----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000
================================================

HATI-HATI DENGAN IMF, GUS!
Oleh: Poetranegara

(OPINI): Setelah mengelak beberapa bulan dari keharusan mencabut
subsidi BBM, listrik, dan telepon, tampaknya pemerintah dan elit
politik Indonesia sulit menahan gempuran IMF yang mengibarkan panji
liberalisme baru. Pernyataan pemerintahan Gus Dur bahwa mereka bisa
menolak usul IMF bila lembaga itu terlalu memaksa Indonesia, pernah
dilansir Suara Pembaruan 4 November 1999. Lewat mulut Jusuf Kalla
waktu itu, Gus Dur mengatakan kepada para wartawan seusai bertemu
dengan Direktur IMF untuk Asia Pasifik, Hubert Neiss, sebagai berikut,
"Ini republik, republik kita. Jadi kita tidak akan bertekuk lutut
kepada IMF. Tapi soal dia akan membantu, silakan. Dan selama bantuan
itu baik buat kita, apa salahnya?"

Cara berkelit Gus Dur ini bolehlah. Tapi hanya untuk sementara,
mengingat sebelumnya ketergantungan bantuan (hutang) pada IMF sangat
tinggi. Semakin tinggi hutang yang diberikan, semakin tinggi pula
kewajiban yang harus dibayar karena ada bunga hutang yang harus
dibayar. Tidak semata memberi bantuan, IMF di sisi lain juga tampak
memaksakan resep-resep apa yang harus dipakai untuk memulihkan krisis.
Masih belum hilang dari ingatan kita beberapa tahun berselang,
Soeharto harus menanda-tangani Letter of Intent yang sangat berat bagi
Indonesia di hadapan Michael Camdesus, pucuk pimpinan IMF. Ketika
beberapa kali Soeharto sempat mengelak, tekanan internasional terhadap
ekonomi Indonesia justru makin meningkat. Indikator tekanan itu
tersirat, misalnya dari jatuhnya nilai mata-uang rupiah secara
mengejutkan, bahkan sampai pada titik nadir Rp 16.000,- per dollar
pada bulan Januari 1998. Mau tak mau, sepertinya kemudian Indonesia
harus tergantung pada apa yang dimaui IMF.

Padahal, resep pemulihan ekonomi IMF tidak semuanya mujarab. Bukti
yang paling kuat adalah kegagalan IMF untuk mencegah krisis ekonomi di
Amerika Latin, khususnya Meksiko pada dekade 1970-an sampai 1980-an.
Ketergantungan ini disebut oleh F.H. Cardoso dengan istilah Model
Pembangunan yang Bergantung. Model ini diwarnai dengan masuknya
investasi dari luar yang digelorakan oleh perusahaan-perusahaan
multinasional, sedangkan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah
dibiayai dengan hutang luar negeri. Dalam beberapa hal kepentingan
perusahaan multinasional itu seiring dengan kebutuhan negara
berkembang yang disatroninya, yakni perluasan lapangan kerja dan
pasar. Di sisi lain, masuknya modal asing dan hutang ini akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tapi Cardoso membuktikan bahwa
pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh hutang luar negeri dan
perusahaan multinasional ternyata justru memperlebar kesenjangan
antara kaum kaya dan miskin di negara berkembang tersebut. Hal ini
bisa terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan, proses
produksi dan output-nya sebetulnya lebih banyak untuk melayani kaum
kaya yang menjadi mandor dari modal asing tersebut, seperti jalan raya
dan gedung-gedung tinggi di kota besar. Sementara, kebutuhan rakyat
banyak yang ada di pelosok-pelosok lebih sering diabaikan. Orientasi
pembangunan yang tergantung ini pada akhirnya justru akan meningkatkan
hutang luar negeri dari negara yang bersangkutan terhadap
lembaga-lembaga keuangan internasional. Salah satu lembaga keuangan
internasional yang sering memasok hutang-hutang untuk negara
berkembang itu tak lain adalah IMF.

Logika pembangunan yang tergantung tampak terjadi juga di Indonesia.
Pada masa awal Orde Baru, investasi asing dan hutang luar negeri mulai
menyeruak masuk ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi memang tinggi, tapi
kesenjangan sosial justru meningkat. Biaya sosial dari pertumbuhan itu
lebih sering ditanggung oleh rakyat kecil, misalnya tidak meratanya
kuantitas dan kualitas tempat tinggal. Banyak buruh-buruh yang menjadi
sumber daya manusia untuk akumulasi kapital lewat industri, ditekan
upahnya dan mendapat perlakuan yang tidak adil dari negara. Sementara,
IMF dan Bank Dunia yang menjadi cukong hutang demi pertumbuhan ekonomi
itu memuji-muji Indonesia sebagai "good boy". Indonesia akan menjadi
"good boy" selama menyusu dengan baik kepada dan menurut aturan main
IMF dan Bank Dunia.

Pujian "good boy" itu ternyata mahal harganya. Kapitalisme yang
menjadi ideologi penopang hutang luar negeri dan akumulasi modal asing
di negara-negara berkembang, menurut Karl Marx, di dalamnya secara
inheren mengandung krisis. Dan krisis akhirnya datang juga ke
Indonesia setelah sekian lama menanggung ketimpangan sosial. Krisis,
bagaimanapun adalah sisi gelap dari kapitalisme, karena merupakan
konsekuensi logis dari pertentangan yang tak terdamaikan (kontradiksi)
antara kepentingan modal dan kepentingan tenaga kerja. Kontradiksi ini
disangga oleh pemerintahan otoriter a la Orde Baru hingga akhirnya tak
tertahankan lagi. Ketika krisis datang lewat kegoncangan di pasar mata
uang, Orde Baru tak mampu lagi mempertahankan praktek-praktek kotor
dalam ekonomi politik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.

Pada saat krisis sedang kuat-kuatnya menjerat Indonesia, IMF datang
"seolah-olah" tampak sebagai dewa penolong. Tetapi sebagaimana terjadi
di Meksiko, krisis bukannya mereda tetapi justru semakin parah.
Ketergantungan yang sudah sangat parah terhadap hutang luar negeri
membuat Indonesia sulit bergerak dan terpaksa mengangguk-angguk dengan
resep IMF.

Dalam perspektif teori ketergantungan, ada berbagai pilihan untuk
mengatasi ketergantungan ini. Teori ketergantungan lama/klasik yang
dimotori oleh Andre Gunder Frank dkk., menyarankan agar negara-negara
berkembang yang hanya menjadi pinggiran dari negara-negara maju itu
segera memutus rantai ketergantungan dengan memutus hubungan ekonomi
yang tidak adil tersebut. Gunder Frank melihat bahwa selama
negara-negara berkembang tergantung pada negara-negara maju maka
negara-negara berkembang tersebut akan semakin miskin karena akumulasi
keuntungan yang diperoleh lewat industrialisasi pada akhirnya mengalir
kembali ke negara-negara maju. Dalam perspektif ini, lembaga-lembaga
keuangan internasional seperti IMF tak lain adalah agen dari
negara-negara maju untuk melindungi kepentingannya, yakni kepentingan
perusahaan multi nasional yang ada di negara berkembang itu tapi
berpusat di negara-negara maju.

Teori ketergantungan klasik ini kemudian diperbaharui oleh FH Cardoso
yang melihat faktor pokok ketergantungan tidak hanya semata-mata
persoalan eksternal seperti yang dikemukakan oleh teori ketergantungan
klasik, melainkan juga adanya faktor internal yakni sistem ekonomi
politik yang dianut suatu negara dan perilaku politik pemerintahan
yang berkuasa di negara tersebut. Faktor internal yang diperbaiki
diharapkan bisa mengurangi ketergantungan suatu negara berkembang
terhadap negara maju dan lembaga keuangan internasional. Bahkan dalam
berbagai kesempatan bisa melakukan negosiasi yang setara kedudukannya
dalam hubungan internasional belakangan ini.

Pendekatan inilah yang tampaknya dilakukan oleh pemerintahan Gus Dur
saat ini. Pemerintah mengakui bahwa bagaimanapun Indonesia memang
tergantung pada IMF, tetapi Indonesia tidak harus melulu mengikuti apa
yang dikatakan IMF. Kwik Kian Gie yang sebelum jadi menteri dulu
sangat kritis terhadap IMF pun, kini melakukan taktik kompromi untuk
mengupayakan penyelesaian krisis yang lebih baik. Dalam waktu dekat,
pemerintahan Gus Dur berupaya untuk merancang ulang kesepakatan baru
dengan IMF. Artinya, akan ada Letter of Intent baru guna menyelesaikan
krisis yang terjadi saat ini.

Pembaharuan kesepakatan itu kiranya bakal berkutat ke
kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang menyangkut hajat rakyat banyak
seperti beras, gula dan bahan-bakar minyak. IMF dahulu (dan sekarang
masih) menghendaki adanya penghapusan seluruh subsidi untuk beras,
gula dan minyak.

Menurut IMF, dunia perdagangan yang leberal sudah selayaknya tidak
lagi disangga dengan subsidi yang dianggap mendistorsi pasar. Di balik
tuntutan tersebut, bisa dikritisi bahwa IMF mempunyai kepentingan
untuk mendapatkan bahan pokok yang murah dari Indonesia dan menjadikan
Indonesia sebagai pasar yang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan
multinasional yang berpusat di negara-negara maju penyokong IMF.

Sedangkan Indonesia masih berkepentingan untuk mempertahankan subsidi,
khususnya terhadap gula, beras dan bahan-bakar minyak. Ini mengingat
daya beli masyarakat yang masih sangat ringkih, sehingga bila bahan
bakar minyak misalnya, tidak disubsidi, maka pasar domestik akan
bergejolak karena kenaikan harga yang cukup hebat dan memberatkan
konsumen yang sebagian besar adalah rakyat kecil. Pemerintahan Gus Dur
tentu tidak ingin beban ekonomi rakyat menjadi kian berat, di samping
pertimbangan bahwa kekacauan ekonomi yang menyusul kemudian bisa
mengakibatkan jatuhnya reputasi pemerintahan yang dipimpin Gus Dur.

Atas dasar telaah di atas bisa dipahami substansi pemberitaan Suara
Pembaruan yang berjudul "Pemerintah tidak Segan Tolak Usul IMF".
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, poin apa yang bisa menjadi
nilai lebih bagi pemerintahan Gus Dur untuk berdiplomasi vis a vis
IMF. Memang bila ancaman putus yang disodorkan, IMF bisa kelabakan
tapi hal yang sama bisa juga menimpa Indonesia. Oleh sebab itulah,
pemerintah selayaknya menjelaskan kepada IMF bahwa bilamana semua
subsidi dihapus untuk saat ini, pada ghalibnya bukan hanya Indonesia
yang akan rugi, melainkan juga IMF. Karena, kekacauan ekonomi yang
besar kemungkinan akan muncul bila subsidi dihapus akan semakin
menyulitkan pula bagi IMF, khususnya kredibilitas resep ekonomi mereka
dan last but not least, adalah kembalinya kapital yang mereka semai di
Indonesia.

Jadi, hati-hatilah dengan IMF, Gus! (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 10:02:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke