----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PERNYATAAN BERSAMA MENJELANG SIDANG UMUM MPR

HANCURKAN KEKUATAN ORDE BARU DAN REFORMIS GADUNGAN

Kekuatan Orde Baru (Partai Golkar, TNI, birokrat korup) dan Reformis
Gadungan banyak melakukan manuver-manuver politik dalam pemerintahan Gus
Dur. Mereka memanfaatkan posisi mereka dalam institusi-institusi
pemerintahan, legislatif, Yudikatif dan lembaga-lembaga lainnya untuk
membangun kekuatannya kembali dengan dana dari hasil korupsi selama
pemerintahan Suharto dan Habibie. Langkah-langkah mereka ini pada akhirnya
bertentangan dengan tindakan politis yang diambil oleh Gus Dur dalam
melakukan demiliterisasi dan menghancurkan kekuatan Orde Baru dan Reformis
Gadungan yang ada di parlemen, instansi-instansi pemerintah, dan BUMN-BUMN.
Hal ini dapat dibuktikan ketika Presiden Gus Dur mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan kasus KKN Suharto dan kroni-kroninya. Kesulitan ini
disebabkan masih adanya kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan dalam
pemerintahan Gus Dur yang merupakan kroni-kroninya Suharto. Untuk melawan
tindakan Gus Dur tersebut kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan
mengkombinasikan perlawanannya dengan mengangkat isu-isu populis seperti
penolakan pencabutan Tap MPRS No. XXV tahun 1966 dan memanipulasi isu-isu
kerusuhan-kerusuhan seperti di Ambon dan Poso dan berusaha melakukan
retorika-retorika politik yang arahnya melupakan skandal kasus Bank Bali,
korupsi dana BLBI, money politic Golkar pada masa Pemilu 1999, skandal
ruislag Bulog, pengusutan kasus 27 Juli, pengusutan kasus penculikan
aktivis, dan tuntutan pengadilan Suharto atas kejahatan ekonomi dan
kejahatan HAM, dst
Begitu juga yang terjadi pada Marzuki Darussman yang posisinya sebagai Jaksa
Agung yang  representatif kekuatan Orde Baru telah mempetieskan kasus-kasus
yang melibatkan kekuatan-kekuatan Orde Baru seperti kasus korupsi PT.
Texmaco dengan cara membebaskan Marimutu Sinivasan. Selain Partai Golkar,
TNI sebagai kekuatan lama mencoba membelokkan kasus 27 Juli sebagai kasus
kriminal belaka dan tidak di anggap sebagai persoalan kejahatan kemanusiaan
yang memalukan bagi bangsa Indonesia. Dan mereka juga Gadungan menuduh
presiden Gus Dur telah melanggar UU tentang Independensi Bank Indonesia
ketika presiden memerintahkan penahanan terhadap Syahril Sabirin karena
keterlibatannya dalam kasus korupsi Bank Bali. Selain itu Kekuatan Orde Baru
dan Reformis Gadungan untuk menekan presiden adalah dengan memainkan Valuta
Asing (Valas) dimana modalnya diraih dari hasil korupsi selama 32 tahun
sehingga mata uang rupiah terhadap dollar terus melemah.
Fakta-fakta lain menunjukkan bahwa kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan
juga memanfaatkan momentum Sidang Tahunan 2000 untuk melakukan power sharing
sehingga Amandemen UUD �45 yang kini masih bergulir hanya dijadikan arena
rekonsiliasi palsu yang arahnya sekedar power sharing belaka sehingga
pembahasan dalam Sidang Tahunan nanti lebih sekedar pertarungan politik yang
membawa kepentingan partai masing-masing dan bukan kepentingan rakyat.
Dari kenyataan-kenyataan tersebut diatas bahwa pemerintahan rekonsiliasi
yang dibangun Oleh Presiden Gus Dur dengan melibatkan kekuatan Orde Baru dan
Reformis Gadungan tidak memberikan jalan keluar bagi proses demokratisasi di
Indonesia. Terhambatnya proses demokratisasi ini berakibat pembangunan
politik lebih mengedepankan metapolitik (intrik, intimidasi, ancam-mengancam
dan lain-lainnya) yang mana jauh dari makna pendidikan politik bagi rakyat
itu sendiri. Dari itu semua membuktikan bahwa pemerintahan rekonsiliasi yang
melibatkan kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan hanya melahirkan
rekonsiliasi palsu.
Melihat persoalan-persoalan diatas maka kami yang tergabung dalam aksi
menuntut kepada Presiden Gus Dur sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala
Negara untuk segera membersihkan pemerintahannya dari kekuatan Orde Baru dan
Reformis Gadungan sebagai upaya untuk mendorong maju demokratisasi di
Indonesia. Oleh karena itu kami menuntut kepada Presiden Gus Dur agar segera
HANCURKAN KEKUATAN ORDE BARU DAN REFORMIS GADUNGAN dengan cara;

1.    Pengusutan, penahan dan pengadilan terhadap pejabat-pejabat dan mantan
pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi Bulog tanpa pandang bulu.
2.    Pengusutan, penahan dan pengadilan terhadap pejabat-pejabat dan mantan
pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi Bank Bali.
3.    Pengusutan, penahan dan pengadilan terhadap pejabat-pejabat dan mantan
pejabat serta para Bankir yang terlibat dalam kasus korupsi dana BLBI.
4.    Membatalkan penerbitan SP3 Texmaco yang dilakukan oleh Jaksa Agung
Suprapto.
5.    Pengusutan, penahan dan pengadilan terhadap pejabat-pejabat dan mantan
pejabat baik sipil dan militer yang terlibat dalam kasus 27 Juli, penculikan
aktivis, kasus penembakan Mahasiswa di Semanggi dan Trisakti, Pembantaian �
65, Kasus Tanjung Priok, Kasus Lampung, Pembunuhan Marsinah dan
lain-lainnya.
6.    Melakukan Amandemen �45 tanpa melibatkan kekuatan Orde Baru dan
Reformis Gadungan dan pembentukannya harus melibatkan elemen-elemen rakyat
seluas-luasnya.
7.    Nasionalisasi kekayaan Suharto, TNI-Polri dan kroni-kroninya untuk
subsidi rakyat.
8.   Tidak mengesahkan Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN) yang
dikeluarkan oleh DPR karena tidak memenuhi 2/3 anggota DPR, tidak kredible,
partisan, dan tidak independen.
9.    Membentuk Lembaga Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara yang independen,
transparan, tanpa melibatkan kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan.

Dari tuntutan-tuntutan tersebut kami mengajak kepada elemen-elemen atau
kelompok-kelompok masyarakat agar;
1.    Secara bersama-sama untuk menghancurkan kekuatan Orde Baru dan
Reformis Gadungan.
2.    Bersama-sama membangun wadah-wadah kerakyatan untuk membendung
kekuatan-kekuatan Orde Baru dan Reformis Gadungan.

Surabaya, 13 Juli 2000

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
Satu Kedaulatan Rakyat (SAKERA)
Komunitas Seni Kerakyatan (KOSEK)
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
Serikat Tani Nasional
Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI)
Solidaritas Perempuan Indonesia untuk Demokrasi (SPID)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Jul 2000 jam 05:29:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke