bahwa aksi
mahasiswa identik dengan bentrokan".

Sejatinya "dukungan" bagi Presiden Wahid bukan hal baru benar. Cuma,
selama ini ada kesan "malu-malu" untuk melakukan terang-terangan. Apa
karena label kelompok kritis? Bukan, tulis Wimar Witoelar dalam kolom
perspektifnya. Sepopulis apapun Gus Dur, tetaplah ia harus dikritisi.
Pengalaman mengkultus-individukan tokoh presiden mesti hilang dari
masyarakat Indonesia. Namun sikap kritis bukan mesti main tumbangkan
saja pemimpin nasional. "Salah-salah, bakat otoriter yang memang
dimiliki oleh setiap pemimpin bisa muncul," nilai Hendrik Dikson
Sirait, Ketua Serikat Demokrasi Sosial.

Barangkali demikianlah langkah paling arif saat ini. Senantiasa
mengkritisi tanpa perlu menggelar SI. Sebab daya kritis pula yang
menilai betapa debut pemerintahan demokratik sepertinya sedang
menghadapi persoalan yang pelik. Layaknya pengalaman dari negara lain
yang mengalami proses transisi dari rejim otoriter ke pemerintahan
yang demokratik. Pilihan itu jelas berakibat banyak dalam struktur
pemerintahan dan masyarakat. Apalagi saat ini krisis ekonomi sedang
menerpa Indonesia.

Maka, jika Gus Dur memilih cara dengan menciptakan stabilitas dan
efisiensi, ya jelas akan susah. "Secara ekonomi tidak akan efektif dan
kontra-produktif. Sementara secara politik bakal eksplosif," terang
pengamat ekonomi Faisal Basri. Prinsip-prinsip neo-liberal ala
negara-negara maju juga bukan pilihan baik. Bisa jadi hasilnya tidak
akan maju-maju alias stagnan.

Kalau begitu, apakah akan menempuh cara-cara populis? "Kalau kebijakan
populis dalam arti program ekonomi yang ekspansionis, hasilnya boleh
jadi berupa inflasi, krisis fiskal, krisis neraca pembayaran," kata
Faisal Basri. Sedangkan pilihan realistis saat ini adalah berdasarkan
daya dukung sosial (social absorption capacity), yang melingkupi
bidang  ekonomi dan bidang politik. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 08:53:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke