----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 21/III/19-25 Juni 2000
================================================

POLITISASI GEMPA

Oleh: Wong Sutedjo

(OPINI): Jendral Juan Peron mengunjungi dan menyantuni (dan mencari
dukungan) dari para korban gempa bumi di Argentina. Negara dalam
keadaan darurat karena bencana alam itu. Dan, sesudahnya Peron
mengambilalih kekuasaan. Rakyat pun mendukungnya. Peron bersama-sama
dengan istrinya, seorang bekas pelacur, Evita Peron, kemudian menjadi
legenda, bahkan hingga sekarang.

Lebih dari limapuluh tahun kemudian, Amien Rais, Ketua Umum Partai
Amat Nasional (PAN) dan Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) sebuah
negeri bernama Indonesia, pun melakukan kunjungan yang nyaris serupa.
Juga, Akbar Tanjung, seorang ketua partai yang dulu, selama 32 tahun
lamanya berkuasa, partai korup yang selama itu pula dikuasai Jendral
Soeharto.

Mereka berdua, Akbar dan Amien, mengunjungi para korban gempa bumi di
Bengkulu, Sumatera. Namun, mereka tidak sekadar mengunjungi, tidak
sekadar sebuah kunjungan kemanusiaan, namun juga sebuah kunjungan
politik. Amien, dan juga Akbar yang berkunjung di hari yang berbeda
memberikan pernyataan-pernyataan minor terhadap Gus Dur, yang
pemerintahannya memang sedikit agak terlambat memberi bantuan. Akbar,
bahkan berpidato di depan para korban gempa, yang sebenarnya tak
seberapa parah dibanding gempa di Flores, awal dekade 1990, yang
menewaskan lebih dari seribu orang. Apa isi pidato Akbar? Ia mencaci
maki pemerintah dan hanya sedikit memberikan bantuan dari Golkar yang
memiliki kekayaan besar, bahkan mungkin lebih besar dari APBN 2000,
yang harus dikumpulkan Gus Dur dari pinjaman-pinjaman.

Para politisi lawan-lawan Gus Dur pun berlomba-lomba mengecam
pemerintahan Gus Dur ihwal gempa ini. Lalu, media massa mengutip,
memperdengarkan dan menayangkan kecaman-kecaman ini. Dan, opinipun
terbentuk: Pemerintah Gus Dur tak punya peduli terhadap para korban di
Bengkulu. "Gus Dur harusnya menunda kepergiannya ke luar negeri dan
mengunjungi para korban gempa itu," ujar Amien Rais dengan nada
sinikal, seperti biasa kalau ia berkomentar tentang Gus Dur.

Mungkin, baik Amien maupun Akbar berpikir, "Ah, mungkin dengan sedikit
mengecam pemerintah yang lamban menolong para korban, suara partai
saya di Pemilu nanti bertambah di sini."

Kini, faktanya, semua hal bisa dipolitisasi di Indonesia. Bencana
alam, pertikaian antar kampung, pinjam-meminjam di Bulog, bahkan,
suatu ketika, mungkin peci Gus Dur yang tanpa sengaja jatuh pun akan
dipolitisasi habis-habisan, untuk menjatuhkan sang pemilik peci.
Politik memang kotor, dan ia bisa berujud apa saja: kadang-kadang
setan dan kadang-kadang malaikat. Tapi lebih sering, ia berwajah
malaikat namun berhati setan.

Ambisi Amien dan Akbar menjadi Presiden memang bukan barang rahasia.
Amien bahkan sudah menyatakannya. Politik tanpa ambisi memang bukan
politik. Jadi, sah jika para politisi punya ambisi, karena itulah
makna politik. Namun, membangun politik dengan moral yang memadai,
amat penting jika para politisi telah kehilangan kendali: "membunuh"
lawan dengan senjata apa saja dan dengan cara apa saja.

Rabu (14/6) di Kartosuro, Jawa Tengah, KH Said Aqiel Siraj, salah
seorang kiai NU yang dihormati, mengecam politik Amien Rais yang
disebutnya kotor dan menggunakan cara apa saja untuk mendongkel Gus
Dur dari kursi kepresidenan yang dulu juga hasil politisasi anti
perempuan, anti nasionalis dan anti Kristen pimpinan Amien Rais
sendiri (Poros Tengah).

Menurut Said Aqiel, Amien Rais melakukan sejumlah pertemuan di luar
negeri (Singapura dan Jordania) dan di hotel-hotel di Jakarta dengan
orang-orang yang sudah diketahui jatidirinya oleh NU. Isi
pertemuan-pertemuan itu membahas pendongkelan Gus Dur. Salah satu
tokoh yang dimaksud Said yang bertemu Amien adalah Letjen (Purn)
Prabowo Subianto.

Menurut Said, Amien ingin memanfaatkan kesehatan Gus Dur yang payah.
Serangan-serangan ke Gus Dur dilancarkan terus agar Gus Dur kecapaian,
stroke-nya kambuh, gulanya naik dan dinyakatan oleh tim kesehatan
kepresidenan bahwa Gus Dur tak sanggup lagi memerintah karena alasan
kesehatan. Apalagi, ada kabar dari seputar Istana, bahwa kadar gula
Gus Dur sudah mencapai angka 400, angka yang bisa membuat seorang
seperkasa Mike Tyson, drop tekanan darahnya. Said Aqiel, tampaknya
sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya terhadap lawan politik Gus
Dur itu. Sebenarnya tidak hanya Said Aqiel. Ketua PBNU, KH Hasyim
Muzadi juga kerap geram kepada Amien. Namun Muzadi biasanya hanya
omong di belakang kepada wartawan dan mengatakan komentar tentang
Amien darinya off the record.

Inilah politik. Yang tak tahan oleh caci maki dan serangan, akan mudah
terpental. Apalagi jika serangan-serangan itu menggunakan isu yang
tidak berbasis fakta. Misalnya, isu paling mutakhir setelah isu Bulog,
yang tersebar dari mulut ke mulut, yakni: Gus Dur menerima Rp2 dari
setiap batang rokok yang terjual dari Gabungan Pabrik Rokok Indonesia.
Dahsyat kan? (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Jun 2000 jam 08:53:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke