----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kadispenad: �Belum Tentu Melibatkan Militer�
Sudah Diketahui, Pelaku Pemboman di Kejakgung

JAKARTA, (PR).-

Mabes Polri sudah mengetahui pelaku pemboman di Kejaksaan Agung (Kejakgung)
dan akan mengumumkannya kepada masyarakat Senin mendatang (10/7). Pelakunya
dua orang dan kini masih dalam pengejaran polisi.

Hal itu diungkapkan Kadispen Polri Brigjen Pol. Drs. Dadang Garnida di rumah
dinas Kapolri usai menghadiri selamatan ulangtahun ke-55 Kapolri Jenderal
Pol. Rusdihardjo, Jakarta, Jumat kemarin (7/7).

Sementara itu PT Pindad mengakui bahwa bahan peledak bom jenis TNT yang
ditemukan di gedung Kejaksaan Agung merupakan salah satu produknya yang
dihasilkan di sentra produksi Pindad yang berlokasi di Turen, Kab. Malang,
Jawa Timur (Jatim). Namun Pindad tidak bertanggung jawab terhadap
penggunaannya karena sejak 30 Desember 1996 bahan peledak jenis military one
(M-1) berdaya ledak tinggi itu sudah dikirim ke Mabes TNI AD.

"Kita memang memproduksi bahan peledak jenis TNT, namun mengenai siapa yang
menggunakan itu sudah bukan tanggungjawab Pindad lagi karena sejak 30
Desember 1996 sudah dikuasai Mabes AD," kata Direktur Produksi Militer PT
Pindad, Adik A Soedarsono, MSIE, PhD kepada pers di Bandung, Jumat (7/7).

Lagi pula, menurut Adik, sekalipun bahan peledak bom jenis TNT tersebut
buatan Pindad, namun Pindad tidak pernah memproduksi bom dalam kemasan
seperti yang ditemukan di Kejakgung.

Kadispen Polri menjelaskan, dari beberapa keterangan saksi, polisi
mendapatkan informasi ada dua orang terlihat membawa tas ransel parasut di
punggungnya, seorang lagi membawa tas jinjing. Mereka terlihat sebelum
peledakan terjadi. Polisi telah mencurigai kedua orang itu yang meletakkan
bom di sudut toilet, lantai dasar Gedung Bundar Kejakgung. "Saat ini, dari
beberapa kesaksian yang sudah kita peroleh, dua orang itu yang dicurigai
meletakkan bom di sana," jelas Dadang Garnida.

Namun Dadang belum bersedia menyebut identitas mereka. Ia berjanji akan
mengumumkannya Senin lusa. "Dari keterangan itu Polri menduga dan mencurigai
kedua orang tersebut sebagai pelaku. Nantilah perkembangan lebih lanjut saya
akan ungkap Senin. Mudah-mudahan saya bisa menjelaskan perkembangan yang
menggembirakan," katanya.

Sementara itu Kapolres Jakarta Selatan, Senior Superintendent Edward
Aritonang memaparkan, kecurigaan kepada para pelaku diketahui setelah
pihaknya memeriksa 9 saksi. "Dari hasil pemeriksaan para saksi itu, semuanya
menjurus ke arah ditemukannya tersangka. Kemungkinan dari sembilan orang itu
ada yang dijadikan tersangka," ujarnya.

Edward menolak untuk mengungkapkan nama-nama saksi yang diperiksa termasuk
yang akan menjadi tersangka dengan alasan pemeriksaan belum tuntas. "Yang
jelas siapapun yang ada saat itu baik orang dalam, tamu, hingga petugas
pembersih akan kita periksa," ujarnya.

Belum tentu libatkan militer

Sementara itu Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen
TNI FX Bachtiar mengatakan, dengan dikenalinya bom yang berlabel M-1 belum
tentu menunjukkan keterlibatan militer. Untuk itu, diperlukan penyelidikan
lebih jauh apakah benar berasal dari TNI AD. Hal itu dikatakan Bachtiar
menanggapi temuan Polri tentang bom di Kajakgung.

"Perlu penyelidikan karena bom itu tidak bisa jalan sendiri, pasti ada yang
membawa, merakit dan memasang. Dan, buku-buku tentang pengetahuan bahan
peledak dan penggunaannya sekarang beredar secara luas," katanya.

Diakuinya, Pindad adalah pabrik yang dulu memproduksi peralatan militer
untuk AD. Namun kini Pindad telah jadi BUMN dengan nama PT Pindad, dan
berada di bawah Kantor Menristek. Jadi, produk Pindad tidak lagi jadi
monopoli militer, terutama AD.

Bachtiar juga membantah kemampuan merakit bom hanya dimiliki militer. Ia
mencontohkan, nelayan menggunakan bom untuk menangkap ikan. Begitu juga
pekerja tambang.

Kepadanya ditanyakan tentang pernyataan pihak Pindad bahwa M-1 pernah
didistribusikan ke satuan AD. Menurut Bachtiar, setiap barang yang masuk
dibukukan oleh gudang. Begitu pula pengeluaran dan penggunaannya, baik untuk
latihan dan operasi.

Dia belum mengetahui bagaimana alur bom itu, Yang jelas, di AD penggudangan
alat-alat peledak dilakukan secara terpisah antara satu komponen dengan
komponen lainya, untuk kepentingan keamanan. Gudang mesiu dan detonator
misalnya, dipisahkan. Begitu juga senjata dan amunisi.

Bachtiar juga menuturkan mekanisme logistik ketika sebuah satuan memesan
peralatan militer. Hal itu dilakukan dari satuan terbawah, misal batalyon,
yang mengajukan ke brigade lalu ke logistik divisi, lalu sampai tingkat
Mabesad.

Namun setiap permintaan tidak begitu saja dipenuhi, tapi diperiksa apakah
benar ada kebutuhan untuk itu. Oleh karena itu, ia menyarankan agar polisi
terus melakukan langkah lanjutan untuk menyelidiki M-1 tersebut.

Sedangkan TNI AD akan siap membantu kelancaran penyidikan sekaligus apabila
ada personel yang terlibat akan ditindaklanjuti dengan tegas. Sebab, setiap
personel AD punya batas kewenangan. Jika batas itu dilanggar, akan diberikan
sanksi kepada mereka.

Perlu verifikasi

Selain granat, Pindad hanya memasok bom untuk pesawat terbang dengan kemasan
besi berbentuk kapsul berukuran 1,5 meter dengan kandungan TNT 500 gram dan
satu kemasan lagi panjangnya 25 cm.

"Kita memang memproduksi bahan peledak TNT, tetapi perlu diverifikasi apakah
seluruhnya buatan Pindad, karena kita hanya produksi enam macam produk TNT
blok," kata Adik.

Ke-6 produk TNT blok buatan Pindad terdiri atas jenis M-1 dan military two
(M-2). Jenis M1 kadar TNT-nya 60 gram, 120 gram, 160 gram dan 225 gram.
Sedangkan jenis M2 kadar TNT-nya 450 gram dan 500 gram.

Jenis M-1 memiliki TNT murni cor dengan tingkat terendah, namun daya
hancurnya lebih besar dari M-2. Hal ini disebabkan produk jenis M-1 bisa
dirangkai dengan sesama M-1 atau bahan peledak lainnya sehingga kekuatannya
bisa berlipat ganda. Sedangkan jenis M-2 tidak bisa dirangkai seperti M-1.

Selama ini, lanjut Adik, Pindad hanya memasok bahan peledak produksinya
hanya kepada TNI dan tidak pernah memasok ke pihak lain, termasuk Polri.
Setiap produk Pindad selalu tertulis jenis bahan peledak, logo Pindad dan
juga nomor lotnya. "Dengan nomor lot itu kita bisa lacak kapan dan kemana
barang itu di-delivery-kan," kata Adik.

Menurutnya, kecil sekali kemungkinan jika ada orang Pindad yang mengedarkan
bahan peledak, karena prosedur pengeluaran senjata, amunisi dan bahan
eksplosif lainnya buatan Pindad sangat ketat, serta harus menempuh birokrasi
yang berbelit karena melibatkan multi instansi, termasuk DPR.

Hasil verifikasi

Sementara itu, hasil verifikasi yang dilakukan jajaran Polri terhadap PT
Pindad yang logonya tercantum pada kemasan bom yang ditemukan di Kejakgung
menunjukkan bahwa bahan dasar bom tersebut memang diproduksi oleh PT Pindad.

Proses verifikasi yang berlangsung satu jam tersebut dilakukan Kapolwiltabes
Bandung Senior Super Intendent Alex Bambang Riatmodjo yang bertindak selaku
penyidik mewakili Polres Metro Jakarta Selatan. Hasil verifikasi tersebut
kemudian dibuat berita acara dengan PT Pindad.

"Setelah kita tanyakan pada Pindad dan mereka bilang memang memproduksi
dalam bentuk blok yang berisi TNT," kata Alex kepada pers didampingi Dirut
PT Pindad Budi Santoso dan Direktur Produksi Militer PT Pindad Adik A.
Soedarsono.

Menurut Riatmodjo, bom yang ditemukan di Kejakgung merupakan TNT yang
dikemas dalam gulungan kertas sehingga daya ledaknya tidak terlalu besar.
TNT tersebut merupakan jenis bahan peledak yang punya daya hancur kuat dan
diproduksi PT Pindad di sentra produksi Turen Malang Jatim yang dikirim ke
salah satu gudang TNI pada 30 Desember 1996.

Namun Riatmodjo menegaskan, pihaknya tidak tahu bagaimana sampai bahan
peledak tersebut bisa keluar dari gudang. Begitu juga apakah barang itu
dicuri dari gudang atau di tengah perjalanan saat pengiriman, ia tidak tahu.
"Secara pribadi saya mengatakan bahwa kasus ini sangat serius dan merupakan
bentuk terorisme yang membahayakan keselamatan, makanya saya datang ke
Pindad untuk membantu Polres Jakarta Selatan," katanya.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jul 2000 jam 08:16:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke