----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Radius Saksi Kunci Harta Soeharto

Senin, 21 Agustus 2000
Jakarta, Buana

Dengan kematian mendadak Brigjen (Pur) Hedijanto, pemerintah kini hanya
memiliki satu saksi kunci bagi keperluan penelusuran dan penyelidikan harta
kekayaan mantan Presiden Soeharto yang disimpan di Swiss. Satu-satunya saksi
kunci yang tersisa adalah mantan Menteri Keuangan dan Menko Ekuin Radius
Prawiro. Kejaksaan Agung harus mampu mengorek pengetahuan Radius tentang
nama bank berikut nomor rekening penempatan dana milik Soeharto di perbankan
Swiss.

Kematian mendadak almarhum Hedijanto dalam usia 73 tahun pada 14 Agustus
2000 di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, sempat menyentak kalangan diplomat
asing di Jakarta dan menjadi bahan pergunjingan di antara mereka.
Pergunjingan mereka memunculkan pertanyaan tentang apa yang menjadi penyebab
kematian Hedijanto. Kalau pun karena penyakit, sakit apa yang diderita
almarhum Hedijanto?

Oleh para diplomati asing di Jakarta, pertanyaan seputar latarbelakang
kematian Hedijanto dikaitkan dengan perannya sebagai bendahara sejumlah
yayasan yang dipimpin Soeharto, dan pengetahuan almarhum tentang kekayaan
Soeharto dalam bentuk valuta asing yang ditempatkan di Swiss.

Selain mempertanyakan latarbelakang kematian Hedijanto, pergunjingan para
diplomat asing itu pun memunculkan nama Radius Prawiro. Para diplomat itu
tahu betul bahwa Radius dan almarhum Hedijanto memiliki catatan sangat rinci
tentang penempatan dana milik Soeharto di luar negeri, khususnya di Swiss.

Sebagai bendahara Yayasan Dharmais, almarhum Hedijanto juga ditugasi
mengelola dana Soeharto melalui instrumen deposito, pembelian saham hingga
pembelian surat berharga dan emas.

Sedangkan Radius yang menjabat Menteri dalam tiga masa jabatan sampai tahun
1992, dipercaya Soeharto mengatur simpanan valuta asing miliknya di Swiss.
Radius tahu di bank-bank mana saja di Swiss yang menyimpan miliaran dana
valas milik Soeharto. Demi kerahasiaan dan keamanan dana Soeharto itu,
Radius juga membangun hubungan erat dengan Menteri Kuangan Swiss era
1990-an.

Radius akhir-akhir ini sulit ditemui, karena ia lebih sering tinggal di luar
negeri. Para diplomatik itu mengaku sering berjumpa Radius di Singapura.
Negara lain yang sering dikunjungi Radius adalah Belanda dan Swiss.

Dengan meninggalnya Hedijanto, penelusuran harta Soeharto di luar negeri
akan menemui kesulitan, karena hanya almarhum Hediyanto dan Radius yang tahu
nomor rekening bank atas nama Soeharto. "Satu-satunya jalan untuk melacak
harta Soeharto di luar negeri adalah memeriksa keterlibatan Radius Prawiro,
karena dialah satu-satunya sisa orang yang tahu," kata seorang diplomat
kepada Buana. Soeharto sendiri pasti sulit dimintai keterangan, karena ia
menderita sakit linglung (parkinson).

Soeharto disinyalir tak pernah berani menyimpan hartanya di Amerika Serikat
(AS) atau Timur Tengah, karena mudah dilacak FBI dan CIA. Seorang diplomat
menyatakan, jika Soeharto menyimpan uang di Arab, pasti mudah dilacak dan
Soeharto akan dijatuhi hukuman khiyas (hukuman badan) atas tindak kejahatan
pencurian. .

Seorang diplomat AS mengaku masih menyusun daftar kekayaan Soeharto di luar
negeri. Namun sejauh ini, hanya anak-anak Soeharto yang diketahui menyimpan
harta di AS, berupa properti dan rumah mewah di berbagai kota besar di AS.

Radius Bisa Tersangka
Sementara itu, dalam mengungkapkan kasus Soeharto, menurut Koordinator
Indonesian Coruption Watch (ICW) Teten Masduki, sebenarnya harus dilakukan
lewat perubahan paling mendasar dari institusi penyelidiknya sendiri. Karena
selama ini, prosesnya hanya mengarah pada Soeharto dan yayasan saja.
"Seharusnya arah pemeriksaan Soeharto diarahkan berbarengan dengan
pemeriksaan para kroninya," ungkap Teten, Senin (21/8).

Dalam pandangan Teten, pemeriksaan terhadap mantan presiden itu selalu
dieliminir dengan penyelidikan pada diri dan yayasannya saja. Padahal,
tindakan yang telah dilakukan Soeharto itu merupakan tindakan satu rejim
yang berkuasa saat itu.

Untuk itu, ia berpendapat tidak ada jalan lain kecuali pihak Kejaksaan Agung
sebagai penyelidik mengubah orientasi penegakan hukumnya. Sehingga,
penyelidikan bisa lebih efektif diarahkan pada Mantan Menkeu Radius Parwiro
yang disebut-sebut mengetahui dengan pasti harta Soeharto di Swiss.

Ia menyatakan, mungkin proses yang dilakukan Kejakgung selama ini tidak
terlepas dari politik untuk menghindari kroni rejim Orde Baru (Orba).
Alasannya, para pengusaha yang dekat dengan rejim ini masih mendukung
Golkar. Oleh karena itu, susah bila Kejakgung hanya orientasi seperti ini.

Sementara, mantan Koordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan
(Kontras), Munir, berpendapat sebenarnya Radius tidak sekadar saksi saja.
Sebab, kejahatan yang telah dilakukan Soeharto, bukan kejahatan perseorangan
melainkan kejahatan birokrasi. "Kesalahan kita selama ini tidak bisa
menembus peradilan di Swiss, tindakan yang pernah Ghalib dan Muladi yang
datang ke counter langsung, ngawur," tambah Munir.

Ia menegaskan, sepantasnya Indonesia belajar dari Korea Selatan yang
berhasil memenjarakan dua presidennya, dengan keberhasilan menguak harta
seluruh kekayaan mereka. Sehingga kalaupun Kejakgung meminta bantuan
peradilan Swiss bukanlah suatu hal yang luar biasa.

Khusus mengenai Radius, Munir beranggapan mantan menkeu jaman Orba ini bisa
pula dijadikan tersangka, meskipun dia harus tetap terlebih dahulu melalui
pemeriksaan sebagai saksi. Lebih jauh ditegaskan, Kejakgung sebenarnya
mempunyai kesempatan lebih luas jika mampu mengungkap kejahatan secara
birokrasi ini.

Sementara itu, menurut Ketua Government Watch Farid Faqih, rencana
pengiriman tim ke Swiss untuk menyelidiki harta Soeharto dinilai sangat
mustahil. Hal ini disebabkan karena sistem kerahasiaan di Swiss begitu besar
dan sangat tertutup sekali.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 12:15:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke