---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000 ================================================ PENDAMAI TERNYATA PENGINTAI (POLITIK): Operasi peacemake Australia terus mata-matai militer Indonesia. Isu "keamanan nasional" sedemikian penting, tapi tak banyak yang peduli. Pantas saja banyak tentara Indonesia tak suka pada Australia. Belum lagi sebulan "insiden udara" berlalu, yaitu ketika sejumlah pesawat Angkatan Udara Australia (Royal Australian Air Force, RAAF) disergap sedang nyelonong di wilayah Indonesia, mereka kembali bikin ulah. Harian terkemuka Australia, The Australian Financial Review, AFR sendiri yang mengungkapnya. Diberitakan oleh AFR (11/5), pesawat RAAF jenis PC3 Orion yang didesain secara khusus, sengaja melakukan misi mata-mata terhadap Indonesia. Pemberitaan AFR ini, keruan saja membuat upaya untuk memperbaiki hubungan Canberra dan Jakarta yang terus menegang sejak usainya proses referendum di Timor Timur, menjadi mundur ke belakang. Dan sungguh amat disayangkan, khususnya oleh para pemerhati hubungan RI-Australia, mengingat beberapa hari sebelum terungkapnya kegiatan mata-mata ini, Perdana Menteri Australia, John Howard baru saja menyatakan bahwa ia telah menulis surat pada Presiden RI Abdurrahman Wahid untuk segera memenuhi undangannya berkunjung ke Australia yang tertunda. Lebih dari itu, menurut AFR, terungkapnya upaya spy ini merupakan hal yang amat memalukan dari segi keamanan nasional bagi pemerintah Australia, yang berkali-kali menyangkal adanya penetrasi pesawat-pesawat terbang Australia di wilayah udara Indonesia. Dalam insiden terdahulu, pemerintah Australia melalui pernyataan yang dikeluarkan kedutaan besarnya di Jakarta tidak mengakui kalau RAAF melakukan pelanggaran batas wilayah. Pers setempat pun, ketika itu cenderung memberitakan bahwa pihak angkatan udara Indonesia (AURI) yang salah, karena melakukan penyergapan di wilayah internasional. Kali ini, pada insiden kedua, sudah jelas RAAF yang sengaja melanggar. Dan karenanya membuat kebanyakan orang yakin bahwa pada insiden sebelumnya, pihak RAAF juga yang salah. Sebenarnya, sudah berulangkali Indonesia menuduh pihak Australia sedang melakukan pengintaian terhadap wilayah Indonesia, terutama sejak Australia memimpin pasukan Interfet yang bertugas di Timor Timur. Namun, banyak pihak, termasuk orang Indonesia sendiri menganggap tuduhan semacam itu tidak obyektif --karena didasari kekesalan pada pihak Australia yang dinilai arogan selama berada di Timor Timur. Meskipun sudah diungkap pers, juru bicara Kementerian Pertahanan Australia, John Moore, tetap menyangkal pemberitaan yang mengungkap kegiatan intelejen pesawat-pesawat militernya, termasuk penerbangan illegal ke wilayah udara Indonesia. Moore lantas mengatakan, pemerintah Australia takkan berkomentar lebih lanjut sehubungan dengan isu yang berkaitan dengan keamanan nasional. AFR sendiri ngotot bahwa apa yang mereka ungkapkan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya. AFR mengaku telah mempelajari kegiatan unit pengintai Orion yang tengah memantau militer Indonesia serta berbagai jalur komunikasi dari pesawat-pesawat yang dibiarkan berada di jalur wilayah udara internasional. Unit-unit pengintai itu beroperasi dengan kedok penerbangan maritim regular ke arah barat-laut dan utara Australia. Operasi rahasia itu sendiri, kabarnya mempunyai nama sandi Peacemake atau "pendamai". Dua pesawat 19 PC3 Orion yang berbasis di Edinburgh, Australia Selatan, kabarnya telah dilengkapi dengan alat pemantau dan perekam super canggih oleh Defence Signals Directorate di bawah kementerian pertahanan, sebelum melakukan operasi itu. Indikasi awal adanya operasi mata-mata ini sebetulnya, pertama kali dimunculkan oleh majalah terbitan Inggris, Flight International, yang melaporkan bahwa pesawat-pesawat PC3 Australia telah diubah untuk keperluan intelejen antara tahun 1995 hingga 1998. Majalah tersebut juga mengatakan bahwa operasi tersebut masih tetap berlanjut meskipun waktu operasinya telah dikurangi. Nyatanya, menurut AFR, pesawat pengintai itu makin gencar melakukan operasi. Australia memang merasa memiliki kepentingan untuk mengetahui keamanan di berbagai kepulauan Indonesia. Mulai dari Aceh sampai ke Papua Barat. Australia juga merasa berkepentingan untuk mengamati gerak-gerik militer Indonesia di Nusa Tenggara Timur, karena posisinya berbatasan dengan Timtim yang kini sedang berjuang untuk memperoleh kemerdekaan penuhnya di bawah pengawasan PBB. Bagi AFR, terungkapnya kegiatan mata-mata ini barangkali merupakan yang paling memalukan bagi Australia, semenjak terungkapnya kegiatan mata-mata bersama Australia dan Amerika Serikat lima tahun lalu di kedutaan besar Cina di Canberra. Sumber-sumber senior AFR dalam pemerintahan mengkhawatirkan, terungkapnya kegiatan mata-mata ini akan membuat Indonesia melakukan tindakan balasan untuk menghalang-halangi kemampuan pesawat-pesawat Orion melakukan pengintaian terhadap militer Indonesia dan jalur-jalur komunikasi lainnya. Menlu Australia, Alexander Downer, menilai pemberitaan tentang kegiatan rahasia pesawat Australia, merupakan ulah "orang-orang yang menyesali intervensi Australia di Timor Timur." Ia menyangkal adanya kegiatan mata-mata terhadap Indonesia. Tapi, ia tak berkomentar soal kegiatan intelejen yang dilakukan di wilayah udara internasional sekitar Indonesia. Di dalam negeri, berita operasi pengintaian ini anehnya, tak terlalu diliput oleh media massa. Pers dalam negeri tampaknya lebih tertarik membicarakan isu-isu ekonomi dan politik seputar Gus Dur. Mungkin, kalau Gus Dur sudah ngomong barulah, pers lokal ramai-ramai membicarakan hal ini. Padahal, ini soal keamanan negara lho. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 09:16:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
