---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- MENYIKAPI DENGAN CERDAS. Sehabis melihat berita yang mempertontonkan kelompok orang yang mengatasnamakan pembela Islam berdemonstrasi lengkap dengan atribut yang mencirikan Islam berteriak serta merusak bangunan, timbul pemikiran mengapa kita sebagai orang Islam tidak pernah menyikapi sesuatu yang bertentangan itu secara cerdas. Apa yang selama ini kita lakukan selalu lebih menguntungkan �mereka� dan kelompok Islam kerap terjebak dalam permainan mereka. Mengenal mereka (know your opponent) adalah salah satu cara menyikapinya. Kita tahu bahwa stereotip Islam di dunia barat yang telah hidup lama sekali adalah gambaran Islam yang identik dengan �Pedang dan Darah�, alias KEKERASAN. Secara historis ini memang ada ceritanya. Namun yang lebih penting disini adalah dalam pemakaian atribut Islam janganlah pernah mau dibawa kearah itu. Janganlah kita sampai mau melakukan sesuatu yang sadar atau tidak sadar (mungkin lebih banyak tidak sadarnya) suatu perbuatan yang bisa memberikan pembenaran atas stereotip yang hidup di benak mereka. Karena pembenaran itu juga akan memperkuat resistensi mereka terhadap apa yang mereka anggap �ancaman�. Kita tahu bahwa penolakan mereka terhadap Islam antara lain disebabkan oleh pemahaman kitab suci Al Quran yang diturunkan untuk menghilangkan interpretasi yang salah terhadap agama agama sebelum Islam. Bagaimana mereka mau melihat bahkan mempelajari Islam, jika Islam itu sendiri sudah dilihat sebagai �ancaman�? Tampilan wajah Islam yang sesungguhnya bisa diberikan dengan sikap yang Islami tanpa menonjolkan atribut keislaman. Keislaman bukan ditunjukkan dengan pakaian jubah putih, atau kendaraan dengan bumper sticker �We are the Moslem family�, dsb. Pemakaian atribut itu, apalagi yang disertai dengan ulah yang dapat memberikan pembenaran atas stereotip yang hidup di benak mereka hanyalah menimbulkan rasa empati yang lebih lagi. Sebuah contoh yang menarik dan aktual antara lain adalah kasus Timor-Timur. Pelajaran apa sih yang bisa kita ambil dari kasus itu ? Indonesia telah dipecundangi oleh dunia barat bukan dengan kekuatan militer, namun dengan kekuatan informasi dan dis-informasi. Stereotip yang dihidupkan kalangan militer kita adalah, dalam pertentangan kelompok disana yang menang akan selalu menghabisi yang kalah. Namun pihak Falintil tidaklah terpancing untuk melakukan perlawanan terhadap aksi kekerasan yang dibuka pihak yang kalah jajak pendapat. (entah siapa pula yang membisiki Xanana) Maka stereotip yang ada itu tidak mendapatkan pembenaran, malah sebaliknya informasi yang mendunia sangat merugikan wajah Indonesia bersama kelompok pro-integrasi. Scenario disintegrasi akanlah berjalan mulus jika kelompok Islam terus terpancing dalam mewujudkan pembenaran stereotip itu. Seperti diketahui, hal ini tengah berlangsung di bagian timur Indonesia dengan majunya kelompok jihad itu. Perlawanan terhadap kekerasan dengan memakai atribut Islam hanyalah menambah gambaran buruk atas Islam. Barangkali kita bisa mencoba bertanya mengapa Gus Dur dapat diterima oleh kalangan bukan Islam? Wajah humanislah yang pada hakekatnya merupakan sikap Islami yang ditampilkannya. Mungkin inilah kiat yang cerdik untuk menempatkan Islam dalam posisi yang setara dan lebih tinggi lagi. A. Samil ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jun 2000 jam 13:45:19 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
