----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Ngeri...! Penculikan Aktivis Kambuh Lagi

Jum'at, 18 Agustus 2000
Bangkit Online

INI peringatan bagi aktivis parlemen jalanan. Mahasiswa jadi incaran
penculik. Pekan lalu, empat mahasiswa hingga saat ini belum ada kabarnya.
Kemana mereka? Siapa yang bertanggung jawab? Aksi teror rezim baru?

DEMOKRATISASI di era reformasi ternyata belum bisa menjamin kebebasan hak
masyarakat dalam mengeluarkan aspirasi. Zaman Orde Baru berkuasa teror,
intimidasi dan penculikan adalah metode yang dianggap efektif untuk
membungkam masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun, itu sudah berlalu.
Masyarakat kini bernapas lega menikmati kebebasan yang dijamin oleh
konstitusi sesuai yang diamanatkan dalam Pasal 28 UUD'45: kebebasan
berpendapat dan berserikat.

Tetapi sekarang menjadi sangat ironis bahwa ditengah kenikmatan reformasi
dan demokrasi, muncul lagi kasus-kasus 'mengerikan' seperti penculikan
aktivis mahasiswa. Dan yang paling gres, empat aktivis mahasiswa Bandung,
raib diduga diculik aparat. Konon, keempat mahasiswa itu hilang setelah
diangkut aparat kepolisian beberapa jam ketika mereka menggelar aksi mogok
makan di Gedung MPR/DPR RI Senayan Jakarta, Senin (14/8).

Mereka yang dinyatakan hilang adalah Idham Kurniawan (Unpad), Hasdam
(Unpad), Usep Setiawan (juru bicara) dari Unpad dan Anton Sulthon (STHB).

Benarkah polisi menculik mereka?

Tentu saja polisi membantah tudingan itu. Sebagai aparat penegak hukum dan
pengayom rakyat, mana mungkin mereka berani melakukan penculikan.
Kasubdispenum Mabes Polri, Senior Superintendent Saleh Saaf menjelaskan,
empat aktivis yang kondisinya waktu itu agak mengkhawatirkan rencananya
hendak dibawa ke rumah sakit Kramat Djati setelah sebelumnya diberi makan.

Namun secara tiba-tiba tepatnya digedung KPU Jl Imam Bonjol, keempat
mahasiswa meminta diturunkan untuk menghubungi keluarganya. "Kalaupun
keberadaan mereka sekarang ini tidak diketahui, itu bukan tanggungjawab
Polri lagi. Jangan-jangan mereka sengaja bersembunyi agar polisi
 disalahkan," ujarnya.

Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Drs Nurafizi, spontan kebakaran jenggot.
"Jangan begitulah. Kita ini kan sudah capek-capek mengamankan ST MPR kok
sekarang difitnah melakukan penculikan. Yang jelas itu fitnah," bantahnya
kepada wartawan.

***

KOORDINATOR Konsultan Konsorsium Pembaharuan Agraria, Dd Shineba, Selasa
(15/8) mengadukan hilangnya keempat anak buahnya kepada LBH, sebab
menurutnya, ada keganggalan-kejanggalan yang diperoleh ketika 50 personil
dari satuan Brimob menangkap keempat mahasiswa itu dengan alasan evakuasi.

"Tiga digotong aparat, diangkat ramai-ramai, dimasukkan ke mobil ambulan B
1187 SU (berlambang ruma sakit Kramat Djati) dan mobil berplat Polisi 1740
VII yang telah diparkir di Gedung Nuasantara," ujarnya seperti dikutip Metro
Bandung.

Sementara itu, katanya, seorang aktivis, bernama Usep -juru bicara aksi
mogok makan- ditendang dengan kaki bersepatu laras. Kemudian, ia dipaksa
masuk ke ambulan. Namun setelah dicek di rumah sakit Kramat Djati, ternyata
tidak ada. Karena itu Shineba mengecek ke Kaditinterpam dan Kaditserse Polda
metro Jaya, tetapi hasilnya nihil.

Menurut informasi yang berkembang, aksi mogok makan yang dilakukan dari
pukul 11.00 WIB sampai 19.30 Wib (hampir 9 jam) adalah kawasan steril dan
tepat di depan pintu para anggota dewan melintas. Sehingga terpaksa mereka
dievakuasi. Itupun sudah atas rekomendasi anggota majelis, untuk dipindahkan
di tempat lain.

Kasus penculikan itu tentu saja menjadi bahasan tersendiri bagi Kontras,
sebuah lembaga yang selama ini getol melawan pelaku penculikan khususnya
yang dilakukan oleh oknum militer. Atas kasus itu, Kontras mendesak Polri
untuk segera menjelaskan keberadaan empat aktivis Pembaharuan Agraria (GPA)
itu. "Kami mendesak Polri agar menghentikan praktek tidak kejahatan
kemanusiaan yang dilakukan aparat keamanan," kata Munarman SH. Sebab, dari
analisis Kontras, ambulan yang dipakai membawa aktivis hanya kamuflase
(trik) untuk menolong. Padahal, korban diculik. "Mereka kan masih dibilang
segar karena baru mogok enam jam -masih bisa berjalan. Kenapa pakai ambulan
kalau mau menolong," tanya Munarman.

Karena itu, sikap keras datang dari berbagai elemen gerakan mahaiswa
khususnya di Bandung. Mereka menilai penangkapan dan pengusiran diduga atas
sepengetahuan Sekjen MPR/DPR. Bila itu yang terjadi, ini membuktikan bahwa
DPR bukan saja menolak aspirasi masyarakat tetapi membiarkan tindak
kekerasan terjadi di gedung itu. Wah, gawat! Kenapa mahasiswa melakukan
mogok makan? Mereka melakukan gugatan agar pemerintah mau merubah nasib
petani dan melakukan pembahruan agraria. Selain itu, mereka juga menghendaki
pembangunan kembali struktur sosial masyarakat pedesaan yang menjamin
kepemilikan tanah sebagai sumber kesejahteraan. Lainnya, menuntut
penghapusan konsentrasi kepemilikan tanah serta kekayaan sumber daya alam.
Mereka juga menuntut kepastian status hak masyarakat adat atas tanah dan
kekayaan alam.

"Ketika sidang umum tahun lalu mreka bejanji melalu Panitia Ad Hoc II bahwa
mereka akan membuat ketetapan tentang agraria yang baru. Namun tanpa alasan
yang jelas, dalam sidang tahunan ini masalah itu langsung dianulir," kata
Koordinator GPA, Dd Sineba. "Bagi kami ini adalah ironi demokrasi," tegas
Marman aktivis lainnya. Apakah karena tuntutan itu mereka dilenyapkan?
Mungkin kekuatan Orba ketakutan jika reformasi di bidang agraria
dlakukan!***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 12:16:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke