----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Semua Persoalan Ditimpakan kepada Gus Dur

Senin, 17 Juli 2000
MALANG (Media Indonesia):

Ada upaya membebankan berbagai persoalan kenegaraan ke pundak Presiden
Abdurrahman Wahid, selain upaya internalisasi carut-marutnya kondisi
kenegaraan kepada PKB dan NU sebagai basis Gus Dur.

Hal itu dikatakan Ketua Umum PBNU KHA Hasyim Muzadi menjawab Media kemarin
di kediamannya di Jl Jengger Ayam, Malang. "Ini jelas terlihat. Padahal
kondisi itu hanya ekses dari ulah orang gagal yang berupaya menggulingkan
Gus Dur melalui konstitusi," tegasnya.

Upaya itu terlihat nyata setelah pertimbangan menggulingkan Gus Dur melalui
SU MPR Agustus mendatang sulit dilakukan melalui pendekatan konstitusi.
Upaya lain melakukan SI MPR yang diproyeksikan kemudian.

Seandainya hal itu terlaksana, maka bakal timbul goncangan lain. Yang tidak
dipertimbangkan elite politik ini adalah akan muncul pemimpin-pemimpin baru
yang berusia pendek. Banyak elite politik memilih mengambil risiko tinggi
mengorbankan rakyat untuk kepentingan politik mereka. Mereka tidak
mengindahkan keterpaduan visi dan misi untuk menciptakan suasana yang
kondusif untuk mengatasi keadaan kritis yang butuh pendekatan multidisiplin
dan multilinier.

Dalam kalkulasi politik, menurut Hasyim, risiko bencana itu bisa ditanggung
secara massal seluruh bangsa ini kendati cuma dilakukan segelintir orang.
Bahkan Hasyim memperkirakan kondisi Indonesia akan seperti Pakistan yang
kesulitan melepaskan diri dari jeratan krisis politik karena militer
berperan kembali menyusul kegagalan elite sipil di pemerintahan.

"Simtom-simtom (gejala-gejala) itu tampak di mana elite politik sipil saling
bertempur. Bukan tidak mungkin militer mengambil alih. Ini yang tidak
dipertimbangkan mereka. Terus terang kita peringatkan atas nama
menyelamatkan bangsa ini. Siapa pun yang memerintah, dalam situasi demikian,
pasti menemui ganjalan," tegasnya.

Sedangkan mantan Menko Polkam Wiranto menyatakan berbagai peristiwa saat ini
direkayasa berlebihan. Akibatnya, menimbulkan kegalauan politik, ekonomi,
dan kerawanan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

"Kegalauan politik dan ekonomi itu menimbulkan kerentanan terhadap masalah
keamanan bangsa," kata Wiranto pada peluncuran buku Mengenang Pengacara
Kondang Muhammad Dault di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan solusi untuk itu perlu solidaritas kebangsaan. Saat ini
dibutuhkan pemimpin yang menjadi pelopor persatuan dan kesatuan bangsa,
bukannya malah menjadi pemecah belah bangsa.

Wiranto mempertanyakan, mampukah bangsa Indonesia dengan berbagai cara
membangkitkan solidaritas bangsa secara utuh sekaligus mengatasi krisis
kepemimpinan bangsa saat ini. "Pertanyaan itu tidak saya jawab di sini
melainkan ada di dalam hati seluruh bangsa kita," katanya.

Sementara itu, Ketua MPR Amien Rais mengatakan sudah waktunya seluruh
komponen bangsa ini mulai memikirkan kepentingan bangsa dan negara dengan
mengesampingkan kepentingan kelompok.

Oleh karena itu, dalam setiap sepak terjangnya berbagai komponen bangsa,
harus mengarahkannya kepada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, agar
negara RI bisa bangkit dari keterpurukannya.

Sedangkan Guru Besar Filsafat UGM Yogyakarta Prof Dr Kunto Wibisono meminta
kalangan elite politik di Indonesia menghentikan konflik politik, karena
padangan yang mereka sampaikan itu lama-kelamaan semakin jauh dari
kepentingan masyarakat.

"Saya tidak membandingkan 1957 ketika sidang konstituante macet, untuk
mengatasi hal itu, benar atau tidak Bung Karno memberikan dekrit presiden
agar kembali ke UUD 45. Nah dalam kemacetan ini seperti yang terjadi saat
ini, apakah tidak lebih kita introspeksi kembali ke nilai-nilai pembukaan
UUD 45," katanya, di Solo, Sabtu lalu.

Menurut dia, usai menghadiri Dies Natalis XXXVI dan Wisuda Sarjana/Diploma
III 1999/2000 STSI Surakarta, sekarang ini parpol hanya memikirkan
kepentingan kelompoknya masing-masing.

Mereka (parpol) tidak mau mengerti kepentingan masyarakat khususnya
peristiwa yang terjadi di Ambon, Maluku, penyelesaian Aceh, dan
`berteriak-teriaknya` masyarakat Papua.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Jul 2000 jam 09:11:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke