---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Eep S. Fatah: Banyak Yang Salah Menilai Gus Dur detikcom - Jakarta, Lama tak terdengar, karena sibuk studi di AS, pengamat politik Eep Saefulloh Fatah tiba-tiba muncul di Jakarta. Eep menilai banyak kalangan yang salah menilai Gus Dur dalam menjalankan kekuasaan. Memangnya yang benar siapa? Hal itu ia kemukakan dalam orasi politiknya yang disampaikan dalam acara "Suara Agustus, Keanekaan, Kesetaraan dan Memerdekakan Diri Sendiri" di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Minggu (20/8/2000). Dalam orasi yang diberi judul "Menimbang Gus Dur, Menimbang Demokrasi", Eep menyebutkan paling tidak ada dua sumber kekeliruan dalam memahami Gus Dur yang diidap tidak saja oleh orang kebanyakan, melainkan juga oleh para pengamat, pakar, politisi maupun pejabat negara. Sumber kekeliriuuan pertama, kata Eep, adalah memposisikan Gus Dur sebagai sosok yang bisa mengatasi segala sekat bahkan segala perkara. Bahkan menurutnya kadang-kadang Gus Dur diposisikan sebagai 'ada di atas dan mengatasi apapun'. "Ini merupakan sumber kekeliruan yang berbahaya karena memposisikan Gus Dur tanpa sekat akan membuat kita memberi kepercayaan berlebihan pada Gus Dur. Para pengamat menjadi terlampau fleksibel dan lentur dalam analisisnya," ulas pria yang kini sedang mengikuti studi di Ohio University, AS tersebut. Bahkan ini pula, lanjut Eep, yang membuat cukup banyak orang, termasuk Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, selalu menyalahkan pembantu presiden ketika pemerintahan melakukan kelalaian. "Dalam jangka panjang hal itu bisa membuat Gus Dur seolah-olah perlu dibiarkan bekerja dengan memanfaatkan semua dimensi tanpa memerlukan pengawasan," tandas mantan anggota Tim 11 yang menyeleksi parpol dalam pemilu 1998 lalu. Sumber kekeliruan kedua, terang Eep, adalah memposisikan Gus Dur sebagai sosok intelektual moralis. "Ini kebalikan dari yang pertama. Setiap apapun yang berkaitan dengan Gus Dur, yang baik maupun yang buruk, maka selalu dikaitkan dengan nilai-nilai luhur moralitas dan intelektualitas," papar dia. Sebagai aktor politik, Gus Dur pun dipahami bersih dari pretensi-pretensi kotor. Sebegitu hebatnya pengaitan sosok Gus Dur dengan nilai luhur moralitas intelektualitas, menurut dia, sehingga para pengkritiknya kerap diingatkan 'maksud Gus Dur itu baik, Anda saja yang tidak faham'. Pada bagian lain orasinya, Eep juga menyampaikan cara pandang salah kaprah itu tidak hanya berjangkit pada kalangan nahdliyin, melainkan juga pada banyak orang. "Terlebih pada kalangan politisi, pejabat dan penguasa," tegas pria kelahiran Cibarusah, Bekasi itu. Eep menambahkan, gabungan antara sosok utama Gus Dur sebagai politisi dengan latar belakangnya sebagai pemikir, budayawan, agamawan dan humoris akan melahirkan kecerdasan, harapan sekaligus bahaya. "Dalam penafsiran saya tentang Gus Dur, tak lebih dan tak kurang ia adalah politisi biasa dengan pemilikan aksesori yang memang langka," ujar Eep. Melihat kondisi seperti itu, dosen muda FISIP UI itu bertanya masihkan perlu mengganti pemerintah sekarang dengan menjatuhkan Gus Dur. "Jawabannya adalah tidak dan saya akan membuat analogi tingkat-tingkat hukum dalam agama Islam untuk menjelaskan jawaban saya," ujar dia agak filosofis. Pertama, menjatuhkan Gus Dur sekarang adalah makruh (dilakukan tidak mengapa, tapi lebih baik ditinggalkan-red) karena hanya akan mendatangkan banyak persoalan baru tanpa kepastian pemecahan soal-soal lama. Selain itu, sambung dia, masyarakat juga tidak memiliki alternatif kepemimpinan yang memang benar-benar menjanjikan. Kedua, menjatuhkan Gus Dur secara umum bisa saja menjadi perbuatan mubah atau boleh, yakni ketika Gus Dur dan pemerintahannya terus menerus melarikan diri dari kewajibannya untuk menyelesaikan banyak permasalahan. Ketiga, lanjut Eep, menajtuhkan Gus Dur bisa juga menjadi sunah (dilakukan berpahala, tak dilakukan tidak berdosa-red) ketika korban kemanusiaan semakin besar jumlah dan kualitasnya. Sementara menurut mantan ketua Senat Mahasiswa UI itu, arah transisi di Indonesia juga tidak jelas. "Saya berdoa mudah-mudahan menjatuhkan Gus Dur tidak menjadi perbuatan yang fardhu (wajib-red)," tambah dia. Catatan penting dalam menjatuhkan Gus Dur, kata dia, adalah dengan melihat situasinya. Menurut Eep, masyarakat wajib menghindari cara-cara premanisme yang bekerja di luar aturan main atau konstitusi. "Meminimalkan korban kemanusiaan serta melandaskan diri pada tujuan-tujuan transisi demokrasi yang teruji. Dengan kata lain, jangan sampai kita tambahi preseden politik buruk ke tengah kita, sementara kita sudah memilikinya begitu banyak," sergah pengamat politik yang sempat menjadi pembawa acara "Indonesia Baru" tersebut.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 07:54:18 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
