----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

ISTIQLAL (7/7/2000)# KAPITALISME BUKAN KEKUATAN PENGGERAK
DEMOKRATISASI

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Dalam perjuangan untuk demokratisasi di Indonesia dewasa ini, sering
timbul pertanyaan: kekuatan manakah yang akan menjadi penggeraknya?
Kekuatan kapitalismekah atau kekuatan sosialisme yang masih dipinggir,
yang "masih diam"?
        B. Hery Priyono, yang sedang studi doktoral pada London School of
Economics (LSE)Inggris, dalam buku berjudul " Demokrasi dan
kapitalisme", dalam dua bulanan Basis (No 03-04, thn ke-49,
Maret-April 2000) mengatakan, sampai hari kejatuhannya, para pejabat
Orde Baru tetap kerasan menjadi birokrat, sekaligus kapitalis.
Kalaupun mereka mengalami konflik dalam identitas ganda (birokrat dan
kapitalis), itu bukan terjadi karena tuntutan rasionalitas bisnis
kapitalis mereka, melainkan karena digedor oleh gelombang protes
mahasiswa, intelektual, LSM dan oposisi lain. Klaim bahwa kapitalisme
sama dengan rasionalitas adalah sebuah kesesatan logika. Begitu juga
klaim bahwa kapitalisme dan otoritarianisme merupakan kontradiksi
adalah kerancuan logika.
        Bahwa negara-negara demokratis pada umumnya adalah negara kapitalis
bukanlah bukti bahwa demokrasi mensyaratkan kapitalisme. Kapitalisme
bisa kerasan dalam fasisme, otoritarianisme maupun kesultanan,
sebagaimana kapitalisme bisa berdampingan dengan demokrasi. Bisnis
tumbuh subur di bawah Hitler, Pinochet, ataupun Shah Iran, sebagian
bisnis juga bisa subur di bawah Jimmy Carter dan Kim Dae Jung.
Demokrasi tak mungkin kerasan dengan otoritirianisme, tetapi
Kapitalisme bisa sangat akrab dengan kediktatoran.
        Sebagaimana kita alami dalam perubahan hesar yang baru saja terjadi
di Indonesia, tak ada jaminan apapun bahwa kaum kapitalis merupakan
kekuatan penggerak demokratisasi. Barangkali karena sebelum sempat
bergerak, mereka sudah pingsan lebih dulu dihajar krisis ekonomi.
Namun itu justru menunjukkan bahwa kekuatan mereka bagi proses
demokratisasi jauh lebih kecil dibanding yang kita bayangkan.
        Optimisme bahwa para kapitalis merupakan penggerak demokrasi makin
perlu dipertanyakan, ketika kita melihatnya dalam konteks watak
interaksi pelaku bisnis dan pegawai pemerintah yang sudah mengakar di
Indonesia. Robinson benar ketika menunjukkan  bahwa asal muasal para
kapitalis Indonesia adalah hubungan kolusif dan nepotis dengan
aparatur negara dan militer.
        Keyakinan bahwa para kapitalis merupakan-penggerak demokrasi, kata B.
Herry P, sama dengan, diantaranya, keyakinan bahwa mereka akan menjadi
pengoreksi cara-cara interaksi seperti ini. Selamat berharap. Pada
hemat saya, para kapitalis tidak punya posisi istimewa apapun dalam
proses demokratisasi, apalagi sebagai penggerak. Mereka bisa kerasan
berbisnis di bawah fasisme, otoritarianisme dan kesultanan,
sebagaimana mereka juga bisa di bawah demokrasi. Demokrasi atau
otoritarianisme bukan pokok keprihatinan mereka.
        Menurut Herry  bahwa dua tahun yang lalu Bartington Moore Jr melalui
refleksi terbarunya dalam "Moral Aspects of Economic Growth and Other
Essays (1998) mengemukakan sebuah kesimpulan, bahwa masalah moral
kinerja kapitalis menjadi begitu jelas, ketika kita menyadari bahwa
kerontokan bisnis merupakan dan membawa kegagalan etis. Berdasarkan
fakta ini, adalah sebuah kesesatan besar untuk menganggap kegiatan
bisnis sebagai sumbangan moral dan penuh berkah bagi kemanusiaan.
        Tulisan kecilnya ini diajukan, kata Herry Priyono, bukan sebagai
argumen kontra kapitalis(me), bukan juga anjuran bagi sosialis(me),
melainkan suatu catatan kritis terhadap keyakinan gegabah bahwa sektor
bisnis merupakan penggerak demokrasi.
        Benarkah seperti yang dikatakan Herry tsb, bahwa tulisannya itu
diajukan bukan sebagai argumen kontra kapitalisme, bukan anjuran bagi
sosialisme dan hanya sebagai suatu catatan kritis terhadap keyakinan
gegabah bahwa sektor bisnis merupakan penggerak demokrasi?!
        Lima tahun sebelum Herry Priyono menulis bahwa kaum kapitalis bukan
pengerak demokratisasi, di Kompas pernah ada tulisan tentang "Kelas
Menengah Baru Asia Bukan Kekuatan Perubahan" (Kompas 29/1/95). Dalam
tulisan itu  dikatakan bahwa kelas menengah Asia yang muncul di bawah
arahan teknokratis, efektif, seperti kerbau dicocok hidungnya.
Pendidikan negara dan lapangan kerja di berbagai cabang birokrasi,
membiasakan "burjuis-burjuis Asia ini pada spesialisasi sempit,
konformitas kelompok. Kurangnya minat pada isu-isu politik yang meluas
dan hormat pada pengetahuan kepakaran mereka sendiri dan orang lain".
        Di Taiwan terlihat kelas menengah yang tidak artikulatif, secara
politik bersikap pragmatis, dan mempunyai kepentingan yang sangat
besar untuk mempertahankan status quo. Seperti yang dikatakan FC Wang,
Ketua Formosa Plastics: "Ketika anda punya uang, anda butuh
stabilitas".
        Di Korsel sementara itu kerapuhan politik yang berkelanjutan
mencerminkan budaya kelas menengah yang terus menerus mencari
ketertiban, kepastian dan keamanan. Pada Juni 1987, kalangan Menengah
Korea turun ke jalan dan meneriakan slogan, dengan sengaja memang
bersifat tidak revolusioner: "ketertiban" (Order).
        Di Malaysia, Prof Mahadzir Mat Kir mengungkapkan hasil pengamatannya
bahwa kalangan kelas menengah tidak memiliki alasan untuk bicara keras
karena mereka lebih suka tidak mengubah sistem, selama mereka menjadi
pihak yang diuntungkan oleh sistem itu.
        Yang terlihat bukan adanya konflik antara elite yang berkuasa dengan
kelas menengah, yang makin menegaskan diri, tetapi sebaliknya justru
yang terlihat pemerintah yang secara ideologi, ekonomi dan
kadang-kadang etnis homogen dengan kelas menengah baru Asia. Jelas,
baik kelas menengah maupun para penguasanya tidak menginginkan
pluralisme.
        Sedang Nor Pud Binarto, pemerhati sosial politik dan kebudayaan,
menulis tentang "Kelas menengah dan demokrasi" (MI, 11/6/95). Dalam
tulisannya ia mengatakan banyak Orang mengira bahwa perjuangan untuk
demokratisasi hanya bisa dilakukan oleh kekuatan elite sosial
perkotaan yang untuk sementara waktu, sebagaimana dikatakan banyak
pengamat Amerika sebagai basis kelas menengah.
        Sedangkan demokratisasi sebagai sebuah nilai yang diakui universal,
sebenarnya mempunyai makna yang luas, termasuk yang dipahami berbagai
kekuatan anti struktur. Karena bukti-bukti yang lain harus
dipertimbangkan dan diperhitungkan dalam menyongsong perjalanaa
demokrasi.
        Kemungkinan ledakan-ledakan demokratisasi, justru akan dimulai bukan
dari kekuatan struktural seperti kalangan elite perkotaan. Kenapa?
Argumentasinya, bisa dijawab menurut pihak lain. Misalnya bisa
meminjam teori kritis untuk mengkaji efek-efek pembangunan di
tengah-tengah masyarakat kita. Kesenjangan ekonomi yang kian hari kian
keras, sangat mungkin mendorong gerakan demokratisasi kaum pinggiran.
Mereka akan datang sebagai kekuatan "massa diam", yang justru tidak
mempercayai lagi kekuatan elit kelas menengah perkotaan sebagai salah
satu agen perubahan.
        Bila tulisan di Kompas tadi senada dengan Herry Priyono bahwa
kapitalis atau kelas mengenah bukan merupakan kekuatan untuk
demokratisasi, dan Nor Pud Binarto malah menampilkan kemungkinan
"massa diam" yang akan tampil sebagai agen perubahan, maka  Arief
Budiman membikin sebuah tinjauan: perubahan dunia sekarang, maju atau
mundur (Kompas, 27/3/1996). Arief Budiman melalui tulisannya itu
antara lain mengatakan: ketika pandangan sosialisme masih bertanding
dengan kapitalisme dulu, orang masih berbicara tentang perlunya
solidaritas dengan mereka yang lemah dan tertindas.
        Para pendukung sosialisme memang merupakan orang-orang yang romantis
yang berjuang dengan resiko yang besar bagi dirinya. Mereka bersatu
dengan kaum buruh yang miskin menghadapi bayonet militer untuk
menuntut kenaikan upah. Banyak di antara mereka yang terpaksa masuk ke
penjara. Bahkan beberapa dari mereka harus menghadapi regu tembak.
Tapi dengan mata yang berlinang, mereka tetap tegak memandang ke
depan, ke dunia yang mereka impikan, dimana manusia bisa hidup sama
rata sama rasa. Tidakkah ini sebuah romantisme yang mengharukan.
        Ideologi kapitalisme dengan pasar bebasnya, kata Arief Budiman,
menciptakan manusia dengan ideal yang berlainan. Yang penting disini
meningkatkan keunggulan komparatif dirinya, supaya memiliki daya saing
yang kuat di pasar. Yang dituju adalah keuntungan materiel. Bagaimana
dengan idealisme dan solidaritas dengan orang yang papa? Wah, itu kan
hanya ada di khotbah para ulama dan pendeta. Kita sekarang sedang
berbicara di dunia nyata, Bung! yang sangat keras dan penuh
persaingan.
        Maka muncul nertanyaan: apakah melemahnya ideologi sosialisme dan
menguatnya kekuatan kapitalisme dengan sistem pasar bebasnya, suatu
kemajuan atau kemunduran? Kalau tentang demokrasi mungkin kita masih
bisa sepakat bahwa ini adalah gejala kemajuan. Tetapi tentang
kapitalisme dan sistem pasar bebasnya, kita tampaknya masih harus
banyak bertanya.
        Sebuah catatan perlu dikemukakan bahwa "ke dunia yang mereka impikan,
di mana manusia bisa hidup sama rata sama rasa", yang dimaksudkan
Arief Budiman, tentu ke dunia di mana seseorang akan mendapat menurut
prestasi kerjanya. Tinggi prestasi kerjanya, dia akan mendapat lebih
banyak dari yang rendah prestasi kerjanya. Ketentuan ini berlaku dalam
sistem sosialis. Sedang dalam masyarakat komunis, seorang  akan
mendapat menurut kebutuhannya, meskipun sumbangannya bagi produksi
tidak tinggi.
        Arief juga telah menganjurkan orang supaya berpihak pada sosialisme,
melalui tulisannya dalam harian Kompas beberapa waktu yang lalu,
berupa "Catatan ringan dari Canberra". Di antaranya, dikatakan sbb:
        Negara-negara sosialis sudah bubar Francis Fukuyama dengan lantang
mengatakan bahwa ini adalah tanda bahwa sejarah sudah sampai
diujungnya. Maksudnya masyarakat demokrasi yang dicita-citakan
manusia, yang menurut Hegel merupakan ujung dari perjalanan hidup
manusia, akan tercipta dimana-mana. Kapitalisme akan jaya, karena
katanya hanya disinilah demokrasi tumbuh. Tapi dalam kenyataannya,
kontradiksi antara pemilik modal dan buruh belum selesai di
negara-negara kapitali- maju. Mereka terus melanjutkan permainan
"tarik tambangnya", adu kuat antara menaikkan gaji dan aksi pemogokan.
Kontradiksi kelas masih terus berlangsung.
        Berapapun gaji guru dinaikkan, dia akan terus merasa diperlakukan
tidak adil, karena gaji majikannya lebih besar. Dia terus akan
menuntut. Titik akhirnya ialah kalau para buruh juga menjadi majikan,
yakni memiliki secara bersama perusahaan sempat mereka bekerja. Hak
kewajiban mereka diatur bersama bukan seperti sekarang ditentukan oleh
majikan. Baru kalau titik ini dicapai, pemogokan barangkali bisa
dihentikan. Tapi itukan namanya sosialisme.

        Dan, Kapitalisme bukanlah kekuatan penggerak demokratisasi. Kekuatan
penggerak demokratisasi ialah kekuatan Sosialisme. ***

- ------------------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Jul 2000 jam 14:29:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke