----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 21/III/19-25 Juni 2000
================================================

ELIT TNI MASIH DIDOMINASI GAM

Oleh: Hendry Boen

(OPINI): Dalam wawancara di sebuah harian Ibukota, Hasyim Wahid (Gus
Im) mengatakan, bahwa elit Indonesia itu tidak jauh dari GAM (Geng
Anak Menteng). Gus Im memberi contoh Gus Dur, yang putera seorang
Menteri Agama (KH Wahid Hasyim), yang pernah tinggal di Jl Diponegoro,
daerah bergengsi di Jakarta. Dan Mbak Mega, yang dulu pernah tinggal
di Istana, kini kembali ke Istana.

Selanjutnya Gus Im mengatakan, elit TNI juga begitu. Gus Im menyebut
Letjen TNI Purn Prabowo (menantu Soeharto), Letjen TNI Purn Agum
Gumelar (menantu mantan Menparpostel Achmad Tahir), dan Letjen TNI
Purn Susilo Bambang Yudhoyono (menantu Letjen TNI Purn Sarwo Edhi).

Apa yang dikatakan Gus Im tersebut, mengacu pada sebuah teori
sosiologi yang dikenal sebagai leisure class (terjemahannya kira-kira:
kelas yang santai). Teori ini menjelaskan sebuah fenomena dalam
masyarakat, bahwa dalam masyarakat, selalu ada sekelompok orang, yang
untuk mencapai kekuasaan dan kesejahteraan tidak perlu bekerja keras,
karena faktor asal-usul keluarga yang memang sudah kuat.

Daftar nama di atas masih bisa diperpanjang, bahwa elit politik
Indonesia sekarang, adalah anak atau cucu elit di masa lalu. Sebut
saja Jaksa Agung Marzuki Darusman (putera diplomat senior Surjono
Darusman), Menhan Juwono Sudarsono (putera diplomat senior Dr
Sudarsono), Dirjen Dikti Depdiknas Dr Ir Satrio Sumantri (putera dari
mantan Mendikbud Prof Dr Sumantri Brojonegoro). Namun di tengah
kelompok leisure class tersebut, sempat juga muncul figur yang berasal
dari "orang susah", seperti Harmoko dan Abdul Gafur.

Fenomena leisure class tersebut masih terlihat pada mutasi TNI
baru-baru ini. Danjen Kopassus yang baru, yakni Brigjen TNI Amirul
Isnaeni, adalah menantu dari Mayjen TNI Purn Soeprapto (mantan
Gubernur DKI 1982-1987). Kemudian calon Waasops KSAD, yakni Brigjen
TNI Hadi Waluyo (kini masih menjabat Direktur Latihan Kodiklat
TNI-AD), adalah juga menantu dari Letjen TNI Sarwo Edhi. Mungkin
banyak orang belum tahu, Kaster TNI Letjen TNI Agus Wijoyo, bisa masuk
kategori GAM, karena ia putera almarhum Mayjen TNI Anumerta Soetojo,
dan menantu tokoh PNI Isnaeni, yang kebetulan juga tinggal di Jl
Diponegoro.

Namun tidak semua "anggota" GAM sukses dalam meniti karir, ada juga
yang rontok. Contoh paling jelas adalah Mayjen TNI Zacky Makarim.
Orang tua Mayjen Zacky tinggal di kawasan Menteng juga, meski agak
pinggir, yakni di Jl. Talang. Semasa remaja ia bersekolah di SMA PSKD
I, yang terletak di Jl Diponegoro.

Anak Menteng yang karirnya tampaknya juga kandas, adalah Kasdam
VI/Tanjungpura Brigjen TNI Yudo Wibowo. Dalam mutasi yang diumumkan
baru-baru ini, nama Brigjen Yudo Wibowo tidak termasuk yang
dipromosikan, namun "diparkir" sebagai Pati Dephan. Ketika remaja,
Brigjen Yudo bersekolah di SMA Cikini yang bergengsi, dan tinggal di
Jl Taman Kimia, yang termasuk kawasan elit juga. Maklum ayah beliau
juga seorang pati. Di kawasan ini dulu juga pernah tinggal almarhum
Mayjen TNI Purn Pranoto Reksosamudro, musuh besar politik Soeharto.

Kalau melihat gejala dominasi GAM seperti itu, maka bagi mereka yang
berada di luar lingkaran GAM, ibaratnya tinggal menunggu nasib saja.
Itulah yang terjadi pada Aster KASAD Mayjen TNI Saurip Kadi, yang
tidak sampai enam bulan menjabat sebagai Aster KASAD, dan kini sudah
tersingkir. Terang saja, karena Mayjen Saurip berasal dari daerah yang
jauh dari Menteng, yaitu Brebes (Jawa Tengah).

Begitu juga dengan rekan dekat Mayjen Saurip, yakni Brigjen TNI Robert
Romulo Simbolon (Kasdam Jaya). Kampung halaman Brigjen Simbolon lebih
jauh lagi, mungkin sekian kali lebih jauh jarak Brebes-Menteng, karena
ia berasal dari Samosir, Sumut. Namun mereka layak bangga, meski bukan
"Anak Menteng", mereka bisa menjadi jenderal, menembus dominasi GAM.
Kalau kini atau esok mereka tersingkir, anggap saja itu suratan nasib.
Justru pengalaman (pahit) Mayjen Saurip Kadi dan Brigjen Romulo
Simbolon, bisa menjadi inspirasi bagi para "Pemda" (Pemuda Daerah)
untuk meraih sukses di Ibu Kota, seperti yang banyak terjadi di dunia
hiburan, seperti Edo Kondolongit (Papua Barat), Dessy Ratnasari
(Sukabumi), atau Sheila On 7 (Yogya). (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Jun 2000 jam 08:30:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke