----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 22/III/26 Juni-2 Juli 2000
================================================

PESIMISME TERHADAP GUS DUR BERLEBIHAN

Oleh: Philip Bowring, International Herald Tribune

(OPINI): Sangatlah mudah bersikap pesimis melihat Indonesia. Ada cukup
bukti untuk itu. Lihat saja rupiah yang melorot, skandal Bulog yang
melibatkan orang-orang dekat presiden, ketidakkompakan kabinet,
pertikaian Gus Dur dengan Syahril Sabirin, budaya korupsi yang
berlanjut di birokrasi dan lembaga hukum, lambannya penanganan KKN,
berlanjutnya pertikaian berdarah di Aceh dan Maluku serta ancaman
impeachment terhadap Gus Dur lantaran kesehatannya dianggap
berpengaruh pada penyelenggaraan pemerintahan yang baik.

Namun demikian, persoalan itu mesti dilihat dalam kaca mata dua tahun
terakhir ini, yaitu sejak rezim Soeharto jatuh. Bukan hanya dalam
optimisme setahun lalu, ketika proses pemilu yang damai dan sukses
akhirnya membawa seorang pemimpin liberal dan sedikit eksentrik, Gus
Dur, ke tampuk kekuasaan.

Jauh sebelum Soeharto tumbang, Goenawan Mohamad pernah bilang, "kalau
Soeharto jatuh, segala sesuatu harus dibangun kembali." Tugas itulah
yang mesti dipikul Gus Dur dalam "membangkitkan kembali" Indonesia.

Karena itu, Gus Dur takkan dijatuhkan dalam sidang tahunan MPR Agustus
mendatang. Tak ada waktu lagi untuk memulai dari nol, kendatipun ada
yang menghendaki hal itu.

Kesalahannya memang terlihat minggu-minggu terakhir ini, tapi toh tak
ada alternatif lain. Wapres Megawati Soekarnoputri sedikit bicara dan
bertindak. Berbagai komentar Amien Rais justru menambah kecurigaan,
khususnya di kalangan masyarakat non-muslim dan non-sektarian, bahwa
ia terlalu ambisius untuk dipercayai. Ketua DPR-RI Akbar Tanjung,
kendati orangnya moderat dan praktis, namun sebagai orang Golkar, yang
dulu pernah berkuasa, saat ini belum tepat baginya.

Kemampuan politisi Gus Dur yang efektif amat berbeda dengan yang
dibutuhkan sebuah pemerintahan pada umumnya. Ia memiliki ambiguitas,
melakukan kompromi, mengubah-ubah arah, membuat lawan politiknya
bertanya-tanya. Kaum kristiani, keturunan Cina, bahkan mantan anggota
PKI merasa nyaman di bawah kepemimpinan seorang muslim. Orang Aceh dan
Papua bisa berdialog dengan orang Jawa satu ini.

Mungkin saja ia takkan bisa mengatasi persoalan antar agama, etnik dan
gerakan separatis. Namun, ia telah berbuat sesuatu, bahkan telah
meletakkan kerangka dasar untuk penyelesaian masalah tersebut.
Sementara itu, ia mampu mengendalikan elit-elit militer tertentu yang
masih hendak berkuasa.

Hanya saja, Gus Dur sering menunjukkan diri tak mau menempuh prosedur
dengan benar yang sebetulnya bisa membuatnya lebih terkesan moderat
dalam berkuasa, serta tak cenderung berbicara seenaknya.

Ketidakmampuan Gus Dur membaca membuat ia harus memilih seorang ajudan
yang bisa dipercaya, tapi tentu bukan ia yang akan memilih. Gaya
memimpinnya pun tak membantu para menteri-menterinya yang saling
berbeda untuk membuat dan menerapkan keputusan-keputusan penting.

Tapi, salah jika menempatkan Gus Dur sebagai satu-satunya
penanggungjawab dari lemahnya pemerintahan. Karena partainya memiliki
suara yang tak banyak di parlemen, ia mesti mengiyakan tuntutan
berkoalisi. Sulit menghasilkan keputusan dan berharap parlemen akan
begitu saja setuju dengan keputusannya. Ini biasa terjadi dalam
demokrasi multi-partai.

Kebanyakan menterinya tak berpengalaman, sebagian besarnya cuma
mengandalkan gelar akademis. Selain sulit mengambil keputusan, lebih
sulit lagi mereka menerapkannya, lewat birokrasi yang masih mewarisi
orang-orang Orde Baru.

Bahkan seorang Marzuki Darusman yang tahu persis sistem yang berlaku,
selalu saja menghadapi hambatan dari para hakim yang masih melindungi
kepentingan lama. Independensi bank sentral, untuk meyakinkan IMF,
malah membuat pemerintah kesulitan mencopot Gubernur BI.

Mudah untuk bicara, seperti IMF, bahwa pemerintah seharusnya lebih
tegas menangani penjualan aset yang ada hubungannya dengan kredit
macet bernilai US$60 milyar, yang kini ditangani BPPN. Aset-aset itu
harus segera dijual untuk kurangi beban utang pemerintah.

Konflik tanah dan persoalan pajak di berbagai propinsi, sungguh
membuat pusing para investor pertambangan dan perkebunan. Ini pun tak
bisa dilimpahkan semuanya pada Gus Dur. Berbagai soal itu, sebagian
besar muncul sebagai reaksi atas penyalahgunaan di masa lalu. Sebagian
lagi adalah konsekuensi dari belum tuntasnya pergeseran otoritas dari
Jakarta ke berbagai propinsi maupun kabupaten. Proses desentralisasi
ini, bagaimanapun adalah bagian dari "membangun kembali" Indonesia.

Keinginan melakukan "pembersihan" terhadap birokrasi dan
pertanggungjawaban dosa masa lalu sering kali tak sejalan dengan
prioritas kebutuhan sekarang. Sementara demokrasi sendiri menuntut
keseimbangan yang lain lagi.

Tak ada jalan keluar yang mudah. Gus Dur dengan segala kelemahannya,
masih merupakan orang terbaik untuk menjaga keseimbangan politik,
antara keadilan dan rekonsiliasi, antara reformasi dan stabilitas.

Suhu politik kemungkinan bakal meningkat menjelang sidang tahunan MPR.
Gus Dur bisa jadi akan ditegur keras. Sampai ada usulan supaya
konstitusi membolehkan adanya "menteri pertama" atau perdana menteri
untuk membantu presiden.

Tentunya, Gus Dur akan melawan segala upaya melemahkan otoritasnya.
Namun, ia bisa melakukanya secara lebih baik dengan mendelegasikan
lebih banyak wewenang pada para menteri. Kritik terhadap kinerjanya
semestinya membuatnya melakukan perombakan kabinet, menyederhanakan
pemerintahan serta mengurangi jumlah menteri.

Kendati terjadi banyak kekacauan, kebanyakan orang Indonesia,
khususnya di Jawa, berada dalam suasana damai, walaupun para
provokator masih berupaya menciptakan ketegangan antar etnis untuk
mendiskreditkan pemerintah. Perekonomian kini membaik secara perlahan
- --seandainyapun modal yang terlanjur terbang, tak kembali. Timor Timur
sudah jadi sejarah. Sementara pers bebas dan dinamis.

Kaum ekstrimis tak terlalu berulah. Tuntutan terhadap kesejahteraan
pribumi mulai menghilang. Ada harapan, setidaknya, bahwa amandemen UUD
'45 bisa berdampak pada penyelesaian masalah Aceh dan Papua.

Proses kebangkitan kembali selalu panjang dan berliku. Utang yang
menggantung membuatnya lebih sulit lagi. Tapi, melihat skala persoalan
yang dihadapi, peristiwa sepanjang dua tahun terakhir ini menunukkan
bahwa pesimisme terhadap Indonesia di bawah pemerintahan Gus Dur sudah
berlebihan. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 05:53:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke