----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 22/III/26 Juni-2 Juli 2000
================================================

Eggi Sudjana, Penggiat Front Pembela Islam:
"KALAU TAHU SAYA SERBU"

(DIALOG): Agar berbeda dengan kebanyakan pendapat soal rekonsiliasi,
Eggi Sudjana menyatakan tidak setuju. Alasannya, "Kapan kita pernah
terus terang menyatakan pecah?" Selanjutnya ia bilang lebih setuju
konsep 'tahu diri'. Amien Rais, misalnya, karena tidak terang-terangan
pecah dengan Presiden Abdurrahman Wahid, lebih baik tahu diri akan
posisinya. "Dengan begitu, dia tidak bicara macam-macam di luar porsi
sebagai Ketua MPR," lanjut Eggy lagi.

Berikut petikan percakapan Xpos dengan penggiat Front Pembela Islam
(FPI) yang juga Ketua Umum Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
(PPMI), seusai FPI mengobrak-abrik kantor Komnas HAM Jumat (23/6)
lalu:

T: Anda dikenal dekat dengan kubu tertentu di TNI dan Polri, bagaimana
melihat kecenderungan mutasi kemarin? Apa benar faksi profesional
mulai berperan?
J: Kalau saya melihatnya tidak secara gampang begitu. Sebab, banyak
nuansa di belakangnya. Orang baru semacam Saurip Kadi toh juga
digeser. Gantinya malah Suwisma yang jauh sebelumnya pernah di Pangdiv
Kostrad dan Kepala Kostrad. Tapi baiklah, itu urusan militer. Kita
sebagai sipil juga kan tidak mau kalau dicampuri oleh militer. Yang
terpenting supremasi sipil.

T: TNI di masa lalu mendominasi politik, makanya perubahan di tubuh
mereka masih signifikan dicermati?
J: Ya, tetapi jangan lantas berpikir mereka bisa kembali ke politik.
Mereka sedang kalah dalam opini. Kita punya pers, mahasiswa dan buruh
yang senantiasa menentukan pembentukan opini di masyarakat. Maka,
kalau dalam pemilu ke depan diinginkan tidak ada lagi TNI di MPR/DPR,
artinya tinggal dikerjakan saja. Lain cerita kalau ada militer yang
nekat mau coba-coba main. Misalnya, Agus Wirahadikusumah nekat melawan
komandannya dan memimpin pasukan untuk berontak. Tapi saya kira
militer kita tidak punya mentalitas seberani itu.

T: Tentang pergeseran peran TNI termasuk bisnis mereka juga harus
distop? Sebab selama ini kecenderungannya kolusi.
J: Kita harus pahami yang namanya kolusi yang merugikan masyarakat
dengan kerja sama demi anak buah. Menurut saya kalau, misalnya Tommy
Winata atau siapapun berbisnis dengan komandan tentara yang punya
maksud mensejahterakan prajuritnya, apa salahnya? Lagian kita tahu
anggaran pertahanan dalam APBN kecil, sehingga si komandan harus
manuver. Saya tidak melihat adanya kesalahan. Kecuali akibat kerjasama
mereka lantas rakyat dirugikan, terjadi penipuan-penipuan, dan
sebagainya. Baru kita persoalkan.

Ambil contoh saya. PPMI ini anggotanya di mana-mana. Saya harus muter
otak cari uang untuk menghidupi organisasi. Nah, kalau saya kedapatan
'jalan' dengan orang tertentu dan ketahuan bahwa saya mendapat uang
dari hasil jalan-jalan itu, terus saya salah? Padahal, uang itu akan
saya pakai untuk organisasi yang saya pimpin. Juga tidak ada pihak
ketiga yang dirugikan dari jalan-jalan tadi. Logikanya menurut saya
seperti itu. Komandan militer yang menjalin kerjasama dengan pengusaha
juga tidak bisa dipersalahkan. Memangnya gara-gara dia militer terus
nggak boleh berbisnis? Diskriminatif, dong namanya.

T: Memangnya Anda pernah 'jalan' dengan pengusaha atau militer untuk
berbisnis?
J: Ya, sering. Kenapa?

T: Anda mungkin tahu bisnis komandan tidak ada imbas ke prajurit.
Komandan naik Land Rover anak buah tetap saja numpang bus ...
J: Ya, masak komandan naik Land Rover atau Pajero terus anak buah
suruh naik Land Rover juga, gila lu. Adil ya adil tapi harus tahu
diri. Jangan orang bawahan terus minta fasilitas atasan. Ya, tidak
benar juga. Memang betul perbedaannya jangan terlalu jauh biar tidak
mengundang kecemburuan.

T: Apa logika saling bantu antara pengusaha dengan militer bisa
dipakai untuk kasus adanya kalangan militer tertentu bekerja sama
dengan pengusaha membantu umat Islam pergi ke Maluku?
J: Tidak, tidak bisa. Sebab, militer itu penjaga keamanan. Dia harus
mengacu kepada hukum yang berlaku. Artinya tidak berpihak. Tugas
militer menjaga stabilitas keamanan tanpa melihat harus membela siapa.
Saya tidak ingin mentang-mentang sesama muslim terus harus dibela.
Kalau begitu kapan rasa aman bisa Anda nikmati. Ya, kan?

T: Lho, Anda bukannya keras membela umat Muslim di Maluku? Sebenarnya
bagaimana Anda melihat kasus ini?
J: Saya lihat ada kesengajaan untuk tetap terjadi. Sebab, kalau memang
ada niat diselesaikan, dulu gampang sekali. Pertama, tetapkan darurat
militer. Di Los Angeles, Amerika waktu terjadi pertikaian antara kulit
hitam dengan kulit putih, dua minggu setelah darurat militer
diberlakukan, bisa selesai. Nah, apa ada komandan Kopassus atau elit
militer lainnya yang mengambil tindakan menyelesaikan masalah? Tidak.
Berarti tidak ada instruksi dan kemauan.

Langkah kedua, agar situasi aman bisa dipulihkan, untuk sementara
dibangun garis demarkasi. Problemnya memang konsentrasi. Tetapi
seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, pada akhirnya mereka akan
berbaur kembali. Kenapa kedua hal itu tidak ditempuh? Ini yang membuat
saya kecewa. Dan kurang ajarnya Amerika. Hari ini dia bilang, "Amerika
merasa terganggu karena daerah merah diserang".

Kenapa baru sekarang merasa terganggu? Kenapa tidak dari dulu-dulu
waktu umat Islam diserang? Sekarang giliran umat Islam membalas dan
meraih kemenangan, mulai deh gerah. Apa coba kalau bukan desain
tertentu. Ini pula yang saya rasa harus dicermati oleh teman-teman di
pers. Motifnya dalam kerangka strategi zionis. Indonesia sebagai
negara muslim terbesar di dunia ini tidak boleh ada rasa aman. Sebab
kalau aman, lewat SDM-nya kita bisa besar. Apalagi kemarin Habibie
yang muslim itu juga profesor. Jadi seperti menimpa pada Zia Ulhaq dan
pemimpin muslim lainnya, setiap kekuatan yang mengancam zionis harus
ditumpas.

T: Siapa pastinya yang mendesain?
J: Tidak tahu. Kalau tahu sudah saya serbu. Cuma dalam konteks
kenegaraan tidak bisa lain yang disalahkan kecuali pemerintah. Jaman
Soeharto salah, jaman Habibie salah, sekarang Gus Dur mengulangi.
Megawati diserahi amanah menyelesaikan Maluku malah tidak bisa
apa-apa. Dia datang ke sana, toh bunuh-bunuhan masih terjadi.

T: Sekarang kalau mau diselesaikan?
J: Bisa saja, asal elitnya punya kemauan. Kasus Timor Timur buktinya.
Puluhan tahun tidak selesai-selesai, waktu Habibie bilang, "sudah beri
saja referendum, biar saja kita kalah juga", selesai bukan? Kuncinya
itu di elit politik baik sipil maupun militer. Sekarang malah Gus Dur
bilang, biar masyarakat menyelesaikan sendiri. Bagaimana bisa? Saya
kritik betul sikap Gus Dur yang seperti ini. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 07:56:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke