----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kata rekonsiliasi sekarang ini, menjadi semacam slogan atau jargon yang
setiap
hari dapat dibaca, didengar dan disaksikan bertebaran di media serta
terlontar
dari mulut kalangan para elit maupun tokoh kalau boleh disebut begitu. Paham
maupun tidak makna dari kata tersebut yang penting agar tidak terkesan
kedodoran
cara bernalarnya dan supaya dapat akses namanya dikutip dan disiarkan oleh
media.
Maka dengan gegap gempita dilontarkanyalah model dan konsep maupun teori
yang
dijiplaknya dari buku maupun pengalaman warga Negara Bangsa lain. Suatu
model
dan konsep maupun teori yang berpijak pada awan-awan sebagaimana biasa
diutarakan
kalangan para elit maupun tokoh masa lalu. Hingga sekarang masih saja
pola-pola
semacam itu digunakan dan dipakai selalu meski sekarang zaman sudah berubah
dan pendekatan terhadap masalahpun haruslah dilakukkan dengan cara lain.

Pengalaman dari suatu warga Negara Bangsa lain untuk rekonsiliasi tidaklah
mudah
untuk dapat diadopsi dan diterapkan kepada warga Negara Bangsa sendiri.
Karena
banyaknya factor yang dapat mendorong terjadinya proses rekonsilasi itu
tidaklah
sama persis apalagi akan berjalan mudah dan memberikan hasil yang sama.
Bolehlah
mengacu kepada keberhasilan warga dari Negara Bangsa Afrika Selatan dan
Amerika
Selatan sebagai suatu pola atau model mendoromg terciptanya rekonsiliasi.
Tetapi
yang harus dipahami secara mendasar adalah religiusnitas dari mayoritas
penghuni
warga Negara Bangsa setelah itu barulah apek-aspek lain yang melekat
padanya.

Secara umum dalam tingkat akar rumput yang merupahkan mayoritas dari segenap
warga sangatlah mudah untuk diarahkan dan dihimbau. Apalagi bila dibarengi
dengan
perilaku dari elit maupun tokoh pimpinanya baik yang formal maupun informal.
Maksudnya adalah contoh nyata kepada segenap warga dengan perilaku yang
dapat
mengkondisikan terciptanya rekonsiliasi. Dengan berprilaku lebih
mengedepankan
kepada cita-cita mula Negara Bangsa diproklamirkan oleh para pendiri sebagai
reaktualisasi penentuan nasib sendiri atas seluruh warga. Tidak tergantung
kepada
Negara Bangsa lain atau bahkan belas kasihan dengan menggantungkan nasib
kepada
mereka untuk merubahnya lebih baik.

Pada intinya rekonsiliasi dapat terwujud bilamana para elit maupun para
tokoh
rela dan mau menerima segala kepahitan. Konsekwensi dari berubahnya
paradigma
penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijaksanaan dari atas ke bawah menjadi
dari
bawah ke atas. Oleh karena itu sebagian dari privileges yang dinikmatinya
selama
ini akan dengan sendirinya menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya.
Kerelaan
untuk menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya selama memegang kekuasaan
maupun menentukan kebijaksanaan. Sangatlah penting agar terjadi suatu titik
keseimbangan kembali setelah lebih dari 32 tahun menjadi eksperimen dan
bahan
isapan para penguasa.

Rekonsiliasi harus dimulai dari para elit maupun tokoh, disinilah sebenarnya
inti sari dari dapat terciptanya rekonsiliasi. Sayangnya para elit maupun
tokoh
sebagian besar adalah terlalu egosentris  hanya mementingkan diri sendiri,
keluarga
dan golongan serta kelompok kepentingannya. Sedangkan rekonsiliasi dapat
terwujud
apabila hanya mengusung semua persamaan dan menjauhkan perbedaan. Bila
berbicara
untuk Negara Bangsa sendiri sangatlah susah mendapatkan para elit maupun
tokoh
yang benar-benar bekerja ikhlas untuk segenap warga. Sekarang disini untuk
mendapatkan
tiga sosok yang benar-benar berpengaruh kuat dan berwibawa serta
berkarismatik
di hadapan segenap warga sangatlah sulit.

Beda dengan di Afrika Selatan misal, dimana dapat ditemukan elit maupun
tokoh
yang benar-benar berjuang untuk Negara Bangsa agar tidak terpuruk setelah
apartheid
dibubarkan. Disana ada elit maupun tokoh di bidang agama seperti Uskup
Desmond
Tutu,  pejuang yang bukan pendendam Nelson Mandela maupun bekas penguasa
yang
rela kehilangan kekuasaan F.W. De Klerk. Dengan sifat yang dimiliki oleh
setiap
elit maupun tokoh itu, maka sangat beruntunglah warga Afrika Selatan
dibimbing
keluar dari kegelapan akan terjadinya perpecahan atau disintegrasi. Menilik
reputasi masing-masing elit maupun tokoh tidak usah diragukan lagi
perjuangan
mereka demi menjaga martabat Negara Bangsa di mata dunia. Kecuali itu,
mayoritas
dari warganya adalah pemeluk agama yang relatif lebih terbuka dan mau
menerima
nilai-nilai baru yang dipadukan sesuai dengan ajaran dan keyakinanya
tesrebut.

Bandingkanlah dengan di Negeri sendiri, mayoritas masih tidak dapat menerima
akan keaneka ragaman, makanya kerusuhan mudah terjadi dengan memanfaatkan
sentimen
keagamaan. Parahnya para elit maupun tokoh sangatlah senang bermain dengan
sentimen
keagamaan tersebut untuk mendapatkan legimitasi dan kekuatan tawar kepada
pihak
diluarnya baik bagi Pemerintah maupun komponen lainya dalam Negara Bangsa.
Dasarnya
memang sudah sangat lapuk, pengajaran tentang nilai yang merekatkan warga
penghuni
kepulauan menjadi Indonesia tidak meresap ke dalam jiwa dan kesadaran semua,
hanya terbatas kepada kalangan tertentu semata. Dari dicetuskannya sumpah
pemuda
 hingga diproklamirkan berdirinya Negara Bangsa Indonesia  hanya memakan
waktu
sekitar 17 tahun. Ditambah lagi dengan pembangunan kebangsaan  selama kurang
lebih 20 tahun hingga  sampai terjadinya suatu peralihan kekuasaan.

Tamatlah pengajaran untuk membangun kesadaran akan perlunya memiliki rasa
senasib
dan sepenangungan, menjadi pelupaan akan cita-cita pada awal mula.
Pembangunan
material digenjot habis-habisan, kebebasan untuk bereskpresi dan
mengeluarkan
pendapat dibungkam erat. Sebagian besar dari para elit maupun tokoh
berlomba-lomba
menumpuk harta benda bagi diri, golongan dan kelompok kepentingannya
sendiri.
Pengabdian tanpa ada kesempatan untuk beradu argumentasi dan konsep, tiada
kata
bantah apalagi menentang bila tidak ingin tersingkirkan atau disingkirkan.
Semuanya
dapat berjalan dengan lancar sebagaimana  ditunjukkan oleh gemerlap dari
namanya
pembangunan nasional. Bangunan, gedung, jembatan, jalan dan prasaranan umum
seakan  saling berlomba-lomba menunjukan kesuksesan konsep yang diyakininya.
Sebenarnya dibalik semuanya ternyata hasilnya adalah cuma membagi rejeki ke
masing-masing instansi dan para elit maupun tokoh penguasanya, sedang
sebagian
besar warga biasa sekedar sebagai korban.

Di sinilah sebenarnya awal dari tragedi kehidupan berbangsa bernegara
dimulai,
pembangunan dititik beratkan hanya pada materi semata. Sedangkan pembangunan
kerohanian hanya sekedar seremonial belaka tidak menanamkan norma dan nilai
umum sebagai kebaikan bersama. Dengan konsepnya para elit maupun tokoh telah
mengkondisikan dan merancang suatu skenario dengan sadar maupun tidak untuk
dapat berkelit ketika diminta pertanggungjawabannya. Karakter dari para elit
maupun tokohpun sebagian besar berjiwa sebagai penguasa bukanya pelayan
terhadap
warga yang mempercayainya menjadi pimpinanya. Untuk  dapat terselenggaranya
suatu pemerintahan yang berorintasi kepada pelayanan dan memperlancar urusan
warga kepada sesama maupun kepada pemerintahannya sendiri.

Memang sangat berat untuk memulai suatu penyadaran bersama sebagai warga
suatu
Negara  Bangsa yang sedang mempunyai banyak permasalahan. Semua akan
berakhir
dengan baik bilamana semua warga sadar bahwa Negeri ini dibangun untuk rumah
bersama. Bukan hanya milik suatu pribadi, golongan maupun kepentingannya
sendiri
melainkan semua komponen yang mendiaminya. Tidak ada rasa paling berjasa
dengan
menaifkan yang lainya, apalagi dengan mencari sutu pembenaran bahwa karena
terbesar
golongan dan kelompoknya seharusnyalah mendapatkan yang lebih istimewa.

Penegakan hukum dan peraturan sangat berperan penting didalam menopang
terciptanya
kondisi yang kondunsif untuk rekonsiliasi. Semua pelanggaran dan penggunaan
kekuasaan secara sewenang-wenang harus dihadapkan ke depan meja hijau. Tidak
pandang bulu, siapapun yang bersalah harus menanggung konsekwensi dari
kesalahan
yang diperbuatnya. Apakah dia sebagai warga biasa maupun kebetulan
mendapatkan
mandat sebagai pemimpin dalam lingkar para elit maupun tokoh karena memang
berkemampuan
lebih. Pengusutan terhadap perbuatan melanggar hukum dan peraturan tidak
boleh
berhenti karena dinilai sangat berjasa atau memiliki suatu kekuatan tawar
terhadap
pemerintah.

Warga Negara Bangsa Afrika Selatan dan beberapa  di Amerika Selatan dapatlah
dikatakan sangat diuntungkan karena para elit maupun tokohnya memiliki jiwa
besar untuk menyadari kesalahanya waktu berkuasa. Dengan meminta maaf secara
tulus ikhlas ke segenap warga serta bersedia untuk mempertanggungjawabakan
semua
perbuatan atau tindakan yang pernah diperbuatnya. Akan menjadikan lebih
mudah
dapat terciptanya rekonsiliasi secara tulus dan ikhlas bukan paksaan bahkan
hanya cuma sekedar make up.

Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi warga terutama untuk para elit
maupun tokohnya mulai sadar atau tidak dengan posisinya itu. Posisi sebagai
panutan secara moral maupun kemampuan ekonominya secara financial dapat
digunakan
memperlancar semakin cepatnya proses rekonsiliasi. Menjadi pertanyaan disini
adalah apakah mereka, para elit maupun tokoh itu berkehendak hati
mengharapakan
kehidupan bernegara berbangsa kembali aman dan nyaman atau bahkan
sebaliknya?
Dengan membuat dan mendanai kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif bukanya
untuk
menunjang berlangsungnya rekonsiliasi secara natural atas kemauan semua
warga
melainkan memelihara dan melestarikan pertentangan. Karena ketakutan atau
untuk
menyelamatkan kepentingannya dari pengusutan dan pengadilan . Sebelum ada
kesadaran
dan dimulai dari kalangan merekat, rekonsilasi bakalan tidak akan bisa
terwujud
apapun usaha yang dijalankannya. Tenaga, dana dan pikiran akan menjadi
kesia-siaan
belaka tanpa mendapatkan hasil optimal seperti dikehendaki bersama.

Di Negara Bangsa Afrika Selatan maupun Amerika Selatan mempunyai elit maupun
tokoh pimpinan yang memiliki kesadaran tinggi dalam melihat masa depan
segenap
warganya. Mereka bukan mementingkan keinginan sendiri kecuali hanya untuk
kebesaran
nama Negara Bangsa saja. Ambilah contoh seperti di Afrika Selatan, memiliki
tokoh-tokoh dan elit-elit yang memang benar-benar berjuang untuk semua.
Uskup
Desmon Tutu adalah mempunyai pengaruh besar dikalangan warga sebagaimana
uskup-uskup
di Amerika Selatan yang berpengaruh kuat. Sehingga apabila fatwa keluar dari
mulutnya maka segenap warga kalau tidak sebagian besar dari warga akan
mentaati
dan mematuhi.Inilah kunci yang sangat berperan agar berlangsung dan
terciptanya
 rekonsiliasi dimana peran besar dari agama atau regiliusnitas umat dapat
digarap
untuk menuju ke kebaikan.Berlawanan atau kontradiksi dengan Negara Bangsa
sendiri
terbalik 180 derajat dari ke dua belahan benua tersebut bahkan para elit
maupun
tokoh agama memperalat hanya untuk kepentingan sesaat.

Kemudian Nelson Mandela seorang pejuang yang menentang apartheid hidupnya
sebagian
besar masuk keluar penjara tidak angkuh untuk meraih ambisi. Menjadi
presidenpun
sebenarnya bukanlah ambisinya karena keinginan dari  sebagian besar wargalah
dia bersedia memangku jabatan tersebut. Sebagai orang yang menderita atas
perjuangannya
tidak  mendendam kepada bekas musuh-musuhnya bila boleh disebut begitu.
Bahkan
dengan lapang dada memberikan maaf dan ampunan dengan pertama kali harus
mengakui
kesalahan yang pernah diperbuatnya. Dan paling akhir adalah bekas penguasa
F.W.
De Klerk dengan jiwa besar melepaskan semua kekuasaan yang pernah
dipegangnya
untuk diserahkan kepada pemenang pemilu dalam hal ini ANC. Semua kenikmatan
yang dikecapnya ketika masih berkuasa dengan besar jiwa dilepaskanya bukan
justru
dikakanginya dengan memakai berbagai alasan. Sedangkan yang paling penting
adalah
pengakuan dan permintaan maaf atas segala kebijaksanaan yang pernah
dijalankannya
di masa apharteid.

Apakah kondisi semua ini dapat ditemukan di antara para elit maupun tokoh
dari
pimpinan sendiri? Jawabanan adalah tidak! Kalaupun dapat ditemukan tidak
memiliki
kewibawaan dan pengaruh yang dalam terhadap akar rumput secara luas
melainkan
hanya sebatas komunitasnya sendiri. Kalau membandingkannya pengaruh dari
elit
maupun tokoh  di kedua benua tersebut miriplah ketika awal Negara Bangsa ini
dibangun, ketika dwitunggal proklamator Soekarno-Hatta dan para elit maupun
tokoh bahu membahu tanpa dibebani dengan mendahulukan kepentingannya kecuali
hanya untuk segenap warga. Bolehlah para elit maupun tokoh dan pakar
menyatakan
pemimpin yang berwibawa dan karismatik tidak lagi dibutuhkan oleh Negara
Bangsa.
Tetapi harus disadari sebagian besar warga dalam berperilaku di kehidupannya
merasa lebih mantap menuruti ujaran dari para elit maupun tokoh yang
berwibawa
dan karismatik sebagai panutannya. Karena harus disadari bahwa rata-rata
tingkat
pendidikan dari warga sangatlah rendah walaupun ada yang berpendidikan
tinggi.
Tetapi kewibawaan dan karismatik seorang elit atu tokoh terbentuk oleh
karena
kepribadian yang sudah baik semenjak awalnya sehingga memiliki pengaruh
kuat.

Krisis yang terjadi disebabnya hilangnya kewibawaan dari para elit atau
tokoh
yang seharusnya menjadi jangkar agar tidak oleng digempur oleh berbagai
gelombang.
Harapan besar memang sempat tersirat ketika Gus Dur-Megawati naik ke puncak
kekuasaan sebagai RI-1 dan RI-2 tetapi sayang komposisi dari kabinet yang
begitu
beragam dari semua parpol peraih suara Pemilu menjadikan program tidak
berjalan.
Karena masing-masing hanya mengurusi kepentingan parpol tempatnya bukannya
untuk
bekerja demi segenap warga meski ada juga yang bekerja dengan integritas
diri
tinggi. Penjungkir balikan nilai-nilai maupun norma-norma universal tentang
demokrasi menjadikan warga semakin berpola fikir jungkir balik pula.
Pengaruh
dari pendidikan para elit maupun tokoh yang memiliki gelar akademis yang
tinggi
dibandingkan dengan warga biasa yang bernalar kebanyakan dengan melalui
nuraninya
bukan dengan cara akal-akalan.

Mereferensi kebelakang himbauan maupun ajakan untuk berbuat sesuai dengan
hukum
dan peraturan tidak akan efektif bilamana tidak diikuti dengan ketegasan.
Bertindak
tegas adalah sangat perlu dan prinsip HAM harus ditempatkan pada hubungannya
antar warga dan juga dengan negara. Tanpa diikuti dengan pengertian seperi
itu
maka HAM akan teriduksir menjadi sifat kebinatangan yang dilestarikan oleh
manusia.
Pukulan memang perlu diterapkan apabila sudah dihimbau dan disarankan masih
juga ndableg alias tidak berperasaan lagi. Karena berarti bukan manusia lagi
melainkan adalah binatang sebab sudah tidak dapat menilai atau mempunyai
rasa
kemanusian sebagiamana ujudnya sebagai manusia.

Tidak perlu dilupakan juga kampanye yang terus menerus melalui media, dengan
memberikan suatu ajaran guna menunjang rekonsiliasi. Media yang sangat
efektif
adalah audiovisual baik melalui televisi maupun layar lebar. Dengan media
yang
hidup lewat gambar-gambar akan mudah diserap oleh sebagian besar warga.
Bagaimana
warga akan teraduk-aduk perasaanya ketika melihat adegan-adegan yang
menyentuh
hati nuraninya. Melihat dan menyaksikan penderitaan karena konfik maupun
karena
kebijaksanaan yang keliru yang diputuskan oleh elit maupun tokoh pimpinan.
Seperti
film life is beautiful atau la vista de bella sangatlah bagus untuk dapat
ditayangkan
melalui televisi maupun bioskop keliling. Disitu bisa dipetik suatu
pelajaran
bagaimana apapun namanya kekerasan, peperangan dan lainnya akan meninggalkan
penderitaan baik sesaat maupun rentetanya kelak. Bukan seperti film
pengkianatan
G30S PKI yang tidak mengajarkan sesuatu secara universal melainkan hanya
dalam
satu sisi yaitu pengkianatan itu sendiri. Kekejaman harus dibalas dengan
kekejaman
bakan harus lebih kejam agar mempunyai nilai psikologis  dan penjeraan
terhadap
lainnya.

Langkah kecil yang sudah dijalankan pemerintah adalah dengan melepaskan
seluruh
narapidana maupun tahanan politik patut dipuji. Bukannya berarti kemudian
rekonsiliasi
akan dengan mudah dapat terwujud walaupun didukung dengan kebijaksanaan
menerima
kembali warga yang mengasingkan diri ke luar negeri sebab politik. Karena
rekonsiliasi
sebenarnya bukan berkenanan dengan dilepas maupun diterimanya kembali
melainkan
bagaimana lingkaran elit maupun tokoh masing-masing kelompok dapat sepaham.
Tentang keinginan sebenarnya terhadap masa depan dari Negara Bangsa ini
sendiri,
karena ditanganyalah kontra rekonsiliasi diciptakan. Oleh daripada itu
terwujudnya
rekonsiliasi dan penegakan hukum haruslah melalui langkah-langkah sebagai
berikut:

Segenap aparat penegak hukum dan peraturan harus keras terhadap dirinya
sendiri
sebelum dapat menertibkan pelanggaran yang terjadi di tengah warga.
Pelanggaran-pelanggaran
yang sudah menjadi kebiasaan selama ini haruslah diluruskan kembali. Tidak
membiarkannya
bahkan ikut-ikutan semakin menambah permasalahan yang sudah menjadi penyakit
kronis di tengah warga. Dengan memberikan contoh yang benar yaitu menjunjung
rasa dan nilai keadilan yang umum bukanya untuk kepentingan sesaat dan
sempit
semata. Kalau tidak boleh disebut hanya untuk menumpuk harta benda dan
mempopulerkan
namanya.

Ditegakannya hukum dan peraturan yang keras kepada mantan maupun pendatang
baru
para elit maupun tokoh sesuai dengan hukum dan peraturan. Tidak ada yang
namanya
berjasa apabila selama mendapatkan mandat dari warga sudah dan akan
menyelewengkan
kekuasaan yang dipercayakannya. Semua warga sama kedudukannya dalam hukum
dan
peraturan tidak ada yang istimewa , diistemewakan apalagi diatasnya.
Sehingga
segenap warga sadar akan konsekwensi yang diterimanya dan akan berfikir
ulang
untuk berbuat serta bertindak diluar hukum dan peraturan.

Militer harus menata ulang dirinya kembali dalam pengabdiannya kepada Negara
Bangsa sebagaimana awal dari cita-cita dibentuknya. Setelah berbuat
kesalahan
yang sangat fatal dengan menjadi bagian dari kekuasaan dengan berkedokan
kepada
dwi fungsi. Kesalahan yang benar-benar dimanfaatkan oleh bagian darinya
sendiri
untuk melanggengkan kekuasaan dan mendapatkan privelenges atas kemauanya
untuk
ditunggangi. Dalam hal ini adalah kasus yang melibatkan ABRI atau TNI
sekarang,
 pada matra Angkatan Darat. Panglima TNI sangat berperan besar dalam
membidani
kelahiran militer untuk keduakalinya dan sosok yang sangat brilliant
diharapkan
dari sini.

Keinginan dan kemauan dari matan dan pendatang baru para elit maupun tokoh
untuk
kembali sadar dan disadarkan akan kedudukan yang diembanya itu. Jiwa besar
sangatlah
dituntut dari mereka untuk menerima kesalahan yang pernah dan akan
dilakukkan
serta menerima segala konsekwensinya atas kesalahan tersebut. Janganlah
berkelit
bahkan mengikutkan instasi apalagi dengan menyalahkan pihak lain sehingga
persoalan
menjadi rumit dan kusut. Akuilah secara terbuka dan terus terang kesalahan
itu
adalah kesalahan yang dilakukkan secara pribadi bukannya institusi sehingga
gampang untuk menyelesaikannya. Apalagi dibarengi oleh permintaan maaf yang
tulus dan ikhlas pastilah warga akan mengenangnya

Penyadaran akan pentingnya panutan terhadap perilaku segenap elit maupun
tokoh
baik yang lokal maupun menasional untuk berbuat dan bertindak sesuai
korindor
kebangsaan. Dalam situasi Negara Bangsa tidak sedang normal kepeloporan
untuk
selalu mengedepankan kepentingan seluruh warga adalah sangat penting sekali
dijalankan. Untuk sementara kalau tidak ingin tetap, perilaku yang hanya
mementingkan
diri, golongan maupun kelompok kepentingannya sendiri harus dibuang
jauh-jauh.
Sebab Negara Bangsa ini sangatlah beraneka ragam untuk itu penyadaran
terhadap
kenyataan tersebut harusnya sedari dini dapat ditularkan ke generasi
selanjutnya.

Media komunikasi massa harus dipakai secara optimal dengan melakukan
kampanye
yang terus menerus secara wajar tanpa terkesan membombadir kalayak yang
dituju.
Kerjasama erat dengan semua media, apalagi pengelola media yang memiki
kesadaran
akan misi atas tugas sebagai pembawa pencerahan terutama terhadap persatuan
dan kesatuan sebagai bagian dari suatu warga dari Negara Bangsa. Bukan cuma
sebagai corong kepentingan yang sekedar partisan untuk dapat mencapai
oplaknya
dengan meniscayakan misi sebagai media yang informatif  memberitakan suatu
peristiwa
tanpa memprovokasi. Lebih sangat berfaedah bilamana pengelola media tersebut
meliput maupun melaporkan suatu peristiwa atau kejadian dengan melakukkan
banyak
pertimabangan kecuali meliput dikedua sisi kejadian dengan seimbang.

Itulah beberapa titik fokus yang mestinya menjadi bagian standar dari setiap
warga didalam pengabdiannya kepada Negara Bangsa bilamana memang memimpikan
dapat berperan sebagai Negara Bangsa yang bermartabat di dunia. Tidak
usahlah
bermimpi muluk-muluk dengan segala teknologi tinggi maupun tinggal landas
dan
pasar bebas yang menjadi agenda dari pemerintahan masa lalu. Sekarang yang
nyata
dan ada dihadapan adalah kehancuran yang sangat parah terhadap semua
sendi-sendi
kehidupan disegenap warga dalam meniti hidup kesehariannya. Dengan tentunya
pertama kali menciptakan harmonisasi kembali setelah berserakan dengan
konflik
yang dipelihara oleh penguasa masa lalu atau oleh para elit maupun  tokoh
yang
kepentingannya terancam. Bagaimana dapat memenuhi dengan segala kekurangan
yang
ada terhadap keinginan segenap warga khususnya yang paling bawah terhadap
keadilan,
kejujuran dan keikhlasan demi pengabdian  kepadanya.

Salam

HAJI (Harus Adil Jujur Ikhlas)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Aug 2000 jam 12:48:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke