----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Imam Prasodjo: MPR tak Peka terhadap Penderitaan Rakyat

Jumat, 11 Agustus 2000
Jakarta, Kompas

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kurang sensitif terhadap penderitaan
rakyat yang menjadi korban bencana sosial di sejumlah wilayah Indonesia. MPR
dalam Sidang Tahunan hanya menyibukkan diri dengan masalah perebutan
kekuasaan dan tidak mengagendakan secara khusus pembicaraan tentang
pengungsi di berbagai daerah Indonesia yang saat ini jumlahnya mencapai
ratusan ribu orang.

"Betapa kriminalnya kita bila masalah yang menyangkut nasib ratusan ribu
orang di dalam kamp-kamp pengungsi yang mengalami trauma tidak menjadi
agenda dalam Sidang Tahunan MPR," kata Sosiolog Universitas Indonesia Imam
Prasodjo kepada Kompas di Jakarta, Kamis (10/8).

Imam mengemukakan, penanganan ratusan ribu pengungsi dan korban bencana
sosial di berbagai wilayah Indonesia tidak bisa ditangani dalam panitia ad
hoc. MPR, kata Imam, perlu mengeluarkan Ketetapan (Tap) tersendiri untuk
mengatasi masalah ini. Dalam pembentukan kabinet, perlu ada menteri
tersendiri atau minimal deputi menteri yang khusus menangani masalah
pengungsi dan korban bencana sosial yang tengah terjadi daripada dibentuk
sebuah kementerian yang menangani masalah kemasyarakatan secara umum.

Menurut Imam, masalah pengungsi, rehabilitasi kerusakan fisik, dan pemulihan
trauma korban-korban bencana sosial tidak bisa diselesaikan dalam waktu
singkat. Penanganannya mungkin tidak akan selesai dalam jangka waktu tiga
tahun tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena itu, dibutuhkan
alokasi anggaran yang jelas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) khusus untuk menangani masalah ini.

Penanganan secara khusus terhadap para pengungsi dan korban bencana sosial
yang terjadi di Maluku dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya, menurut dia,
akan menjadi perekat solidaritas emosional sesama anggota bangsa. "Indikasi
solidaritas emosional itu adalah kepedulian terhadap mereka yang mengalami
penderitaan di Maluku, Aceh, dan lain-lainnya," kata Imam.

Ia menyayangkan tidak adanya pembicaraan khusus di parlemen maupun MPR
terhadap masalah ini. Padahal di Amerika Serikat, seorang yang dihukum
cambuk di luar negeri akibat pelanggaran disiplin pun menjadi perdebatan
sengit. "Karena itu MPR harus mengagendakan secara khusus masalah ini. Bila
tidak ini akan menjadi skandal kemanusiaan," kata Imam.

Minta perlindungan

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan (Kontras) Munir sekembali dari Dili mengemukakan bahwa saat
ini ada sekitar 500 pengungsi Maluku yang minta perlindungan ke Timtim.
Kedatangan mereka hampir menimbulkan kesalahpahaman karena dicurigai sebagai
milisi karena membawa bendera In-donesia. Namun, akhirnya mereka diterima
oleh warga Timtim dan mendapatkan perlindungan dari polisi sipil UNTAET.
Mereka bahkan ditawari untuk menjadi warga negara Timtim.

"Kejadian ini sangat memalukan karena mencerminkan ketidakmampuan kita
menangani soal pengungsi warga kita sendiri," jelas Munir sambil menambahkan
bahwa rombongan terakhir yang mendarat di Dili, tepatnya di depan hotel
terapung Olympic, tiba hari Selasa, dengan jumlah sekitar 60 orang.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Aug 2000 jam 06:50:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke