---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- MAYJEN SAURIP KADI ADALAH PERWIRA YANG BAIK JAKARTA, (TNI Watch! 28/6/2000). Hari Jumat besok (29/6) di Mabes TNI-AD akan dilaksanakan serah terima jabatan (sertijab) Aster KASAD, dari Mayjen TNI Saurip Kadi kepada Mayjen TNI Sang Nyoman Suwisma. Mayjen TNI Saurip Kadi selanjutnya akan "diparkir" di Mabes AD, dengan menjadi pengurus YKEP (Yayasan Kartika Eka Pakci). Sedang Mayjen SN Suwisma kini masih menjabat Kas Kostrad. Sungguh disayangkan karir Mayjen TNI Saurip harus berakhir demikian cepat, padahal beliau termasuk perwira yang cakap. Di Angkatan Darat memang banyak jenderal, namun yang benar-benar masuk kategori cakap, jumlahnya tidak banyak. Mengapa perwira yang kurang cakap, bisa menjadi jenderal? Ini karena ada faktor pertemanan (klik), dalam menjadikan seorang perwira menjadi jenderal. Bisa jadi yang membuat karir Mayjen TNI Saurip Kadi terhambat, selain faktor politik (terkait dengan "Dokumen Bulak Rantai"), bisa juga karena ada sentimen korps. Kebetulan Mayjen TNI Saurip Kadi bukan berasal dari kecabangan tempur (infanteri, kavaleri, artileri), namun dari Korps Perhubungan (CHB). Korps Perhubungan dalam AD masuk formasi bantuan tempur (banpur), bersama zeni dan peralatan. Karena sama-sama masuk dalam unsur banpur, maka ketiganya sering disebut sebagai zipalhub (zeni, peralatan dan perhubungan). Oleh karena itu, ketika Jenderal TNI Try Sutrisno yang berasal dari zeni (CZI) bisa menjadi KASAD, bahkan Pangab, kejadian itu bisa dianggap sebagai "kecelakaan" sejarah Angkatan Darat. Tampaknya Mayjen TNI Saurip Kadi bisa legowo (besar hati) menerima kenyataan pahit tersebut. Bagaimana tidak, sebagai perwira dari korps perhubungan, bisa menyandang dua bintang di pundak, sudah merupakan prestasi tersendiri. Terlebih kalau diingat, sebagai tentara Mayjen TNI Saurip Kadi tidak memiliki wing terjun (dasar para). Dengan kata lain, Mayjen TNI Saurip Kadi tidak memiliki kemampuan dasar para. Ini beda dengan mantan Kapuspen Mabes TNI Mayjen TNI Sudrajat, meski juga dari Korps Perhubungan, Mayjen TNI Sudrajat memiliki kemampuan dasar para, karena pernah bertugas di Kompi Perhubungan Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I Kostrad. Tampaknya Mayjen TNI Saurip Kadi lebih bertipe perwira "perpustakaan", ketimbang perwira lapangan. Itu terlihat dari tulisannya yang sangat jernih (untuk ukuran seorang militer), dalam buku "Indonesia Baru dan Tantangan TNI". Juga artikel lainnya yang tersebar di berbagai media cetak, yang rencananya akan diterbitkan oleh beliau sendiri. Soal teknik penulisan, tentu saja jangan dibandingkan dengan gaya penulisan intelektual muda semacam Dr Denny, JA, MA (Rektor Universitas Jayabaya) atau Fadli Zon, MA (fungsionaris Partai Bulan Bintang). Kemudian ada pertanyaan menarik: siapa kira-kira yang menyusun "Dokumen Bulak Rantai"? Kemungkinan itu adalah Fadli Zon dan Abdul Qadir Jaelani. Karena begini, menjelang pengangkatan Brigjen TNI Saurip Kadi sebagai Aster KASAD empat bulan lalu, beliau pernah diundang ceramah di lembaga penelitian yang dipimpin Fadli Zon, di Jl Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat. Dalam ceramahnya di kantor Fadli Zon saat itu, Brigjen TNI Saurip Kadi antara lain mengatakan: PDI-P adalah partai yang tidak bisa diharapkan, sedang partai masa depan adalah PRD. Ucapan Pak Saurip inilah yang sampai ke telinga Mbak Mega, yang membuat Mbak Mega kurang senang pada Pak Saurip. Bisa jadi undangan Fadli Zon saat itu merupakan jebakan, mengingat Pak Saurip saat itu sudah disebut-sebut sebagai perwira yang bakal bersinar karirnya. Kejadian di kantor Fadli Zon adalah fakta pertama. Fakta kedua, adalah dalam rapat dengar pendapat di DPR-RI, antara Komisi I dengan Pimpinan TNI, pertengahan Juni lalu, beberapa saat sebelum pengumuman mutasi di jajaran TNI (16/6). Pada rapat itu, anggota Komisi I yang membacakan secara lengkap "Dokumen Bulak Rantai" adalah Abdul Qadir Jaelani (Fraksi Bulan Bintang). Abdul Qadir Jaelani terlihat setengah mendesak, agar dokumen yang tidak bermutu tersebut dibacakan dalam sidang. Tersirat keinginan kuat Abdul Qadir Jaelani untuk memojokkan Letjen Agus Wirahadikusumah dan kawan-kawan. Benar dugaan itu, karena Abdul Qadir Jaelani menghitung, kelompok Letjen Agus WK adalah kelompok perwira yang setia pada kepemimpinan Gus Dur. Mudah menebaknya, itu semua adalah bagian dari rekayasa "Poros Tengah", lewat tangan Abdul Qadir Jaelani dan Fadli Zon, MA. *** _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. - -------------------------------------------- SiaR WEBSITE: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Jun 2000 jam 08:35:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
