---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Kompas Cyber Media, 27 Juli 2000 Sarapan Pagi bersama Bonar Tigor Naipospos Soal Timtim, Indonesia Harus Buktikan Tidak Sama dengan Portugal Jakarta, Kompas Cyber Media Laporan: Kurniawan Junaedhie Indonesia harus membuktikan tidak sama dengan Portugal yang membiarkan Timtim merana. "Ini saatnya Indonesia menunjukkan pada dunia bahwa kita lebih baik dari Portugal," ujar Bonar Tigor Naipospos, Koordinator Solidaritas untuk Penyelesaian Damai Timor Timur (Solidamor), ketika dihubungi di kantornya di kawasan Jakarta Timur kemarin petang (26/7). Menurut Koordinator dari LSM yang ditunjuk sebagai liaison officer sementara CNRT (Conselho Nasionale de Resistencia Timorense) guna mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia untuk rakyat Timtim itu, tidak bisa diingkari bahwa Timtim sangat membutuhkan bantuan dan dukungan - -khususnya dalam hal perdagangan-- dengan Indonesia. Sementara itu, Indonesia pun sesungguhnya dapat memetik keuntungan dari hubungan itu. Dicontohkan, jika dulu Indonesia hanya membuka satu jalur penerbangan ke Dilli, sekarang ada tiga jalur jalur penerbangan ke Dilli yang dilayani Merpati dalam seminggu. "Dan nyatanya sekarang penerbangan tersebut hampir selalu full capacity baik dalam hal penumpang maupun kargonya. Padahal dulu, dengan hanya satu kali penerbangan saja tidak pernah penuh," katanya. Para penumpangnya menurut Naipospos terutama adalah para warga dan diplomat asing yang punya kepentingan di Dilli. Ia juga menyebut keuntungan Pemerintah Indonesia dari penjualan BBM-nya ke Timtim. "Saya kira keadaan ini lebih menguntungkan dibanding ketika Timtim masih menjadi bagian dari Indonesia. Waktu itu kita malah harus memberi subsidi, baik dana maupun perhatian kepada Timtim sebagai provinsi Indonesia ke-27," ujarnya. Keuntungan yang sama, juga menurutnya bisa diperoleh oleh para pengusaha Indonesia yang mau menanamkan modalnya di sana mengingat besarnya kebutuhan akan jasa dan produk Indonesia. Rakyat Timtim sampai saat ini menurut Naipospos tetap lebih suka menggunakan mata uang rupiah, meski secara resmi, mata uang mereka adalah dollar AS. Seperti dimaklumi, saat ini ada empat mata uang yang beredar yaitu dollar AS, rupiah, dollar Australia, dan Escudo. Demikian juga dalam hal mengkonsumsi produk, mereka lebih suka menggunakan produk Indonesia yang jauh lebih murah dibanding produk bikinan Australia, misalnya. Naipospos menuturkan bahwa situasi keamanan di Timtim saat ini sudah sangat kondusif dibanding beberapa bulan lalu. Keadaan aman itu dibuktikan dengan adanya pengusaha Indonesia yang mulai berani kembali membuka usahanya di sana, seperti membuka restoran, warung makan dan kantor-kantor. "Tidak benar pemberitaan yang mengatakan seakan-akan rakyat Timtim membenci orang Indonesia. Mereka tidak merasa bermusuhan dengan rakyat Indonesia," kata Naipospos yang biasa dipanggil Coki itu. Rakyat di Timtim sekarang sedang sibuk menata kembali kehidupan sehari-hari akibat konflik yang berkepanjangan selama ini. "Dan mereka sangat menyadari tidak bisa hidup tanpa bantuan dari negara-negara lain, terutama Indonesia," katanya. Namun demikian dia mengakui pembangunan di bekas provinsi Indonesia ke-27 itu berjalan sangat lamban mengingat kerusakan infrastruktur yang parah. Karena itu --selain mengharapkan masuknya para investor Indonesia untuk membangun kembali infrastruktur tersebut- pihaknya sebetulnya sangat menantikan realisasi dari rencana Memperindag Luhut Panjaitan yang konon akan membuat zona perdagangan bebas di jalur perbatasan antara Timor Barat dan Timtim yang diharapkan bisa membangkitkan denyut nadi perekonomian di Timtim.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jul 2000 jam 10:53:12 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
