----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Bukan membela Gus Dur, tapi kelakuan para anggota DPR semakin hari semakin
memuakkan dan menjijikkan. Mereka sama sekali tidak pantas duduk di sana!!

Coba kita lihat kemampuan yang dimiliki. Dari cara artikulasi
pertanyaan-pertanyaan (saya beberapa kali menghadiri sidang-sidang komisi),
saya sudah dapat menarik kesimpulan kasar: Mereka itu hanya sekualitas
pokrol bambu. Tidak mampu mengartikulasikan gagasan secara sederhana tetapi
tajam. Maklum daya nalar mereka sangat-sangatlah rendah. Yang dimiliki hanya
naluri "politik." Artinya, politik main kayu, kekuasaan, siklus jangka
pendek, serta short-term maximizer (meminjam istilah Pandita).

Syaraf mereka tebal, sehingga mereka tidak sensitif terhadap krisis. Bahkan
banyak saksi menyatakan beberapa anggota DPR ikut-ikutan main valas di
Singapura.  Heibat nian!

Jadi, jangan heran jika para anggota DPR tidak peduli dengan
permainan-permainan politik kotor yang tengah berlangsung, seperti gangguan
distribusi BBM, produksi dan distribusi uang palsu, serta ketegangan sosial
dan politik di lapis masyarakat bawah terutama di daerah-daerah bencana baik
akibat gejala alam maupun yang diinduksi manusia-manusia laknat.

Banyak hal prioritas, karena menyangkut terbangunnya sistem negara yang
kuat, yang sama sekali tidak dilirik serius:

1.  Pembentukan Komisi Pemeriksa Pejabat Negara (KPPN).  Dengan arogan si
hidung besar pemimpin Golkar Bawu, Tanjung, hasil seleksi KPPN sudah final.
Final hidungmu! Lihat dong keseriusan anggota2 DPR. Gombal! Saat Freddy
Numberi menyatakan akan menelisik lagi hasil seleksi DPR, tersinggunglah
mereka. Apa yang kita pelajar: Mental sok kuasa jawara dan preman pasar!

2.  Desakan Papua Merdeka, Aceh serta Otonomi Daerah.  Jika mereka paham
duduk perkaranya dengan baik karena punya akal yang sehat, mereka akan tahu
apa yang harus dilakukan: Membangun komunikasi yang lebih baik dengan DPRD2,
baik di tingkat propinsi maupun kabupaten, untuk menjajaki kebutuhan dan
aspirasi lebih dalam. Dari situ mereka akan tahu, bahwa UU No 22 dan No 25
Tahun 99 itu harus dirombak dan substansinya dijadikan satu, agar terjadi
proses dialog dan negosiasi yang lebih setara antara Jakarta dan daerah.
Yang dilakukan hanya teriak: Itu separatisme! NKRI sudah final! Bahasa koran
murahan!

3.  Trend atau Kecenderungan Pola Investasi yang masih berprinsip: Jual
Murah, Jual Cepat dan Jual Habis.  Ternyata ketololan mental eksekutif dalam
merumuskan dan menyusun kebijakan pembangunannya bersumber dari DPR.
Pertanyaan mereka pada sebagian besar sidang komisi, "Berapa besar devisa
yang bisa kau sumbang?" Oh, gobloknya engkau wakil partai (baca: Sama sekali
bukan wakil rakyat whatsoever!). Bahkan mereka tak paham ada yang non-market
profit, yang lebih berorientasi pada manfaat jangka panjang. Itulah dia otak
kodok para anggota DPR!

4.  Teror dan Kekerasan Politik.  Adakah anggota DPR yang terusik dengan
peledakan bom di Kejakgung, kekerasan massive berkelanjutan (sustainable
massive violence) di Maluku dan Aceh, uang palsu, kemacetan distibusi BBM,
penebangan kayu secara ilegal, penyelundupan BBM, narkoba? No way! Bahkan
belum pernah terlihat ada kritik dari pihak DPR kepada TNI atau investigasi
oleh DPR terhadap permainan petualang politik dan ekonomik berbaju militer.
Hey, para badut, yang dibutuhkan rakyat adalah keamanan dan ketentraman per
se (mudah2an mereka paham arti kata itu). Dan indikatornya tidak selalu pada
nilai rupiah. This is the most stupid argument! Jadi, jangan heran jika
keamanan berinvestasi pasti diartikan sebagai pentingnya melibatkan para
petualang ekonomik dan politik berbaju militer dalam penyelenggaraan
investasi. Itulah kualitas otak kodok para anggota DPR!

Mereka mungkin tidak paham, bahwa tugas mereka adalah menjadi corong rakyat,
sekali lagi baca CORONG RAKYAT, untuk menjadi sparing partner eksekutif.
Bukan corong partai, sekali lagi baca BUKAN CORONG PARTAI!

Tidak ada harapan yang bisa digantungkan kepada DPR. Aksi terbaik sekarang
ini adalah membangkitkan Dewan Rakyat yang sesungguhnya. Fasilitator
langgengnya krisis negara ini sejak bergulirnya reformasi ada di DPR. Karena
itu, tidak ada pilihan lain, selain mengusir mereka dari gedung megah, yang
kabarnya bernama Gedung Rakyat itu. Bagi para anggota DPR yang masih punya
moral, berakal sehat, dan tahu diri, silakan mengundurkan diri secara
terbuka. Jangan sampai Anda jadi korban pengadilan rakyat yang semakin hari
semakin muak dan tidak sabar melihat kelakuan para anggota dewan (yang
selalu mengharapkan akhiran � yang Terhormat).

Para korban pembangunan di mana pun berada, banjiri gedung rakyat. Temui
orang2 yang mengklaim dirinya sebagai anggota dewan. Tuntut mereka untuk
menyuarakan suara Anda! Jika tidak mampu dan hanya 'ah, 'uh, 'ah, 'uh saja,
seret mereka keluar! Usir dari gedung rakyat! Jangan lupa: KITA BERHAK ATAS
GEDUNG ITU!!!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jul 2000 jam 04:45:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke