----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 27 Juni 2000 13:00 UTC

** TNI AKAN GANTI SEBAGIAN BESAR TENTARA YANG BERTUGAS DI MALUKU

** MENURUT PEMERINTAH BELANDA MASALAH MALUKU ADALAH URUSAN DALAM
NEGERI INDONESIA

** OPOSISI ZIMBABWE CATAT HASIL BERSEJARAH

** Benarkah Ambon Tidak Akan Merayakan Natalan Lagi, Melainkan hanya
Takbiran?

* TNI AKAN GANTI SEBAGIAN BESAR TENTARA YANG BERTUGAS DI MALUKU

Kapuspen TNI Selasa ini mengatakan TNI akan mengganti sekitar 1400an
tentara yang selama ini ditugaskan di Maluku. Mereka itu, demikian
Marsekal Graito Usodo, sudah terlalu lama berada di Maluku dan
kemungkinan terlibat secara emosional dalam keadaan di sana.
Pemerintah di Jakarta Ahad lalu memberlakukan darurat sipil di Maluku
menyusul kekerasan agama baru yang melanda wilayah itu selama satu
minggu. Penduduk mengatakan darurat sipil hanya satu langkah saja
dari penerapan darurat militer. Penduduk kepada kantor berita Reuters
mengatakan aparat keamanan gagal total mengakhiri kekerasan antara
warga kristen dan muslim. Baik polisi maupun TNI dituduh memihak
salah satu kelompok dalam kekerasan bernuansa SARA. Pemerintah di
Jakarta sementara ini menuding pihak luar sebagai pemicu kekerasan
untuk lebih mendestabilisasi keadaan di Indonesia yang selama dua
tahun belakangan dilanda gejolak-gejolak politik. Pekan lalu
pemerintah melarang penduduk non Maluku bepergian ke sana.

* MENURUT PEMERINTAH BELANDA MASALAH MALUKU ADALAH URUSAN DALAM
NEGERI INDONESIA

Pemerintah Belanda mengatakan tidak akan mendesak dunia internasional
menempatkan satuan perdamaian di Maluku. Menurut Menteri Integrasi
dan Urusan Perkotaan, Rogier van Boxtel desakan terhadap dunia
internasional hanya bisa dilakukan apabila Indonesia memintanya.
Tetapi hal itu masih belum terjadi. Van Boxtel kembali menegaskan
pendapat pemerintah Belanda bahwa masalah Maluku adalah urusan dalam
negeri Indonesia. Menteri luar negeri Belanda Jozias van Aartsen
membicarakan masalah Maluku dengan sejawatnya dari Amerika Madeleine
Albright. Seusai pembicaraan keduanya menyatakan sangat prihatin.
Ibukota Ambon kembali dilanda kerusuhan berlatarbelakang agama antara
warga kristen dan muslim, walaupun sejak Ahad lalu, di Maluku sudah
diberlakukan undang-undang darurat sipil. Dipastikan dua orang tewas
dan sebuah mesjid serta puluhan rumah dibakar. Selama satu setengah
tahun belakangan ribuan orang di Maluku telah tewas akibat kerusuhan
bernuansa SARA itu.

* OPOSISI ZIMBABWE CATAT HASIL BERSEJARAH

Partai oposisi Zimbabwe MDC mencatat hasil bersejarah pada pemilu
akhir pekan lalu. Menurut hasil akhir partai oposisi MDC yang
didirikan sembilan bulan lalu memperoleh 57 kursi. Berarti lima kursi
lebih sedikit ketimbang yang diperoleh partai ZANU-PF pimpinan
Presiden Robert Mugabe. Karena presiden berhak mengisi 30 kursi
lainnya, maka partai ZANU-PF tetap mendapat mayoritas di parlemen,
yang terdiri dari 150 kursi. Dengan hasil pemilu bersejarah ini maka
Mugabe sendiri tidak bisa lagi mengamandemen UUD, karena untuk itu
dibutuhkan duapertiga suara parlemen. Melalui partainya, sejak 1987,
Presiden Mugabe sudah mengamandemen UUD sampai 16 kali, hanya untuk
memperluas kekuasaan. ZANU-PF mencap kecaman Uni Eropa terhadap
jalannya kampanye pemilu sebagai 'omong kosong belaka'. Para pengamat
Eropa menyimpulkan bahwa pemilu tidak berjalan jujur karena pendukung
ZANU melancarkan kekerasan terhadap para calon oposisi.

* PARA PENYANDERA FIJI TOLAK ULTIMATUM 24 JAM

Tentara yang berkuasa di kepulauan Fiji memberi ultimatum 24 jam
kepada para penyandera yang berada di gedung parlemen untuk
menyetujui susunan pemerintah baru. Apabila para pelaku kudeta
pimpinan usahawan George Speight tidak memberi tanggapan dalam satu
hari, maka tentara sendiri akan membentuk pemerintah. Speight c.s
segera menolak ultimatum tersebut. Seorang jurubicara tentara
mengatakan aksi pembebasan tidak akan dilancarkan. 27 orang sandera,
di antaranya Perdana Menteri Mahendra Chaudry serta beberapa anggota
kabinetnya, disandera selama enam minggu.

* GREENPEACE TIDAK GUBRIS TUNTUTAN PRANCIS

Para aktivis organisasi lingkungan Greenpeace nampak siap berkonflik
dengan otoritas Prancis. Mereka menolak tuntutan bahwa kedua kapal
yang melakukan aksi protes terhadap pembuangan bahan radioaktif di
laut harus meninggalkan perairan Prancis selambat-lambatnya pagi
tadi. Kedua kapal Belanda milik Greenpeace itu memprotes pembuangan
limbah pabrik nuklir di dekat la Hague di pantai Prancis Barat.
Menurut Greenpeace pabrik itu membuang limbah radioaktif di laut
sebanyak lebih dari satu juta liter per harinya. Greenpeace
menempatkan sebuah alat perekam di ujung-ujung pipa limbah pabrik
nuklir itu. Rekaman Greenpeace  bisa dilihat melalui internet.

* OECD SEPAKATI KODE ETIK BAGI PERUSAHAAN MULTINASIONAL

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Perkembangan, OECD, mencapai
kesepakatan tentang kode etik bagi perusahaan multinasional. Kode
etik antara lain mencakup lingkungan, hubungan antara majikan dan
karyawan dan pemberantasan korupsi. Kode etik itu disusun bersama
organisasi-organisasi majikan, serikat buruh dan NGO-NGO atau LSM. Ke
29 negara anggota OECD yang turut hadir dalam sidang tahunan di
Paris, Prancis, tidak akan merubah kode etik itu menjadi sebuah
undang-undang.

* SANAK SAUDARA ELIAN AJUKAN PERMINTAAN SUAKA POLITIK

Sanak saudara Elian Gonzales kepada Mahkamah Agung Amerika mengajukan
permintaan suaka politik bagi bocah enam tahun itu. Permintaan suaka
politik itu merupakan langkah terakhir dalam upaya mencegah ayah
Elian membawa pulang putranya ke Kuba. Sanak saudara Elian
berpendapat ia harus menetap di Amerika, mengingat ibunya melarikan
diri dari Kuba bersamanya. Ibu Elian tewas dalam perjalanan menuju
pantai Florida.

* Undang-Undang Darurat Sipil yang kini diterapkan di Ambon tetap
menimbulkan kontroversi, karena makin banyak saja kalangan yang
berseru supaya didatangkan pasukan pengamat perdamaian asing. Yang
jelas, orang-orang kristen di Ambon sudah makin terdesak. Bahkan
sudah ada suara-suara bahwa di Ambon tidak akan ada lagi natalan.
Laporan koresponden Syahrir dari Jakarta:

Undang-Undang Darurat Sipil merupakan langkah terbaik pemerintah.
Dengan demikian polisi dan TNI dapat mengambil langkah-langkah untuk
mencegah meluasnya konflik di Maluku. Demikian dikatakan oleh
Menkundang Yusril Ihza Mahendra. Menurutnya, diundangnya pasukan PBB
bagaimanapun akan mempengaruhi situasi politik di dalam negeri.
Menteri Negara Hak Asasi Manusia, Hasballah M. Saad kemarin
mengatakan, pemerintah tidak mempunyai pilihan lain karena itu UU No
23 tahun 1959 yang represif terpaksa diterapkan karena masyarakat
tidak mau jika UU PKB yang diberlakukan.

Kepala Staf TNI-AU Marsekal Hanafie Asnan kemarin di Jakarta
menyatakan bahwa pemerintah tidak perlu meminta bantuan pengamanan
dari luar negeri untuk menangani konflik di Maluku. Hanafie yang
sedang diproyeksi Gus Dur untuk menjabat Panglima TNI, selanjutnya
menyatakan permintaan bantuan itu hanya akan mengurangi kredibilitas
bangsa Indonesia. Dikatakannya pula: "Saya kurang sependapat dengan
pandangan-pandangan itu, sebab kita sebagai negara berdaulat tentunya
harus mengoptimalkan kemampuan yang ada tanpa dicampurtangani oleh
pihak asing apapun niatnya, walaupun dalam rangka membantu", demikian
Hanafie. Untuk itu, katanya, TNI-AU sebagai bagian TNI memberi
dukungan penuh terhadap proses pengamanan di Maluku, terutama sejak
diberlakukannya darurat sipil di daerah tersebut. KSAU tidak menyebut
berapa persisnya jumlah pasukan yang akan dikirim ke sana. Jumlah
personil Angkatan Udara, di Maluku dan Maluku Utara, seperti pasukan
khas di Halmahera dan Ambon, sekarang hanya sekitar 30 dan 60 orang
yang relatif kecil karena hanya menjaga pangkalan, ujar Hanafie.
Setelah diberlakukannya keadaan darurat sipil, tambahnya, aparat
keamanan tidak akan ragu-ragu dalam bertindak karena sudah ada payung
hukumnya. Selain akan melakukan pemeriksaan terhadap pendatang dari
luar, aparat keamanan juga akan melakukan sweeping senjata. "Secara
rinci nanti Panglima TNI akan memberi pengarahan, baik itu kepada
setiap angkatan maupun pelaksana di lapangan," ujarnya. Hanafie
tampaknya memberikan keterangan ini sebagai reaksi atas saran LBH.

Sehari sebelumnya, Direktur Eksekutif YLBHI Bambang Widjojanto
menilai pemberlakuan Undang-Undang Darurat Sipil di Maluku tidak akan
efektif. Karena itu dia usul supaya pemerintah Indonesia mengundang
pasukan penjaga perdamaian PBB. Hal ini sebenarnya sudah dikemukakan
Bambang kepada pers di Yogyakarta Selasa pekan lalu. "Pemerintah
dalam hal ini negara, bolehlah agak menundukkan kepalanya untuk
meminta bantuan peacekeeping force," kata Bambang. "Kalaulah pasukan
PBB itu diundang, maka mereka sebaiknya ditempatkan di daerah yang
dilanda konflik. Sedang komando masih dipegang oleh aparat lokal,"
sambung Bambang. Dia juga mengatakan, bantuan pasukan itu dimintakan
dari pasukan negara yang tidak menganut agama Islam atau Kristen.
Misalnya Jepang atau Thailand. Bambang juga menganalisis, darurat
sipil itu merupakan "manipulasi" ketidakmampuan aparat menyelesaikan
kasus Maluku. "Saya khawatir melalui kasus di Maluku akan dikesankan
seolah-olah persoalan Ambon akan selesai dengan pemberlakuan
Undang-Undang Darurat Sipil," ujar Bambang. "Padahal kenyataannya,
masyarakat tidak percaya lagi pada aparat yang tidak profesional.
Mereka justru diduga terlibat dalam konflik di sana. Maka status
Darurat Sipil itu tidak menyelesaikan masalah," katanya.

Pandangan Bambang inilah yang membuat KSAU dan perwira-perwira
lainnya seolah disengat tawon sehingga harus cepat-cepat bereaksi
menolak pasukan PBB di Maluku. Memang sejak pemerintahan Habibie,
pihak tentara yang ketika itu dipimpin Wiranto, nampak  seolah ingin
"memeras" rakyat Indonesia dengan membiarkan kerusuhan terjadi di
mana-mana agar mereka dapat memperoleh payung hukum semacam UU PKB
atau Undang-Undang Darurat Sipil yang akhirnya diberlakukan saat ini.
Dalam pelbagai dengar pendapat dengan DPR, Panglima TNI selalu
merengek-rengek meminta "payung hukum". Habibie maupun Gus Dur selalu
menolak. "Tetapi kini setelah jatuh ribuan korban di Maluku berkat
pengiriman senjata dan milisi ke sana, tentara pun bisa tertawa
lebar," kata seorang anggota DPR. Dengan demikian militer bisa secara
leluasa melakukan penyisiran, memeriksa dan menekan masyarakat
seperti dahulu kala ketika tentara masih punya Kopkamtib dan payung
hukum Undang-Undang Subversi. Tetapi sama halnya dengan kesalahan
mereka di Timor Timur dahulu, ketika TNI menolak kehadiran PBB,
nampaknya kini pun cepat atau lambat PBB akan mengirim pasukan ke
Maluku. "Bagaimana pun gereja-gereja di Asia, Amerika, Eropa dan
Amerika Latin akan sulit membiarkan umat Kristen di Maluku menghadapi
nasib yang sama dengan umat Kristen di Sudan," kata seorang tokoh
gereja Amerika baru-baru ini di Singapura. "Kalau demi kedamaian umat
Kristiani di Maluku dan Maluku Utara dibutuhkan suatu negara baru
seperti Timor Timur maka apa boleh buat, jalan keluar ini yang akan
kami tempuh", katanya.

Di Jakarta, tokoh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia, Eggie
Sudjana mengatakan, kini tiba saatnya untuk menetapkan garis
demarkasi di Maluku. Ia juga melihat bahwa Undang-Undang Darurat
Sipil itu kurang tepat diberlakukan di Maluku, karena militer tidak
bisa diminta untuk bertanggungjawab. Kalau yang diberlakukan
Undang-Undang Darurat Militer, maka Panglima TNI dapat diminta untuk
bertanggungjawab jika situasi keamanan tidak pulih. "Sekarang ini
kepada siapa kita harus minta pertanggungjawabannya?" tanyanya.
Seorang mantan pendukung Habibie mengatakan, solusi paling tepat bagi
Maluku adalah membiarkan kedua belah pihak bertarung habis-habisan.
"Dan saya kira tahun depan tidak akan ada acara Natal lagi di sana.
Yang ada nanti hanya Takbiran saja," katanya optimis. Kalangan istana
pun mengakui bahwa golongan Kristen di Ambon dan Maluku Utara sudah
kalah. "Sebaliknya di Poso, Kristenlah yang  menang," kata seorang
penasehat Gus Dur. Namun kalangan lain melihat kelompok militer
status quolah yang menang. Dan ini akan tergambar pada mutasi militer
kedua yang akan diadakan pada minggu-minggu mendatang ini.

---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jun 2000 jam 06:28:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke