----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000
================================================

KOMPLOTAN TENTARA CENDANA BISNIS UANG PALSU

(POLITIK): Setelah tertangkapnya beberapa pengedar dan sejumlah
percetakannya, kini isu itu menghantam keluarga Cendana dan tentara.

Pada akhir Juni lalu, polisi berhasil menggerebek sebuah percetakan
uang palsu (upal) di Jl. Bhakti II Pasar Rebo Jakarta Timur. Dari
percetakan ini selain mengamankan barang bukti berupa mesin cetak merk
Hamada, pemotong kertas juga berupa sebundel uang kertas pecahan
Rp50.000-an senilai Rp2,5 juta. Bahkan dari penggerebekan ini tercium
adanya indikasi keterlibatan Ny. Titik Prabowo. Pasalnya, sejumlah
saksi mengaku sering melihat Ny Titik sering bertamu di rumah
kontrakan itu. Namun dalam perkembangannya, polisi tidak berani
meneruskan penyelidikan terhadap isu ini. Sebaliknya, polisi justru
berulang-ulang membantah tentang kemungkinan keterlibatan anak mantan
Presiden Soeharto ini. "Jangan menuduh tanpa bukti. Setahu saya, yang
diduga terkibat itu sejumlha oknum purnawirawan TNI," sergah
Kaditserse Polda  Metro Jaya Sr Super Intendan (Kolonel) Polisi Drs
Herry Montolalu.

Memang, dari penangkapan sejumlah tersangka dua diantaranya adalah
bekas perwira angkatan darat berpangkat Kolonel dan Letkol. Selain itu
sedang diburu seorang Letnan Satu Agus Purnomo dari Kopassus, yang
diakui oleh para tersangka sebagai otak, sekaligus pengontrak rumah
seharga Rp4 juta setahun tersebut. Hanya saja pihak Kopassus membantah
adanya anggota yang bernama Agus Purnomo itu. Lalu akhirnya sampai
sekarang tidak ada tindak lanjut dari peristiwa menggemparkan ini.

Sementara itu dalam pekan yang sama, polisi juga berhasil menggerebek
sebuah percetakan uang palsu di kawasan Cipinang Besar Utara Jakarta
Timur. Dari percetakan ini diketahui adanya keterlibatan dua orang
perwira menengah TNI AD. Tapi lagi-lagi sampai sekarang tidak ada
kabar lanjutan. Bulan Maret lalu, sebuah percetakan uang palsu di
Kelurahan Pasir Kuda, Kec. Ciomas, Kodya Bogor digerebek Reserse
Polsek Jagakarsa, Jaksel. Uang palsu sekitar Rp3 miliar disita. Uang
itu terdiri dari pecahan Rp50.000-an, Rp20.000-an, satu gepok mata
uang Brasil, mesin cetak, mesin pengering, mesin press, dan tinta
mesin cetak. Dari komplotan ini terlibat seorang pensiunan TNI AD.
Boro-boro masuk pengadilan, tersangkanya justru dibebaskan polisi.

Jauh hari sebelumnya, polisi Yogyakarta telah berhasil menangkap tiga
anggota TNI AU dalam kaitan bisnis uang palsu. Perwira aktif  di Mabes
AU Jakarta  ini dibekuk polisi berikut barang bukti uang palsu senilai
Rp120 juta. Dalam perkembangan kasus ini, yang diadili justru orang
sipilnya yang terlibat. Sedangkan para tentaranya tak disentuh hukum.
Hal yang sama juga terjadi pada penangkapan seorang perwira Mabes AU
oleh Polres Sleman. Perwira AU tertangkap tangan karena sedang
transaksi uang palsu senilai Rp200 juta di sebuah desa di perbatasan
Magelang-Sleman.

Keterlibatan komplotan tentara dalam peredaran uang palsu sebenarnya
sudah lama diketahui masyarakat. Ditangkapnya Kolonel CPM Soemarsono,
yang juga manajer Tim Piala Thomas Indonesia adalah bukti baru bahwa
tentara atau bekas tentara menjadi beking tindak kriminalitas.
Soemarsono ditangkap karena diduga terlibat peredaran uang palsu
senilai Rp4,7 milyar. Hanya saja, polisi Surabaya terkesan lamban
dalam mengusut kasus ini. Sebab sudah tiga bulan lebih penyelidikan
dilakukan, polisi belum juga berani memboyong kasus ini ke pengadilan.

Yang paling heboh perihal palsu memalsu uang adalah digelarnya
pengadilan terhadap para pemalsu uang yang bermarkas di Jl Palmerah
Barat Jakarta Barat. Dari pemeriksaan mereka tersebutlah nama seorang
jenderal yang saat ini menjadi Kepala staf Angkatan Darat, Jenderal.
TNI Tyasno Sudarto. Konon menurut saksi itu, dirinya pernah mendapat
order dari Tyasno --ketika menjadi ketua Badan Intelijen Strategis--
untuk membuat uang palsu. Kontan saja, pengakuan ini menjadi isu seru,
bahkan ada yang mengkaitannya dengan konspirasi lanjutan dalam rangka
menggusur para jenderal yang berseberangan dengan Jenderal Wiranto.

Menurut orang BI pemberantasan uang palsu sulit dilakukan, walaupun
sudah ada  Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) yang
beranggotakan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), Kejaksaan
Agung, Departemen Kehakiman, Departemen Penerangan, Departemen
Keuangan (Ditjen Bea Cukai), Markas Besar Polri, Bank Indonesia dan
Perum Peruri. Kesulitan ini sangat berkait dengan terlibatnya tentara
dalam pembuatan dan peredaran uang palsi itu. Di samping semakin
canggihnya teknik pemalsuan, saat ini kertas bahan pembuatan uang asli
tak harus mendatangkan dari Portal (Inggris), Loussiental (Jerman),
VHP (Belanda), Arjowiggen (Perancis), Crane (AS) dan Cartier Fabriano
(Italia). Karena di Indonesia sendiri sudah berdiri sejumlah industri
kertas yang menyerupai produk-produk mereka.

Apalagi pemalsuan uang tersebut diduga berkait dengan masalah politik.
Menurut BI, jumlah uang palsu pecahan Rp50.000 terbanyak beredar
adalah pada masa-masa kampanye menjelang pemilihan umum (pemilu),
tepatnya pada Mei-Juni 1999. Jumlah uang palsu pecahan Rp50.000 yang
beredar pada Mei 1999 sedikitnya 27.238 lembar (senilai Rp1,3619
milyar), sedangkan pada Juni 1999 sedikitnya 15.632 lembar (senilai
Rp781 juta).

Setahun sebelumnya sebuah kelompok politik membuat uang palsu untuk
membiayai operasi di lapangan ketika reformasi bergulir 1998.
Lagi-lagi menurut catatan BI, pada Mei 1998 adalah bulan terbanyak
peredaran uang palsu pecahan Rp50.000 beredar di masyarakat. Bank
Indonesia (BI) mencatat jumlah uang palsu pecahan Rp50.000 yang
beredar pada Mei 1998 sedikitnya mencapai Rp52,317 milyar. Sepanjang
1998, BI mendata 107.520 lembar uang palsu pecahan Rp50.000 (104.634
lembar di antaranya beredar Mei 1998), 9.758 lembar pecahan Rp 20.000,
dan 59.633 lembar pecahan Rp 10.000. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -----------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 07:25:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke