---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Kata rekonsiliasi sekarang ini, menjadi semacam slogan atau jargon yang setiap hari dapat dibaca, didengar dan disaksikan bertebaran di media serta terlontar dari mulut kalangan para elit maupun tokoh kalau boleh disebut begitu. Paham maupun tidak makna dari kata tersebut yang penting agar tidak terkesan kedodoran cara bernalarnya dan supaya dapat akses namanya dikutip dan disiarkan oleh media. Maka dengan gegap gempita dilontarkanyalah model dan konsep maupun teori yang dijiplaknya dari buku maupun pengalaman warga Negara Bangsa lain. Suatu model dan konsep maupun teori yang berpijak pada awan-awan sebagaimana biasa diutarakan kalangan para elit maupun tokoh masa lalu. Hingga sekarang masih saja pola-pola semacam itu digunakan dan dipakai selalu meski sekarang zaman sudah berubah dan pendekatan terhadap masalahpun haruslah dilakukkan dengan cara lain. Pengalaman dari suatu warga Negara Bangsa lain untuk rekonsiliasi tidaklah mudah untuk dapat diadopsi dan diterapkan kepada warga Negara Bangsa sendiri. Karena banyaknya factor yang dapat mendorong terjadinya proses rekonsilasi itu tidaklah sama persis apalagi akan berjalan mudah dan memberikan hasil yang sama. Bolehlah mengacu kepada keberhasilan warga dari Negara Bangsa Afrika Selatan dan Amerika Selatan sebagai suatu pola atau model mendoromg terciptanya rekonsiliasi. Tetapi yang harus dipahami secara mendasar adalah religiusnitas dari mayoritas penghuni warga Negara Bangsa setelah itu barulah apek-aspek lain yang melekat padanya. Secara umum dalam tingkat akar rumput yang merupahkan mayoritas dari segenap warga sangatlah mudah untuk diarahkan dan dihimbau. Apalagi bila dibarengi dengan perilaku dari elit maupun tokoh pimpinanya baik yang formal maupun informal. Maksudnya adalah contoh nyata kepada segenap warga dengan perilaku yang dapat mengkondisikan terciptanya rekonsiliasi. Dengan berprilaku lebih mengedepankan kepada cita-cita mula Negara Bangsa diproklamirkan oleh para pendiri sebagai reaktualisasi penentuan nasib sendiri atas seluruh warga. Tidak tergantung kepada Negara Bangsa lain atau bahkan belas kasihan dengan menggantungkan nasib kepada mereka untuk merubahnya lebih baik. Pada intinya rekonsiliasi dapat terwujud bilamana para elit maupun para tokoh rela dan mau menerima segala kepahitan. Konsekwensi dari berubahnya paradigma penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijaksanaan dari atas ke bawah menjadi dari bawah ke atas. Oleh karena itu sebagian dari privileges yang dinikmatinya selama ini akan dengan sendirinya menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya. Kerelaan untuk menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya selama memegang kekuasaan maupun menentukan kebijaksanaan. Sangatlah penting agar terjadi suatu titik keseimbangan kembali setelah lebih dari 32 tahun menjadi eksperimen dan bahan isapan para penguasa. Rekonsiliasi harus dimulai dari para elit maupun tokoh, disinilah sebenarnya inti sari dari dapat terciptanya rekonsiliasi. Sayangnya para elit maupun tokoh sebagian besar adalah terlalu egosentris hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan golongan serta kelompok kepentingannya. Sedangkan rekonsiliasi dapat terwujud apabila hanya mengusung semua persamaan dan menjauhkan perbedaan. Bila berbicara untuk Negara Bangsa sendiri sangatlah susah mendapatkan para elit maupun tokoh yang benar-benar bekerja ikhlas untuk segenap warga. Sekarang disini untuk mendapatkan tiga sosok yang benar-benar berpengaruh kuat dan berwibawa serta berkarismatik di hadapan segenap warga sangatlah sulit. Beda dengan di Afrika Selatan misal, dimana dapat ditemukan elit maupun tokoh yang benar-benar berjuang untuk Negara Bangsa agar tidak terpuruk setelah apartheid dibubarkan. Disana ada elit maupun tokoh di bidang agama seperti Uskup Desmond Tutu, pejuang yang bukan pendendam Nelson Mandela maupun bekas penguasa yang rela kehilangan kekuasaan F.W. De Klerk. Dengan sifat yang dimiliki oleh setiap elit maupun tokoh itu, maka sangat beruntunglah warga Afrika Selatan dibimbing keluar dari kegelapan akan terjadinya perpecahan atau disintegrasi. Menilik reputasi masing-masing elit maupun tokoh tidak usah diragukan lagi perjuangan mereka demi menjaga martabat Negara Bangsa di mata dunia. Kecuali itu, mayoritas dari warganya adalah pemeluk agama yang relatif lebih terbuka dan mau menerima nilai-nilai baru yang dipadukan sesuai dengan ajaran dan keyakinanya tesrebut. Bandingkanlah dengan di Negeri sendiri, mayoritas masih tidak dapat menerima akan keaneka ragaman, makanya kerusuhan mudah terjadi dengan memanfaatkan sentimen keagamaan. Parahnya para elit maupun tokoh sangatlah senang bermain dengan sentimen keagamaan tersebut untuk mendapatkan legimitasi dan kekuatan tawar kepada pihak diluarnya baik bagi Pemerintah maupun komponen lainya dalam Negara Bangsa. Dasarnya memang sudah sangat lapuk, pengajaran tentang nilai yang merekatkan warga penghuni kepulauan menjadi Indonesia tidak meresap ke dalam jiwa dan kesadaran semua, hanya terbatas kepada kalangan tertentu semata. Dari dicetuskannya sumpah pemuda hingga diproklamirkan berdirinya Negara Bangsa Indonesia hanya memakan waktu sekitar 17 tahun. Ditambah lagi dengan pembangunan kebangsaan selama kurang lebih 20 tahun hingga sampai terjadinya suatu peralihan kekuasaan. Tamatlah pengajaran untuk membangun kesadaran akan perlunya memiliki rasa senasib dan sepenangungan, menjadi pelupaan akan cita-cita pada awal mula. Pembangunan material digenjot habis-habisan, kebebasan untuk bereskpresi dan mengeluarkan pendapat dibungkam erat. Sebagian besar dari para elit maupun tokoh berlomba-lomba menumpuk harta benda bagi diri, golongan dan kelompok kepentingannya sendiri. Pengabdian tanpa ada kesempatan untuk beradu argumentasi dan konsep, tiada kata bantah apalagi menentang bila tidak ingin tersingkirkan atau disingkirkan. Semuanya dapat berjalan dengan lancar sebagaimana ditunjukkan oleh gemerlap dari namanya pembangunan nasional. Bangunan, gedung, jembatan, jalan dan prasaranan umum seakan saling berlomba-lomba menunjukan kesuksesan konsep yang diyakininya. Sebenarnya dibalik semuanya ternyata hasilnya adalah cuma membagi rejeki ke masing-masing instansi dan para elit maupun tokoh penguasanya, sedang sebagian besar warga biasa sekedar sebagai korban. Di sinilah sebenarnya awal dari tragedi kehidupan berbangsa bernegara dimulai, pembangunan dititik beratkan hanya pada materi semata. Sedangkan pembangunan kerohanian hanya sekedar seremonial belaka tidak menanamkan norma dan nilai umum sebagai kebaikan bersama. Dengan konsepnya para elit maupun tokoh telah mengkondisikan dan merancang suatu skenario dengan sadar maupun tidak untuk dapat berkelit ketika diminta pertanggungjawabannya. Karakter dari para elit maupun tokohpun sebagian besar berjiwa sebagai penguasa bukanya pelayan terhadap warga yang mempercayainya menjadi pimpinanya. Untuk dapat terselenggaranya suatu pemerintahan yang berorintasi kepada pelayanan dan memperlancar urusan warga kepada sesama maupun kepada pemerintahannya sendiri. Memang sangat berat untuk memulai suatu penyadaran bersama sebagai warga suatu Negara Bangsa yang sedang mempunyai banyak permasalahan. Semua akan berakhir dengan baik bilamana semua warga sadar bahwa Negeri ini dibangun untuk rumah bersama. Bukan hanya milik suatu pribadi, golongan maupun kepentingannya sendiri melainkan semua komponen yang mendiaminya. Tidak ada rasa paling berjasa dengan menaifkan yang lainya, apalagi dengan mencari sutu pembenaran bahwa karena terbesar golongan dan kelompoknya seharusnyalah mendapatkan yang lebih istimewa. Penegakan hukum dan peraturan sangat berperan penting didalam menopang terciptanya kondisi yang kondunsif untuk rekonsiliasi. Semua pelanggaran dan penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang harus dihadapkan ke depan meja hijau. Tidak pandang bulu, siapapun yang bersalah harus menanggung konsekwensi dari kesalahan yang diperbuatnya. Apakah dia sebagai warga biasa maupun kebetulan mendapatkan mandat sebagai pemimpin dalam lingkar para elit maupun tokoh karena memang berkemampuan lebih. Pengusutan terhadap perbuatan melanggar hukum dan peraturan tidak boleh berhenti karena dinilai sangat berjasa atau memiliki suatu kekuatan tawar terhadap pemerintah. Warga Negara Bangsa Afrika Selatan dan beberapa di Amerika Selatan dapatlah dikatakan sangat diuntungkan karena para elit maupun tokohnya memiliki jiwa besar untuk menyadari kesalahanya waktu berkuasa. Dengan meminta maaf secara tulus ikhlas ke segenap warga serta bersedia untuk mempertanggungjawabakan semua perbuatan atau tindakan yang pernah diperbuatnya. Akan menjadikan lebih mudah dapat terciptanya rekonsiliasi secara tulus dan ikhlas bukan paksaan bahkan hanya cuma sekedar make up. Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi warga terutama untuk para elit maupun tokohnya mulai sadar atau tidak dengan posisinya itu. Posisi sebagai panutan secara moral maupun kemampuan ekonominya secara financial dapat digunakan memperlancar semakin cepatnya proses rekonsiliasi. Menjadi pertanyaan disini adalah apakah mereka, para elit maupun tokoh itu berkehendak hati mengharapakan kehidupan bernegara berbangsa kembali aman dan nyaman atau bahkan sebaliknya? Dengan membuat dan mendanai kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif bukanya untuk menunjang berlangsungnya rekonsiliasi secara natural atas kemauan semua warga melainkan memelihara dan melestarikan pertentangan. Karena ketakutan atau untuk menyelamatkan kepentingannya dari pengusutan dan pengadilan . Sebelum ada kesadaran dan dimulai dari kalangan merekat, rekonsilasi bakalan tidak akan bisa terwujud apapun usaha yang dijalankannya. Tenaga, dana dan pikiran akan menjadi kesia-siaan belaka tanpa mendapatkan hasil optimal seperti dikehendaki bersama. Di Negara Bangsa Afrika Selatan maupun Amerika Selatan mempunyai elit maupun tokoh pimpinan yang memiliki kesadaran tinggi dalam melihat masa depan segenap warganya. Mereka bukan mementingkan keinginan sendiri kecuali hanya untuk kebesaran nama Negara Bangsa saja. Ambilah contoh seperti di Afrika Selatan, memiliki tokoh-tokoh dan elit-elit yang memang benar-benar berjuang untuk semua. Uskup Desmon Tutu adalah mempunyai pengaruh besar dikalangan warga sebagaimana uskup-uskup di Amerika Selatan yang berpengaruh kuat. Sehingga apabila fatwa keluar dari mulutnya maka segenap warga kalau tidak sebagian besar dari warga akan mentaati dan mematuhi.Inilah kunci yang sangat berperan agar berlangsung dan terciptanya rekonsiliasi dimana peran besar dari agama atau regiliusnitas umat dapat digarap untuk menuju ke kebaikan.Berlawanan atau kontradiksi dengan Negara Bangsa sendiri terbalik 180 derajat dari ke dua belahan benua tersebut bahkan para elit maupun tokoh agama memperalat hanya untuk kepentingan sesaat. Kemudian Nelson Mandela seorang pejuang yang menentang apartheid hidupnya sebagian besar masuk keluar penjara tidak angkuh untuk meraih ambisi. Menjadi presidenpun sebenarnya bukanlah ambisinya karena keinginan dari sebagian besar wargalah dia bersedia memangku jabatan tersebut. Sebagai orang yang menderita atas perjuangannya tidak mendendam kepada bekas musuh-musuhnya bila boleh disebut begitu. Bahkan dengan lapang dada memberikan maaf dan ampunan dengan pertama kali harus mengakui kesalahan yang pernah diperbuatnya. Dan paling akhir adalah bekas penguasa F.W. De Klerk dengan jiwa besar melepaskan semua kekuasaan yang pernah dipegangnya untuk diserahkan kepada pemenang pemilu dalam hal ini ANC. Semua kenikmatan yang dikecapnya ketika masih berkuasa dengan besar jiwa dilepaskanya bukan justru dikakanginya dengan memakai berbagai alasan. Sedangkan yang paling penting adalah pengakuan dan permintaan maaf atas segala kebijaksanaan yang pernah dijalankannya di masa apharteid. Apakah kondisi semua ini dapat ditemukan di antara para elit maupun tokoh dari pimpinan sendiri? Jawabanan adalah tidak! Kalaupun dapat ditemukan tidak memiliki kewibawaan dan pengaruh yang dalam terhadap akar rumput secara luas melainkan hanya sebatas komunitasnya sendiri. Kalau membandingkannya pengaruh dari elit maupun tokoh di kedua benua tersebut miriplah ketika awal Negara Bangsa ini dibangun, ketika dwitunggal proklamator Soekarno-Hatta dan para elit maupun tokoh bahu membahu tanpa dibebani dengan mendahulukan kepentingannya kecuali hanya untuk segenap warga. Bolehlah para elit maupun tokoh dan pakar menyatakan pemimpin yang berwibawa dan karismatik tidak lagi dibutuhkan oleh Negara Bangsa. Tetapi harus disadari sebagian besar warga dalam berperilaku di kehidupannya merasa lebih mantap menuruti ujaran dari para elit maupun tokoh yang berwibawa dan karismatik sebagai panutannya. Karena harus disadari bahwa rata-rata tingkat pendidikan dari warga sangatlah rendah walaupun ada yang berpendidikan tinggi. Tetapi kewibawaan dan karismatik seorang elit atu tokoh terbentuk oleh karena kepribadian yang sudah baik semenjak awalnya sehingga memiliki pengaruh kuat. Krisis yang terjadi disebabnya hilangnya kewibawaan dari para elit atau tokoh yang seharusnya menjadi jangkar agar tidak oleng digempur oleh berbagai gelombang. Harapan besar memang sempat tersirat ketika Gus Dur-Megawati naik ke puncak kekuasaan sebagai RI-1 dan RI-2 tetapi sayang komposisi dari kabinet yang begitu beragam dari semua parpol peraih suara Pemilu menjadikan program tidak berjalan. Karena masing-masing hanya mengurusi kepentingan parpol tempatnya bukannya untuk bekerja demi segenap warga meski ada juga yang bekerja dengan integritas diri tinggi. Penjungkir balikan nilai-nilai maupun norma-norma universal tentang demokrasi menjadikan warga semakin berpola fikir jungkir balik pula. Pengaruh dari pendidikan para elit maupun tokoh yang memiliki gelar akademis yang tinggi dibandingkan dengan warga biasa yang bernalar kebanyakan dengan melalui nuraninya bukan dengan cara akal-akalan. Mereferensi kebelakang himbauan maupun ajakan untuk berbuat sesuai dengan hukum dan peraturan tidak akan efektif bilamana tidak diikuti dengan ketegasan. Bertindak tegas adalah sangat perlu dan prinsip HAM harus ditempatkan pada hubungannya antar warga dan juga dengan negara. Tanpa diikuti dengan pengertian seperi itu maka HAM akan teriduksir menjadi sifat kebinatangan yang dilestarikan oleh manusia. Pukulan memang perlu diterapkan apabila sudah dihimbau dan disarankan masih juga ndableg alias tidak berperasaan lagi. Karena berarti bukan manusia lagi melainkan adalah binatang sebab sudah tidak dapat menilai atau mempunyai rasa kemanusian sebagiamana ujudnya sebagai manusia. Tidak perlu dilupakan juga kampanye yang terus menerus melalui media, dengan memberikan suatu ajaran guna menunjang rekonsiliasi. Media yang sangat efektif adalah audiovisual baik melalui televisi maupun layar lebar. Dengan media yang hidup lewat gambar-gambar akan mudah diserap oleh sebagian besar warga. Bagaimana warga akan teraduk-aduk perasaanya ketika melihat adegan-adegan yang menyentuh hati nuraninya. Melihat dan menyaksikan penderitaan karena konfik maupun karena kebijaksanaan yang keliru yang diputuskan oleh elit maupun tokoh pimpinan. Seperti film life is beautiful atau la vista de bella sangatlah bagus untuk dapat ditayangkan melalui televisi maupun bioskop keliling. Disitu bisa dipetik suatu pelajaran bagaimana apapun namanya kekerasan, peperangan dan lainnya akan meninggalkan penderitaan baik sesaat maupun rentetanya kelak. Bukan seperti film pengkianatan G30S PKI yang tidak mengajarkan sesuatu secara universal melainkan hanya dalam satu sisi yaitu pengkianatan itu sendiri. Kekejaman harus dibalas dengan kekejaman bakan harus lebih kejam agar mempunyai nilai psikologis dan penjeraan terhadap lainnya. Langkah kecil yang sudah dijalankan pemerintah adalah dengan melepaskan seluruh narapidana maupun tahanan politik patut dipuji. Bukannya berarti kemudian rekonsiliasi akan dengan mudah dapat terwujud walaupun didukung dengan kebijaksanaan menerima kembali warga yang mengasingkan diri ke luar negeri sebab politik. Karena rekonsiliasi sebenarnya bukan berkenanan dengan dilepas maupun diterimanya kembali melainkan bagaimana lingkaran elit maupun tokoh masing-masing kelompok dapat sepaham. Tentang keinginan sebenarnya terhadap masa depan dari Negara Bangsa ini sendiri, karena ditanganyalah kontra rekonsiliasi diciptakan. Oleh daripada itu terwujudnya rekonsiliasi dan penegakan hukum haruslah melalui langkah-langkah sebagai berikut: Segenap aparat penegak hukum dan peraturan harus keras terhadap dirinya sendiri sebelum dapat menertibkan pelanggaran yang terjadi di tengah warga. Pelanggaran-pelanggaran yang sudah menjadi kebiasaan selama ini haruslah diluruskan kembali. Tidak membiarkannya bahkan ikut-ikutan semakin menambah permasalahan yang sudah menjadi penyakit kronis di tengah warga. Dengan memberikan contoh yang benar yaitu menjunjung rasa dan nilai keadilan yang umum bukanya untuk kepentingan sesaat dan sempit semata. Kalau tidak boleh disebut hanya untuk menumpuk harta benda dan mempopulerkan namanya. Ditegakannya hukum dan peraturan yang keras kepada mantan maupun pendatang baru para elit maupun tokoh sesuai dengan hukum dan peraturan. Tidak ada yang namanya berjasa apabila selama mendapatkan mandat dari warga sudah dan akan menyelewengkan kekuasaan yang dipercayakannya. Semua warga sama kedudukannya dalam hukum dan peraturan tidak ada yang istimewa , diistemewakan apalagi diatasnya. Sehingga segenap warga sadar akan konsekwensi yang diterimanya dan akan berfikir ulang untuk berbuat serta bertindak diluar hukum dan peraturan. Militer harus menata ulang dirinya kembali dalam pengabdiannya kepada Negara Bangsa sebagaimana awal dari cita-cita dibentuknya. Setelah berbuat kesalahan yang sangat fatal dengan menjadi bagian dari kekuasaan dengan berkedokan kepada dwi fungsi. Kesalahan yang benar-benar dimanfaatkan oleh bagian darinya sendiri untuk melanggengkan kekuasaan dan mendapatkan privelenges atas kemauanya untuk ditunggangi. Dalam hal ini adalah kasus yang melibatkan ABRI atau TNI sekarang, pada matra Angkatan Darat. Panglima TNI sangat berperan besar dalam membidani kelahiran militer untuk keduakalinya dan sosok yang sangat brilliant diharapkan dari sini. Keinginan dan kemauan dari matan dan pendatang baru para elit maupun tokoh untuk kembali sadar dan disadarkan akan kedudukan yang diembanya itu. Jiwa besar sangatlah dituntut dari mereka untuk menerima kesalahan yang pernah dan akan dilakukkan serta menerima segala konsekwensinya atas kesalahan tersebut. Janganlah berkelit bahkan mengikutkan instasi apalagi dengan menyalahkan pihak lain sehingga persoalan menjadi rumit dan kusut. Akuilah secara terbuka dan terus terang kesalahan itu adalah kesalahan yang dilakukkan secara pribadi bukannya institusi sehingga gampang untuk menyelesaikannya. Apalagi dibarengi oleh permintaan maaf yang tulus dan ikhlas pastilah warga akan mengenangnya Penyadaran akan pentingnya panutan terhadap perilaku segenap elit maupun tokoh baik yang lokal maupun menasional untuk berbuat dan bertindak sesuai korindor kebangsaan. Dalam situasi Negara Bangsa tidak sedang normal kepeloporan untuk selalu mengedepankan kepentingan seluruh warga adalah sangat penting sekali dijalankan. Untuk sementara kalau tidak ingin tetap, perilaku yang hanya mementingkan diri, golongan maupun kelompok kepentingannya sendiri harus dibuang jauh-jauh. Sebab Negara Bangsa ini sangatlah beraneka ragam untuk itu penyadaran terhadap kenyataan tersebut harusnya sedari dini dapat ditularkan ke generasi selanjutnya. Media komunikasi massa harus dipakai secara optimal dengan melakukan kampanye yang terus menerus secara wajar tanpa terkesan membombadir kalayak yang dituju. Kerjasama erat dengan semua media, apalagi pengelola media yang memiki kesadaran akan misi atas tugas sebagai pembawa pencerahan terutama terhadap persatuan dan kesatuan sebagai bagian dari suatu warga dari Negara Bangsa. Bukan cuma sebagai corong kepentingan yang sekedar partisan untuk dapat mencapai oplaknya dengan meniscayakan misi sebagai media yang informatif memberitakan suatu peristiwa tanpa memprovokasi. Lebih sangat berfaedah bilamana pengelola media tersebut meliput maupun melaporkan suatu peristiwa atau kejadian dengan melakukkan banyak pertimabangan kecuali meliput dikedua sisi kejadian dengan seimbang. Itulah beberapa titik fokus yang mestinya menjadi bagian standar dari setiap warga didalam pengabdiannya kepada Negara Bangsa bilamana memang memimpikan dapat berperan sebagai Negara Bangsa yang bermartabat di dunia. Tidak usahlah bermimpi muluk-muluk dengan segala teknologi tinggi maupun tinggal landas dan pasar bebas yang menjadi agenda dari pemerintahan masa lalu. Sekarang yang nyata dan ada dihadapan adalah kehancuran yang sangat parah terhadap semua sendi-sendi kehidupan disegenap warga dalam meniti hidup kesehariannya. Dengan tentunya pertama kali menciptakan harmonisasi kembali setelah berserakan dengan konflik yang dipelihara oleh penguasa masa lalu atau oleh para elit maupun tokoh yang kepentingannya terancam. Bagaimana dapat memenuhi dengan segala kekurangan yang ada terhadap keinginan segenap warga khususnya yang paling bawah terhadap keadilan, kejujuran dan keikhlasan demi pengabdian kepadanya. Salam HAJI (Harus Adil Jujur Ikhlas) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Aug 2000 jam 12:48:37 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
