---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 12 Juli 2000 Mari Mengimbau Rupiah MEROSOTNYA nilai tukar rupiah memperkuat posisi Gus Dur. Nggak perlu kaget, itu sekadar teori, yang diramu tidak dari fakta- fakta, melainkan dari asumsi-asumsi semaunya, sesuai dengan adat politik yang penuh kemungkinan dan tak jelas kemungkinan mana yang paling mungkin. Rupiah merosot karena konflik politik di tingkat elit. Dimulai dari serangan yang tak habis-habisnya dari kawasan Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tanjung, plus Fraksi PDI Perjuangan dan lain-lain terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. Sebaiknya presiden bukan saja menangkis serangan itu dengan gaya semau- maunya, tapi juga melontarkan umpan baru yang bisa menjadi sasaran tembak dengan mengeluarkan ucapan-ucapan yang memperkeruh suasana dan memperlemah posisi sendiri. Rupiah juga merosot karena ada bom berdaya ledak hebat dan bukan sekadar rakitan di Kejaksaan Agung dan tak kunjung redanya kerusuhan di berbagai kawasan tanah air. Konflik politik itu kini masih terus menanjak menjelang digelar sidang interpelasi di DPR dan memuncak pada Sidang Tahunan MPR bulan Agustus nanti. Pendeknya, merosotnya nilai rupiah itu selain karena konflik politik yang mempersempit ruang gerak ekonomi dan investasi, ia mengarah pada jatuhnya pemerintahan Abdurrahman Wahid. Padahal rupiah mewakili berbagai aspek, baik ekonomi maupun sentimen publik. Kalau dia ngambek itu berarti ngambeknya berbagai aspek itu. Padahal, kendatipun Gus Dur telah membuat banyak blunder, sentimen publik belumlah menghendaki dia dijatuhkan. Bukan saja karena calon pengganti belum jelas terlihat, atau karena landasan reformasi yang ditanam pada SU MPR 1999 yang memberi legitimasi kepada Gus Dur dan Mega menjadi mubazir, tapi karena pergantian pemerintahan bisa dipastikan akan membuat situasi bertambah runyam dan rakyat putus asa. Kalau diibaratkan seorang ibu, si rupiah itu kini ngambek dan sengaja berdiri di bibir jurang dan mengancam akan terjun jika konflik politik ini berkepanjangan dan memanas. Dia pasti benar- benar loncat kalau Presiden Abdurrahman Wahid terjungkal dari jabatannya. Pendeknya si rupiah tidak ingin Gus Dur jatuh. Karena itulah muncul teori bahwa melamahnya nilai tukar rupiah justru memperkuat posisi Gus Dur. Padahal si rupiah mungkin hanya terlalu sentimentil dan gamang. Sebab ada banyak alasan untuk memastikan bahwa Gus Dur tidak akan jatuh, baik pada sidang interpelasi maupun pada sidang tahunan MPR. Pertama karena kubu Amien Rais berkali-kali mengatakan bahwa Sidang MPR bulan Agustus itu tidak diniatkan untuk menjatuhkan presiden. Kalau Sidang MPR saja tidak berniat begitu apalagi sidang interpalasi DPR yang secara konstitusional memang tidak mungkin membuat presiden dicopot. Ada hal-hal lagi yang membuat kita punya keyakinan bahwa baik sidang interpelasi maupun sidang tahunan MPR tidak akan mengakibatkan Gus Dur jatuh. Selain karena Gus Dur punya potensi untuk menangkis serangan terhadap dirinya, ada banyak perkara lain yang bisa diinterpelasi selain kasus dicopotnya dua orang menteri, Jusuf Kalla dan Laksamana Sukardi, atau kasus dana karyawan Bulog yang lebih berpotensi untuk menjatuhkan presiden. Misalnya konflik di Maluku yang tambah merebak dan berkecambahnya konflik dan kerusuhan di daerah lain. Tapi, kalaupun masalah ini hendak diperdebatkan di Sidang MPR bulan Agustus, Gus Dur tentu telah siap dengan berbagai tameng penangkis karena orang mudah paham kalau soal itu bukan karena kesalahan Gus Dur semata dan tidaklah mutlak menjadi tanggungjawabnya sendiri. Kini kita justru untuk berteori jangan-jangan merosotnya nilai rupiah itu sengaja direkayasa Gus Dur untuk memperlihatkan betapa kuat posisinya. Karena kalau Gus Dur jatuh si rupiah juga solider ikut terjun ke jurang. Rasanya teori in terlalu muluk dan layak dikesampingkan saja. Yang penting kita punya alasan untuk menghimbau si rupiah agar tidak terus ngambek karena tidak cukup punya alasan kuat, ekonomi dan politik. Sebab hanya membuat susah rakyat.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 05:14:52 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
