---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Duit Soeharto di Swiss sudah cair? Senin, 21 Agustus 2000 Bangkit Online SOEHARTO akan diseret ke pengadilan. Pemerintah, konon telah memberangkatkan sejumlah orangnya ke Swiss dan Belgia untuk mengecek harta kekayaan Soeharto. Benarkah? SOEHARTO tak mempunyai duit sepeser pun di luar negeri. Itu kata Soeharto sejak dahulu kala. Tapi, Dr George Aditjondro, dosen sosiologi University of Newcastle, Australia, pernah memiliki bukti bahwa Soeharto dan keluarganya mempunyai kekayaan di luar negeri. Bahkan, sebagian harta kekayaan tersebut telah dijual. Karena itu, George waktu itu berani membantah keterangan pemerintah -Kejaksaan Agung di era Habibie- bahwa dari hasil investigasi di 15 KBRI, mereka tak menemukan secuil pun harta kekayaan Soeharto. Ironisnya lagi, dari hasil pengusutan Kejaksaan Agung, penyidik hanya berhasil menemukan uang tunai milik Soeharto di 72 bank. Dari 72 bank yang diteliti di dalam negeri, mereka menemukan dana Rp 23,3 miliar. Kontan saja, penemuan itu diragukan. Sebagai, mantan penguasa Orde Baru yang sarat dengan KKN, Soeharto hanya memiliki dana yang tak begitu besar. Bahkan, pada waktu itu, Soeharto sendiri sempat menantang kepada siapa saja yang menemukan account-nya di luar negeri harap segera memberitahukan kepada dirinya, untuk ditandatangani (dicairkan). Nah, tantangan Soeharto itu sampai saat ini memang belum terpecahkan. Maklum, untuk mengusut rekening Soeharto di luar negeri tidaklah mudah. Nah, ketika pemerintah Habibie terjungkal dan tongkat RI 1 dipegang Gus Dur, sang presiden baru dari PKB ini lebih memilih jalan kompromistis. Artinya, pemerintah tak segan-segan memaafkan Soeharto (tidak diadili) kalau Soeharto mau menyerahkan sebagian hartanya kepada rakyat. Konon, Susilo Bambang Yudhoyono (Mentamben) mendapat tugas khusus melobi keluarga Soeharto. Ketika isu itu mencuat ke permukaan, tim pengacara Soeharto menampik kalau Soeharto mau menuruti keinginan Gus Dur. Sedang Susilo sendiri kepada wartawan pernah bilang bahwa dirinya tengah mendapat tugas dari Gus Dur mengenai hal itu. Pendekatan yang dilakukan Gus Dur itu, jelas Drs Jimmy Palapa MA, Dekan FISIP UBK, sudah cukup bagus. Sebab, kalau Soeharto dibawa ke pengadilan, nantinya akan ada perang gejolak. "Sudah benar apa yang dilakukan Gus Dur. Dia melakukan pendekatan kemanusiaan selagi Pak Harto masih hidup. Justru kalau Pak Harto sudah nggak ada, kan susah. Yang banyak uang sebelum dia jatuh itu kan anak-anaknya," jelas Jimmy. *** KINI selangkah lagi Soeharto akan diajukan ke pengadilan. Mantan orang nomor satu dan terkuat di republik ini, akan duduk di kursi pesakitan. Tapi, karena kondisi kesehatannya, Soeharto tak memungkinkan dibawa ke meja hijau. Selain itu, keselamatan Soeharto akan terancam kalau ia benar-benar berani datang ke pengadilan. Dikhawatirkan akan ada reaksi keras baik dari yang pro maupun kontra. Ditengah penantian apakah Soeharto berani datang ke pengadilan atau tidak, belakangan ada isu bahwa lobi-lobi yang dilakukan oleh orang-orang Gus Dur sudah 'gol'. Konon, ada sejumlah orang yang mendapat tugas ke Swiss dan Belgia untuk mencairkan dana Soeharto. "Yang saya dengar mereka yang berangkat kesana adalah orang-orang dari BPPN," kata sumber Bangkit. Ketua PBHI Hendardi mengaku tidak percaya dengan informasi yang masih gress itu. Sebab, sejak awal ia merasa yakin bahwa harta kekayaan Soeharto yang disimpan di luar negeri bukan atas nama Soeharto. Kalau toh, dulu Andy M Ghalib (mantan jaksa agung) dan Muladi (mantan menteri kehakiman) pernah melakukan investigasi ke luar negeri untuk melacak rekening Soeharto, kata Hendardi, itu hanya guyonan saja. "Untuk melacak itu tidak mudah, karena menyangkut kerahasiaan bank," katanya. Jadi, meskipun Gus Dur telah mengetahui bahwa Soeharto mempunyai uang, namun pemerintah akan mengalami kesulitan untuk membongkar harta kekayaan itu. Apalagi memprosesnya melalui jalur hukum. "Saya kira orang semacam Soeharto tentu sangat canggih untuk menyimpan hartanya. Masak dia bilang nggak ada uang sepeser pun. Itu lebih dikarenakan mungkin tidak ada uang atas nama dia, tapi didistribusikan atas nama orang lain," tegas Hendardi. Orang dekat Gus Dur yang juga anggota DPR RI dari FPKB, Arifin Junaidi, mengaku tidak pernah mendengar isu itu -pemerintah mencairkan dana Soeharto. Tapi, ia justru bertanya kalau Soeharto dikatakan tidak mempunyai uang di luar negeri. "Masak sih nggak punya? Saya tahu, teman saya anaknya direktur bank, simpanannya di luar negeri banyak. Saya juga tahu, seorang dirjen simpanannya banyak," ungkapnya. Membongkar dimana harta Soeharto disimpan memang sulit. Apalagi, negeri ini belum memiliki kemampuan untuk mendeteksi kekayaan orang. Kata Laode Ida, kandidat doktor politik dari UI, upaya untuk membongkar harta karun itu bisa saja terjadi jika pemerintah menyewa orang-orang profesional dari luar negeri. "Tapi, akan habis juga uang kita. Seharusnya kita melakukan tindakan politik dahulu, bukan melakukan tindakan hukum," ungkap Laode Ida. Yang terjadi sekarang, malah sebaliknya. Pemerintah lebih dulu mengambil langkah-langkah yuridis. Padahal, kesalahan yang dilakukan Soeharto sangat politis dan taktis. "Mestinya semua harta kekayaannya diboikot, termasuk punya keluarganya. Bukan saja keluarga dia, juga konco-konco-nya, kroni-kroninya. Dan sekarang masih ada, termasuk Akbar Tandjung. Itu harus diusut. Kalau Soeharto saja yang diusut, orang-orang yang dulu jadi gubernur, kan cemburu, kecewa dia," ungkapnya. Jika itu yang terjadi -diskriminasi- mereka jelas Laode, akhirnya melakukan hal-hal yang bisa meresahkan masyarakat dengan caranya sendiri. "Saya kira mereka masih tetap mahir; melakukan berbagai hal yang tidak hanya menganggu stabilitas politik," katanya. Karena itu, Gus Dur kabarnya akan menempatkan Marsilam untuk menempati posisi di Kejaksaan Agung. Konon, Marsilam, yang dikenal sebagai pemikir, profesional dan aktivis Sosdem, akan membabat habis antek-antek Orba yang terlibat KKN. Cuma, "Agak sulit menghukum Soeharto, siapapun yang menjadi jaksa agung. Kalau hanya sasarannya Soeharto, itu tidak akan pernah berhasil. Soeharto tidak pernah rela untuk dihukum sendirian," jelas Laode Ida.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 12:16:22 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
