----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Operasi Bakti Surya Bhaskara Jaya

Mencairkan Kebekuan Komunikasi Warga Maluku

Kompas/abdul lathif, Senin, 12 Juni 2000

SANTAI - Pasukan Marinir TNI AL sedang berlayar dari Ambon menuju
Surabaya dengan KRI Teluk Banten -516. Untuk melepas penat, mereka
saling bercanda satu dengan yang lain sambil menikmati gelombang
laut. TIGA hari sebelum kegiatan operasi bakti TNI AL, Surya
Bhaskara Jaya (SBJ) ke-45 di wilayah Ambon (Maluku) berakhir,
terjadi serangkaian peristiwa penembakan oleh orang-orang tak
dikenal. Tewasnya Pratu Gempur Wasiso (27), salah seorang prajurit
Kostrad menjadi bukti, wilayah Ambon belum kondusif. Belum
diketahui pasti siapa yang melepaskan tembakan ke arah korban.
Akan tetapi, yang jelas, belakangan ini di wilayah Ambon muncul
penembak-penembak gelap yang dikenal dengan sebutan sniper.

"Ada banyak persoalan di Maluku menjadi semakin kompleks, termasuk
kedatangan pihak tertentu yang menimbulkan ketegangan baru yang
dimanfaatkan oleh berbagai pihak, atau oknum untuk mengeruhkan
situasi," ujar Gubernur Maluku, MS Latuconsina, kepada Kompas usai
penutupan SBJ, di atas KRI Teluk Banten-516, di Dermaga Halong,
Ambon 25 Mei.

"Penderitaan warga masyarakat mulai terbantu dengan adanya
kegiatan SBJ ini, dan lebih 10.000 penduduk mendapat layanan
kesehatan," ujar Latuconsina.

Ia menilai, SBJ ini merupakan suatu langkah awal sebuah kegiatan
kemanusiaan guna membantu masyarakat Maluku. Tak hanya berupa
layanan kesehatan, tetapi juga pembangunan sarana fisik seperti
barak-barak pengungsi dan pasar. Justru yang lebih utama adalah
terciptanya rekonsiliasi sesama warga Maluku, sehingga tercipta
suasana yang kondusif.

"Kami sangat berterima kasih kepada Panglima TNI dan KSAL yang
telah merencanakan operasi SBJ ini dan kalau bisa apa yang sudah
dilakukan ini bisa terus dilanjutkan, baik oleh TNI AL maupun TNI
AD dan TNI AU melalui program TNI Masuk Desa," ujarnya.

Latuconsina sangat terkesan dengan kegiatan rujuk sosial di atas
kapal perang yang diprakarsai TNI AL. Masing-masing kelompok yang
berkumpul di atas kapal bisa saling rukun dan berteman sesamanya
tanpa dendam dan permusuhan. "Kita sudah cukup lama melakukan
rekonsiliasi dan sekarang ini sudah mulai tumbuh kesadaran-
kesadaran untuk saling hidup damai. Kalau upaya rujuk sosial di
atas kapal perang ini bisa terus berlanjut, konflik ini bisa
mereda," ujarnya.

Usaha bersama diprakarsai jajaran TNI AL dalam rujuk sosial di
atas kapal perang ini melibatkan tak kurang dari 100 orang dari
berbagai lapisan warga masyarakat, terutama tokoh adat dan kepala
desa serta pemuda.

Sebagaimana yang digelar pada hari terakhir operasi (24 Mei) di
atas geladak KRI Teluk Banten-516 yang dikomandani Letkol Laut (P)
Widodo, mereka sebagai warga Ambon itu bersepakat hidup rukun dan
damai sekaligus tak menghendaki pertikaian dan permusuhan.

Mereka memilih untuk hidup rukun dan damai sebagaimana yang pernah
mereka rasakan sebelum konflik antarsesama warga meledak hingga
menelan tak kurang dari 750 korban jiwa dan membuat sekitar
170.000 pengungsi menderita, di antaranya 20 persen anak-anak.
"Rujuk sosial di atas kapal perang milik TNI AL merupakan langkah
awal yang baik dan tentunya kami akan terus melanjutkan apa yang
sudah dilakukan oleh TNI AL melalui SBJ ini," ujar Latuconsina.

"Sesungguhnya warga Ambon dan Maluku tak menghendaki pertikaian
dan mereka sangat cinta damai antarsesamanya. Kalaupun masih saja
terjadi letupan-letupan itu karena ulah orang-orang yang memiliki
kepentingan di atas kepentingan," ujar Noce Wairata, salah seorang
tim rekonsiliasi dari Jakarta kepada Kompas di atas KRI Teluk
Banten-516.

Situasi terakhir pada bulan Mei ini, kondisi keamanan di Ambon
masih sangat rawan karena kerapkali terjadi suara-suara tembakan
dari orang-orang tak di kenal. Sebab itu, pihak jajaran Armada RI
Kawasan Timur yang terlibat dalam kegiatan SBJ di Kapal Perang KRI
Teluk Banteng-516, menjelang hari-hari terakhir kegiatan SBJ
dilarang keluar dari areal pangkalan TNI AL di Halong, Ambon.

Suasana panas masih terasa di wilayah Ambon, karena sehari
sebelumnya telah terjadi aksi penembakan oleh orang-orang tak di
kenal. Aksi ini membuat suasana Ambon makin tegang. Ketika Kompas
24 Mei meminta bantuan pengawalan dari petugas Armatim untuk
memantau perkembangan terakhir di Kota Ambon, pihak berwenang
tidak berani menjamin. "Anda sendiri kan sudah melihat situasi di
Bandara Pattimura ketika turun dari pesawat Nomad TNI AL, kan
kondisinya masih tidak menjamin keamanan dan keselamatan,"
ujarnya.

Keterangan yang diperoleh menyebutkan, sampai sekarang ini aparat
keamanan terus berpatroli dan berjaga-jaga di wilayah Ambon.
Malahan, ketika bersama rombongan Armatim mendarat di Bandara
Pattimura, tampak puluhan aparat keamanan dengan senapan laras
panjang berjaga-jaga di sekitar bandara.

Jika di wilayah Ambon masih terkesan tegang, sebaliknya dengan
situasi dan kondisi di wilayah Ternate. Kegiatan bongkar- muat
barang di Pelabuhan Ternate, mulai berangsur-angsur normal. Namun
demikian, petugas pengamanan dari marinir masih tetap siaga dan
berjaga di posko pelabuhan setempat. Sementara itu, di dermaga
pelabuhan, tim medis SBJ melayani warga masyarakat yang butuh
pertolongan.

***

TIM dokter spesialis yang tergabung dalam kegiatan SBJ ke-45 tahun
2000 di Ambon, selama satu bulan (25 April-25 Mei) berhasil
melakukan berbagai jenis operasi berat maupun ringan.

Tim dokter spesialis yang diketuai oleh dr Paul Tahalele,
spesialis bedah dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, tidak saja berhasil
menyelamatkan bocah penderita buta sejak lahir, melainkan pula
mampu menyelamatkan seorang bayi dari seorang ibu hamil sembilan
bulan melalui bedah caesar, karena menderita luka tembak pada
bagian pinggul dalam sebuah aksi kerusuhan. "Bayi perempuan
seberat 3,45 kilogram itu selamat dan kami beri nama Suryani
Bhaskari," ujar Paul Tahalele.

Tercatat selama satu bulan operasi, tak kurang 264 kasus yang
berhasil ditangani dengan baik dan selamat di atas ruang peti
kemas medis KRI Teluk Banten-516. Sedangkan, sejumlah 900 pasien
ditangani melalui operasi ringan.

Menurut Paul Tahalele, kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh
tim dokter SBJ ini tidak saja melayani para pasien korban
pertikaian melainkan pula upaya untuk mendorong pihak lain agar
ikut peduli terhadap penderitaan warga masyarakat Ambon.

Berbagai kegiatan operasi di atas kapal yang melibatkan 12 dokter
spesialis, antara lain dr Reno (ahli bedah tulang dari RSUD dr
Soetomo), dr Benson (ahli kandungan dari RSAL Surabaya), dr
Hertanto (ahli bedah dari RSAL Surabaya), dan dr Paul Tahalele
(ahli bedah dari RSUD dr Soetomo), meliputi operasi tumor, kanker,
torak, usus buntu, hernia, katarak, kanker kandungan, bibir
sumbing, dan penyambungan tulang.

"Kami juga berhasil melakukan operasi spektakuler terhadap korban
luka tembak pada dada kanan setinggi puting susu dan tembus ke
belakang yang diderita Ny Ula, menantu dr Djoko Wasoposo, ahli
kandungan RSUD dr Soetomo," ujar Paul Tahalele.

Tak hanya berhasil melakukan operasi bedah torak terhadap
Ny Ula, tim dokter spesialis SBJ juga berhasil melakukan operasi
berat lainnya atas korban luka tembak yang diderita dua laki-laki,
masing-masing berumur 17 tahun dan 30 tahun. Tim kami juga
berhasil melakukan operasi bedah tulang terhadap korban kerusuhan
yang diderita Letda Syamsir, karena tulang lengan kanannya
hancur," tutur Paul Tahalele.

***

SENTUHAN kemanusiaan melalui kegiatan SBJ ini sangat dirasakan
langsung oleh warga masyarakat, terutama para pengungsi yang
berada di daerah terisolir karena sulitnya transportasi darat
maupun laut.

Jika rasa tercekam dan serba ketakutan antarsesama warga selama
ini belum mencair, namun dengan kehadiran KRI-KRI milik TNI AL
yang bertugas menyalurkan bantuan kemanusiaan, berupa pakaian
layak pakai, obat-obatan dan sembako, menjadi obat penawar rasa
aman dan damai.

"TNI AL juga membangun masjid dan gereja serta masing-masing 10
rumah untuk pengungsi muslim maupun nasrani. Kita tak pernah
membeda-bedakan agama satu dengan agama lainnya," ujar Komandan
Satuan Tugas SBJ Maluku Utara, Kolonel Laut (P) Lili Supramono.

Sementara itu, Komandan Satgas SBJ Ambon, Kolonel Laut (P)
Moekhlas Sidik mengatakan, selama kegiatan Satgas SBJ Maluku di
daerah sasaran Pulau Seram, Pulau Haruku, Pulau Buru, dan Pulau
Ambon, pihaknya telah melakukan pelayanan kesehatan kepada 10.463
orang, antara lain meliputi kesehatan gigi 1.269 orang, khitan 318
orang, kemudian imunisasi campak 1.523 orang, polio 1.923 orang,
tetanus 149 orang, BCG 10 orang, DPT 22 orang, dan hepatitis 24
orang.

Sedangkan untuk layanan operasi katarak 67 orang, layanan umum 527
orang, layanan laboratorium 156 orang, rontgen 20 orang. Selain
itu, pihaknya juga melakukan kegiatan penyuluhan pertanian,
kegiatan olahraga untuk warga pengungsi dan hiburan. Juga layanan
rohani kepada warga muslim maupun nasrani di berbagai tempat yang
menjadi sasaran SBJ.

"SBJ ini hanya bagian kecil dari kepedulian TNI AL untuk membantu
para korban pertikaian, karena yang lebih penting justru rasa aman
dan damai di tengah-tengah warga Ambon. Sebab itu, warga Ambon
sendiri lah yang harus bersama-sama menciptakan rasa aman dan
tenteram," ujar Moekhlas Sidik.

Moekhlas Sidik lebih lanjut mengatakan, sasaran SBJ di wilayah
Ambon meliputi Pulau Seram, Pulau Haruku, dan Pulau Buru. Selama
kegiatan SBJ di ketiga wilayah kepulauan itu, pihak TNI AL bersama
instansi terkait termasuk LSM, mahasiswa maupun kelompok pramuka,
telah membangun sejumlah tempat peribadatan (masjid maupun gereja)
serta barak-barak pengungsi yang mampu menampung sekitar 200 jiwa
masing-masing Haruku empat barak pengungsi, Masohi dua barak
pengungsi dan dua pasar, Kairatu satu barak pengungsi dan satu
pasar, Namlea dua barak pengungsi, dan Waiputih dua barak
pengungsi.

"Selama satu minggu SBJ di Haruku, kami mampu membangun empat
gedung kelas untuk anak-anak sekolah dasar."

Moekhlas Sidik mengatakan, SBJ yang digelar TNI AL ini tidak
bermuatan politis, karena tujuan utama dari kegiatan ini adalah
mengupayakan rekonsiliasi dan rujuk sosial.

Komandan Lanal Ambon, Kolonel Laut (P) Didi Setiadi mengatakan,
kegiatan SBJ ini merupakan salah satu faktor untuk memulihkan rasa
aman sekaligus membuka kebekuan komunikasi sesama warga Ambon. Ini
berarti pula, jika kegiatan SBJ ini berakhir, bukan berarti TNI AL
tidak lagi melakukan kegiatan-kegiatan rehabilitasi sosial maupun
kemanusiaan.

"Kami berharap kebekuan komunikasi antarsesama warga mencair dan
SBJ ini hanya sarana pembuka untuk saling berkomunikasi," ujar
Komandan Satuan Gugus Tugas SBJ Maluku dan Ambon, Laksamana
Pertama Franky Kayhatu, ketika SBJ ke-45 ini mulai berlangsung.

(Abdul Lathif)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Jun 2000 jam 10:53:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke