---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 21/III/19-25 Juni 2000 ================================================ DOKTER UNTUK PRESIDEN Oleh: Poetranegara (OPINI): Menurut Anda Pembaca, mana profesi yang lebih penting: Presiden atau Dokternya Presiden? Kalau presiden sedang sehat, tentu dokter kepresidenan menjadi tidak penting. Baru bila presiden sakit, profesi dokter presiden menjadi sangat penting. Baru-baru ini banyak tokoh elit politik mengusulkan perlunya dokter independen untuk presiden Gus Dur. Apakah Gus Dur sedang sakit? Ya menurut para pengusul, ucapan-ucapan Gus Dur dianggap sakit karena membingungkan banyak orang. Konon menurut mereka, orang yang sudah dua kali kena serangan stroke bakal kacau omongannya, sering meracau tak jelas, dan membuat orang sekitar jadi khawatir, bahkan kasihan. Apakah Gus Dur demikian? Wallahu'alam. Anda sendiri, setuju kalau ada dokter independen untuk Presiden Gus Dur, atau tidak? Dari jawaban Anda saja, saya bisa menebak siapa patron politik Anda. Isu dokter untuk presiden bisa digunakan untuk memetakan politik Indonesia, bahkan memetakan lawan-lawan Gus Dur. Amien Rais setuju dengan adanya tim dokter independen untuk presiden, simak ucapannya saat konperensi pers 14 Juni lalu, "Saya sangat setuju, dan sekarang ini saya sering ditanya orang-orang tentang pernyataan Gus Dur yang kontroversial dan mengundang konflik. Saya setuju dibentuk tim dokter untuk memeriksa kesehatan Gus Dur, daripada ribut-ribut. Mungkin kriteria yang paling obyektif diberikan kepada tim dokter yang independen untuk memeriksa kesehatan Gus Dur secara komplit. Kalau memang bagus katakan bagus. Kalau ada sesuatu yang lemah, katakan lemah. Sehingga, kita bisa berunding bersama-sama tentang diteruskan tidaknya kepresidenan Gus Dur. Usulan tes ulang kesehatan Presiden ini bukan masalah perorangan sama sekali. Ini bukan karena subyeknya Gus Dur." Itu Amien Rais dari PAN, bagaimana dengan Golkar? Ketua DPP Golkar Agung Laksono menyatakan, "Partai Golkar mengusulkan agar MPR menunjuk dokter independen untuk mendiskusikan kesehatan Presiden Gus Dur karena pernyataan-pernyataannya sering inkonsisten dan tidak konsekuen" (Media Indonesia, 14/6). Anda percaya satu partai Golkar punya suara sama? Mari kita simak apa kata Akbar Tanjung, "Saya pikir, hal itu belum perlu. Karena Presiden punya tim medis sendiri," Menurut dia, sejauh ini tidak ada laporan dari tim medis mengenai gangguan kesehatan Presiden. "Artinya, Gus Dur sehat-sehat saja," sambung bekas Mensesneg itu (Bernas, 15/6). Lho jadi bagaimana dengan pernyataan Agung Laksono yang mengatasnamakan Golkar itu? Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Muchyar Yara mengatakan di depan wartawan DPR bahwa pernyataan Agung Laksono itu bukan merupakan pernyataan resmi Golkar, tapi pernyataan pribadi akibat tendensi politik kelompoknya. "Kalau toh sekarang Gus Dur disalahkan, seharusnya MPR-lah yang lebih dahulu disalahkan. Sebab, Gus Dur sudah lolos persyaratan kesehatannya saat dicalonkan jadi presiden di SU MPR," katanya. Nah, aneh kan! Sekarang, siapa yang sakit? Presiden, ...Elit politik, atau... jangan-jangan kita semua warga negeri ini sedang sakit? Ya ya, jangan-jangan kita semua? Kalau kita semua, berapa dokter yang dibutuhkan, dan dokter macam apa? DOKTER DALAM POLITIK Saat kita ke dokter, lazimnya kita tidak menyoal obat apa yang dia berikan (bayangkan, kita toh tetap menebus resepnya di apotik meski dokter merekomendasikan racun untuk diminum), tapi pertama-tama dan yang utama penting bagi kita, apakah sang dokter itu kita percaya atau tidak? Ada unsur sugesti yang irasional tapi bisa jadi justru lebih cepat menyembuhkan. Demikianpun dengan dokter untuk presiden. Belajarlah dari Soeharto bagaimana ia yang memilih sendiri dokternya, atau paling tidak keluarganya yang memilihkan dokter. Dokter yang ditunjuk parlemen bisa jadi sangat membahayakan. Belajarlah dari Soekarno, dokternya ditunjuk oleh parlemen yang notabene adalah TNI AD yang di bawah Soeharto memang berniat mempercepat kematiannya secara mengenaskan. Tampaknya banyak pihak yang tidak sabar menginginkan Gus Dur untuk segera mundur. Sehingga, isu perlunya dokter untuk presiden pun diangkat ke permukaan. Tapi saya melihat isu dokter untuk presiden ini serius. Karena politisi itu seperti pemain catur, yang sudah memperhitungkan langkah lanjutan bila memang langkah pertama berhasil. Itu berarti sudah disiapkan satu tim yang punya letimasi medis untuk "menguasai" Gus Dur. Kalau langkah pertama itu gagal (seperti gagalnya isu usulan Menteri Pertama), langkah lain pun pasti akan ditempuh, seperti misalnya, "Gus Dur membutuhkan Dukun Independen!" Nah... (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------------------ SiaR WEBSITE: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Jun 2000 jam 05:50:44 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
