---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Jeffrey A Winters: Status Quo Minus Soeharto Masih Ada TEMPO Interaktif Sosok Jeffrey A. Winters selalu hadir setiap kali Indonesia menggelar hajatan besar. Saat Pemilu tahun lalu, misalnya, ia terlihat mondar-mandir di tempat penghitungan suara. Pengamat Ekonomi dan Politik Indonesia dari Northwestern University, Amerika Serikat ini memang akrab dengan Indonesia. Begitu pula saat Sidang Tahunan (ST), ia khusus datang untuk melihat dari dekat. "Lumayan tegang," ujarnya kepada TEMPO Interaktif, di Hotel Hyatt, Senin (14/8) lalu ketika ditanya pendapatnya soal ST. Namun, ia menyayangkan tim ekonomi pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang dinilainya masih jalan di tempat. Tetapi, ia tidak sepenuhnya menyalahkan Gus Dur. Biang kerok lambannya pemulihan ekonomi, maraknya kerusuhan, lemahnya supremasi hukum adalah tetap rezim Orde Baru yang masih mendapat tempat di era reformasi seperti sekarang. "Kalau mau pemulihan ekonomi jalan, tangkap dulu 100 "penjahat", lalu patahkan sistem lama dan buka ruang untuk maju ke depan," ujarnya. Soal pelimpahan wewenang, ia sangat mendukung. Menurut dia, Wapres Megawati Soekarnoputri harus diberi kesempatan untuk menunjukan kemampuannya memimpin negara. Berikut petikan wawancara Febrina Siahaan dari TEMPO Interaktif dengan Jeffrey A Winters yang kini sedang menulis buku tentang kawasan industri di Indonesia: [Bagaimana Anda melihat pemulihan ekonomi Indonesia pasca pemerintahan Gus Dur? Apakah ada kemajuan atau malah kemunduran?] Kemunduran. Ada dua aspek penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Aspek investasi dan produksi serta aspek konsumsi. Kita melihat seakan-akan ekonomi Indonesia membaik selama 10 bulan ini karena growth rate-nya naik sedikit. Orang pun langsung berkesimpulan bahwa ekonomi makin sehat. Tapi terus terang: NO! Growth rate yang naik sedikit itu adalah karena meningkatnya konsumsi. Bukan karena investasi. Soal konsumsi ini, sebenarnya waktu Indonesia mulai krismon tahun 1997 masih ada over capacity. Daya konsumsi ini mungkin bersisa 10-12 bulan lagi ke depan. Tapi, kalau sesudah itu tidak ada juga investasi yang masuk, Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang kedua. Karena, tanpa investasi dan produksi serta konsumsi, ekonomi Indonesia tidak akan bisa jalan. Impossible. [Tapi, sinyal dari indikator makro kan positif. Misalnya, inflasi turun dan GDP naik perlahan?] Iya, tapi itu karena ada over capacity konsumsi sisa tahun-tahun yang lalu. Ekonomi Indonesia bisa dikatakan pulih kalau investasi sudah mulai masuk dalam jumlah yang tinggi. Tapi, faktanya sampai saat ini, baik investasi dalam maupun luar negeri belum ada yang masuk sama sekali. Masih NOL. [Kenapa bisa begitu? Padahal para menteri sudah melakukan road show. Bahkan Gus Dur sudah pergi kemana-mana?] Road show itu tidak ada artinya kalau policy-policy masih kacau dan situasi dalam negeri masih berbahaya. Ada bom meledak, ada kekerasan berskala kecil maupun besar. Dunia ini kan luas sekali. Para investor itu bisa datang ke banyak negara. Jadi, buat apa harus ke Indonesia saat ini, kalau masih ada negara lain yang sekuritinya lebih tinggi dan proses pemulihan ekonominya lebih baik? Indonesia sebenarnya dicuekin saat ini. Ini sangat menyedihkan. [Berdasarkan buku Anda 'Modal Berpindah Modal Berkuasa' terlihat bahwa kondisi Indonesia saat ini mirip dengan tahun 1966. Saat itu, semua investor kabur, inflasi tinggi, dan keamanan rendah. Tapi kok dulu investor bisa cepat digaet kembali?] Keadaannya agak berbeda. Memang benar bahwa dua zaman ini sama-sama mengalami krisis yang besar sekali. Tetapi, bedanya, krisis di Indonesia waktu itu tidak dalam jangka waktu yang panjang dan sifatnya tidak global. Saya melihat krisis sekarang ini sangat long term. Dan bedanya lagi, krisis politik waktu itu diselesaikan dengan sangat cepat, walaupun dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Saya tidak mengatakan bahwa sekarang harus diselesaikan dengan kekerasan juga. Tidak! Tapi krisis ekonomi waktu itu memang hanya berlangsung sekitar satu tahun. Krisis politiknya juga hanya satu tahun. Memasuki tahun 1967, kekuasaan sepenuhnya sudah diambil alih Soeharto. Dia hanya tinggal power consolidation. Jadi berbeda. Saat itu dia juga sangat didukung dunia internasional. [Tetapi saat ini kan semua rakyat mendukung Gus Dur. Begitu juga dengan dunia internasional. Yang tidak mendukung paling hanya beberapa elit politik.] Begini. Masalah di Indonesia sekarang bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, masalah teknis, seperti apakah kabinetnya baik atau tidak, apakah sebagai Presiden dan Kepala Pemerintahan Gus Dur memiliki kemampuan atau tidak, apakah harus ada power sharing, dan lain-lain. Itu semua masalah teknis. Tapi, ada juga masalah yang sifatnya sistem. Dan keduanya itu menghalangi Indonesia untuk maju kedepan. Memang dari sisi teknis ada masalah. Dan itu bisa dialamatkan kepada Gus Dur. Tapi, itu bukan karena Gus Dur tidak mau menjalankan pemerintahan ini secara baik. Kita semua juga harus sadar bahwa dia punya hambatan fisik. Itu agak sulit untuk diatasi. Kalaupun misalnya fisik beliau 100 persen sehat, saya tetap melihat ada masalah sistem, yang saya sebut politicus interuptus. [Maksudnya?] Kata lainnya reformasi interuptus. Ada satu momen, yaitu awal tahun 1998, saat Soeharto digantikan B.J Habibie. Ketika itu reformasi berhenti total, ter-interrupt. Saat itu, seluruh gerakan reformasi seperti 'dibutakan'. Mereka tidak bisa menangkap fakta bahwa sebenarnya antara Habibie dan Soeharto tidak ada perbedaan. Mungkin karena saat itu gerakannya terlalu personalistik. Terlalu ditujukan kepada Soeharto dan keluarganya saja. Itu salah. Mestinya, gerakannya ditujukan kepada sistem yang dibentuk oleh Soeharto selama 32 tahun. Kalau saja reformasi terus berjalan, tanpa interupsi, pasti saat itu juga Habibie ditolak sebagai pemimpin. Lalu MPR yang dipilih pada Pemilu 1997 dibubarkan. Golkar juga dilarang sebagai suatu partai. Tapi, itu semua tidak terjadi. Karena, itu semua ibaratnya adu tinju. Yang satu dipukulin terus sampai lemah. Tapi bukannya di KO-kan, malah lawannya itu dibiarkan duduk dipojok, diberi air, dikipasi, diberi kesempatan untuk istirahat, dan akhirnya dibiarkan kembali bertanding. Itu yang terjadi dengan Orde baru selama ini. Status quo minus Soeharto masih tetap ada. Makanya reformasi seperti tidak bergerak ke mana-mana. Kalau mau pemulihan ekonomi jalan, tangkap dulu 100 'penjahat' lalu patahkan sistem lama dan buka ruang untuk maju ke depan. [Bagaimana caranya mematahkan sebuah sistem yang begitu kuat. Apakah ini artinya semua produk Orde Baru harus ditangkapi?] Tidak perlu begitu. Untuk merobohkan sebuah gedung, tidak perlu semua ruangnya dibom. Pilar-pilarnya saja. Saya rasa tidak perlu saya yang membuat daftar orang-orang Orde Baru yang masih bercokol hingga sekarang. Yang jelas, jangan mulai dengan Syahril Sabirin (Gubernur Bank Indonesia non-aktif -red). Kalau kita lihat daftar orang-orang di Indonesia yang pantas diadili, mungkin dia diurutan ke 3.000. Tapi, anehnya malah dia yang duduk di penjara. Jadi, tangkap orang yang terjahat disini dan adili secara tegas. [Kalau tim ekonomi sekarang bagaimana? Apa benar mereka 'tidak jalan'?] Kalau dibilang 'tidak jalan', itu tidak benar. Yang benar adalah tidak jalan sama sekali. Pertama, tim ekonomi itu bukan benar-benar tim. Mereka hanya beberapa orang yang tidak sepaham dan sepakat. Ada dari partai ini, partai itu. Jadi kalau disebut tim itu hanya mitos. Mereka bukan tim, mereka bertentangan satu sama lain. Mereka bisa bersama (di kabinet), hanya karena politik daging sapi. [Jadi, menurut Anda menteri-menteri ekonomi harus datang dari satu partai?] Pokoknya begini, sebuah tim ekonomi harus terdiri dari orang-orang yang kuat dan bisa bekerjasama antar sesama menteri, juga dengan pimpinan negara. Kalau antara menteri dalam negeri dengan menteri olah raga tidak ada kesepahaman, itu tidak masalah. Tapi untuk tim ekonomi berbeda. Karena integrasi antara perdagangan, eknomi, BI, investasi BUMN, dan BPPN sangat erat sekali. Kalau tidak sepaham, ya seperti sekarang ini. Mereka saling menuding, menyalahkan. Akibatnya, roda ekonomi Indonesia selama 10 bulan ini berputar di tempat. Tapi itu tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan ke menteri-menteri ekonomi. Situasi politik memang tidak mendukung. Mana ada yang mampu mendatangkan investor ke sini? Kalau investor luar negeri sana membaca tentang pengeboman, rusuh Ambon, Aceh, Papua, dan sebagainya. Para manager yang datang ke Indonesia biasanya selalu membawa keluarganya juga. Mereka pasti berpikir,"Kalau saya sedang jalan di Imam Bonjol, jangan-jangan nanti ada bom meledak." Akhirnya mereka lebih memilih Cina, Vietnam, Korea, atau negara lain. [Tim ekonomi berhasil menjadwal ulang hutang luar negeri pemerintah di forum Paris Club. Apakah Anda tidak melihat ini sebagai satu kesuksesan?] Itu bukan kesuksesan. Itu kan hanya memundurkan pembayarannya jadi beberapa tahun ke depan. Mereka sukses kalau berhasil mengurangi jumlah hutang. Dan jumlah hutang Indonesia memang sudah harus dikurangi. Jumlah total hutang Indonesia sekarang Rp 600-700 triliun. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia memang tidak akan mati, tapi juga tidak akan hidup. Harus ada debt reduction atau pemotongan hutang. Nigeria sudah berhasil mendapat potongan hutang dari kreditur. Indonesia belum karena memang belum mencoba. [Tapi, Kwik Kian Gie pernah bercerita, jangankan meminta potongan hutang, baru mendengar isu tentang itu saja IMF dan Bank Dunia sudah marah dan mengancam putus hubungan dengan Indonesia?] Biar. Biarkan saja mereka marah. Bank Dunia dan IMF jauh lebih butuh Indonesia ketimbang Indonesia butuh mereka. Kedua lembaga itu sekarang sedang mengalami krisis kepercayaan internasional, jadi ini saatnya Indonesia meminta hair cut (pemotongan hutang). [Jadi mana yang harus dipulihkan dulu, keamanan atau ekonomi?] Kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan. Menyimak ulasan Anda di atas, sepertinya pemerintahan Gus Dur selama ini memang belum menghasilkan apa-apa. Ekonomi jalan di tempat dan politik serta keamanan juga tidak stabil. Ya, saya setuju. Tapi salah kalau kita terlalu mengalamatkan semua kegagalan itu kepada Gus Dur. Dan ini adalah catatan juga bagi siapapun yang akan menggantikan Gus Dur. Harus disadari bahwa belum tentu dengan adanya perbaikan hal-hal teknis, seperti kabinet baru atau presiden baru, lantas semuanya bisa selesai. Yang pertama harus diselesaikan adalah reformasi yang dimulai tahun 1997-1998. Indonesia ini kasus yang sangat aneh. [Kenapa begitu?] Coba lihat. Di Kuba, diktator Batista yang berhasil dijatuhkan oleh sekelompok masyarakat pada akhirnya lari keluar negeri. Lalu Duvalie di Haiti, Somoza di Nikaragua, Marcos di Filipina, Mobutu di Kongo, dan Reza Pahlevi di Iran. Mereka semua adalah diktator yang sangat lama berkuasa di negaranya dengan sistem kroni. Mereka membuat diri mereka kaya dengan cara merugikan negara. Mereka semua dijatuhkan oleh masyarakat dan semuanya lari ke luar negeri. Tapi, itu tidak terjadi dengan Soeharto di Indonesia. Mereka tetap di sini tanpa rasa takut. Seluruh sistem yang mereka bentuk juga tetap. Akibatnya bagaimana? Ya begini. Itu semua kelemahan dari gerakan reformasi di Indonesia yang terbentuk secara instan. Sehingga, leadership-nya lemah dan visinya pun belum jelas. Sewaktu Soeharto jatuh, mahasiswa jadi kaget. "Lo, sekarang kita harus bagaimana?" Mereka juga jadi bingung mau berbuat apa sewaktu Habibie naik. Tapi sedikit banyak itu juga dipengaruhi juga oleh peranan agama dalam politik Indonesia. [Maksudnya?] Mahasiswa kan terdiri dari berbagai organisasi yang punya akar yang berbeda-beda. Ada sebagian yang melihat Habibie sebagai sosok ICMI yang beragama Islam. Langsung yang ditonjol-tonjolkan adalah Islam dan ICMI-nya. Reformasi jadi terlupakan. Akibatnya mahasiswa juga jadi pecah. Status quo kembali merajalela. Dan yang berkuasa waktu itu (pro status quo - red) tahu betul bahwa mereka bisa mengadu domba mahasiswa dan berbagai golongan di Indonesia ini untuk kepentingan mereka. [Jadi dalang berbagai kerusuhan yang berbau SARA adalah orang-orang pro status quo juga?] O, iya. Saya yakin itu. Karena di seluruh dunia, jarang ada perang di antara suku dan bangsa yang terjadi spontan dari 'bawah'. Pasti ada yang menggerakkan. Lihat saja di Yugoslavia. Beraneka ragam suku di sana tinggal bersama dengan damai saat di bawah kepemimpinan Tito. Tapi begitu Tito tidak ada, muncul beberapa leader yang menonjolkan perbedaan. Orang yang tadinya tetangga jadi saling memusuhi. Nah, salah satu kehebatan Gus Dur adalah kemampuannya meredam semua isu-isu SARA. Kenapa Gus Dur begitu dicintai di luar negeri? Karena dia itu dianggap sebagai a renaissance man. Toleransinya tinggi sekali. Mungkin di seluruh Indonesia tidak ada satu orang Indonesia pun yang kadar toleransinya seperti dia. [Saat ini Gus Dur akan berbagi tugas dengan Wapres Megawati. Apakah akan membawa perubahan?] Tergantung. Kalau hanya perubahan teknis, maka tidak akan ada perbaikan. Kalau sistem lama itu tidak dihilangkan dengan alasan tidak berani atau tidak bisa, Indonesia tidak bisa keluar dari polemik sekarang ini. [Tapi apakah Mega mampu melakukan perubahan itu? Apalagi kalau melihat sikapnya yang seperti selama ini?] Dia bisa berbuat apa. Memangnya sebagai Wapres dia punya power apa. [Lo, Mega kan sudah diserahi tugas untuk menyelesaikan konflik di Indonesia bagian Timur?] Saya pernah mewawancarai Ibu Mega mengenai masalah ini. Dia bilang itu semua seperti trap (jebakan). Presiden mengumumkan bahwa ia diserahi masalah Maluku dan Irian Jaya. Tapi Mega tidak diberikan power sama sekali. Saat itu, Mega bilang kepada saya,"Tidak ada yang namanya SK Wapres dan tidak pernah ada kekuasaan tertulis lain." Jadi selama ini perbedaan policy di antara Gus Dur dan Megawati untuk masalah Indonesia Timur cukup besar. Dan usul Megawati tidak pernah didengar oleh Gus Dur. Dengan kata lain, dia memang diset-up supaya terlihat tidak kompeten. Saya punya dua contoh yang kongkrit. Saat Laksar Jihad mau berangkat ke Ambon, Mega bilang agar Ambon dijadikan wilayah tertutup. Gus Dur tidak mau. Akibatnya, Jihad masuk ke sana dan keadaan semakin gawat saja. Lalu masalah di Irian Jaya. Mega mengatakan agar jangan ada bendera lain yang dikibarkan. Merah Putih harus tetap satu-satunya. Semua masalah ketidakpuasan rakyat Irian saat Orba dulu akan dibicarakan, tapi jangan bicara tentang separatisme. Sayangnya, Gus Dur membiarkan saja bendera lain dikibarkan. [Apakah Gus Dur mungkin mengulangi lagi hal yang sama terhadap Mega?] Justru Ibu Mega belajar dari pengalaman itu. Makanya ia terus menerus menuntut soal Tap MPR, agar pelimpahan wewenang itu jangan jadi sekedar jebakan lagi. Termasuk ketegasan soal wewenang Wapres mengangkat menteri-menteri. Karena kalau nanti yang memilih tetap Gus Dur, sementara Kepala Pemerintahan sehari-hari adalah Mega, kan lucu. Nanti menteri-menteri bingung,sebenarnya bos saya yang mana? Apakah Gus Dur yang bisa mengangkat dan memberhentikan saya, atau Megawati?*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 12:18:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
