---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000 ================================================ DIBALIK BABLASNYA RUPIAH (EKONOMI): BI dinilai tak serius mempertahankan nilai rupiah. Bagian dari rencana jatuhkan Gus Dur? Pasar akhirnya tak tahan dengan ulah Gus Dur. Hobinya menggonta-ganti Tim Ekuin (ekonomi, keuangan dan industri -red.), menempatkan orang-orang dekatnya dalam pos-pos "basah" di pemerintahan serta mengeluarkan pernyataan-pernyataan "gitu-aja-kok-repot" mulai disikapi pasar. Rupiah yang selama 6 bulan pemerintahan Gus Dur berada di kisaran Rp7.000 per dolar AS merosot drastis mencapai Rp8.700 per dolar AS. Tak sedikit yang panik melihat gejala "terjun bebas" ini. Masalahnya bagi mereka, kemungkinan rupiah untuk turun lebih jauh masih ada. Ini lantaran Gus Dur dikenal keras kepala sehingga mungkin saja ia kembali mengeluarkan kebijakan lain yang tak populer. Sebetulnya, ada faktor eksternal yang juga mempengaruhi kejatuhan rupiah. Misalnya kemungkinan naiknya suku bunga diskonto AS yang membuat para pelaku pasar membeli dolar. Gara-gara faktor ini, bukan saja rupiah, hampir seluruh mata uang kuat dunia ikut merosot. Di antaranya, yen, euro, Swiss frank dan poundsterling. Mereka percaya, gejala ini takkan berlangsung lama. Ada yang menilai pasar sudah overbought (kelebihan membeli), sehingga permintaan dolar kini melemah. Masuk akal memang. Tapi, benarkah cuma itu alasannya? Theo Toemion, pengamat pasar uang yang juga anggota DPR-RI dari PDI-P meragukannya. Theo mensinyalir ada kesengajaan BI untuk membiarkan nilai rupiah bablas. Ia memberi contoh ketika Jakarta bergejolak melalui berbagai macam tragedi, semisal Tragedi Ketapang, Tragedi Semanggi I atau II, Tragedi Ambon dan lain-lain, rupiah justru menguat. Tapi, anehnya, ketika gejolak yang lebih kecil terjadi baru-baru ini, BI seperti bersikap pasrah. "Kalau mau jujur, bukankah kondisi politik sekarang jauh lebih baik dari dua presiden terdahulu?" ujar Theo seperti dimuat Kompas. Theo mengingatkan, ketika rupiah mulai melemah dari Rp7.000-an Gubernur BI Syahril Sabirin pernah sesumbar bahwa dirinya akan menjamin rupiah tidak akan melemah sampai di atas Rp8.000-an per dolar AS. Beberapa Deputi Gubernur BI juga bilang bahwa BI masih memiliki uang untuk melakukan intervensi. Semestinya, menurut Theo, dengan janji-janjinya itu, BI harus bertindak cepat sebelum sentimen negatif pasar berubah menjadi malapetaka. "Seandainya BI mau fight mencegah rupiah melemah di atas Rp8.000, saya yakin rupiah tak akan sampai Rp8.700," ujar Theo. Ia punya alasan untuk itu. Dalam pengamatannya, pada awalnya, pasar masih takut dengan intervensi yang akan dilakukan BI, sehingga mereka cenderung melakukan profit taking (mengambil keuntungan) pada saat rupiah pertama kali menyentuh level Rp8.070. Ini kemudian menyebabkan rupiah kembali ke bawah Rp8.000. Tapi, lantaran BI tak nongol di pasar, rupiah dengan mudah meluncur ke bawah. "Karena, pasar yakin BI memang tak memiliki kemampuan seperti dikumandangkan salah seorang deputinya." Andaikan BI berani fight, Theo yakin pasar akan berubah pikiran untuk melakukan profit taking sehingga rupiah bisa menguat kembali. Inilah "psikologi pasar' yang semestinya dikuasai otoritas moneter sepenuhnya. Yang mengherankan Theo, BI ikut-ikutan menyalahkan situasi dan kondisi politik dalam negeri sebagai penyebab jatuhnya rupiah. Bagi Theo, BI tak perlu berkomentar mengenai masalah politik, sebab itu bukan tugasnya. Tugas BI hanya menjaga rupiah. Semua orang sudah tahu bahwa rupiah mulai melemah karena ulah pemerintah, tapi itu sama sekali tak membenarkan BI berdiam diri bila rupiah diserang. Sikap begitu menimbulkan kecurigaan. "Ada apa sebenarnya dengan BI sehingga harus pasrah dengan masalah politik dalam negeri?" tanya Theo. Theo memang tak menjelaskan kecurigaannya pada sikap BI itu. Tapi, sudah bukan rahasia bahwa meskipun telah jadi institusi independen, sejumlah pejabat BI diketahui memiliki "keberpihakan politik" pada kelompok tertentu yang berseberangan dengan Gus Dur. Sejak awal Gus Dur berkuasa, ia sudah tak sreg dengan Syahril Sabirin. Seperti pernah diberitakan pers, Gus Dur pernah menyatakan niatnya untuk mengganti Syahril dari kursi Gubernur BI. Hanya saja, niat Gus Dur itu tak dapat diwujudkan, karena posisiBI yang setelah era Soeharto usai, tak lagi berada di bawah kontrol presiden (pengangkatan Gubernur BI kini merupakan wewenang DPR -red.). Kalau Gus Dur tak menyukai Syahril, itu wajar. Sebab, menjelang sidang umum MPR tahun lalu, Syahril diberitakan terlibat dalam beberapa pertemuan "tim sukses Habibie" yang berbuntut bobolnya ratusan milyar dana Bank Bali --yang rencananya akan digunakan untuk memuluskan langkah BJ Habibie merebut kursi kepresidenan. Dosa Syahril tak cuma itu. Bersama deputinya, Aulia Pohan, ia disinyalir terlibat dalam pencetakan uang palsu juga di masa Habibie berkuasa. Kendati demikian, Syahril justru mendapat dukungan dari Ketua DPR Akbar Tanjung untuk tetap berada di posisinya. Hal ini, bagi sebagian pengamat, makin memperjelas posisi politik Syahril yang berseberangan dengan Gus Dur. Akbar, diberitakan sedang menjalin hubungan dengan sebagian tokoh PDI-P dan Poros Tengah untuk "menggeser" Gus Dur dari kursi kepresidenan melalui mekanisme SI-MPR, Agustus mendatang. Wajar, meskipun sulit dibuktikan, bila ada yang beranggapan bahwa sikap BI membiarkan rupiah bablas ada hubungannya dengan "konspirasi" untuk menjatuhkan Gus Dur. Gus Dur sendiri, berusaha menutup-nutupi hal ini. Tampaknya, ia tak ingin dikesankan tak sanggup berkoordinasi. Sampai kapan ini bisa ia lakukan. Barangkali sampai ia berhenti bersikap keras kepala dengan berbagai keputusan dan pernyataannya yang tak populer, yang "memberi umpan" lawan politiknya. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 11:10:42 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
