---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Strata Elit Bermasalah Rakyat Merdeka, Tajuk 8 Juni 2000 Ucapan Presiden Abdurrahman Wahid dalam seminar bertema pemelihan presiden secara langsung di jakarta belum lama ini, tidak ada salahnya kita renungkan sejenak. Dua kalimat penting yang diucapkan Gus Dur ketika membuka seminar sebagai pembawa keynote specch, adalah "Aspirasi rakyat yang kurang pendidikan, bisa dipastikan jujur, daripada para sarjana yang bergelar profesor, doktor, akan tetapi maling". Itu satu. Kemudian ada kalimat yang diakuinya bernada keras "ya, kalau semua orang munafik, hasilnya adalah kemelut dan kerusuhan seperti sekarang ini. Harus kita kemukakan di sini bahwa sebelum berbicara dalam seminar, telah terjadi pencopotan atas dua orang anggota kabinetnya, Yusuf Kalla dan Laksamana Sukardi. Kemudian, terjadi kasus penggelapan dana tigapuluh lima milyar dari Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Bulog, disusul kerusuhan Salemba di mana lima mobil tentara dibakar mahasiswa. Secara kasuistis, rentetan kejadian yang menghebohkan ini memang tidak ada sangkut-pautnya. Akan tetapi secara sosio-kultural, semua rentetan peristiwa kekerasan, semua aksi demo menuntut Soeharto diadili, usul-usul kenaikan harga BBM, tarif angkutan, tarif listrik, air minum, terpuruknya nilai rupiah, dan banyak masalah lainnya, memiliki saling kaitan erat. Ini hanya bisa kita pahami, jika kita studi melongok ke luar, dengan membuat perbandingan antara produk spiritual strata elit negara maju dengan Indonesia. Selam dua abad terakhir, menjelang meletusnya PD I sampai usang Perang Vietna, strata elit Barat telah menghasilkan bergudang-gudang buku hasil kerja spiritual hampir dalam semua dimensi kehidupan politik, ekonomi dan kebudayaan. Kegiatan think and rethink telah dijadikan budaya dan tradisi generasi demi generasi. Apa yang telah dihasilkan strata elit Indonesia selama tiga dasa warsa terakhir? Budaya hedonisme, konsumerisme dan kemandulan spiritual, hampir dalam semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sisanyamasih kita lihat dan kita rasakan sekarang ini, dan barangkali belum lenyap sama sekali sampai abad 2000 berganti menjadi abad 2001. Hampir semua tulisan yang melancarkan kritik terhadap perilaku dan sifat kontra produktif strata elit penguasa semasa Orde Baru, dilarang dan dimusnahkan. Bangsa Indonesia dijadikan kerdil spiritual dan terbelakang. Budaya takut dan munafik merambah seluruh nasional, hasil produk Poros Tengahmereka cerca dan mereka cari-cari kesalahannya, tidak untuk meluruskan apa yang bengkok, akan tetapi untuk membengkokkan apa yang lurus. Sentimen agama, sentimen ideologi, primodalisme kesukuan, esenjangan dalam semua aspek kehidupan tidak dihempang malah ditumbuhkan suburkan. Suatu lapisan cendikiawan yang diberi gelar belar akademis yang tidak masuk akal waras dipelihara dan dikembangkan strataelit untuk dijadikan pengeras suara dalam meneriakkan kelancungan watak strata elit yang memiliki status quo. Strata elit yang katakan saja bermasalah ini, saat ini menyalahkan gerakan mahasiswa untuk mengkritik generasi penguasa masa lalu. Dan menghempang perjuangan generasi muda untuk melakukan penilaian kembali nilai-nilai usang yang dikatakan strata elit masa lalu sebagai "budaya adiluhung". Dengan segala cara yang licik, mereka sebarluaskan fitnah bahwa perjuangan mahasiswa sudah memiliki sifat anarkistik. Padahal, strataelit masa lalu itulah yang sebenarnya merupakan biang keladi dari semua malapetaka dan permasalahan yang merusak kerukunan dan keutuhan bangsa. Generasi muda yang bejuang dan berkoban tanpa pamrih untuk menegakkan keadilan dan kebenaran yang sudah lama menghilang dari bumi nusantara malah difitnah sebagai sudah keluar dari rel supremasi hukum, akan tetapi mereka itulah yang menginjak-nginjak hukum serta keadilan. Mau lihat buktinya? Simak keterangan para kroni Soeharto yang kini didengar keterangan mereka oleh yang berwajib. Main silat lidah, dan berdusta tanpa mendipkan mata. Dalam hampir semua kemelut yang terjadi di masa Orde Baru bahkan pasca pemerintahan Soeharto, semua saksi mengacu kepada keterlibatan Cendana. Namun dengan segala akal busuk, para kroni itu tetap petentang- petenteng dan cengengesan. Terus terang dalam hati strata elit yang bermasalah itu sudah mulai gentar dan mulai menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat selama bentang kekuasaan mereka. Generasi muda perlu bersabar sedikit, dan memberi kesempatan mereka menggali kesuburan mereka sendiri. *** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jun 2000 jam 08:16:58 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
