----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000
================================================

POLITIK 'PENGANDANGEMASAN' GUS DUR

(PERISTIWA): Demi "jatah" di kabinet, kekuasaan Gus Dur "dipreteli".
Konon, Golkar dan tentara sudah siapkan skenario rebut kekuasaan.

Sidang Tahunan (ST) MPR yang bernilai Rp35 milyar kali ini, ternyata
tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan orang
banyak --seperti pemberantasan KKN dan sebagainya. Yang lebih jadi
perhatian adalah upaya "bagaimana membatasi kekuasaan Presiden"
sekaligus melakukan lobi-lobi di luar sidang atau "politik dagang
sapi", yang membahas soal "jatah" partai-partai politik dalam
komposisi kabinet mendatang. Gus Dur yang posisinya terjepit pun tak
bisa melepaskan diri dari situasi semacam ini. Pagi-pagi ia sudah
bilang bahwa kabinetnya bakal diisi dengan komposisi 40% partai
politik dan 60% orang-orang profesional.

"Dendam" sejumlah partai politik, terutama dari Poros Tengah, PDI
Perjuangan dan Partai Golkar yang merasa dikhianati Gus Dur, karena
memecat sejumlah menterinya, amat terlihat dari upaya sistematis
mereka untuk "mempreteli" kekuasaan Gus Dur sebagai presiden. Caranya,
bermacam-macam. Pertama, misalnya, dengan mengusulkan perubahan Tap
MPR No.2 tahun 1999 tentang Tata Tertib, khususnya pasal 50 ayat 3,
sehingga memungkinkan DPR menjadikan ST MPR menjadi SI (Sidang
Istimewa) yang membahas pertanggungjawaban presiden. Dengan demikian,
setiap saat presiden dapat di-impeach atas usulan DPR. "Apa bedanya
ini dengan sistem parlementer?" ujar Sekjen KIPP Mulyana W. Kusumah.
Menurut Mulyana, dalam sistem presidensiil seperti di AS, butuh proses
amat panjang untuk bisa meng-impeach seorang presiden.

Cara kedua, menjadikan Presiden Gus Dur "berhalangan tetap"
- --menggunakan istilah Yusril Ihza Mahendra terhadap upaya untuk
"mengandangemaskan" Gus Dur. Jelasnya adalah dengan mengeluarkan
ketetapan MPR tentang pemberian tugas Presiden kepada Wakil Presiden
(yang berarti mencegah penggunaan hak prerogatif Gus Dur untuk
merombak kabinet yang sehari-harinya bakal dipimpin oleh Wapres).
Rancangan ketetapan ini, kendati dianggap inkonstitusional oleh
Yusril, hampir pasti akan lolos sebagai Tap MPR. Hanya saja, ada yang
menghendakinya sebagai Tap khusus (FPP, FBB dan Fraksi Reformasi), ada
pula yang menghendakinya sebagai Tap rekomendasi saja (FPG, FPDIP dan
FTNI/Polri).

Sikap ngotot MPR untuk memarginalisir peran politik Gus Dur ini
membuat sejumlah orang curiga. Hendardi, Direktur Eksekutif PBHI
(Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia), misalnya,
menuduh Golkar berada di balik semua ini. Ia percaya, Golkar punya
ambisi untuk berkuasa dalam waktu dekat. Sumber Xpos lainnya, senada
dengan Hendardi, yakin adanya skenario bersama antara Golkar dan
sejumlah tokoh TNI untuk menggusur duet Gus Dur-Mega. Menurutnya,
meskipun sekarang terkesan mendukung pelimpahan kekuasaan pada
Megawati, sebetulnya, mereka telah mempersiapkan amunisi untuk
"menggoyang" kembali dalam waktu dekat. Kabarnya, berbagai "dosa" Mega
jauh-jauh hari telah diinventarisir (antara lain soal
perkawinan-perkawinannya). Ketidaksetujuan Partai Golkar terhadap
usulan pengadaan jabatan satu orang Menko, diperkirakan juga merupakan
upaya memudahkan delegitimasi kekuasaan Gus Dur-Mega. Sebab,
bagaimanapun seorang Menko diproyeksikan untuk mengambil-alih
kekurangan di bidang manajerial Presiden dan Wapres.

Apakah demikian skenario yang bakal berjalan, memang mesti harus
ditunggu. Namun, yang pasti, melihat tingkah pola para politisi dalam
ST MPR saat ini, perpolitikan Indonesia di waktu-waktu mendatang,
masih belum bisa diharapkan berubah banyak. Belum terlihat adanya
keinginan para politisi untuk menyehatkan iklim demokrasi Indonesia.
Apalagi bila Sidang Tahunan MPR dimungkinkan untuk diubah jadi Sidang
Istimewa MPR. Berdoa saja supaya rakyat tak makin apatis. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -----------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 05:10:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke