----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Prof Dorodjatun: Reformasi Membawa Kesengsaraan

Jumat, 18 Agustus 2000, 12:10 WIB
New York, Kompas

Dubes RI untuk Amerika Serikat, Prof.Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mengaku
pilu hatinya menghadapi kenyataan bahwa setelah 55 tahun merdeka, pemerintah
Indonesia belum dapat melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, seperti yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa dalam
Pembukaan UUD 1945.

"Sungguh sulit bagi kita menerima pemahaman bahwa reformasi yang kita
cita-citakan bersama itu, justru membawa kesengsaraan dan kebingungan bagi
sebagian anggota masyarakat Indonesia," katanya dalam sambutan pada
peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus di Amerika Serikat, Kamis.

Meskipun demikian, menurut Dorodjatun yang disebut-sebut bakal
menjabat salah satu Menko di bidang ekonomi pada kabinet Gus Dur
yang baru nanti, tekad dan komitmen bersama untuk memilih jalan
reformasi yang dipicu oleh gugurnya para Pahlawan Reformasi dua
tahun yang lalu itu, tidak boleh luntur oleh berbagai cobaan yang
dihadapi saat ini.

Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia itu diperingati
oleh masyarakat Indonesia baik yang berada di Washington maupun di New York.

Konsul Jenderal RI di New York, Dubes Ngurah Swetja, menjadi
Inspektur Upacara dengan dihadiri antara lain Wakil Tetap RI di PBB Dubes
Dr. Makarim Wibisono, Deputi Watapri Dubes Makmur Widodo serta undangan
lainnya.

Ia mengatakan bagi mereka yang tinggal di Amerika Serikat tentu
dapat mengerti persoalan reformasi itu dengan lebih jelas, yaitu
dengan mempelajari perjalanan sejarah negara demokrasi tertua di
dunia ini.

Delapan puluh tahun setelah Amerika Serikat merdeka, katanya,
bangsa ini mengalami perang saudara yang sangat kejam untuk merebut hak-hak
asasi kelompok masyarakat Afrika-Amerika (yang berkulit hitam).

"Dan baru setelah lebih dari 150 tahun kemerdekaannya, Amerika
Serikat mampu memberikan persamaan hak-hak politik kepada kelompok
masyarakat itu," katanya.

Studi perbandingan sejarah demokrasi Indonesia dan Amerika
Serikat itu, menurut Dorodjatun, hendaknya tidak menjadi alasan
untuk membiarkan kesengsaraan dan penderitaan yang dialami sebagian bangsa
Indonesia.

"Sebaliknya, Bangsa Indonesia dapat belajar dari pengalaman
Bangsa Amerika, sehingga kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang telah
mereka lakukan, dan proses menuju demokrasi yang kita sepakati bersama itu
dapat dipercepat," tegasnya.

Ia juga mengatakan perbandingan itu juga bukan merupakan alasan
untuk dapat menjiplak sistem demokrasi Amerika Serikat untuk
diterapkan di Indonesia.

Kebudayaan, perjalanan sejarah dan latar belakang masyarakat
Indonesia yang berbeda dengan Amerika Serikat, menuntut bangsa
Indonesia berpikir dan bekerja keras dalam merumuskan sistem
demokrasi yang sesuai bagi kehidupan
Bangsa dan Negara Indonesia.

Tidak ada seorang negarawan atau pakar politik yang pernah
menjanjikan bahwa tahap awal proses demokrasi suatu negara akan
berjalan dengan mudah, rapi atau tertib, terlebih lagi bagi negara yang
belum memiliki tradisi demokrasi seperti Indonesia.

"Namun sejarah membuktikan, dan saya yakini, bahwa dalam jangka
panjang negara yang menganut sistem demokrasi adalah yang paling
mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan keadilan bagi
warganegaranya," lanjut mantan Dekan FEUI itu.

Oleh karena itu, katanya, tekad dan komitmen bersama untuk
memilih jalan reformasi yang dipicu oleh gugurnya para Pahlawan
Reformasi dua tahun yang lalu itu, tidak boleh luntur oleh berbagai cobaan
yang dihadapi saat ini.

Dorodjatun mengingatkan, Bangsa Indonesia tidak dibentuk
berdasarkan persamaan suku, etnis, agama atau golongan.

Menurut dia, Indonesia adalah bangsa majemuk yang kaya dengan
perbedaan. Namun kemajemukan dan kebhinekaan itu senantiasa diikat oleh
suatu tujuan bersama.

Lima puluh lima tahun yang lalu, tujuan bersama itu adalah
merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, dan di bawah kepemimpinan Bung
Karno dan Bung Hatta, Bangsa Indonesia berhasil mewujudkannya. Kini, tujuan
bersama itu adalah melaksanakan reformasi di segala bidang.

"Tujuan bersama itulah yang mampu menjadikan kita bersatu-padu,
dan hanya dengan persatuan dan kesatuan itu maka pengorbanan jiwa
para pahlawan reformasi dan ribuan lainnya di berbagai wilayah Ibu Pertiwi,
menjadi tidak sia-sia," katanya.

Pada bagian lain sambutannya, Dorodjatun mengatakan berbagai
permasalahan yang tengah mengoyak sejumlah daerah saat ini,
hendaknya tidak ditafsirkan sebagai suatu proses disintegrasi bangsa menuju
kehancuran.

Penafsiran yang tidak tepat itu, katanya, akan menjadikan bangsa
Indonesia mudah berputus asa dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan
bernegara, yang saat ini sedang dalam masa transisi dan perubahan yang luar
biasa.

"Berbagai tragedi kemanusiaan yang mengenaskan itu adalah tahap
yang mau tidak-mau harus dilalui oleh Bangsa Indonesia, yang telah sepakat
memilih sistem demokrasi sebagai jalan kehidupan politiknya saat ini," kata
Dorodjatun.

Proses demokratisasi politik, atau yang lebih dikenal dengan
istilah reformasi itu, telah berjalan sejak dua tahun yang lalu.

Pergerakan menuntut reformasi yang dipelopori oleh para
mahasiswa dan pemuda Indonesia itu, telah dikukuhkan dengan Pemilihan umum
multi-partai dan Sidang Umum MPR tahun lalu, yang menetapkan Presiden
Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin
bangsa Indonesia periode 1999-2004.

Langkah-langkah strategik dalam agenda politik nasional itu
sedang dilanjutkan saat ini, yaitu dengan Sidang Tahunan MPR, yang merupakan
sidang yang pertama kali diselenggarakan dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia.

Sidang itu antara lain akan menghasilkan amandemen terhadap pasal-pasal
Undang-Undang Dasar 1945, yang juga merupakan suatu hal yang pertama kali
dilakukan sejak kitab itu diterima sebagai landasan konstitusional Bangsa
Indonesia, demikian Dorodjatun.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 2000 jam 11:37:52 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke