---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 22/III/26 Juni-2 Juli 2000 ================================================ BELA SYAHRIL, SELAMATKAN GOLKAR (PERISTIWA): Mengapa orang-orang Golkar sibuk membela Gubernur Bank Indonesia? Jawabannya: partai itu juga terlibat dalam pembobolan dana Bank Bali. Priyo Budi Utomo, anggota DPR-RI dari Partai Golkar membela habis-habisan Gubernur Bank Indonesia, Syahril Sabirin, di acara Pro dan Kontra, Televisi Pendidikan Indonesia, Kamis, 22 Juni 2000. Ia dipanel dengan Ali Maskur Musa, Wakil Ketua Fraksi PKB. Menurut Priyo, Sjahril tak bersalah dalam kasus Bank Bali, karena Syahril orang yang lugu dan jujur. "Gus Dur menyeret Syahril karena dendam, salah satu bank miliknya ditutup Sjahril," tuduh Priyo tanpa menyebut nama bank itu. Namun, yang dimaksud Priyo pasti Bank Papan Sejahtera. Kalau ini benar, Priyo salah, karena Gus Dur, ketika itu belummenkadi presiden, bukannya marah pada Bank Indonesia karena menutup bank itu, namun ia marah pada Hashim Djojohadikusumo karena menipunya. Hashim menjual sebagain saham bank miliknya itu ke Grup Hawari Sekawan, perusahaan milik Gus Dur, dan membohongi kiai NU itu bahwa banknya sehat-sehat saja. Namun, tak sampai dua bulan bank itu ditutup BI. Tak hanya Gus Dur yang diserang, namun "bos"nya sendiri di Partai Golkar, Jaksa Agung Marzuki Darusman. Priyo mengecam Marzuki, kendati ia Ketua DPP Partai Golkar, karena mau dipakai Gus Dur sebagai alat kekuasaan. Priyo, yang mengaku mantan aktifis mahasiswa, tampak emosional dengan beberapa kali dengan kata-kata yang kasar dan nada yang sinikal, ia mengecam Gus Dur. Sebenarnya tak hanya Priyo, orang Golkar yang menetang penahanan Syahril Sabirin. Ketua Umum DPP Golkar, Akbar Tanjung juga tidak sependapat dengan penahanan Syahril. Akbar, sejak awal memang berusaha melindungi Sjahril dari pengusutan dugaan korupsi oleh Kejagung kendati Jaksa Agung yang mengusut kasus itu adalah kawan dekat Akbar sendiri. Mengapa orang-orang Golkar sibuk membela Syahril? Aib yang menimpa Syahril adalah aib yang menimpa Golkar. Dulu proyek pembobolan Bank Bali dijalankan untuk menambah pundi-pundi Partai Golkar. Politik butuh uang banyak. Nah, partai seperti Golkar, yang mengalami demoralisasi, membutuhkan uang yang besar agar tetap kuat di panggung politik. Salah satu operator Golkar ya Syahril Sabirin, selain Marimutu Manimaren, Tanri Abeng dan Baramuli. Nah, untuk urusan pelancaran "pengumpulan dana" dari Bank Indonesia, Syahril lah yang ditunjuk. Dalam kasus pembobolan Bank Bali orang-orang Syahril di BI yang menjalankan tugas ini. Mereka misalnya: Erman Munsir (54), Direktur Pengaturan dan Pengembangan Perbankan BI. Erman terpaksa dipensiunkan lebih awal dan hingga kini tidak diusut, karena menurut hasil penyelidikan Price Water House Cooper (PWC), Ermawaty Agustina, anak Erman menerima dana sebesar Rp600 juta dan diperoleh dari Deutsche Bank yang riwat dananya berasal dari bobolan Bank Bali. Kalau kita buka lagi berkas audit Badan Pemeriksa Keuangan, 7 September 1999, nama Erman bukan nama asing. Bersama pejabat BI lainnya seperti: Dragono Lisan pejabat di UPPB, Bank Indonesia, Adnan Djuanda, Ketua Tim 7 UPPB, Edi Siswanto, Ketua Tim 6 UPPB, Desmi Demas, Direktur Urusan Akunting dan Kliring, Erman dilaporkan membuat serangkaian pertemuan untuk mengubah Surat Keputusan Bersama (SKB) lama yang menghambat pencairan dana penjaminan pinjaman antar bank. Erman memang sudah diketahui punya peran penting dalam pengubahan SKB. Selain Erman, nama-nama pejabat BI tadi, yang terlibat proses pengubahan SKB juga tengah diperiksa. "Dalam longform PWC itu disebut banyak nama berkaitan dengan BI. Tapi yang bisa dibuktikan baru Erman," ujar sumber tadi. Nah, Erman bersama Desmi Demas, Direktur Urusan Akunting dan Kliring, dulu pernah berstatus tersangka, namun entah mengapa Erman akhirnya hanya jadi saksi. Soal pengubahan SKB yang memungkinkan dana Bank Bali bisa dicairkan dari Bank Indonesia, Syahril Sabirin sebenarnya sudah mengetahuinya, untuk tidak mengatakan Syahril terlibat. Namun, Syahril yang mengakui memerintahkan pengubahan SKB berkilah bahwa itu atas desakan Bank Dunia. Nah, dulu, PWC berhasil membuktikan bahwa DPP Partai Golkar menerima Rp 15 miliar dari bobolan dana itu, kendati diduga masih banyak lagi jumlah yang diterima DPP Partai Golkar namun tidak terlacak. Atas bukti ini, Akbar berdalih, uang itu uang pinjaman dari Manimaren yang juga Wakil Ketua DPP Golkar. Nah, pembobolan ini juga menyangkut nama Texmaco, konglomerasi yang banyak menyumbang uang ke Golkar. Yang menarik, mengapa dalam kasus ini Jaksa Agung Marzuki Darusman, yang juga Ketua DPP Golkar justru tidak "melindungi" nama baik Golkar seperti yang ia lakukan terhadap Marimutu Manimaren dalam skandal korupsi-raksasa Texmaco? Sumber-sumber di sekitar DPP Golkar faksi Akbar mengatakan Marzuki dan Akbar sengaja membuka kembali kasus Bank Bali, dengan memanfaatkan perseteruan antara Gus Dur dengan Sjahril. Mengapa? Kelompok Iramasuka pimpinan Baramuli seteru Akbar dan Marzuki di Golkar kini tengah bergerilya untuk merebut pengaruh di Golkar, untuk merebut kembali partai itu di Musyawarah Nasional mendatang. Baramuli dan kawan-kawan, termasuk Marwah Daud Ibrahim memiliki uang yang cukup banyak untuk mewujudkan ambisi mereka itu. Nah, dengan membuka kembali kasus Bank Bali, Baramuli dan kawan-kawannya akan segera tergulung dan tak berani berkutik. Kalau Jaksa Agung berani menahan Gubernur Bank Indonesia, menangkap Baramuli, Tanri Abeng dan kawan-kawannya tak akan banyak mengalami masalah. Tampaknya, ini merupakan agenda rahasia Akbar-Marzuki, sehingga orang-orang muda di Golkar, seperti Priyo yang tampak naif ingin melindungi nama baik partainya, tak sadar terhadap agenda itu. Atau siapa tahu, Priyo bagian dari faksi Baramuli. Priyo sendiri sebenarnya juga bukan orang bersih. Menurut sumber di Departemen Pertambangan dan Energi, Priyo sebagai anggota DPR-RI periode lalu, pernah menerima sogokan dari Pertamina berupa sebuah pompa bensin di sekitar Jakarta, agar menolak RUU Pertambangan yang diajukan Departemen Pertambangan dan Energi. RUU itu bertujuan mempretereli kekuasaan Pertamina untuk memonopoli sebagai kuasa pertambangan. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - -------------------------------- SiaR WEBSITE: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 04:52:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
