----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Gus Dur: Cukup Satu Periode

Jum'at, 14 Juli 2000
Jakarta (Bali Post) -

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan tak mau dipilih lagi menjadi
presiden RI untuk kedua kalinya. Pernyataan ini dilontarkannya dalam
wawancara dengan televisi CNN, Kamis (13/7) kemarin.

''Ada suara-suara yang mendukung agar saya melanjutkan pemerintahan. Tetapi,
satu periode saja sudah cukup,'' kata Gus Dur dalam wawancara tersebut
seperti dikutip kantor berita Afp, Kamis kemarin.

Gus Dur diangkat menjadi presiden ke-4 RI untuk masa lima tahun ke depan
oleh MPR, Oktober tahun lalu. Namun, pihak-pihak yang berseberangan dan
melawan Gus Dur meningkat dalam bulan-bulan terakhir ini. Rumor pun
berkembang pesat bahwa sejumlah politisi top meminta Gus Dur untuk segera
mengundurkan diri.

Gus Dur dianggap gagal menyelesaikan masalah-masalah kerusuhan dalam negeri
yang mengakibatkan ribuan warga kehilangan nyawa dan puluhan ribu kehilangan
tempat tinggal. Krisis Maluku selama 18 bulan menewaskan hampir empat ribu
jiwa. Upaya pemisahan diri juga terjadi di Propinsi Aceh, Irian dan Riau
yang kaya minyak. Saat ini menteri-menteri Gus Dur banyak membicarakan
destabilisasi Indonesia oleh pendukung mantan Presiden Soeharto. Pada saat
bersamaan, lawan Gus Dur menuduhnya tidak mempunyai kebijakan ekonomi untuk
menyelamatkan negara. Pernyataan-pernyataan kontroversial Gus Dur juga
dianggap menciptakan kebingungan pasar dan melemahkan nilai rupiah yang
Kamis kemarin diperdagangkan antara 9.435 - 9.455 per dolar AS.

Gus Dur yang mempunyai misi membersihkan pemerintahan, juga diduga
menciptakan peluang korupsi di lingkungan Istana Negara. Banyak kalangan
berpendapat, tekanan terhadapnya akan mencapai puncak bulan depan, yakni
saat berlangsungnya Sidang Umum Tahunan MPR.

Namun kepada CNN, Gus Dur menyatakan yakin bisa menyelesaikan lima tahun
pemerintahannya. Ditanya soal keinginannya tidak mencalonkan diri dalam
pemilihan presiden tahun 2004, Gus Dur menjawab, ''Dalam politik tidak ada
kepastian. Lebih baik berada di luar lingkaran pemerintahan setelah lima
tahun berkuasa.''

Presiden dijadwalkan menjawab pertanyaan DPR pada 20 Juli mendatang seputar
pencopotan dua menteri -- Yusuf Kalla dan Laksamana Sukardi. ''Sudah jelas
DPR tidak mempunyai hak menanyai presiden untuk kasus ini. Karena hal itu
urusan presiden, ini bukan kabinet parlementer,'' kata Gus Dur.

Meskipun pengangkatan dan pencopotan menteri menjadi hak prerogatif
presiden, kedua menteri itu mewakili dua partai terbesar di Indonesia. Yusuf
Kalla dari Golkar dan Laksamana Sukardi dari PDI Perjuangan -- pemenang
pemilu pimpinan Wapres Megawati Soekarnoputri. Gus Dur berjanji akan datang
untuk menjawab pertanyaan DPR itu. ''Ini proses yang mendidik. Anda tahu DPR
tidak menyadari mereka tidak punya hak menanyai saya untuk kasus ini,'' ujar
Gus Dur. Ia juga menolak dugaan dirinya berselisih dengan Megawati. ''Kami
seperti saudara. Saya tidak pernah membuat keputusan tanpa berbicara
terlebih dahulu dengan dia,'' ujarnya. Gus Dur mengakui, untuk kasus-kasus
tertentu, ia ngotot saat berbicara dengan Megawati.

Spekulasi mencuat bahwa Megawati tersinggung dengan pencopotan Laksamana
Sukardi, salah satu sekutunya. Tetapi, Gus Dur akan mendukung Megawati jika
dia mencalonkan diri menjadi presiden 2004 mendatang. ''Tak usah diragukan
lagi,'' ucap Gus Dur.

Hadiah Sultan Brunei

Sementara itu, Ketua Tim-7 Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) KH Aly Asad
menjelaskan, dana sebesar dua juta dolar AS dari Sultan Brunei Darussalam
Hasanal Bolkiah kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikenal
dengan Bruneigate, murni merupakan hadiah yang biasa diberikan Sultan dalam
tiap Idul Fitri. ''Karena itu, upaya pengajuan hak angket DPR atas masalah
tersebut, tidak relevan,'' katanya kepada pers di ruang kerjanya di gedung
DPR/MPR Jakarta, Kamis kemarin.

Aly menuturkan, pada hari Lebaran lalu Gus Dur meminta H. Masnuh untuk
menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada Sultan Brunei. Ketika
berpamitan pulang, tiba-tiba Sultan Brunei memberikan uang tunai senilai dua
juta dolar AS. Ketika memberikan uang tersebut, menurut pengakuan Masnuh
kepada Tim-7, Sultan Bolkiah sama sekali tidak memberi pesan apa pun, apakah
uang tersebut sebagai bantuan kemanusiaan atau untuk sumbangan lainnya
kepada pemerintah RI.

''Satu-satunya pesan yang disampaikan Sultan agar uang tersebut diserahkan
kepada Kiai Abdurrahman Wahid dan dirahasiakan,'' kata Aly.

Jadi, lanjutnya, dana tersebut merupakan pemberian pribadi kepada pribadi.
''Dan sebelum Gus Dur menjadi presiden, Sultan pernah memberikan sumbangan
dana kepada Gus Dur,'' paparnya. Karena dalam perjalanan tidak diperkenankan
membawa uang tunai sebesar itu, tutur Aly, kemudian H. Masnuh mentransfer
uang tersebut ke rekening pribadinya. Semua itu kemudian dilaporkan kepada
Presiden Gus Dur, lalu Presiden hanya meminta Masnuh agar menyimpan uang
tersebut dan hanya menggunakannya jika ada orang-orang yang meminta bantuan.
Kemudian, oleh H. Masnuh uang itu beberapa kali digunakan untuk membantu
Yayasan Ahlussunah Wal Jamaah di Aceh dan beberapa kelompok masyarakat lain.

Kalau melihat situasinya, kata Aly, Sultan Brunei sesungguhnya memiliki
iktikad baik dalam memelihara hubungan pribadi dengan Gus Dur yang telah
terjalin lama sebelum menjadi presiden RI. Karena itu, ia khawatir jika
kemudian iktikad baik itu justru diungkit-ungkit oleh DPR akan merusak
hubungan baik kedua tokoh tersebut.

Tentang figur Masnuh, Aly mengungkapkan, yang bersangkutan sebagai pengusaha
besar asal Sidoarjo dan telah lama mengabdi kepada para ulama, termasuk Gus
Dur. H. Masnuh juga kerap dipercaya mengelola keuangan Gus Dur pribadi sejak
sebelum Gus Dur terpilih menjadi presiden.

Hak Angket

Penggunaan hak angket (penyelidikan) untuk kasus Bulog dan Brunei tersebut
muncul ketika Rabu (12/7) sore lalu sejumlah anggota Dewan menyampaikan
penggunaan hak angket yang telah ditandatangani 237 anggota Dewan dari enam
fraksi yakni Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Golkar, Fraksi Reformasi,
Fraksi Bulan Bintang, dan Fraksi Perserikatan Daulat Umat.

Menurut salah seorang pemrakarsa hak angket Alvin Lie, hak tersebut diajukan
mengingat presiden dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap UU No.
28/1999 mengenai penerimaan bukan pajak, dan pelanggaran GBHN yang
menyebutkan dalam menjalankan hubungan luar negeri yang menyangkut hajat
hidup orang banyak, pemerintah harus mendapat persetujuan DPR.

Ketua DPR Akbar Tandjung berjanji secepatnya memproses sesuai dengan
mekanisme yang berlaku di DPR. Sesuai pasal 155 Tata Tertib DPR, jika Rapat
Paripurna DPR menyetujui usul untuk melakukan penyelidikan (angket), akan
dibentuk panitia khusus dengan anggota sekurangnya 10 orang.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Jul 2000 jam 10:55:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke