---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Sikap Anggota MPR Kekanak-kanakan Jakarta, Berita Buana Pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit menilai, perilaku yang diperlihatkan sebagian anggota MPR pada hari pertama Sidang Tahunan MPR digelar di Gedung MPR Senayan Jakarta, Senin (7/8) ini, mencerminkan sikap kenak-kanakan. Terutama, dalam hal penyampaian pendapat lewat lembaga interupsi, yang membuat sidang menjadi tidak terarah dan kacau. Masing-masing anggota bersikeras berbicara, saling potong, sehingga jalannya sidang terkesan semrawut. "Terkesan kuat mereka masih belajar berdemokrasi. Sehingga, dengan menggunakan alat lembaga interupsi, mereka merasa bisa bicara apa saja, dan bisa menyela pembicaraan siapa saja. Itu menjadi tidak sopan. Masak, setiap orang bicara dipotong, kemudian mereka maunya bicara sendiri-sendiri. Sebagai anggota terhormat, mereka juga harus belajar menghormati pendapat orang lain. Jangan main potong begitu," kata Arbi di Jakarta, Senin. Menurut Arbi, lembaga interupsi telah membuat mayoritas anggota MPR menjadi tidak siap dan tidak punya planning tentang apa yang harus disampaikan di forum majelis. Akibatnya, mereka lebih banyak bicara atas dasar spontanitas ketika mendengar sesuatu yang dianggap tidak tepat. "Jadi, itu juga mencerminkan kualitas anggota MPR yang sangat memprihatinkan," tegas Arbi. Walau begitu, menurutnya, sikap pimpinan sidang yang lebih tegas dalam menyikapi perilaku anggotanya juga bukan satu-satunya jalan keluar agar sidang lebih terfokus dan berkualitas. Sebab, bila salah dalam bertindak, para anggota MPR akan menuduh pimpinan sidang otoriter dan tidak demokratis. "Jadi, masalahnya bukan soal tegas dan tidak tegas. Bagaimana pun, semua berpulang kepada diri setiap anggota MPR, agar lebih menyadari diri dan tahu diri dengan membiasakan bejalar menghormati pendapat orang lain," jelas Arbi. Sementara itu, pakar hukum tata negara dari UI Jimly Ashshiddiqie berpendapat, sikap anggota MPR pada pembukaan sidang tahunan tersebut sebenarnya masih wajar. "Saya kira bagus-bagus saja. Mereka kan masih belajar. Dan, presidennya juga masih belajar. Jadi, kita maklumi saja. Jangan terlalu dipersoalkan. Sebab, nanti bisa mengganggu penguatan MPR kita dalam melakukan kontrol terhadap pemerintah," kata Jimly. Menurut Jimly, sikap para anggota MPR yang dikesankan Arbi Sanit seperti kekanak-kanakan itu merupakan cermin dari realitas keseluruhan masyarakat, termasuk masyarakat pers-nya. Dan, itu sama dengan adanya realitas main hakim sendiri, fenomena cap jempol sampai kepada fenomena Banser. "Ini semua realitas masyarakat kita yang masih belajar demokrasi setelah sekian lama terkekang. Walaupun begitu, kita tetap berharap agar realitas ini tidak menjadi kontraproduktif buat demokrasi itu sendiri. Kita harus belajar dari fenomena kemunculan Hitler. Figur tiran dan otoriter itu muncul karena rakyat sudah muak dengan jargon-jargon demokrasi. Mereka tak percaya lagi kepada ide-ide demokrasi," kata Jimly. Arie Sigit Demo Hari pertama ST MPR, Senin pagi, juga diwarnai demonstrasi besar-besaran yang tumpah ruah di jalan-jalan Ibu Kota dengan tujuan utama Gedung DPR/MPR Senayan. Demo dimulai sekitar pukul 10.00. Dari Polda Metero Jaya diperoleh informasi, ribuan masyarakat dan mahasiswa dari beberapa organisaisi turun ke jalan mulai pukul 10.00. Mereka menuju DPR/MPR. Misalnya, Aliansi Aksi Bersama dan Aliansi Rakyat Anti-Orde Baru. Demikian juga mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota dan Jaringan Kota. Mereka akan turun bersama Partai Rakyat Demokratik yang dipimpin langsung Budiman Sujatmiko. Jumlah mereka sekitar 2.000. Para demonstran menuntut pembersihan kabinet dari antek-antek Golkar. Sebelum ke MPR, para mahasiswa dan PRD akan unjuk rasa ke Kantor Golkar di Cikini. Dari sini mereka akan beramai-ramai menuju MPR. Kelompok lain yang akan turun adalah masyarakat biasa seperti dari Forum Anak Bangsa dan para tukang becak yang juga berjumlah sekitar 2.000. Demo lain akan dipimpin cucu mantan presiden Soeharto, Arie Sigit. Arie akan memimpin msyarakat Cilincing berdemo ke Gedung Kejakgung. Aksi mereka bertujuan mendukung Soeharto agar dibebaskan dari tuntutan hukuman. Kapusdalops Polres Jakpus Asisten Superintendent Ricky Wakano, saat dikonfirmasi, membenarkan rencana Arie ini. "Mereka belum minta izin polisi untuk unjuk rasa," kata Ricky. Jalannya pembahasan agenda Tata Tertib (Tatib) pada pembukaan Sidang Tahunan (ST) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 2000 ternyata lebih mempertontonkan sikap kekanak-kanakan anggota MPR dalam menyampaikan pendapat atau menjabarkan hekiket demokrasi. Suasana sidang menjadi kacau, sehingga tampak seperti terminal bus. Kecaman ini disuarakan pengamat politik Arbi Sanit dalam percakapan dengan Buana, mengomentari pembukaan ST MPR 2000 oleh Ketua MPR Amien Rais, Senin (8/8) pagi tadi di Jakarta. Sementara itu, ST MPR 2000 dibayang-bayangi aksi demonstrasi besar-besaran di luar Gedung DPR/MPR. Agenda pertama pembukaan ST MPR 2000, yang membahas Tatib, praktis berlangsung kacau. Para anggota MPR justru tidak tertib, sehingga ruang sidang berubah seperti terminal bus yang memperdengarkan teriakan kondektur memanggil calon penumpang. Pembahasan Tatib ST MPR 2000 praktis memmakan waktu hampir satu jam, dan lebih mencerminkan rendahnya pemahaman peserta ST MPR 2000 akan fokus ST MPR itu sendiri. Begitu ketua sidang memberi kesempatan anggota memberi tanggapan atas Tatib ST MPR 2000, suara para peserta sidang bersahut-sahutan dari berbagai sisi ruang sidang. Sangat jelas terdengar dari pesawat televisi, suara gemuruh di ruang sidang saat ketua sidang memberi kesempatan seorang peserta sidang memberi tanggapan. Bahkan, Ketua MPR Amien Rais yang memimpin sidang harus mengingatkan agar mereka yang belum diberi kesempatan duduk tenang dan mendengarkan. Yang paling memalukan, ada peserta sidang yang sama sekali tidak menghormati ketua sidang. Saat peserta yang ditunjuk ketua sidang memberi tanggapan, peserta lain yang belum ditunjuk juga angkat suara. Akibatnya, di saat yang sama dua orang memberi tanggapan di ruang itu. Agenda pertama pembukaan ST MPR 2000 nyaris tidak terfokus. Sebab, ada anggota yang justru mengangkat dan mempermasalahkan eksistensi Fraksi Utusan Daerah di MPR. Ketika masalah ini dikemukakan, anggota sidang lainnya menyoraki. Tetapi, ada juga yang memberikan aplaus dengan bertepuk tangan. Unsur dari Golkar sempat membuat panas jalannya pembukaan ST MPR 2000. Sebab, dia mengecam ketua sidang yang tidak mengeliminir penggunaan sebutan Papua-bukan Irian Jaya-oleh anggota dari Papua. Kecaman itu otomatis mengundang reaksi balik wakil dari Papua, yang minta agar eksistensi etnik Papua diakui dan dihormati demi hakikat Bhinneka Tunggal Ika. Lucunya, masalah ini pun ditanggapi Dimyati Hartono. Karena kesemrawutan itu, seorang peserta dialog interaktif yang diselenggarakan TVRI mengecam ketua sidang, yang tidak buru-buru mengetuk palu sehingga Ruang Nusantara itu terlihat seperti terminal bus. Seorang ibu bahkan begitu prihatin. Karena, ada anggota MPR yang harus berteriak di ruang sidang hanya untuk mengajak rekannya minum kopi, kendati sidang sedang diskorsing. Masalahnya, teriakan itu didengar oleh permisa televisi di seluruh Indonesia.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Aug 2000 jam 09:28:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
