---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA 14/III/2000 [EMAIL PROTECTED] Catatan kecil Aini Patria SEKITAR LAGU GENJER-GENJER Berita Utama harian SUARA MERDEKA, Semarang, Selasa 4 Juli 2000, menurunkan tulisan tentang Lagu Genjer-genjer. Tulisan itu diawali dengan kata-kata lagu Genjer-genjer yang ditulis pakai bahasa Jawa-Jawa Tengah. Sedang seingat saya sejak pertamakali mendengarkan lagu Genjer-genjer itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa-Banyuwangi. Inti tulisan itu, menyampaikan komentar dan usulan dalang kondang Ki Manteb Sudharsono. Menurut Ki Manteb, Genjer-genjer itu ciptaan Ki Nato Sabdho, maka harus direhabilitasi. Usulan Ki Manteb itu, tentu perlu disambut sebagai usulan yang positif. Terlepas siapa penciptanya, menyanyikan sebuah lagu adalah merupakan hak asasi setiap manusia; seperti halnya menari, berolahraga, bernapas, menghirup udara, tertawa dsb; selama cara menyenyikanya tidak menggangu pihak lain. Dengan menyanyi, nembang, ura-ura, klengkengan, hati manusia menjadi gembira, tidak lesu, segar; singkatnya badan bertambah sehat dan otak menjadi ringan. Menyanyi telah menjadi bagian hidup manusia-manusia waras sejak dahulu kala. Hanya pengausa-penguasa yang kurang waraslah yang mengadakan pelarangan terhadap sebuah lagu. Namun alangkah baiknya, bila usulan Ki Manteb itu dasarnya bukan hanya karena lagu itu diciptakan oleh Ki Narto Sabdho, andaikata yang menciptakan orang lain, kalau lagu itu indah dan baik isinya apakah tak perlu untuk direhabilitasi. Ketika rejim militer Orde Baru yang dikepalai Soeharto naik tahta, karena banyak mengadakan larangan-larangan, tak sedikit orang yang tak berani menyanyi, meskipun nyanyian itu secara resmi tidak dilarang. Misalnya lagu 1 Mei secara resmi barangkali tak ada larangan, tapi karena Hari Kemengan Buruh Sedunia tak pernah diperingati, bahkan kata BURUH saja sudah bikin mata merah penguasa, ya tak ada yang menyanyikan. Ambillah contoh lagi sikap Gesang, pencipta lagu yang namanya akan tercatat dalam sejarah itu. Selain lagu-lagunya sangat terkenal dan konon lagu Pohon Beringin nya menjadi lagu Golkar, sebenarnya Gesang punya lagu simpanan yaitu lagu Tembok Besar. Lagu ini ditulisnya ketika Pak Gesang melawat ke Tiongkok bersama teman-temannya ketika Lekra belum dilarang. Barangkali lagu Tembok Besar itu, sekarang sudah waktunya untuk didengarkan kembali. Dalam tulisan itu, lagu Genjer-genjer digolongkan Lagu Dolanan. Dalam konteks lama tembang Jawa memang cuma mengenal Tembang Gede, Tembang Tengahan, Macapat dan lagu Dolanan. Sebenarnya sejak pertengahan tahun limapuluhan, telah muncul genre baru. Kalau dalam puisi muncul 'puisi Jawa gagrag anyar' yang disebut juga geguritan (geguritan sebenarnya nama pinjaman dari puisi lama sebangsa singir), di bidang tembang juga telah lahir 'tembang gagrag anyar'. Diantara pencipta lagu gagrag anyar ini di Jawa Tengah diantaranya Pak Suyud dari Salatiga, di Jawa Timur Pak Arif dari Banyuwangi. Karena bentuk lagu itu sudah nyimpang dari tembang yang sudah dibakukan, mungkin dengan mudah disebut saja Lagu Dolanan. Menilik isinya lagu "Blanja wurung" ciptaan Pak Suyud sukar digolongkan sebagai lagu dolanan, demikian juga Genjer-genjer. Lagu Blanja wurung yang sering ditembangkan dan ditarikan dalam Bedayan Ketoprak Kridho Mardi, Kridha Mudha, Manggala dsb pada tahun enampuluhan itu, isinya mengambarkan kesulitan ekonomi pada masa itu. Mau belanja saja sampai wurung (tidak jadi) karena uangnya tak cukup. Bisakah lagu semacam ini digolongkan lagu dolanan anak-anak? Penutup lagu itu berbunyi: Mbakyu leres niku wau/ Buruh, tani lan bakul kudu bersatu... (Mbakyu betul tadi itu/ Buruh, tani dan pedagang harus bersatu...). Penerapan front persatuan dalam menanggulangi kesulitan ekonomi, tentu tak bisa digolongkan sebagi lagu dolanan anak-anak. Tentang lagu Genjer-genjer, setahu saya penciptanya adalah Pak Arif, putera kreatif rakyat Banyuwangi. Lagu itu menyebar luas sekitar awal tahun enampuluhan, dinyanyikan di kampung-kampung juga di istana. Seperti lagunya yang lain Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa-Banyuwangi. Saya tahu bahasa Jawa-Jawa Tengah dan Jawa Timur (Surabayan). Tapi mengikuti kata-kata lagu yang diciptakan Pak Arief dalam bahasa Jawa-Banyuwangi, hanya mengerti garis besarnya. Tentang lagu-lagu ciptaan Pak Arif, lebih dinamis ketimbang lagu-lagu Jawa; barangkali semacam peralihan dari Jawa ke Bali. Pengiring lagunya juga cukup menarik, merupakan kombinasi dari beberapa macam alat musik. Selain mengunakan unsur gamelan: kendang, ricikan, kempul, kenong, gong dsb, juga dipadu dengan angklung dan biola. Pentas musik itu dipandu oleh dirigen seperti musik barat. Saya sempat menyaksikan pentas Arif itu, kalau tak salah pada tahun 1964 di gedung SBKA Jakarta. Selain mementaskan karya ciptaan sendiri, Pak Arif juga mementaskan lagu rakyat. Tentang lagu Genjer-genjer, menurut Pak Arif sendiri latar belakangnya adalah jaman Jepang, waktu itu banyak orang kelaparan. Kalau di beberapa tempat orang pada makan ares (bonggol) pisang, di Banyuwangi kebanyakan mencari daun genjer. Untuk dibandingkan, disajikan dua kutipan bait pertama kata-kata lagu itu. Pertama dari Sura Merdeka, kedua dari saya sendiri berdasarkan ingatan yang digali lagi setelah tersimpan lebih tigapuluh lima tahun. Dari Suara Merdeka, 4 Juli 2000 Jer genjer Ana ledhokan pating kleler Oo, makne thole oleh sak tenong Si thole teka nggawa si genjer... Dari saya: Njer genjer ring kedhokan pating keleler emake thole teka-teka mbubuti genjer ole satenong mengko sedhot sing thole-tole genjer-genjer saiki digawa mole... Untuk meneliti siapa pencipta lagu ini, saya kira tidak terlalu sukar, soalnya cuma waktu. Saya yakin diantara 200 juta rakyat Indonesia ini ada yang masih menyimpan atau menyembunyikan piringan hitam lagu itu. Hanya karena pertarungan antara elite politik yang pro reformasi-demokrasi dengan golongan status quo yang mempertahankan harta dan tahta masih gencar, yang menyimpan piringan hitam lagu itu, nampaknya masih segan untuk memutar kembali. Lagu Pak Arif yang lain yang saya masih ingat namanya ialah lagu Banteng Merah atau Semangat Banteng Merah. Bagaimanakah nasib seniman rakyat Banyuwangi Arif itu? 7 Juli 2000 Aini Patria ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jul 2000 jam 10:17:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
