----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Elit Akur, Rupiah Menguat
Akbar Tak Menjamin Posisi Gus Dur Aman

Jakarta, Riau Pos

Kesepakatan 11 fraksi MPR untuk mendinginkan suhu politik yang sedang
memanas, diharapkan bisa membawa dampak positif. Bukan saja pada aspek
stabilitas sosial dan politik, tetapi juga ekonomi. Deputi Senior Gubernur
Bank Indonesia (BI) menilai kesepakatan 11 fraksi MPR itu bisa membawa
dampak positif bagi perekonomian. Misalnya bisa menjadi pemicu untuk
memperkuat kurs rupiah yang terpuruk hingga berada di kisaran Rp 9.500 per
dolar AS.

��Memang keadaan ekonomi dan keuangan harus dijaga stabilitasnya. Untuk itu
situasi politik dan keamanan harus benar-benar kondusif,�� kata Anwar usai
mengikuti Rakor Ekuin di Gedung Bappenas di Jakarta, kemarin.

Menurut orang nomor dua di bank sentral yang belum melepas jabatannya
sebagai Dekan FE UI ini, terpuruknya kurs rupiah dalam beberapa pekan
terakhir lebih disebabkan oleh faktor-faktor politik. Karena faktanya,
indikator makro ekonomi relatif positif dan stabil.

��Keputusan 11 fraksi MPR harus ditindaklanjuti dengan langkah konkrit di
bidang ekonomi, baik moneter maupun fiskal. Kebijakan ekonomi itu arahnya
tentu untuk memperkuat kurs rupiah,�� katanya.

Sanksi Moral

Benarkah kesepakatan 11 fraksi MPR mendinginkan suhu politik menjelang
Sidang Tahunan MPR, bisa dipatuhi? Sekretaris Fraksi Bulan Bintang Hamdan
Zoelva menyatakan, kalau sampai ada yang mengingkari akan memperoleh sanksi
moral.

Kepada JPNN kemarin, memang diakui dalam kesepakatan itu tidak ada klausul
yang menyebut secara konkret bagi pelanggar kesepakatan 11 fraksi. Tetapi,
bagi fraksi-fraksi yang akhirnya di tengah jalan mengingkari, tentunya
secara moral akan terhukum sendiri. ��Jadi sanksinya ya moral saja.��

Mengapa? Soalnya kesepakatan 11 fraksi tersebut sifatnya hanya imbauan moral
agar pelaksanaan sidang tahunan berjalan sukses.

Untuk mendeteksi terjadinya pelanggaran kesepakatan, ia akan melihat siapa
saja yang akan mengacaukan sidang tahunan itu. ��Kalau memang ada yang
melakukan itu, jelas bisa disebut pelanggaran,�� ujarnya.

Dikatakan, meski sudah ada kesepakatan, tidak berarti mereduksi sikap fraksi
dalam memberi penilaian terhadap progress report presiden. Jika salah satu
fraksi menilai kurang terhadap kinerja presiden itu tidak bisa dikatakan
melanggar kesepakatan. ��Jadi berbeda pendapat tetap dipelihara. Cuma,
jangan sampai menghancurkan masa depan bangsa dan negera ini,�� paparnya.

Sementara itu, Ketua DPR Ir Akbar Tanjung juga melihat manfaat yang besar
dari pertemuan fraksi-fraksi tersebut. Pasalnya, pertemuan yang akhirnya
melahirkan kesepakatan mendinginkan suhu politik menjelang sidang tahunan
ini, bisa menanggulangi upaya mendelegimitasi MPR.

Sebab, diakui atau tidak, ada wacana yang dikembangkan untuk mendiskreditkan
parpol-parpol yang kini bermain di gelanggang politik sebenarnya (MPR). ��
Makanya, saya menyambut baik pelaksanaan pertemuan tersebut,�� ungkapnya
kepada wartawan.

Ketua Umum Partai Golkar ini memastikan, tidak ada kaitan antara pertemuan
pimpinan fraksi dengan gagalnya pertemuan empat tokoh yang melibatkan
presiden, Ketua MPR, Ketua DPR dan Wapres. Sebab materi yang dibahas oleh
para pimpinan fraksi lebih mengarah pada rencana menjelang pelaksanaan
Sidang Tahunan MPR. Sementara, pertemuan empat tokoh lebih menyorot ke
masalah makro, baik politik, ekonomi, keamanan, maupun berbagai masalah
lainnya.

Akbar yakin dampak dari pertemuan pimpinan fraksi tersebut akan membantu
meredakan memanasnya situasi politik belakangan ini. Tapi, dia tidak berani
menyebut pertemuan tersebut sebagai jaminan amannya pemerintahan Presiden
Wahid. Sebab eksistensi Presiden Wahid itu sendiri sangat bergantung pada
sikap dan kinerje presiden itu sendiri.

Lalu siapa sebenarnya penggagas pertemuan itu? Ternyata yang punya ide
tersebut adalah Fraksi Golkar dan PDI Perjuangan. Misi kedua fraksi ini,
selain menginginkan iklim sejuk menyambut pelaksanaan Sidang Tahunan MPR,
juga dimaksudkan untuk mencegah delegitimasi MPR. ��Ada pihak yang mencoba
mendelegitimasi MPR dengan berbagai manuvernya,�� kata salah satu penggagas
pertemuan 11 fraksi Rully Chairul Azwar kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Rully memang tidak menyebut kelompok orang yang bermaksud untuk menjatuhkan
kredibilitas MPR. Tapi, dia mengemukakan berbagai pernyataan di media massa
baik dari perorangan maupun pengamat politik memang ada yang berusaha
mendiskreditkan gelanggang MPR. Termasuk dia tidak membantah jika Forum
Rembug Nasional di Bali beberapa waktu lalu dikatakan sebagai salah satu
usaha mendelegitimasi lembaga tertinggi negara tersebut. ��Jadi itu
sebenarnya inti dari pertemuan ini,�� ungkapnya.

Terhadap pertemuan itu sendiri, Rully mengaku, banyak persepsi yang muncul.
Dia memisalkan, adanya jaminan terhadap kelanggengan pemerintahan Presiden
Wahid. Padahal, ungkap anggota PAH Khusus MPR tersebut, tanpa dijelaskan
juga sudah bisa dipastikan bahwa pemerintahan Presiden Wahid tidak akan
berakhir pada Sidang Tahunan MPR mendatang. Meskipun kemungkinan ke arah
tersebut memang ada. ��Hanya memang kemungkinan rekomendasi digelarnya
Sidang Istimewa tetap terbuka,�� timpalnya lagi.

Wakil Sekjen DPP Partai Golkar itu yakin, ke-11 fraksi bisa memegang
komitmennya untuk mensukseskan pelaksanaan Sidang Tahunan dan tidak
membelokkan menjadi Sidang Istimewa MPR. Hanya dia memastikan, setiap
peluang bisa terjadi jika 700 anggota MPR berkumpul. ��Tapi yang jelas,
sidang tahunan tidak akan dibelokkan menjadi sidang istimewa,�� timpalnya.

Pengamat Pesimis

Apa komentar para pengamat ekonomi? Mereka menilai kesepakatan para fraksi
guna meredam ketegangan politik, tidak akan membawa banyak arti bagi
perekonomian. Perlu suatu komitmen politik yang lebih konkrit untuk
menyudahi berbagai krisis di bidang sosial, politik, dan ekonomi.

��Kesepakatan 11 fraksi itu tidak ada artinya. Yang lebih dibutuhkan adalah
kenyataan daripada sekedar komitmen politik itu,�� kata Direktur Eksekutif
Econit Advisory Group, Arif Arryman, kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Arif menyatakan sudah saatnya para elit menghentikan berbagai basa-basi
politik. Yang lebih dibutuhkan adalah menyamakan persepsi politik. Pasalnya,
krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah akibat dari konflik politik yang
dalam.

��Pemulihan ekonomi membutuhkan tim ekonomi yang kuat dan memiliki teamwork
yang bagus. Sementara tim kabinet yang ada sekarang, masih banyak
dipengaruhi kepentingan parpol,�� katanya.

Namun demikian, Arif mengaku menaruh harapan besar adanya rekonsiliasi antar
empat tokoh politik. Karena pertemuan para elit politik itu akan mampu
membangun kembali kepercayaan pasar.

��Saya yakin selama elit politik masih waras mereka tidak akan mengorbankan
kepentingan negara demi kepentingan partai. Mungkin waktunya agak lama, tapi
saya yakin itu terjadi,�� tukasnya.

Sementara itu pengamat ekonomi Cides (Center for Information and Development
Studies), Umar Juoro, menyatakan bahwa komitmen bersama antar elit politik
tidak akan banyak membantu proses pemulihan ekonomi di Indonesia.

��Tidak usah komitmen atau rekomendasi yang muluk-muluk. Kita ngomong yang
teknis-teknis saja. Restrukturisasi utang swasta, restrukturisasi aset di
BPPN, dan masalah teknis-teknis lainnya belum ada yang tuntas. Ini lebih
perlu mendapat perhatian ekstra,�� tandasnya.

Umar juga menyatakan bahwa rekomendasi untuk mengubah fundamen ekonomi atau
kesepakatan politik bersama tidak ada lagi artinya. Pasalnya selama ini
masyarakat telah mengetahui bahwa pemerintah sering meleset atau mengelak
dari hal-hal yang telah mereka sepakati sebelumnya.

��Elit politik harus melakukan komitmen politik yang konsisten untuk
menjalankan LoI (letter of intent) tepat waktu. Itu saja sudah cukup,�� ujar
Umar.

Umar juga mengkritik eksistensi lembaga legislatif. Selama ini DPR dinilai
tidak memiliki alat dan standar untuk mengukur keberhasilan atau kinerja
pemerintah.

��DPR perlu menggagas lebih lanjut standar-standar pengukur kinerja
eksekutif. Dengan demikian evaluasi itu bisa fokus dan bisa melihat
kekurangan pemerintah ada di mana,�� tuturnya kepada JPNN di Jakarta
kemarin.

Umar juga sependapat jika lembaga penasihat kepresidenan seperti DPUN (Dewan
Pengembangan Usaha Nasional) dan DEN (Dewan Ekonomi Nasional) perlu
dibubarkan atau dikaji ulang keberadaannya.

��DPUN dan DEN lebih baik dibubarkan. DPUN tidak jelas posisi dan kerjanya.
DEN juga tidak jelas, anggotanya itu penasehat atau pengamat ekonomi tidak
jelas,�� tegas Umar Juoro.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 04:33:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke