----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Interupsi 'Nyelonong' Ala MPR
Caranya Masih Kampungan dan Sembrono

Sejumlah pengamat politik menilai kualitas anggota MPR masih pas-pasan, dan
caranya bertindak masih kampungan serta terkesan sembrono. Kesan tersebut
muncul pada Sidang Tahunan hari pertama yang penuh dengan interupsi.

Penilaian tersebut dikemukakan pengamat sosial-politik Imam B Prasodjo, Andi
Mallarangeng, Arbi Sanit, serta Prof Dr Azyumardi Azra kemarin di Jakarta
mengomentari sidang-sidang MPR.

Menurut Imam Prasodjo, interupsi-interupsi yang dilakukan anggota MPR dalam
Sidang Paripurna MPR hari pertama memberikan contoh yang tidak baik bagi
pendidikan politik terhadap masyarakat.

Menurut dia, jika anggota MPR ingin melakukan interupsi seharusnya bisa
lebih elegan dan mengedepankan etika. "Caranya itu masih kampungan,
sembrono. Seharusnya ada tata tertibnya. Jangan nyelonong begitu saja. Terus
kalau tidak diperkenankan, teriak interupsi terus-menerus. Main bola atau
adu tinju saja ada aturannya kok, apalagi anggota Majelis," katanya seraya
menambahkan kalau terus-menerus seperti itu masyarakat bisa bosan dan
akhirnya menjadi antipati.

Getolnya anggota MPR interupsi, menurut Imam, bukan berarti lembaga
tertinggi negara itu sudah lebih berdaya karena kebanyakan interupsi
tersebut tidak punya substansi yang penting.

"Yang perlu diperhatikan di sana adalah perilaku mereka seharusnya bisa
memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, bukan asal
interupsi," ujarnya.

Untuk mengontrol perilaku Majelis seperti itu Imam mengusulkan agar ada
mekanisme yang mengontrolnya. "Pers bisa berperan dalam hal ini. Misalnya
membuat jajak pendapat tentang anggota MPR paling berangasan tahun ini, lalu
dipublikasikan. Dengan begitu mereka pasti akan lebih hati-hati dalam
berperilaku," katanya.

Sedangkan Andi Mallarangeng mengatakan perilaku anggota MPR seperti itu,
menunjukkan rendahnya kualitas anggota Majelis. Hal itu disebabkan oleh
proses pemilihan anggota Majelis pada Pemilu 1999. Pada saat itu,
partai-parti tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mencari kader-kader
berkualitas.

Kendati demikian, partai-partai tersebut masih memiliki waktu sekitar lima
tahun untuk mempersiapkan diri. Persiapan dapat dilakukan dengan cara
mengubah sistem pemilu dengan sistem distrik.

"Yang dipilih nanti kan orang-orang. Dengan demikian, partai-partai akan
mencalonkan orang-orang yang berkualitas. Orang-orang yang tidak berkualitas
tidak akan ditampilkan, karena tidak akan dapat menjadi calon yang aspiratif
terhadap tuntutan masyarakat," tegas Andi.

Sementara pengamat politik Prof Dr Azyumardi Azra menilai Sidang Tahunan MPR
ini oleh sebagian anggota MPR dijadikan sebagai sarana untuk melampiaskan
unek-unek yang selama ini tidak terekspresikan.

"Mungkin saja ada sisa-sisa ketidakpuasan, misalnya, apa yang terjadi pada
soal interpelasi," katanya.

Menurutnya, perlu aturan tertulis tentang persidangan yang memberikan
wewenang kepada pimpinan sidang untuk membatasi interupsi yang tidak
substantif. Di samping itu diharapkan kepada anggota MPR sendiri untuk
menggunakan kesantunan. Sebab, kalau tidak, akan terjadi proses delegitimasi
lembaga-lembaga perwakilan (MPR atau DPR).

Interupsi yang tidak substantif, kata Azyumardi, akan menghambat jalannya
persidangan. Selain itu, juga menimbulkan kesan di masyarakat anggota MPR
itu main-main, tidak serius. Oleh karenanya seharusnya mereka proporsional.

Secara lebih tegas lagi, pengamat politik Arbi Sanit menurut Media
berpendapat anggota MPR/DPR masih belum dewasa dalam melakukan interupsi
karena itu dia meminta lembaga interupsi dihapuskan.

"Sidang itu menjadi kacau dan chaos sehingga tidak menggambarkan demokrasi
yang diharapkan. Jadi saya kira sebaiknya lembaga interupsi itu dihapus,"
kata dosen FISIP-UI ini.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Aug 2000 jam 08:27:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke