---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- AMERIKA PERCAYA AKAN ADA KUDETA MILITER SITUASI politik Indonesia sedang memanas menjelang Sidang Tahunan MPR, 7-18 Agustus nanti. Parahnya, luar negeri, termasuk negara superpower, Amerika, mulai percaya sindroma Pakistan: kudeta militer. Sementara Gus Dur, yang tampak mulai sering emosional, kemungkinan menyerahkan kekuasaannya kepada menteri utama. Demikian, antara lain, kekhawatiran Dr Hermawan Sulistyo, Direktur Eksekutif RIDeP, sebuah lembaga riset politik di Jakarta, yang memiliki akses luas dengan kalangan luar negeri. Berikut analisisnya ketika di temui Bangkit di Jakarta, Selasa (11/7). Ia juga mengungkapkan sifat khas Gus Dur: makin dilawan makin keras, dan pendendam. BAGAIMANA luar negeri membaca situasi politik di Indonesia sekarang? Mayoritas orang asing masih percaya ini akan rame lagi dan tentara kembali mengambilalih pemerintahan. Skenario yang mereka percaya kayak Pakistan. Setelah sekian lama pihak sipil nggak sanggup menciptakan stabilitas, militer mengambilalih (kekuasaan). Itulah kepercayaan dan keyakinan mereka. Setiap saya ketemu, mereka nggak percaya bahwa kemungkinan kudeta nggak ada. Amerika pun ada kekhawatiran seperti itu. Mereka tak percaya Gus Dur bisa mengatasi krisis ini? Nggak, kalau saya lihat, karena stigma lama TNI. Berdasarkan sejarah, TNI nggak bisa nangkap reaksi publik. Luar negeri nggak percaya kalau saya bilang orang nggak ada takutnya sama tentara sekarang. Kalau ada kudeta (markas tentara) bisa diduduki, (tentara) bisa ditangkap seperti kejadian di Salemba beberapa waktu lalu. Kedua, mereka nggak lihat Gus Dur cukup kuat untuk bisa ngontrol situasi. Karena, faktor kekuatan Gus Dur bukan dalam dirinya, tapi tergantung dari lawan-lawan politiknya. Dan, lawan-lawan politiknya ada dimana-mana. Ada anggapan umum bahwa Gus Dur sudah bagus mengendalikan tentara. Kok ada isu seperti itu? Nggak, orang asing nggak percaya itu. Memang sampai pada tingkat tertentu dia mampu mengendalikan. Tapi kan kudeta, di mata sebagian dari mereka, tidak harus secara telanjang mengambil alih kekuasaan. Umumnya percaya dengan pengambilan posisi-posisi penting lagi, tapi tidak dalam pengertian situasi darurat. Tapi ada juga yang percaya akan ada kudeta secara telanjang. Bukan berarti Gus Dur harus diganti? Di mata publik internasional, setahu saya, Gus Dur sangat dikagumi dan dihormati. Karena mereka hanya melihat statement-statemennya sangat demokratis, sangat terbuka. Sementara publik dalam negeri melihatnya terbalik: Gus Dur ngomongnya ngaco, apalagi tindakannya. Jadi persepsi itu berbeda, bahkan bertentangan. Muncul kabar bahwa Megawati seringkali mendapat tamu-tamu para jenderal. Komentar Anda? Nggak, kalau saya lihat makin banyak orang, siapapun, makin prihatin. Apalagi tentara. Mereka bertanya-tanya, mau dikemanain nih republik. Kalau kita lihat Gus Dur dari dulu, jangan berharap dia berubah. Bagi saya yang penting bagaimana mengunci Gus Dur. Memberikan orang-orang di sekitarnya yang baik dan biar saja dia mau ngomong apa, asal masukannya benar. Kedua, biarin dia ngomong apa adanya, tapi yang nggak benar jangan jadikan kebijakan. Ketiga, mengunci dia, tidak memberi kesempatan untuk tampil di publik sesering sekarang. Sebulan sekali saja. Makin sering tampil di publik, risiko kesalahannya makin tinggi. Setelah Golkar dan PDIP kelihatan menjauh, apakah Gus Dur mungkin balik ke Poros Tengah dan minta dukungan TNI? Dia nggak peduli. Gus Dur bukan tipe orang kayak gitu. Makin dilawan, makin keras dia. Dan Gus Dur itu pendendam, orangnya pendendam. Sekali disakiti kayak gitu, dia nggak akan bisa lupakan. Itu karakter dia. Dia baru tidak dendam, kalau orang itu sudah minta maaf, dimarah-marahi, dimaki-maki sama dia. Tapi selama orang itu nggak melakukan itu, dia masih akan dendam. Sampai kapan pun, cara Amien Rais itu susah dia maafkan. Kecuali Amien minta maaf terbuka. Terlalu banyak kesalahan Amien. Akbar Tandjung? Akbar ini kan orang yang kanan ikut, ke kiri ikut. Yang aneh, publik politik sekarang ini lupa bahwa Akbar-lah yang menaikkan Pak Harto pada tahun 1998. Itu kan skenarionya Akbar ikut andil paling banyak. Dia pulalah yang dorong Habibie naik, menjaga Habibie. Ketika Habibie nggak bisa dipegang, nggak bisa diandalin, dia juga yang ganjal. Akhirnya dia mendukung Gus Dur. Tetapi bisa juga akhirnya dia menjatuhkan Gus Dur. Mungkinkah Gus Dur menyerahkan kekuasaannya kepada militer kalau tekanan dari lawan-lawan politik makin kuat? Ada kemungkinan Gus Dur seperti itu. Tapi itu akan menjadi malapetaka. Kalau itu dilakukan ada common denominator lagi, ada musuh bersama lagi. Mahasiswa akan turun, LSM akan turun. Saya jamin akan ada razia tentara di jalan-jalan. Dan tidak ada tentara seberani ini (kudeta). Mereka juga mikir, mereka tahu, mereka nggak akan didukung. Kok orang asing tetap percaya akan ada kudeta? Iya, karena kerangka mereka, kerangka jaman Soeharto. Mereka tidak melihat adanya leadership yang kuat sekarang di militer. Kalau mau kudeta tidak ada jenderal yang didengerin, siapapun yang mimpin. Kudeta malah mungkin dilakukan oleh dua orang kolonel Angkatan Darat. Siapa dia, sanggat nggak bisa nyebut namanya. Dari Kostrad ya? Yang mungkin melakukan kudeta itu hanya Kodam, Kostrad, Kopassus. Mereka tahu, tidak mungkin ada kudeta di Indonesia, tanpa melibatkan dua orang kolonel yang sangat dihormati kalangan ini. Jenderal sekarang hanya mementingkan jabatan. Soal resuffle kabinet? Bagi Gus Dur ada dua kriteria. Kriteria pertama teman, kedua baru profesional. Jadi, teman yang profesional. Kayak modelnya Rozy. Tapi itu resikonya tinggi juga, karena dia belum kuat. Tapi sudah ada konsensus umum, mulai ada kesadaran yang muncul di banyak pihak, bahwa kalau Gus Dur diturunkan, konsekwensinya krisis yang lebih jauh. Konsekwensinya jauh lebih berat. Karena persoalan pertarungan lagi dan pasti berlarut-larut. Kedua, saya kadang-kadang curiga Gus Dur ngaco gitu karena hitung-hitungan fisik. Biasanya, Gus Dur sangat sistematis, punya target. Dia bikin semua orang bingung. Tapi sekarang kok tidak. Ini spekulasi: dia hitung-hitungan fisiknya tidak akan kuat satu tahun lagi, katakanlah begitu, dan dia jadi kepala negara saja. Dengan alasan, lihat, saya tidak bisa memimpin sebagai kepala pemerintahan. Jadi tolong dibikinin rumusan, saya kepala negara saja. Mengapa? Karena dialah orang pertama dan sangat konsisten ngomong tentang pemisahan kepala negara dan kepala pemerintahan. Saya hajar dia di TPI waktu itu. Saya bilang ada sistem ada orang. Orangnya nggak ada sistemnya diubah. Dan nanti kalau kita punya pemimpin yang pingin jadi raja, kita buat sistem kerajaan di republik ini. Gus Dur bilang, ya sudah, saya kan cuma usul. Tapi dia berkali-kali ngembangin gagasan ini, menjadi wacana di Fordem. Saya curiga dia akan mewujudkan gagasannya itu, meskipun sebetulnya resikonya untuk bangsa ini sangat tinggi. Konon Amien Rais ingin ketua MPR sekaligus kepala pemerintahan? Amandemen itu kan mau diarahkan begitu. Habis saya bilang kalau saya ditanya, hanya di negara komunis, ketua legislatif merangkap eksekutif. Jadi Amien Rais sebaiknya dinobatkan jadi ketua partai komunis Indonesia, PKI baru saja. Di mana-mana kalau presiden nggak berfungsi, ya, wakil presiden. Persoalan dia mampu atau tidak itu persoalan lain. Solusinya? Menteri utama. Itu istilah dia (Gus Dur) juga dari dulu. Akan ada menteri utama, seperti menko tapi dia punya kekuasaan. Calon yang paling kuat sebetulnya, sebelum skandal Bulog, ya, Bondan Gunawan. Sekarang, siapa calonnya? Mungkin SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Tapi secara pribadi, Gus Dur nggak begitu suka kepada SBY. Bolak-balik dia bilang, tentara kok keminter (sok pintar), banyak omong. Bisa Luhut Panjaitan. Belakangan ini, setiap pidato Gus Dur selalu memuji Luhut. Luhut kan paling bisa ngambil hati orang. Jilat-jilat itu dia paling bisa. Surjadi Soerdirdja terlalu lemah. Saya tak melihat ada calonnya di kabinet sekarang ini. Bagaimana dengan Dorodjatun Kuntjoro Jakti? Djatun minta syarat, kalau dinaikkan, dia nentuin bawahan dia semua. Djatun tahu kalau diintervensi nggak ada gunanya. Tapi Gus Dur nggak mau. Rozy Munir? Oh... kalau Rozy Munir jauhlah. Marsilam Simanjuntak? Mungkin, tapi saya nggak percaya Pak Silam mau. Dia sudah banyak kecewa sama Gus Dur. Lalu, Wapres Megawati difungsikan sebagai apa? Yah kalau saya lihat metodenya Gus Dur magang. Itu kan proses magang untuk Mega. Tapi kalau melihat cara-cara Mega di luar persoalan Taufik Kiemas, penguatan administrasinya mulai bagus. Meskipun dia pakai orang-orang lama kayak Bambang Kesowo, tokoh-tokoh berpengalaman dan apolitis. Kalau Gus Dur merombak kabinetnya, kira-kira dia akan memilih tokoh dari mana? Yah, yang pasti teman-teman di lingkungan dia. Sedang yang dari Fordem sudah habis. Tapi kalau lihat ininya, saya kira, dia akan mengambil intelektual di lingkungan dia, kayak Kristiadi (CSIS). Terus Hadi Susastro (CSIS). Dia berpeluang menggantikan Kwiek Kian Gie (PDIP). Sri Mulyani (UI) juga berpeluang. Oh yah, untuk orang sipil menteri utama bisa Emil Salim, bisa Sarwono. Gus Dur merasa bisa pegang mereka. Kelemahannya, Emil tidak punya akar di bawah, tetapi dia mempunyai visi, kemampuan manajemen yang bagus dan dia bisa dipercaya Gus Dur.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Jul 2000 jam 04:41:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
