---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Media indonesia, 30 Juni 2000 Sipil Harus Introspeksi. TNI takkan Ambil Alih Kekuasaan JAKARTA (Media): Kalangan TNI tidak akan melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan sipil. Karena yang dilakukan TNI senantiasa berdasarkan kesepakatan nasional untuk kepentingan bangsa dan negara. Untuk itu, kalangan sipil diimbau agar intropeksi, jangan asyik sendiri bermain dengan kekuasaan dan lupa menata dirinya sendiri. Demikian kesimpulan pendapat Kaster TNI Letjen Agus Wijaya dan pakar hukum tata negara dari Unpad Prof Bagir Manan, dalam diskusi tentang `Mengkritisi Situasi Politik Terakhir: Kemungkinan Terjadinya {Chaos] dan TNI Mengambil Alih Kekuasaan`. Acara Grup Diskusi Nasional (GDN) Kosgoro ini, berlangsung di Wisma Mas Isman, Jakarta, kemarin. "Generasi perwira TNI kini dididik profesional. TNI adalah bagian dari keputusan nasional untuk demokratisasi," kata Agus Wijaya. Lagi pula, Kaster TNI itu berkeyakinan seandainya kudeta dilancarkan maka akan menimbulkan kontra-kontra kudeta berikutnya. Karena itu, kata perwira tinggi berbintang tiga tersebut, apa pun solusi atas permasalahan bangsa, harus merupakan kesepakatan bangsa. Pada masa lalu, kata Agus Wijaya, apa pun yang dilakukan TNI yang penting itu berdasarkan hasil atau result. Karena itu TNI mengharapkan hasil terbaik. Dalam era demokrasi saat ini yang dipentingkan proses yang terkadang hasilnya tidak bisa diduga. "Yang penting sekarang ini kita tak bisa lagi mendudukkan peran TNI itu berdasarkan tradisi kesejarahan dan keyakinan. Dalam negara modern yang penting tataran kewenangan, apa kewenangan TNI untuk berbuat sesuatu," paparnya. Agus Wijaya menambahkan, sekalipun TNI dikatakan kampiun penjaga persatuan dan kesatuan bangsa, kewenangannya pun harus realistik dan sesuai peran TNI. Ia mencontohkan lepasnya Timor Timur dari Indonesia yang sudah merupakan kesepakatan bangsa, sehingga TNI tidak mempunyai kewenangan dan peran yang signifikan lagi di sana. Jadi, Agus menegaskan lagi, apa pun peran TNI hal itu berdasarkan kesepakatan bangsa melalui pengaturan konstitusional. "Apakah bangsa ini siap menyerahkan perannya pada kami, terserah pada bangsa. Kami punya kemampuan, organisasi, dan kapabilitas. Banyak yang bisa kami sumbangkan pada bangsa," ujarnya. Sementara itu, Bagir Manan berpendapat kalangan sipil hendaknya inward looking (introspeksi ke dalam), mengapa TNI selama ini begitu besar peran politiknya di masa lalu? Menurut Bagir, seandainya TNI mau ambil alih negara bila terjadi chaos maka kalangan sipil harus menghindari hal tersebut. Menurut Bagir Manan, kalangan sipil harus menyiapkan dan menata dirinya dengan mekanisme-mekanisme tertentu sehingga TNI tidak mengambil alih fungsi dan peran sipil. Ia juga mengingatkan kalangan sipil yang sekarang ini seakan menikmati dirinya sendiri, asyik dengan kekuasan dan perebutan kepentingan, tetapi lupa menata dirinya. "Saya melihat memang belum ada perubahan perilaku yang mendasar dari kalangan elite politik, sehingga kehidupan demokrasi kita tidak sehat dan KKN juga makin marak," tukas Bagir Manan. (Bay/P-2) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Jul 2000 jam 10:38:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
