---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- ISTIQLAL (9/06/2000)# KOMANDO ANTI KOMUNIS TAK MAU BELAJAR DARI NASIBNYA HITLER & SUHARTO Oleh: Alam Tulus Komando Anti Komunis (KAK) adalah komando fasisme. Seperti diketahui definisi fasisme: "Ialah ideologi otoriter yang memuja superiorital nasional. Anti komunisme dan liberalisme". Definisi fasisme itu dimuat dalam "buku putih" (G.30-S pemberontakan PKI) yang diterbitkan Sekneg pada thn l994. KAK sebagai kelompok fasis tentu berkepentingan mempertahankan tetap berlakunya sistem fasis di Indonesia. Mereka telah menikmati sistem fasis tsb, selama 32 tahun Suharto berkuasa. Dan benteng terakhir yang bisa mereka gunakan untuk mempertahankan tetap berlakunya sistem fasis tsb, ialah Tap MPRS No XXV/1966. Karena itulah KAK marah kepada Presiden Gus Dur yang hendak mencabut Tap yang fasis tsb. Mereka tetap hendak mencegah bangkitnya kembali PKI. Untuk itu mereka telah mengancam akan melakukan kekerasan, malah telah terucap mereka hendak membakar gedung MPR bila Tap tsb dicabut. Apakah kaum fasis Indonesia yang terhimpun dalam KAK ini akan berhasil mencegah bangkitnya kembali PKI, sedang sistem kapitalis yang melahirkan calon-calon komunis yang baru mereka pelihara terus? Bung Karno 72 tahun yang lalu pernah menulis melalui "Suluh Indonesia Filuda", dengan judul "Berhubung dengan Tulisannya Ir A. Baars" (DBR, hal: 57-61). Diantaranya sbb: Komunisme Akan Muncul Kembali Selama Masih Ada Kapitalisme. "...walaupun sosialisme atau komunisme itu diperangi sehebat-hebatnya, atau ditindas sekeras-kerasnya, walaupun pengikutnya di bui, dibuang, digantung, didrel atau dibagaimanapun juga, walaupun oleh penindasan yang keras dan pemerangan yang hebat, ia kadang-kadang seolah-olah bisa binasa dan tersapu sama sekali, malah tiadalah henti-hentinya ia muncul lagi dan muncul lagi di negeri kapitalis, tiada henti-hentinya ia membikin gempar kaum yang dimusuhinya menyatakan diri dalam riwayat dunia..." "Selama kapitalisme sendiri belum lenyap, selama sumber sosialisme atau komunisme sendiri masih mengalir, selama aturan yang memeras tenaga dan kehidupan kaum buruh itu belum berhenti, maka reaksi diatasnya, yang berupa pergerakan kaum buruh tidaklah bisa dihilangkan pula adanya...." "Walaupun pergerakan buruh dan tani itu dirintangi atau ditindas sekeras-kerasnya, walaupun perkataan komunisme sekarang sudah sama artinya dengan Digul, maka pastilah pergerakan ini --entah kapan akan muncul lagi dan muncul lagi selama kapitalisme masih ada di Indonesia, pastilah saban-saban lagi timbul reaksi ini, tidaklah dapat dikatakan sekarang atau dikira kira lebih dulu, oleh karena ia tergantung daripada sikapnya kaum yang dimusuhinya, akan tetapi bolehlah dipastikan lebih dulu, bahwa selama kapitalisme dan imperialisme itu masih ada, pasti reaksi itu akan datang". Bagaimana dalam kenyataannya? Benarkah seperti yang disimpulkan Bung Karno di atas bahwa selama masih ada kapitalisme dan imperialisme, komunis akan muncul kembali? Marilah kita cermati kenyataan sejarah. Pada tahun 1926/1927 PKI melancarkan pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Pada waktu itu PKI masih dalam masa kanak-kanaknya. PKI belum berdekrit belum mengenal sifat masyarakat Indonesia. Persoalan pokok revolusi Indonesia, masalah front Persatuan nasional, pemberontakan lebih banyak didorong oleh semangat yang tinggi dan menyala-nyala untuk merdeka. Dengan demikian mudah dipukul oleh penjajah Belanda. Sesungguhnya syarat-syarat untuk menangnya suatu pemberontakan melawan kolonialisme Belanda, ketika itu, belum tersedia dengan memadai. Pemerintah Belanda segera melakukan penangkapan, pembuangan, penggantungan terhadap para pemberontak yang mereka bekuk. PKI segera dilarang berdirinya. Di samping kekejamannya sebagai penjajah, kolonial Belanda hanya menangkap yang bersalah dan yang tidak terlibat tidak mereka apa-apakan. Apalagi keluarga para pemberontak. Karena itu dimungkinkan untuk hidupnya PKI di bawah tanah pada tahun 1936, setelah Musso datang di Indonesia. Kedatangan Musso tsb ialah untuk melaksanakan garis Komintern tentang pentingnya menggalang Front Rakyat anti fasis, seperti yang dikemukakan Dimitrov dalam sidang Komintern. PKI yang dibangun kembali oleh Musso itu terus bekerja di bawah tanah, sesudah Proklamasi kemerdekaan diumumkan bung Karno-Hatta pada 17 Agt 1945, maka PKI pun muncul pada 21 Oktober 1945 di bawah pimpinan Mr Mohd. Yusuf. Sedang partai-partai-politik yang lain baru muncul setelah Maklumat 3 November 45 dari Moh. Hatta, yang mengimbau supaya dibangun partai-partai politik guna memenangkan Proklamasi kemerdekaan. Selanjutnya di tengah-tengah PKI sedang mempersiapkan guna menyelenggarakan Kongres Fusi: PKI, Partai Sosialis, Partai Buruh Indonesia, yang direncanakan akan dilangsungkan 3 Oktober 1948, guna melaksanakan Resolusi Jalan Baru utuk Republik Indonesia, (koreksi Musso), maka pecahlah peristiwa Madiun, sebagai hasil provokasi Pemerintahan Hatta, 19 Sept 1948. Presiden Sukarno memaklumkan perang terhadap PKI: pilih PKI-Musso atau Sukarno-tatta. Penangkapan, pemenjaraan terhadap anggota-anggota PKI dilakukan pemerintah Hatta. Tak terkecuali tokoh-tokoh PKI pun dibunuh tanpa proses hukum di Ngalihan. Pemerintah Hatta tidak sempat melarang berdirinya PKI, karena tentara Belanda melancarkan perang kolonial kedua pada bulan Desember 1948. Sementara tahanan PKI dapat meloloskan diri dari bui-nya Hatta dan mereka terus bergerilya melawan tentara kolonial Belanda. Berkat campur tangannya PBB, akhirnya lahir persetujuan KMB. Untuk menentukan sikap terhadap persetujuan KMB diselenggarakan sidang KNIP pada akhir thn 1949 di Yogyakarta. Sementara anggota KNIP dari PKI, hadir dalam persidangan itu dengan tiada rintangan. Sesudah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia maka PKI pun bekerja secara terbuka kembali. Dalam waktu 5 tahun saja, yakni ketika diselenggarakan pemilu di tahun 1955 ternyata PKI menempati posisi keempat, sesudah PNI, Masyumi dan NU. Selanjutnya pada tahun 1965 terjadilah apa yang dinamakan G.30-S. Dengan menggunakan G.30-S, Suharto dapat menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya dan untuk itu PKI dihancurkannya lebih dulu. Ketika itu jutaan massa anggota dan simpatisan PKI yang dibantai, di samping ratusan ribu yang ditahan tanpa proses hukum. PKI dinyatakan sebagai partai terlarang, terutama dengan memanipulasi Supersemar keluarlah Tap MPRS No XXV/1966. Selama 32 tahun Suharto berkuasa selalu dimamahbiakkannya bahwa G.30 S adalah pemberontakan PKI. Padahal G.30-S itu "panglimanya" adalah Suharto, kata Sawito, dalam menyambut peluncuran buku kolonel Latief 17 Mei 2000. Kekuasaan fasis Suharto akhirnya dapat dilengserkan oleh gerakan mahasisswa dan rakyat. Habibie diorbitkan Suharto sebagai penggantinya. Pendukung-pendukung Suharto fasis masih tetap bertahan dalam posisinya masing masing. Setelah Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tak lama setelah Gus Dur jadi Presiden ditunjukkan dirinya berusaha untuk menegakkan demokrasi dan membela hak azasi manusia. Gagasannya untuk mencabut Tap MPRS No XXV/1966 segera dimunculkannya. Reaksi bermunculan, terutama dari pendukung fasis Suharto. Karena bila Tap MPRS tsb sampai dicabut berarti benteng terakhir Suharto untuk fasisme direbut. Untuk membela sistem fasisme tetap berlaku di Indonesia, maka muncullah kelompok "Komando Anti Komunis (KAK)". Dengan demikian PKI memang belum dapat muncul kembali, setelah hampir 34 tahun di "matikan". Apakah dengan demikian kesimpulan Bung Karno bahwa selama masih ada kapitalisme dan imperialisme PKI tetap akan muncul kembali tidak terbukti kebenarannya? Kesimpulan Bung Karno di atas sudah terbukti. Lihatlah sesudah PKI dilarang oleh Belanda penjajah pada tahun 1927, maka pada 21 Oktober 1945 PKI muncul ke permukaan. Juga sesudah PKI dipukul di Madiun tahun 1948, thn 1950 PKI muncul kembali kepermukaan, malah pada tahun 1955 menjadi salah satu pemenang pemilu. Dan sudah bisa diperkirakan, bahwa PKI akan muncul kembali, bagaimana pun juga usaha kelompok Komando Anti Komunis menghambatnya. Usaha mereka akan sia-sia. PKI anak zaman akan melahirkan zaman baru yang lebih baik dari zaman kapitalisme. Situasinya masih dalam pergolakan. Dilihat sepintas situasinya seakan menempatkan Komando Anti Komunis berada di atas angin dalam usahanya menentang dicabutnya Tap MPRS XXV/1966. Karena yang secara terang-terangan mendukung dicabutnya Tap MPRS itu kelihatan baru sejumlah LSM, sedang pihak yang menentang kelihatannya besar. Maklumlah partai-partai Poros Tengah, apalagi Golkar memang berkepentingan mempertahankan tetap berlakunya sistem fasis tsb. Memang perjuangan untuk menegakkan demokrasi tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu yang pendek. Perjuangan akan berjalan lama. Tetapi bagaimanapun juga kuat kelompok anti komunis, yang menentang dicabutnya Tap MPRS tsb, akhirnya mereka akan dikalahkan, seperti dikalahkannya fasisme Hitler di masa Perang Dunia II. Seperti diketahui pada awal Perang Dunia II, Jerman-Italia dan Jepang berada di atas angin, namun akhirnya dikalahkan oleh kekuatan demokrasi. KAK rupanya tidak mau belajar dari sejarah. Karena itu akan diajar oleh sejarah. Tentang KAK akhirnya akan kalah, sudah terbayang dari apa yang dinyatakan Gus Dur dalam dialog interaktif di TVRI (20/4) bahwa yang tidak setuju pencabutan Tap MPRS tsb hanya kalangan elit. Rakyat biasa sebenarnya tak ambil pusing. Malah Dawam Rahardjo dalam diskusi terbatas bertajuk "Menyongsong bangkitnya neo-komunisme" di Jakarta (19/5) mengatakan: Ide Presiden untuk mencabut Tap MPRS No XXV thn 1966 besar kemungkinannya akan berhasil. Ide ini cukup kuat dan akan berhasil. Sebab, dasar alasannya kuat, yakni demokrasi. Jadi jika tiap orang bebas menyatakan ideologinya, maka tidak adil bila komunis dilarang. Tiap ideologi dalam demokrasi boleh diperjuangkan sepanjang caranya tidak melanggar hukum. Lagi pula, bila PKI dilarang, maka partai lain, misalnya Golkar atau bahkan mungkin juga partai yang berasaskan Islam akan dilarang, sambung Dawam Rahardjo. Yah, tantangannya adalah pada kesiapan umat beragama. Bila kita gagal membentuk negara yang sejahtera, maka komunis pasti mengambil alih. Komunis hanya bisa dilawan dengan tindakah nyata melalui pemberdayaan umat yang terpinggirkan atau hidup sengsara (Republika, 21/5). Di tempat yang sama, Al Chaidar, tokoh yang menjadi motor Tabligh Akbar sejuta umat untuk Ambon, di Monas beberapa waktu yang lalu, menyatakan sepakat bahwa pelarangan komunis itu memang tidak perlu. Alasannya, "Komunis nantinya bisa dijadikan sparing partner bagi ajaran Islam. Biar saja Tap MPRS itu dicabut. Sebab, bila komunisme diperbolehkan, maka wacana ideologi Islam juga bebas diperdebatkan kembali secara fair". Sesungguhnya latar belakang KAK menolak dicabutnya Tap MPRS XXV/1966 itu, karena dewasa ini rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan lebih dari 60 juta orang. Itu merupakan lahan yang subur bagi komunisme. Apalagi kemiskinan yang diderita rakyat Indonesia dewasa ini adalah buah kekuasaan Suharto yang menggunakan Tap MPRS No XXV/1966 sebagai senjatanya. Dengan bersenjatakan Tap tsb, maka Suharto dengan mudahnya saja mencap semua orang komunis, subversi dan segera dijebloskan ke dalam penjara jika mengecam pemerintahnya melakukan KKN. Rakyat yang hidup di bawah kemiskinan ini, merupakan musuh bagi KAK. Rakyat yang hidup di bawah kemiskinan itu makin lama akan makin sadar, bahwa kemiskinan yang mereka derita adalah karena KAK mendukung sistem fasisme Suharto. Bila KAK tidak menentang dicabutnya Tap MPRS itu, tentu PKI akan berjuang untuk menghapuskan ketidak adilan di bumi Indonesia, sehingga mereka akhirnya akan keluar dari posisi sebagai hidup di bawah kemiskinan. *** - ------------------------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Jun 2000 jam 15:44:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
