----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Sarapan Pagi bersama Sri Bintang Pamungkas
Selama Orang Orba Masih Bercokol, Gus Dur Sulit Menjalankan Agenda Reformasi

Selama orang-orang bekas Orde Baru masih menduduki posisi penting di
pemerintahan, maka Presiden Abdurrahman Wahid akan sangat sulit untuk
menjalankan agenda reformasi, kecuali memotong habis mereka. Begitu pendapat
Ketua Umum Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sri Bintang Pamungkas
sambil menyebut sejumlah nama pejabat eks Orba yang duduk baik di
pemerintahan maupun di lembaga legistilatif.

"Apakah mungkin mereka yang dulu jadi alat kekuasaan Orba itu bisa berubah
dalam waktu cepat untuk kepentingan reformasi?" tanya Bintang yang dihubungi
ketika sedang sibuk mengurus upaya peninjauan kembali perkara penahanannya
di zaman Orba, di kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia
Indonesia (PBHI).

Karena itu, mengulang ucapannya dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun
televisi, Bintang mengatakan bahwa era reformasi yang lahir untuk
mengkoreksi kesalahan rezim Orba tersebut hanya bisa dipahami oleh mereka
yang pernah menjadi korban rezim Orde Baru. "Merekalah yang paling tahu,
apa-apa yang keliru di masa lalu," ujar Bintang yang pernah ditahan oleh
penguasa Orba itu.

Di bagian lain, Bintang --yang bulan lalu memimpin 30 aktivis PUDI berdemo
ke gedung DPR/MPR menuntut agar reformasi total dilaksanakan--, mengecam
pelaksanaan hukum yang dinilainya belum berjalan sebagaimana cita-cita
reformasi.

Dikatakan, kasus-kasus besar yang ditunggu rakyat saja belum diperkarakan,
sudah muncul kasus-kasus baru seperti kasus Buloggate, dan penahanan Syahril
Sabirin. "Sekali lagi ini hanya membuktikan bahwa penegakan hukum di masa
reformasi ini belum berjalan, karena para penegak hukumnya memang masih
kental dengan Orde Baru," tuturnya.

Namun ia juga menilai hal itu terjadi karena Gus Dur sering ikut campur
dalam banyak hal. "Kasus KKN Soeharto saja belum sampai ke pengadilan sesuai
yang diamanatkan TAP MPR, Gus Dur sudah akan memberi pengampunan. Ini kan
kacau?" katanya memberi contoh.

Pernyataan Gus Dur di Denpasar, Bali yang mengatakan adanya 'biang kerok' di
DPR dan MPR juga dikritik Bintang sebagai tindakan presiden yang
mengintervensi kepolisian dan kejaksaan agung. "Padahal seharusnya
pernyataan seperti itu diucapkan oleh Jaksa Agung, dan bukan oleh presiden,
apalagi karena presiden belum punya data yang lengkap," tambahnya.

Namun sembari tertawa Bintang yang bekas anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU)
itu mengatakan ucapan Gus Dur di Denpasar Bali yang menuduh adanya anggota
DPR/MPR sebagai 'biang kerok' sangat mengingatkannya pada ucapan "gebuk"
yang diucapkan Soeharto dulu.

Hanya bedanya, kata Bintang, Soeharto dulu jauh lebih sopan. "Seingat saya
dia mengatakan 'gebuk' tapi tanpa menyebut nama atau identitas saya sama
sekali. Hanya polisi tahu yang dimaksudkannya. Dan ditangkaplah saya,"
katanya tergelak.

Dalam kesempatan itu Bintang kembali menyatakan keprihatinannya bahwa
semangat penghapusan dwi fungsi ABRI belakangan menjadi salah kaprah.

Ia mengatakan, penghapusan dwifungsi ABRI itu pada dasarnya adalah
menghapuskan peran politik di kalangan militer dan mengembalikan militer
sebagai alat pertahanan negara dengan tujuan agar tentara menjadi kuat dan
profesional. Karena itu salah besar jika masyarakat mengobok-obok dan
menistakan TNI sehingga menghilangkan semangat atau sprit militer seperti
yang terjadi saat ini.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Jul 2000 jam 05:41:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke