---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000 ================================================ KORUPTOR BARU BERMUNCULAN (POLITIK): Korupsi tidak surut kendati rezim korup Orde Baru sudah bangkrut. Tradisi ini malah diteruskan orang-orang di sekitar kekuasaan baru. Kwik Kian Gie, Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) tampaknya sudah putus asa. Kepada sebuah media asing ia bilang, "Kalau saya investor asing, saya tiadak akan menanam uang saya ke Indonesia, karena di negeri ini tidak ada kepastian." Pernyataan Kwik ini mengejutkan, apalagi disusul pernyataannya kepada media asing lain bahwa ia akan mengundurkan diri dari kabinet pimpinan Presiden KH Abdurahman Wahid. Kalau seorang Menko Ekuin sudah berkata begitu, pasti problem di negeri ini sudah amat berat. Pernyataan Kwik mungkin saja bias, mengingat kawan karibnya, Laksamana Sukardi, baru saja dipecat Gus Dur, dan yang terakhir, kewenangannya sebagai Menko Ekuin dipereteli dengan ditempatkannya dua ekonom kawan dekat Gus Dur, Dipo Alam dan Rizal Ramli untuk mengawasi kinerja Kwik. Kwik mungkin kecewa dengan perlakuan Gus Dur, namun pendapatnya tentang ketidakstabilan di Indonesia merupakan pendapat yang obyektif. Ketidakstabilan, korupsi dan lain-lain menyangkut penyalahgunaan kekuasaan memang tengah terjadi, kendati dalam skala yang tak sedahsyat di zaman Orde Baru. Taruhlah misalnya kasus-kasus memanfaatkan kesempatan yang dilakukan orang-orang dekat Gus Dur, baik di lingkungan Nahdlatul Ulama, ormas-ormas payungnya seperti Gerakan Pemuda Anshor, maupun orang-orang yang merasa dekat dengan Gus Dur. Yang tengah jadi pembicaraan misalnya: penempatan Gus Im di BPPN, bisnis KH Nur Iskandar SQ, kiai yang amat dekat dengan Gus Dur dengan para kroni Soeharto dan bisnis-bisnis Saifulah Yusuf, sepupu Gus Dur. Kasus lain misalnya, pengangkatan Rozy Munir sebagai Menteri Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rozy adalah salah satu ketua PBNU. Ia memulai karier sebagai pengajar di Universitas Indonesia. Di kalangan kampus UI, Rozy dikenal orang yang doyan proyek dan menggunakan kapasitasnya sebagai pengajar UI untuk mencari posisi birokrasi dan proyek besar pemerintah. Ini terutama dilakukan Rozy ketika ia menjabat sebagai Ketua Pranata Pembangunan UI selama sebelas tahun. "Kalau orang-orang seperti Rozy ini menguasai banyak departemen basah, negeri ini akan makin bobrok," ujar seorang pengajar senior FE-UI yang enggan disebutkan namanya. Itu semua kini menjadi buah bibir, dan dalam jangka panjang mungkin akan menjatuhkan posisi politik Gus Dur yang dibangunnya selama puluhan tahun. Upaya mencari kesempatan untuk memperkaya diri tak hanya dilakukan oleh orang-orang di seputar NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Aksi ambil untung ini juga dilakukan oleh orang-orang di seputar Wakil Presiden, Megawati Soekarnoputri. Ini misalnya "pemerasan" yang dilakukan Taufik Kiemas, suami Megawati dan Roy BB Janis, Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan DKI Jakarta, terhadap Gubernur DKI Jakarta, Letjen TNI (Purn) Soetiyoso. Mula-mula, Soetiyoso ingin meminta tolong Taufik dan Janis, agar diloloskan dari tuduhan terlibat dalam penyerbuan Kantor DPP PDI di Jakarta, 27 Juli 1996. Ketika peristiwa itu terjadi, Soetiyoso adalah Pangdam Jaya. Taufik setuju akan membantu, namun sebagai imbalannya ia meminta imbalan uang dalam jumlah yang besar. Menurut sebuah sumber mencapai lebih dari Rp15 miliar. Janis pun mendapat imbalan besar, lebih dari Rp10 miliar. Masuk dalam jeratan Taufik, Sutiyoso pun memberi lahan basah kepada Taufik dan Janis, yakni ijin pengelolaan tempat perjudian di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu. Tempat ini sudah dikelola Roy Janis sejak Mei 2000. Gus Dur pernah menuduh Tomy Winata, pengusaha Orde Baru yang dekat dengan Golkar dan TNI Angkatan Darat, yang mengelola tempat judi di Pulau Ayer ini. Namun, Tomy bukan satu-satunya, karena di tempat itu ada tempat judi milik Taufik yang dikelola Janis. Tempat perjudian yang dikelolanya maju pesat, hingga harus menyetor Rp200 juta sebulan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen (Pol) Nurfaizi, sebagai uang keamanan. Setoran macam ini memang hal yang biasa, praktek warisan Orde Baru yang terus berlangsung. Sehari-hari tempat perjudian itu dikelola oleh Onny Harjanto, orang kepercayaan Janis. Onny adalah pengusaha sukses yang mulai dekat dengan PDI-P setelah Soeharto jatuh. Ia memiliki rumah mentereng di Jl Tulodong, kawasan elit Kebayoran Baru. Dengan bantuan Sutiyoso juga, Taufik memproyeksikan Janis jadi Gubernur DKI Jakarta dalam pemilihan gubernur 2002 nanti. Tampaknya, ambisi merebut jabatan itu bukan hal sulit. Kursi PDI-P di DPRD Jakarta merupakan kursi mayoritas. Dengan bantuan Sutiyoso, Fraksi TNI/Polri yang dipimpin Edy Waluyo, orang dekat Sutiyoso dan Fraksi Partai Golkar akan mendukung Janis. Apalagi, Taufik dekat dengan para tokoh kunci Partai Golkar, termasuk Akbar Tanjung. Nah, untuk mempersiapakan mengeruk "pendapatan" dari upeti-upeti di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, Taufik-Janis merekrut Fauzi Bowo, Sekwilda Pemda DKI Jaya sebagai bagian dari kliknya. Fauzi Bowo kini diwajibkan mengumpulkan dan memasok informasi tentang sumber penerimaan keuangan non budgeter Pemda DKI kepada Janis. Dalam hal sumber non budgeter, Jakarta memang tambang emas. Bayangkan, hampir 70% uang yang dicetak, beredar di Jakarta. Selama ini saja, dana yang dikumpulkan dari sumber ini yang bocor, artinya yang masuk ke kantong para pejabat Pemda DKI Jakarta mencapai Rp1,6 trilyun sebulan. Sebuah angka yang fantastik di tengah kesulitan Pemerintah Pusat cari sumber pendanaan APBN. Dana sebesar itu diperoleh dari pajak hiburan, para bandar judi, pungutan di tempat hiburan, parkir dan papan reklame. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 09:38:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
