---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Robert S Gelbard : AS Tidak Mendukung Aceh Untuk Merdeka BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Selasa, 13 Juni 2000) Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert S Gelbard, dalam kunjungannya ke Banda Aceh, dalam rangka melihat secara langsung jalannya Jeda Kemanusiaan untuk Aceh serta penyerahan bantuan kemanusiaan sebesar US$ 3 Juta atau sekitar 25,5 Milyar rupiah dari pemerintah AS untuk korban kekerasan di Aceh, terutama untuk peningkatan kesehatan anak-anak dan perempuan melalui Save The Children perwakilan Banda Aceh, menyatakan kegembiraannya atas perkembangan yang telah dicapai oleh pemerintah RI dan GAM pada Komite Kemanusiaan dan Komite Mobilitas Keamanan Jeda Kemanusiaan itu, "kami sangat terkesan atas perkembangan yang telah di capai dalam waktu yang sangat singkat ini oleh komite-komite itu, bahwa mereka sudah setuju dan berhasil menyusun langkah-langkah kongkrit dan headline kerja mereka dalam usaha menyampaikan bantuan-bantuan kemanusiaan, ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak memiliki niat yang sangat baik untuk meluruskan persoalan-persoalan yang sedang terjadi, buktinya tentu saja akan kita lihat dalam proses implementasinya, dan kami orang Amerika hanya percaya kepada hasil, kami percaya bahwa kedua belah pihak yang duduk dalam komite ini akan terus memanfaatkan dan menggunakan waktu dan energi mereka untuk mencapai hasil yang kongkrit dan jelas, sesuatu yang menakjubkan kami adalah, bahwa tingkat kekerasan di Aceh telah menurun secara drastis dalam tempo dua pekan belakangan ini". Kepada Radio Nikoya-FM, di Kuala Tripa Hotel Banda Aceh, Selasa, (13/6) malam, Robert S Gelbard yang baru pertama sekali ke Aceh itu, mengatakan, "yang terpenting adalah kedua belah pihak telah mengembangkan dan menumbuhkan rasa percaya antara satu dengan yang lain dan mereka telah menciptakan mekanisme pembangunan kepercayaan itu, seandainya terjadi sesuatu insiden, maka masing-masing pihak akan memastikan kepada pihak yang lain siapa sebenarnya yang melakukannya, dan mereka telah sejutu untuk mencari jika ada kemungkinan-kemungkinan keterlibatan pihak ke tiga melakukan provokasi. Sekarang masa waktu tiga bulan Jeda Kemanusiaan tidaklah cukup, dalam bahasa inggris jeda itu berarti berhenti sejenak saja, itu tidak cukup, dan ini harus diarahkan kepada sesuatu yang lebih kongkrit dan lebih permanen, kita semua harus melakukan proses transformasi dari tiga bulan sekarang, kepada enam bulan berikutnya, 2 tahun, 10 tahun atau seratus tahun". tuturnya. Menurut pandangan pemerintah AS, Indonesia saat ini adalah Indonesia yang berbeda, tidak adalagi diktator, Gus Dur adalah Presiden Indonesia pertama yang dipilih secara demokratis, pemilihan Presiden Gus Dur adalah pemilihan yang dilakukan dengan proses yang sangat transparan pertama yang pernah dilihat di Indonesia. "Sama saja dengan di Aceh ini, membutuhkan waktu bagi masing-masing pihak untuk saling percaya antara satu dengan yang lainnya, demikian juga pemerintahan Gus Dur perlu waktu membangun proses demokrasi di Indonesia, pemerintah AS memiliki harapan besar kepada Gus Dur dan dia berhak mendapat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, dia juga berhak diberikan waktu untuk mengembangan proses demokrasi ini serta dia berhak juga mendapat dukungan dari rakyat Aceh, karena Gus Dur adalah satu-satunya orang yang punya keberanian untuk mendukung proses penandatanganan Jeda Kemanusiaan untuk Aceh itu, padahal pada waktu yang sama ada orang-orang yang berusaha untuk menghentikannya, dan dia benar-benar telah menunjukkan keberanian serta mempertaruhkan namanya, dan keberaniannya itu perlu mendapat dukungan serta sambutan semua pihak, saya kira masyarakat Aceh sedang bertanya-tanya apa yang terjadi setelah Jeda Kemanusiaan ini, pemerintah AS mengharapkan kepada pemerintah Indonesia akan bersedia mengambil langkah-langkah yang konferensif untuk menyelesaikan persoalan Aceh ini secara lebih meluas, sebagaimana diketahui bahwa pemerintah AS akan tetap mendukung proses integrasi dan persatuan serta kesatuan Indonesia, dan pemerintah AS tidak pernah mendukung usaha-usaha bagi kemerdekaan Aceh, sebab kami percaya bahwa pemerintahan baru yang demokratis di Indonesia akan bersedia bekerjasama untuk menampung aspirasi-aspirasi yang berkembang didalam masyarakat Aceh, dan itu tidak akan bisa terjadi dalam satu malam, sebab perubahan terhadap demokrasi itu membutuhkan waktu, dan membangun proses demokrasi yang kuat juga membutuhkan waktu, kami pemerintah AS mengharapkan agar rakyat Aceh dapat memberikan kepercayaan kepada Gus Dur untuk melakukan hal ini dan kami akan mendukung proses ini", kata Gelbard. Selain bantuan kemanusian dari pemerintah AS tersebut yang diberikan sejalan dengan ungkapan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madeleine Albright tanggal 15 Mei lalu, sebesar US$ 3 Juta atau sekitar 25,5 Milyar rupiah untuk rakyat Aceh, yang disalurkan melalui Save The Children perwakilan Banda Aceh, pemerintah AS akan pula memberikan bantuan-bantuan dalam bentuk lain untuk membantu kedua komite bekerja kearah penyelesaian persoalan Aceh serta Amerika akan terus mendukung proses monitoring Hak Asasi Manusia di Aceh. Jika proses itu semua menjadi suatu proses yang berkelanjutan, maka pemerintah AS akan siap dan bersedia memberikan bantuan dan pembangunan ekonomi atau investasi di Aceh. Dalam dua pekan mendatang delegasi-delegasi Amerika akan datang ke Aceh untuk melakukan penelitian-penelitian bagi pembangunan perekonomian di Aceh dan akan mendorong negara-negara maju serta lembaga donor internasional untuk secara bersama-sama membangun Aceh. (Tim). ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jun 2000 jam 04:34:11 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
