---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http: under construction Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000 ================================================ STRATEGI PAK KIAI AMANKAN POSISI (PERISTIWA): Reshuffle kabinet usai Sidang Umum Tahunan MPR. Ini salah satu langkah Gus Dur amankan posisinya. Orang-orang dekatnya bilang, Gus Dur sangat keras kepala dan tak bisa diancam siapapun. Barang-kali, memang banyak benarnya. Simak saja pidato jawabannya atas hak interpelasi anggota DPR sehubungan dengan pemecatan dua menterinya beberapa waktu lalu: Ia menolak mengklarifikasi karena merasa tak melanggar Konstitusi. Tapi, gonjang-ganjing politik di parlemen terus mengancam kedudukannya sebagai presiden, membuat ia agak "lumer" juga. Buktinya, sehari setelah pidato jawaban tadi, ia menyatakan permintaan maaf tertulis pada DPR. Tanda-tanda bahwa posisi Gus Dur sedikit goyah, sebetulnya sudah terlihat sejak beberapa minggu lalu. Persisnya saat ia melakukan kunjungan ke AS yang kedua kali. Entah langsung atau tidak, Gus Dur ketika itu meminta dukungan Presiden Bill Clinton untuk mengatasi sendiri berbagai persoalan politik dalam negeri. Sehari setelah pertemuannya dengan Clinton, harian International Herald Tribune yang merupakan kongsi dua media terbesar AS, The Washington Post dan The New York Times menurunkan artikel yang terang-terangan membela Gus Dur berjudul "Pessimism over Indonesia's Wahid is Exaggerated." Beberapa waktu kemudian harian ini pun menurunkan pembelaan berbau nasihat Dubes AS untuk Indonesia, Robert Gelbard pada pemerintahan Gus Dur. Kunjungan ke AS itu merupakan poin penting pertama dalam rangka konsolidasi kekuatan Gus Dur menghadapi lawan-lawan politiknya. Dengan adanya dukungan dari luar negeri, khususnya AS, setidaknya ia mendapatkan jaminan politik bahwa takkan ada intervensi atas nama apapun selama ia berkuasa. Langkah kedua yang dilakukan Gus Dur adalah memastikan kelompok terdekatnya, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hal ini dilakukannya pada Muktamar PKB di Surabaya, Juli lalu. Sebetulnya, secara aklamasi, Gus Dur telah terpilih untuk mengisi jabatan Ketua Dewan Syuro (semacam dewan penasihat) yang punya wewenang terbesar menentukan susunan pengurus PKB. Dengan demikian, seharusnya, ia bisa memilih orang-orang yang tepat untuk mengemban misi PKB yang bercita-cita sebagai partai terbuka. Tapi, menurut sumber dari dalam PKB, Gus Dur lebih memilih mengikuti aspirasi para kiai di Jawa Timur yang mengusulkan sejumlah nama. Nama-nama itu yang kemudian mendampingi Matori Abdul Djalil dalam struktur DPP PKB. Renegosiasi ulang komposisi kabinet merupakan langkah lain untuk mengambil hati Partai Golkar serta PDI-P yang kehilangan dua orang menterinya. Rencana ini sudah jauh-jauh hari dipikirkan Gus Dur. Kabarnya, dalam suatu kesempatan sarapan pagi di istana, Gus Dur, Megawati serta Akbar Tanjung telah menyepakati rencana reshuffle kabinet usainya Sidang Umum Tahunan MPR. Tentu saja tidak semua langkah yang diambil Gus Dur semata-mata berdasarkan pertimbangan politis. Bagaimanapun untuk mendapatkan dukungan rakyat, Gus Dur harus menciptakan kabinet yang kinerjanya baik. Karena itulah, santer terdengar bahwa kabinet Gus Dur pasca Agustus hanya akan terdiri antara 20 hingga 25 menteri yang terdiri dari orang profesional dan orang kepercayaan Presiden. Dengan jumlah menteri yang lebih sedikit, persoalan koordinasi yang selama ini jadi masalah dalam kabinet Gus Dur, diharapkan juga bisa teratasi. Masalahnya, tinggal siapa saja kandidat menteri yang akan duduk di kabinet baru. Sejauh ini telah beredar sejumlah nama baru, di antaranya Rektor UGM Ichlasul Amal, Prof. Puruhito dari Unair, Dirut PN Timah Erry Ryana Hardjapamekas, anggota Kmnas HAM Albert Hasibuan dan Dubes RI untuk Mesir Baharuddin Lopa. Kabinet baru ini diharapkan bisa menggalang solidaritas diantara banyak kekuatan politik yang berbeda. Nah, bisakah skenario kabinet baru ini menyelamatkan negara dari krisis? Berharap sajalah. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ----------------------------------- SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 05:24:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
