----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 19 Juli 2000 14:10 UTC

** INDONESIA KEMUNGKINAN MINTA BANTUAN PASUKAN INTERNASIONAL

** PERUNDINGAN CAMP DAVID BERJALAN ALOT, BARAK SIAP SEDIA KEMBALI KE
ISRAEL

** ABU SAYYAF AKAN BEBASKAN TUJUH SANDERA MALAYSIA DALAM WAKTU DEKAT

** TOPIK GEMA WARTA: KALAU KRISMON MENGUNDANG IMF, MENGAPA KRISIS
MALUKU TIDAK MENGUNDANG PBB?

** TOPIK GEMA WARTA: BENARKAH POLITISI SIPIL DAN TOKOH MILITER, OTAK
DI BELAKANG KERUSUHAN MALUKU?

* INDONESIA KEMUNGKINAN MINTA BANTUAN PASUKAN INTERNASIONAL

Campur tangan internasional dalam masalah Maluku tak terelakkan lagi
kalau pemerintah Indonesia sendiri tidak secepatnya mengakhiri
konflik di sana. Demikian pernyataan Kapolri Jenderal Rusdihardjo.
Untuk pertama kalinya seorang pejabat senior menyinggung kemungkinan
intervensi asing untuk menangani konflik bernuansa SARA di Maluku.
Menteri Luar Negeri Alwi Shihab akan membicarakan konflik di Maluku
di markas besar PBB di New York bulan depan. Shihab sebelumnya
menegaskan Indonesia menolak campur tangan tentara internasional,
tetapi bisa menerima bantuan kemanusiaan. Lebih dari 4000 orang tewas
di Maluku akibat kekerasan antara warga muslim dan kristen.

* PERUNDINGAN CAMP DAVID BERJALAN ALOT, BARAK SIAP SEDIA KEMBALI  KE
ISRAEL

Perdana Menteri Israel Ehud Barak siap sedia meninggalkan perundingan
perdamaian dengan pihak Palestina di Camp David, Amerika. Hal ini
diberitakan oleh radio Israel. Kantor Barak di Yerusalem belum bisa
mengkonfirmasikan berita ini. Barak hendak mengakhiri perundingan
karena, di mata perdana menteri itu, pihak Palestina tidak bersikap
selaku mitra perdamaian.
Presiden Amerika Bill Clinton menunda keberangkatan ke Jepang yang
dijadwalkan hari ini untuk memperbesar peluang bagi tercapainya
terobosan dalam perundingan Timur Tengah ini. Kamis besok Clinton
bertolak ke Okinawa, Jepang, untuk menghadiri KTT G-8, yaitu tujuh
negara industri terkaya di dunia plus Rusia. Selasa kemarin suasana
perundingan Palestina Israel di Camp David pesimis. Menurut para
jurubicara Palestina perundingan mengalami krisis dan pemimpin
Palestina Yasser Arafat bahkan nyaris memberitahu Sekjen PBB Kofi
Annan bahwa pertemuan puncak itu gagal. Tetapi Arafat akhirnya
berhasil dirayu Clinton untuk kali terakhir berupaya mencapai
terobosan. Setelah melakukan perundingan Camp David selama delapan
hari masalah Yerusalem nampak sulit dipecahkan. Palestina menghendaki
Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina, tetapi Israel
menentang keras pembagian kota itu.

* ABU SAYYAF AKAN BEBASKAN TUJUH SANDERA MALAYSIA DALAM WAKTU DEKAT

Dalam waktu dekat gerakan pembangkang muslim Abu Sayyaf akan
membebaskan tujuh sandera Malaysia yang disandera di pulau Jolo,
Filipina Selatan, bersama puluhan orang lain. Hal ini diumumkan oleh
seorang juru runding pemerintah Filipina. Pembebasan tujuh orang yang
diculik dari wilayah Malaysia 23 April lalu, konon akan dibayar
dengan uang tebusan senilai satu juta dollar. Sejauh ini para
penyandera masih menyandera 38 orang, termasuk 11 warga asing, di
sebuah kamp pembangkang di hutan. Senin lalu penyandera membebaskan
seorang perempuan Jerman.

* KERUSUHAN DI FIJI KEMBALI MENINGKAT

Kerusuhan di kepulauan Fiji kembali meningkat, menyusul penundaan
pelantikan pemerintah baru untuk waktu yang tak ditentukan. Menurut
sebuah pernyataan resmi penundaan itu disebabkan karena Presiden Ratu
Josefa Ilo-ilo sakit. Tetapi pemberontak nasionalis mengatakan
pihaknya memaksa presiden menunda pelantikan dengan ancaman memicu
perang saudara apabila pelantikan dilangsungkan. Pemimpin pemberontak
George Speight dan pendukungnya menyatakan tidak puas dengan susunan
pemerintah dan menuntut wewenang lebih banyak. Pembangkang menentang
salah satu calon menteri yang keturunan India. Selama
berminggu-minggu para pembangkang menyandera mantan Perdana Menteri
Mahendra Chaudry dan sejumlah anggota kabinet guna menuntut pengaruh
politik yang lebih besar bagi rakyat asli kepulauan Fiji.

* PRESIDEN RUSIA TELAH TIBA DI KOREA UTARA

Presiden Rusia Vladimir Putin telah tiba di Pyongyang, ibukota Korea
Utara untuk mengadakan pertemuan dengan sejawatnya Kim Jong-il. Untuk
pertama kalinya seorang pemimpin Rusia menginjakkan kaki di Korea
Utara. Dalam kunjungan dua hari ini Putin bermaksud mempererat
hubungan bilateral dan ekonomi antara kedua negara. Presiden Rusia
itu juga berharap bisa memegang peranan utama dalam perantaraan
antara kedua Korea. Sebuah harian Korea utara memberitakan kunjungan
Putin ini dimaksudkan mencari dukungan dalam menentang rencana
Amerika seputar perisai luar angkasa. Proyek ini dianggap melanggar
perjanjian perlucutan senjata dari tahun 70-an.

* DUMA DUKUNG KAMPANYE PUTIN

Kampanye presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat pemerintahan
pusat Rusia mendapat dukungan Majelis Rendah Rusia, Duma, dalam dua
hal. Mayoritas besar Duma Rabu ini menyetujui rancangan undang-undang
yang menentukan bahwa para gubernur daerah kini tidak lagi secara
otomatis mendapat kursi di Dewan Federasi yaitu Majelis Tinggi Rusia.
Dalam waktu dekat para senator, termasuk juga gubernur daerah, akan
melakukan pemungutan suara mengenai rancangan undang-undang tersebut.
Dalam dukungan kedua terhadap Putin Duma memutuskan bahwa presiden
berhak memecat gubernur yang telah melanggar undang-undang. Para
pemimpin daerah menuduh Putin mendambakan rejim otoriter.

* SPANYOL LAGI-LAGI DIKEJUTKAN AKSI TEROR

Ledakan bom di sebuah pusat pertokoan di kota Vitoria, Spanyol Utara,
Rabu dinihari menyebabkan kerusakan materiil besar. Dikabarkan tidak
ada korban luka-luka akibat ledakan itu. Sesaat sebelum ledakan
polisi mendapat informasi lewat telpon dari seseorang yang mengaku
mewakili ETA, gerakan separatis Baskia. Ledakan ini merupakan aksi
teror keempat ETA dalam kurun waktu satu minggu. Pada aksi-aksi teror
sebelumnya seorang pria tewas dan 11 orang luka-luka. Desember lalu
ETA menghentikan gencatan senjata.

* KALAU KRISMON MENGUNDANG IMF, MENGAPA KRISIS MALUKU TIDAK
MENGUNDANG PBB?

Kapolri Jenderal Rusdihardjo menyatakan, pasukan pemelihara
perdamaian internasional bisa diundang ke Indonesia kalau konflik
kekerasan di Ambon tidak segera diselesaikan. Inilah untuk pertama
kalinya seorang pejabat senior menyinggung kemungkinan intervensi
asing untuk menengahi konflik antara kalangan Kristen dan Muslim di
Maluku. Tetapi menurut Rahlan Nasidik dari Perhimpunan Bantuan Hukum
Indonesia di Jakarta, ucapan ini harus dilihat dalam konteks konflik
antara tentara dengan polisi di Ambon:

Rahlan Nasidik [RN]: Ya menurut saya dia setengah membuka kemungkinan
masuknya intervensi asing, dalam hal ini PBB ya, ke Maluku. Persisnya
dia mengatakan bahwa polisi harus bekerja keras untuk meredam
ketegangan di sana apabila tidak mau intervensi asing masuk.
Kira-kira dia bilang begitu. Tapi kalau sudah berusaha keras ternyata
tidak juga mampu maka memang tidak ada pilihan lain kecuali untuk
menerima intervensi asing di Maluku. Begitu maksudnya.

Radio Nederland [RN]: Ya menurut anda bagaimana ini, apakah selama
ini polisi memang sudah bekerja keras atau masih bisa ditingkatkan
lagi kerja kerasnya?

RN: Ya kalau mau ngomong jujur saya kira polisi Indonesia tidak mampu
untuk meredakan ketegangan karena mereka sebetulnya part of the
problem [bagian dari masalah, Red.] karena sudah menjadi rahasia umum
sebetulnya yang terlibat dalam konflik berdarah di sana bukan lagi
hanya antara sipil dengan sipil, penduduk dengan penduduk tapi juga
antara aparat keamanan dengan aparat pertahanan negara, maksudnya
polisi dengan tentara. Yang tembak-tembakan itu ya mereka sekarang.
Ini part of the problem sebetulnya, polisi sama tentara Indonesia di
sana.

RN: Apakah pernyataan ini bisa ditafsirkan bahwa Rusdihardjo juga
menantang tentara begitu yang selama ini merupakan 'musuh' di Ambon?

RN: Tidak pakai tanda petik saya kira. Justru kenyataannya mereka
sekarang memang berkelahi melawan tentara. Polisi di sana mewakili
golongan agama tertentu sementara tentara juga membela golongan agama
tertentu dan atas pemihakan seperti itu mereka saling berkelahi satu
sama lain sebetulnya. Tapi saya kira juga masalah ini menjadi semakin
pelik karena polisi saya kira juga tidak punya cukup kemampuan untuk
menghadapi tentara di sana. Di samping polisi sendiri sebetulnya
tidak bisa menjalankan fungsi-fungsi penegakan hukum karena mereka
pun justru melanggar hukum itu sendiri. Menurut saya adalah tidak ada
perbedaan berarti sebetulnya antara polisi dan tentara di sana.
Polisi itu kan sudah 32 tahun merupakan bagian dari militer cara-cara
mereka itu juga seperti cara-cara militer sebetulnya gitu. Jadi
menambah buruk keadaan sebetulnya di sana. Misalnya saya bisa bilang
bahwa polisi Indonesia tidak punya pengalaman dan pengetahuan
bagaimana menghadapi kerusuhan berdasarkan hukum yang benar gitu kan.
Menghadapi kekerasan kan secara abstrak dibenarkan, dipegang oleh
negara. Dan penggunaan kekerasan yang absah itu harus digunakan untuk
melindungi hak ya, hak orang, hak warga negara yang terancam oleh
bahaya misalnya. Dalam soal-soal begitu polisi Indonesia nggak bisa
itu. Mereka nggak tahu soal-soal begitu. Misalnya dalam ketegangan
mereka main tembak, gitu kan. Lalu ada orang mati karena ditembak
oleh mereka. Akibatnya orang ini dendam kepada polisi ya kan. Lalu
dia menyerang polisi, ya kan. Terus orang ini karena agamanya sama
dengan tentara, tentara bela dia gitu. Lalu akibatnya berkelahi
antara polisi dengan tentara begitu ya. Jadi menurut saya ini baik
tentara maupun polisi Indonesia nggak punya kemampuan. Nggak punya
pengetahuan juga untuk menyelesaikan masalah di Ambon karena mereka
sekarang sudah semakin larut dalam konflik itu dan mengambil
pemihakan masing-masing. Cara satu-satunya menurut saya memang nggak
ada pilihan lain kecuali mengundang intervensi PBB ke Maluku
sebetulnya. Nah, hal serupa ini selalu dibantah, selalu dikelola atas
nama nasionalisme, atas nama kedaulatan negara. Tapi buat saya ini
omomg kosong. Pertama dari segi kejujuran saja harus dipertanyakan.
Yang terjadi di Indonesia ini kan bukan cuma konflik ya. Konflik
berdarah itu. Tapi juga kemelut ekonomi.  Jadi kalau darurat ekonomi
mereka undang IMF kenapa darurat kemanusiaan kita tidak bisa undang
PBB misalnya untuk menyelesaikan masalah ini? Sama aja itu suatu
bantahan yang bisa menunjukkan bagaimana hipokrasi dari para penolak
gagasan masuknya PBB ke sana. Yang kedua ya sekali lagi itu tadi
bahwa diperlukan suatu kekuatan yang betul-betul berjarak dari
konflik. Dan itu saya kira hanya pihak luar dan bukan orang Indonesia
sendiri, gitu.

RN: Dengan demikian bagi anda masalah kedaulatan ini yang sering
didengung-dengungkan baik oleh pemerintah sipil dan terutama oleh
kalangan militer itu tidak ada artinya lagi untuk soal Ambon ini ya?

RN: Saya mau mempertanyakan kedaulatan apa. Apakah kedaulatan negara
itu sama artinya dengan kedaulatan untuk membunuh bangsa sendiri?
Nggak dong, ya kan. Dan apa artinya juga itu kedaulatan bangsa, jika
pemegang kedaulatan itu saling bunuh-bunuhan atau representasi dari
kedaulatan itu pun tidak bisa melindungi pemegang kedaulatan gitu
kan. Jadi omong kosong di situ. Dan saya sendiri secara prinsipil
mengatakan bahwa nyawa manusia itu jauh lebih penting ketimbang
keutuhan bangsa atau negara atau kedaulatan negara.

RN: Tapi biasanya kan orang mengatakan negara ini yang diharapkan
bisa melindungi nyawa manusia ini. Jadi sekarang sebaliknya di Ambon
ini.

RN: Ya betul. Makanya saya bilang tadi itu, si penegak kedaulatan
yang sekarang saling berkelahi, saling bunuh-bunuhan representasi
dari kedaulatan itu, yaitu negara, juga tidak bisa melindungi si
pemegang kedaulatan yaitu rakyat dan lebih dari itu mereka pun juga
terlibat dalam kekerasan itu sendiri, yang juga membuat alat-alat
kekerasan yang mereka monopoli itu digunakan justru untuk membunuh
rakyatnya sendiri. Menurut saya kompleks lah masalah Maluku itu, ya.
Tapi juga ada masalah politik di sini sebetulnya ya. Yang pertama Gus
Dur menolak pasukan intervensi asing terhadap kasus Maluku. Itu saya
kira karena dia melihat bahwa apabila pasukan asing masuk ke sana ke
Maluku maka dia sedang memberi umpan kepada para penyerangnya untuk
mengatakan bahwa dia telah gagal, gitu ya. Nah, Gus Dur nggak mau
dibilang gagal. Tapi di pihak lain, kelompok-kelompok yang menyerang
dia pun menggunakan masalah Ambon ini, Maluku ini untuk menyerang
dia. Masuknya Laskar Jihad ke sana misalnya, itu kan bukannya tidak
punya kepentingan politik terhadap pemerintahan Gus Dur gitu maksud
saya. Itu digunakan untuk semakin menunjukkan bahwa Gus Dur tidak
mampu untuk menangani keadaan gitu. Jadi ini susahnya kalau menurut
saya. Ada nyawa manusia yang terus-terusan dirampas oleh sesama
mereka dan maupun juga oleh aparat negara, tetapi juga ada elit-elit
politik yang saling berkelahi demi kepentingan masing-masing dan
karena perkelahian itu mereka praktis tidak menaruh cukup kepedulian
terhadap apa yang terjadi sekarang di Maluku, gitu. Terhadap saling
bunuh-bunuhan.

RN: Seperti anda katakan tadi apakah ini bukan merupakan sesuatu yang
berbahaya untuk mengundang intervensi asing dalam arti akan bisa
merupakan sesuatu yang mencelakakan kekuasaan sipil yang mulai muncul
di Indonesia ini?

RN: Makanya tadi saya bilang secara politik tadi kan Gus Dur akan
menganggap bahwa masuknya pasukan asing itu atau PBB sebagai bukti
dari kegagalan dia gitu kan. Atau orang akan menganggap demikian.

RN: Terutama lawan-lawan Gus Dur kan?

RN: Terutama lawan-lawan Gus Dur, maksud saya. Karena itu dia
keberatan untuk masuknya pasukan asing ke sana. Jadi memang ada
konflik politik demikian yang terjadi. Karena itu memang jadi serba
sulit keadaannya. Meskipun saya pribadi berpendapat mestinya Gus Dur
tak perlu juga berfikir demikian ya.

RN:  Apakah ini tidak bisa dipergunakan sedemikian rupa sehingga bisa
untuk mereli pendapat umum bahwa ini juga merupakan kegagalan
kalangan militer misalnya.

RN:  Ya betul bisa juga. Tapi kan sejak  Gus Dur adalah presidennya
saat ini maka penanggungjawab tertinggi kan jadinya dia. Kalau
dibilang bahwa militer gagal, maka kemudian orang akan bilang bahwa
Gus Dur gagal mengendalikan militer begitu. Jadi sebagai presiden dia
akan jadi keranjang sampah gitu ya untuk seluruh kesalahan itu. Itu
masalahnya sebetulnya. Saya pribadi berpendapat ya Gus Dur seharusnya
bisa kelola dari pihak asing itu kalaupun misalnya dia iyakan ya,
kalau dia undang pasukan asing masuk itu, saya kira mestinya dia bisa
kelola masalahnya menjadi semacam pembuktian bahwa buat dia kekuasaan
itu nggak terlalu penting dibandingkan dengan nyawa manusia gitu ya.
Saya kira alasan seperti itu bisa digunakan oleh Gus Dur meskipun
belum tentu juga dia mau ya, karena pertimbangan politik dan
pertimbangan hak asasi manusia seringkali bisa bertabrakan begitu.

Demikian Rahlan Nasidik dari PBHI, Perhimpunan Bantuan Hukum
Indonesia.

* BENARKAH POLITISI SIPIL DAN TOKOH MILITER, OTAK DI BELAKANG
KERUSUHAN MALUKU?

Mantan Dirjen Pajak dan Mantan Menkeu, Fuad Bawazier, Rabu kemarin
diperiksa Tim Kejaksaan Agung dalam kapasitas sebagai saksi atas
dugaan kasus KKN mantan Presiden Soeharto. Sehari sebelumnya Fuad
Bawazier bersama Wiranto disebut oleh George Aditjondro sebagai otak
di belakang kerusuhan di Maluku. Koresponden Syahrir mengirim laporan
berikut dari Jakarta:

Fuad Bawazier seusai diperiksa Kejaksaan Agung, membantah bahwa dia
mengeluarkan rekomendasi pembebasan pajak terhadap Yayasan Dana
Sejahtera Mandiri ketika menjabat Dirjen Pajak. "Yang berhak
mengeluarkan itu adalah Menkeu," katanya. Mantan dirjen pajak itu
disebut telah mengeluarkan rekomendasi pembebasan pajak kepada
yayasan Soeharto itu dan  kepada beberapa perusahaan milik kroni
Soeharto. Namun Fuad mengaku dipanggil Kejaksaan Agung dalam kasus
tersangka mantan Presiden Soeharto. Sementara itu Fuad Bawazier
menurut harian Duta disebut dalam suatu artikel harian Australia
Sidney Morning Herald. Artikel tersebut yang dikutip pers Indonesia,
ditulis oleh mantan dosen Universitas Satya Wacana yang melarikan
diri ke Australia semasa Soeharto. Dr. George Aditjondro menyebut
banyak kelompok terlibat pertikaian Maluku. Di antaranya Jenderal
Purnawirawan Wiranto dan mantan menteri Orba, Fuad Bawazier. Ia
menuduh mantan Panglima TNI Wiranto, ikut mengatur konflik antar umat
beragama di Maluku. Bentuknya, lewat laskar jihad, dengan dukungan
tersembunyi Pangdam Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi.

Jika tuduhan George ini benar maka lagi-lagi terbukti bahwa
presiden-presiden sesudah Soeharto tidak mampu menguasai TNI. Seorang
mantan anggota MPR semasa Habibie memberi komentar, "kalau Habibie
saja yang merangkul militer, tidak mampu mengendalikan TNI, apalagi
Gus Dur. Semua perintahnya ditorpedo di tengah jalan", ujarnya
tertawa. Seorang mantan Kasum ABRI pun mengakui bahwa di Maluku,
Wiranto telah menggunakan perwira-perwira Sandi Yudha dan
perwira-perwira psikologi angkatan darat yang bergerak secara
tertutup ketika Habibie masih berkuasa. Kini, selain ingin
membuktikan Gus Dur "impoten" kalangan militer juga ingin
memperlihatkan presiden tidak mampu memerintah. Meski sudah
menginstruksikan Panglima TNI supaya laskar jihad tidak berangkat ke
Maluku, ternyata ribuan anggota laskar jihad tiba juga di Ambon dan
Maluku Utara. Menurut George mereka berangkat ke Maluku dari
pelabuhan Surabaya. Data-data di kantor PBB Jakarta menunjukkan bahwa
kontainer-kontainer senjata dikirim dari Jakarta, Semarang dan
Surabaya. "Jelaslah bahwa kelompok restorasi Orde Baru itu masih ada
di mana-mana," kata Fajrul Rahman, seorang aktivis mahasiswa anti
Soeharto, semasa Orde Baru berkuasa.

George Aditjondro yang kini menjadi dosen di Australia menyebutkan
rakyat Maluku telah dijadikan mainan bola tokoh-tokoh politik dan
militer semacam Wiranto dan Fuad Bawazier. Konflik antara Islam dan
Kristen di Maluku, telah menelan korban tewas sekitar 3.000 hingga
10.000 jiwa. Termasuk 500 pengungsi dari Desa Duma, Galela yang
menumpang K.M. Cahaya Bahari, yang dinyatakan tenggelam, 29 Juni lalu
tetapi kemungkinan besar disandera di sebuah pulau. Tulisan George
Aditjondro itu berdasarkan laporan pendeta John Barr, dari Persatuan
Gereja Australia dan sumber-sumber George Aditjondro sendiri di
Maluku dan Australia. Diungkapkannya, pembakaran Universitas
Pattimura beberapa waktu lalu, merupakan bentuk baru invasi 10.000
Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Mereka berangkat dari
Surabaya, karena dukungan Pangdam Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi dan
Kapolda Jatim Da'i Bachtiar. Kedua orang ini disebut masih loyal
kepada Wiranto. Menurut sumber di Jakarta, Sudi Silalahi juga
berperan pada peristiwa Mei dua tahun lalu ketika menjabat Kepala
Staf Kodam. Pembunuhan-pembunuhan di Maluku hingga kini masih terus
berlang meski darurat sipil diberlakukan sejak 27 Juni. Sebagai
tetangga yang baik, Australia perlu memberikan bantuan rakyat Maluku
yang masih tersisa, agar terhindar dari pembasmian berikutnya, kata
George.

Sebenarnya rencana yang disusun pengikut Soeharto untuk membuat
konflik di Maluku, pada awalnya bertujuan menciptakan instabilitas
keamanan. Sekaligus dengan itu menjegal Megawati sebagai kandidat
terkuat menggantikan Habibie. Habibie ketika itu didukung Soeharto.
George juga melihat Wiranto sengaja menciptakan kerusuhan sosial di
beberapa wilayah, yang tujuannya menghidupkan kembali beberapa Kodam,
yang dulu pernah dihapuskan Benny Moerdani. Memang, setelah empat
bulan pertama konflik di Ambon, Kodam Pattimura dihidupkan kembali.
Hal ini tentu sama dengan pola rencana penghidupan Kodam di Kupang,
Pontianak dan di Padang, yang belum berhasil dilaksanakan. Sementara
kekerasan terus berlangsung di Ambon, beberapa pulau sekitarnya juga
terus bergolak, dengan penambahan pasukan dari Jawa dan Sulawesi
Selatan. Menurut George Aditjondro, setelah hal ini mulai diketahui,
maka operator Soeharto menggunakan preman-preman Ambon sebagai
pasukan liar bersama pasukan TNI yang loyal ke Wiranto. Mereka terus
melakukan pembunuhan-pembunuhan dan perusakan, sampai pada akhirnya
diciptakan sebagai pola saling balas dendam antara kedua belah pihak.
Hingga pada titik yang sangat jenuh, pemuka agama dari pihak Kristen
dan Muslim, terus mencoba menciptakan perdamaian di antara kedua
kelompok yang bertikai. Tetapi bagaimanapun, peran perwira intelijen
dari Kodam XVI/Pattimura, Kolonel TNI Budiatmo dan Kolonel Nono,
terus menghambat rencana perdamaian.

Harian Duta, milik NU yang juga mengutip tulisan George itu, menulis,
"Kolonel Budiatmo, terus memelihara hubungan dengan milisi Kristen,
sementara Kolonel Nono memelihara hubungannya dengan milisi Muslim
yang belakangan diperkuat dari Jawa dan Sulawesi Selatan. Tetapi yang
lebih ironis lagi, Kolonel Nono, masih punya hubungan dengan Kolonel
(Laut) Nono Sampurno, ajudan Wapres Megawati. Ketika Pangdam Patimura
Max Tamaela, yang digantikan Kolonel I Made Yasa, yang beragama Hindu
Bali, ditarik ke Jakarta, Budiatmo dan Nono, kembali berkuasa, karena
 kedua pamen TNI ini, lebih mengetahui situasi Maluku, ketimbang
Pangdam baru. Budiatmo dan Nono sudah berada di Maluku, sebelum Kodam
Pattimura dihidupkan. Mereka ketika itu berada di bawah komando
Suaidy Marasabessy, yang dekat dengan Wiranto.

Akhir-akhir ini, menurut George, dua kelompok kepentingan, juga
terlibat dalam konflik Islam dan Kristen di Maluku. Mereka merupakan
kelompok Islam radikal, yang tidak setuju dengan Gus Dur. Kelompok
ini mendapat dukungan dana dari mantan Menteri Keuangan di era
Soeharto, Fuad Bawazier. Sedangkan kelompok kedua, para pengusaha
yang mengambil keuntungan dari berlangsungnya konflik di Maluku, agar
bisa menghindar dari kewajiban membayar utang triliunan rupiah, yang
dipinjam dari bank-bank pemerintah. Kelompok ini, di antaranya
Jayanti Group, Barito Pacific, Sinar Mas, dan Artha Graha Group.
Pengusaha-pengusaha ini dekat dengan keluarga Soeharto. Hutang mereka
ke BPPN, sekitar Rp. 206 milyar. Demikian George Aditjondro dalam
harian Sydney Morning Herald, 15 Juli lalu.

---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 16:15:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke