----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 7 Juli 2000

Korban Kerusuhan 211 Orang. Tak Ada Genosida dalam Kerusuhan
Poso

MAKASSAR (Media): Pangdam VII/Wirabuana Mayjen Slamet
Kirbiantoro membantah telah terjadi genosida (pembantaian)
terhadap salah satu umat dalam pertikaian dua kelompok massa di
Poso, Sulawesi Tengah.

"Tidak benar itu, pengertian genosida adalah pembantaian suatu
umat hingga ke akar-akarnya seperti dilakukan oleh tentara NAZI
Jerman," kata Pangdam di Makassar, kemarin.

Pernyataan itu dilontarkan perwira tinggi berbintang dua ini
menanggapi pertanyaan tentang ditemukannya sejumlah kuburan
massal dengan kondisi korban yang sangat memprihatinkan.
"Kenyataannya, salah satu umat yang hidup di sana masih banyak,"
tambahnya.

Berdasarkan laporan yang dia terima, menurut Pangdam, tercatat
211 orang meninggal, baik yang ditemukan saat mereka bertikai
secara terbuka maupun dari beberapa kuburan massal yang berhasil
diidentifikasi aparat keamanan.

Ditanya kemungkinan masih ada kuburan massal lainnya setelah
sejumlah kuburan massal yang ditemukan, Pangdam mengatakan,
"Kami tidak bisa memprediksi, namun yang jelas hingga saat ini
sudah lima sampai enam kuburan massal ditemukan," katanya.

Dia juga membantah keras sinyalemen bahwa TNI lamban dalam
menangani kasus Poso. Apalagi aparat TNI yang diterjunkan di
sana mencapai sekitar dua batalyon ditambah enam mobil panser
lapis baja.

Namun, pihaknya menyadari setelah Polri berpisah dari TNI memang
ada sedikit kendala yang dihadapi. "Karena hal ini merupakan
sesuatu yang baru, ya sedikit ada masalah, namun tidak terlalu
berarti," jelasnya.

Gangguan itu, antara lain prosedur mekanisme TNI dalam
menerjukan aparatnya ke daerah konflik. "Misalnya, kami didesak
masyarakat atau pihak lain untuk segera menerjunkan pasukan,
tetapi sepanjang belum ada permintaan dari Polri, kita tidak
bisa berbuat apa-apa," katanya.

Oleh karena itu, dibutuhkan saling koordinasi dan komunikasi
antara TNI dan Polri dalam menangani setiap konflik. "Saya kira
hanya itu intinya," jelasnya.

Mengenai indikasi keterlibatan anggota TNI dalam penanganan
kasus Poso, Danpomdam VII/Wirabuana Kolonel CPM Sudirman
Panigoro mengatakan, 29 anggota Kodim Poso telah diperiksa
secara intensif.

"Hasilnya, hanya tujuh yang berindiksi terlibat. Dua perwira dan
selebihnya bintara," ujarnya. Keterlibatan mereka bukan
menyangkut pembantaian, tetapi diduga mencuri senjata dari
gudang untuk keperluan pribadi.

Letkol CPM Rinto Malla, Komandan Detasemen Polisi Militer
(Denpom) VII/2 Palu, mengakui tiga oknum anggota TNI asal Kodim
Poso ditahan Polisi Militer setempat karena diduga kuat terlibat
dalam kasus pertikaian berdarah di Kabupaten Poso.

"Mereka ditahan karena tuduhan desersi, dan kini diperiksa
secara intensif," kata kepada wartawan di Palu, kemarin. Ia tak
bersedia menyebutkan identitas para tersangka, kecuali
menyatakan mereka adalah anggota Kodim Poso dan semuanya
berpangkat bintara.
Selain itu Letkol Malla juga mengatakan pihaknya belum menerima
oknum tersangka dari kesatuan Polri sehubungan kasus kerusuhan
Poso. Padahal, sebelumnya pihak Polda Sulteng mengumumkan telah
memeriksa 15 anggotanya berkaitan dengan kasus tersebut. "Tapi
hingga kini belum ada satu pun oknum anggota Polri dilimpahkan
kepada kami untuk diperiksa," katanya.

Sementara itu, Polda Sulteng melaporkan jumlah korban tewas dan
jenazahnya berhasil diketemukan akibat pertikaian yang melanda
Kabupaten Poso sejak 17 April 2000, sudah mencapai 135 orang.

"Angka ini kemungkinan masih akan bertambah, sebab polisi terus
mencari jenazah lain yang diduga telah dikubur secara massal
atau dibuang di hutan-hutan oleh kelompok perusuh pada beberapa
desa," kata Kadispen Polda Sulteng Superintendent Ismail Bafadal
di Palu, kemarin.

Bafadal mengatakan ada perbedaan angka korban tewas yang
dihimpun Polri dan TNI dalam pertikaian Poso karena masing-
masing menggunakan penghitungan tersendiri.

Polisi, menurut dia, melakukan perhitungan berdasarkan jumlah
jenazah yang berhasil diangkat serta di sekujur tubuhnya
ditemukan bekas tindak kekerasan, sehingga wajar jika terjadi
perbedaan perhitungan dengan lembaga lain. "Pendataan yang
dilakukan polisi ini untuk kepentingan proses penegakan hukum,"
katanya. (HE/Ant/N-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Jul 2000 jam 10:13:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke