---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KONTAN - EDISI 44/IV Tanggal 31 Juli 2000 Babak Baru Kwik versus Konglomerat Kontroversi aset Salim Grup di Holdiko Bambang Aji, Christiantoko, Eddy Suprapto, Titis Nurdiana Gus Dur kabarnya telah menyetujui penjualan Holdiko Perkasa dengan harga sekitar Rp 20 triliun. Padahal, utang Grup Salim ke pemerintah tercatat masih Rp 51 triliun. Menko Ekuin Kwik Kian Gie tak berani mengambil keputusan. DPR bakal ikut campur dan menjadikannya sebagai komoditas politik baru. Setelah lama tak ada kabar, tiba-tiba saja nama Salim Grup milik taipan besar Sudono Salim alias Liem Sioe Liong kembali ramai menjadi gunjingan. Diam-diam, pemerintah alias Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tengah berencana menjual aset-aset Grup Salim yang tergabung dalam Holdiko Perkasa. Seperti diketahui, aset-aset ini merupakan jaminan Salim Group atas kucuran BLBI maupun tunggakan kredit grup Salim sendiri pada BCA. Total jendral ada 107 perusahaan milik Grup Salim yang sekarang tergabung di dalam Holdiko. Yang mengejutkan, tawaran dari pembeli yang hendak memborong Holdiko dalam satu paket raksasa ini cuma bernilai Rp. 20 triliun. Sementara itu, utang Grup Salim sampai saat sekarang tercatat masih Rp 51 triliun. Posisi utang ini turun dari posisi sebelumnya yang Rp 52,7 triliun lantaran ada beberapa aset yang sudah laku terjual. Dus, kalau penjualan Holdiko dalam paket borongan ini terjadi, negara terancam rugi Rp 31 triliun. Ternyata, rencana penjualan penjualan Holdiko ini, menurut sumber KONTAN, sudah dilaporkan Ketua BPPN Cacuk Sudarijanto kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Hanya, menurut sumber tadi, soal nilai transaksi tampaknya tak disinggung-singgung dalam laporan itu. Walhasil, Gus Dur sudah setuju untuk menjual aset tersebut secara borongan dalam satu paket. Cuma, ketika persoalan dibawa ke Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), Menko Ekuin Kwik Kian Gie yang menjadi ketua langsung surut ke belakang. "Pak Kwik tak berani mengambil keputusan karena itu merugikan negara sampai Rp. 31 triliun," kata sumber KONTAN di KKSK. Itu sebabnya, DPR tampaknya bakal terlibat dalam persoalan ini. Calon sapi gemuk kok malah diobral Tentu juga menarik untuk mengendus siapa yang bakal membeli paket borongan itu. Ada memang nama sejumlah investor yang juga tertarik membeli perusahaan di bawah payung Holdiko. Yang ramai disebut adalah para taipan dari kawasan negeri tetangga. Tapi bisik-bisik yang sangat keras juga menyebut bahwa keluarga Salim sendirilah yang akan menebus kembali aset-aset tersebut. Dugaan itu cukup masuk akal dan bisa dihubung-hubungkan dengan langkah Indofood yang belum lama ini mengeluarkan obligasi senilai Rp 1 triliun. Perusahaan mi instan ini juga disebut-sebut baru mendapat pinjaman Rp 575 miliar dan US$ 35 juta. Itu yang tunai. Di samping itu, kabarnya, keluarga Salim akan mendapat dukung dana yang sewaktu-waktu bisa dipakai (standby loan) dari Bank of America, Credit Swiss First Boston (CSFB), dan American Insurance Group (AIG). Benarkah? "Belum ada komentar dulu," kata Direktur Pelaksana Grup Salim, Benny Santoso, kepada Mesti Sinaga dari KONTAN. Tapi, pejabat lain di Grup Salim membenarkan memang ada kemungkinan Om Liem akan masuk ke Holdiko. Hanya, kata dia, keluarga Liem akan membeli 10% saham Holdiko. Disebut-sebut bahwa Holdiko akan dijual dengan harga US$ 3 miliar atau sekitar Rp 21 triliun jika memakai patokan kurs Rp 7.000 per dolar. Berarti Om Liem hanya membutuhkan dana sekitar Rp 3 triliun. "Kalau dikatakan bahwa Salim akan masuk, itu tidak sulit. Karena Salim bisa masuk dengan porsi 10%," kata sumber tadi. Yang masih menjadi teka-teki, mengapa Cacuk hanya mematok harga Rp 20 triliun? Inilah yang membuat banyak kalangan terheran-heran. Soalnya, mestinya Holdiko menjadi andalan pemerintah untuk mendatangkan uang sebesar-besarnya. Maklum, di situ ada Astra International, Indomobil Sukses Internasional, Indocement Tunggal Perkasa, Indosiar Visual Mandiri, hingga realestat BSD. Tak kalah mengejutkan adalah rencana penjualan Holdiko secara paket. Padahal, ketika pertama kali didirikan, perusahaan ini diberi tugas meningkatkan kinerja serta nilainya. Itu sebabnya, Holdiko tak ubahnya perusahaan penggemukan sapi, yang bila dianggap sudah cukup tambun, barulah melego sapinya satu persatu. Penjualan secara paket itu dipercaya sebagai penyebab jatuhnya nilai Holdiko. Di buku kuliah mana pun, semua orang tahu hal ini. Hanya, kalau betul keluarga Salim yang akan masuk, apakah ia pantas mendapat potongan harga sampai 60%? Yang lebih gawat lagi, iklim konglomerasi bakal balik lagi ke zaman Orde Baru. Tapi, ada juga yang meyakini bahwa nilai aset Grup Salim saat ini memang cuma Rp 20 triliun. Seorang pejabat pemerintah menduga, selain karena faktor harga pasar, penurunan aset itu terjadi karena dibobol manajemen yang masih loyal kepada Liem. "Hal ini terjadi karena tidak ada kontrol dari pemerintah terhadap debitur," katanya. Sementara itu, ada dugaan pula bahwa Liem telah menggembungkan nilai asetnya (misrepresentasi). Celakanya, nilai ini dituangkan dalam MSAA (Master Settlement of Acquisition Agreement) yang diteken tanggal 21 September 1998 dan dianggap final. (Lihat juga refleksi Lin Che Wei, halaman 28) Sebetulnya BPPN telah mengakui bahwa aset Holdiko cukup buat menutup seluruh utang Salim Group. Ini berarti pula pemerintah tak bisa menutup kekurangan yang Rp 31 triliun. Entah karena itu pula, seperti dikatakan Wakil Kepala BPPN Arwin Rasyid, Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) yang diketuai Kwik akan mengubah MSAA dengan konsep SHSA (Stake Holder Settlement Agreement). "Pemerintah masih bisa menuntut mereka jika jaminan kurang dari kewajibannya," kata Arwin. Cuma, pembatalan MSAA ini tampaknya tak bakal dengan mudah terlaksana. Selain kontroversial dari segi hukum, tentu saja para konglomerat yang diuntungkan beserta seluruh pendukungnya tak bakal tinggal diam. Si Perkasa yang kian Gembos Sudah lama beredar kabar bahwa nilai aset-aset Kelompok Salim yang dikelola ke dalam Holdiko Perkasa gembos merembes tak keruan. Inilah yang oleh Lin Che Wei, Direktur Riset SG Securities, digambarkan sebagai kelemahan struktural MSAA yang memayungi penyerahan aset itu. Maklum saja, aset senilai puluhan triliun rupiah itu, kendati kepemilikannya sudah di tangan pemerintah, ternyata pengelolaannya masih berada di manajemen lama. Ada sebuah laporan interen BPPN yang menyebutkan bahwa kebocoran yang terjadi sudah mencapai lebih dari 40%. Artinya, sebelum pemerintah berhasil menjual aset-aset itu sebagai pengganti duit rakyat yang sudah mengucur untuk menyelamatkan Bank BCA dulu, nilai aset-aset itu sudah tergerus tanpa bisa dihentikan. Memang, sebagian besar kemerosotan nilai aset itu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti harga komoditas maupun nilai rupiah yang tak stabil. Tapi bukan mustahil pula, menguapnya aset itu karena praktik pat gulipat. Nah, beberapa contoh di bawah ini mestinya layak kita dicermati. - Dari 24 perusahaan perkebunan Salim yang diserahkan ke BPPN, Grup Salim melalui Indofood masih menguasai saham mayoritas (di atas 78%) di PT Cibaliung Tunggal Plantation, PT Indriplant, PT Gunung Mas Raya, PT Salim Ivomas Pratama, dan PT Serikat Putra. Perusahaan yang semuanya ada di Riau ini menghasilkan keuntungan cukup besar, bahkan ada yang mampu membukukan keuntungan kotor Rp 167 miliar tahun 1998. Sedangkan dari 19 perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai BPPN, sebanyak 12 perusahaan masih merugi. Sisanya cuma beberapa yang menghasilkan keuntungan kotor kecil. Keuntungan terbesar cuma Rp 39 miliar di tahun yang sama. - PT Indomilk dan PT Indolakto adalah dua perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang pengolahan susu. BPPN menguasai masing-masing 35% dan 70% Saham di perusahaan itu. Indomilk berdiri sejak 1969, mempunyai kapasitas produksi jutaan liter per tahun dan memiliki segmen pasar yang luas dengan merek terkenal Indomilk dan Cap Enak. Tapi, tahun 1998 keuntungannya cuma 25,9%. Sebaliknya, Indolakto yang berdiri tahun 1997 dan belum punya pangsa pasar yang luas justru mampu meraih margin 26,2%. Dicurigai, pemilik lama telah melakukan penggembosan dengan membebankan sebagian biaya Indolakto ke Indomilk. Cara ini, menurut seorang analis kondang, dipakai untuk membuat Indomilk kurang menarik di mata investor sehingga tidak laku dijual. Padahal, Indomilk termasuk dalam daftar prioritas penjualan aset-aset Holdiko. - QAF Limitted, yang sahamnya dipegang 20% oleh BPPN, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan keluarga Salim untuk mengakuisisi 70% saham Yinfu International Co. Ltd dan 89,49% saham Shanghai Yinfu Oils & Fats Industries Co. Ltd. Di kedua perusahaan yang akan dibeli QAF tersebut, Salim menguasai sebagian kepemilikan. Menurut perjanjian yang berlaku efektif 21 Juli di bursa efek Singapura, QAF berencana menerbitkan irredeemable convertible bonds (ICB) alias obligasi konversi yang tidak dapat ditukarkan lagi. Jadi, ICB ini nantinya akan ditukar dengan saham baru sehingga mengakibatkan kepemilikan saham lama terdilusi. Dengan langkah ini, rencana penjualan QAF oleh BPPN jadi terhambat. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Aug 2000 jam 10:11:30 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
