----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

DPR Tolak Beli 'Air Force One'!

detikcom - Jakarta,

Bisa jadi, angan-angan Presiden Gus Dur naik Air Force One versi Indonesia,
tinggal kenangan belaka. Pasalnya, DPR secara tegas menyatakan menolak
rencana itu.

"DPR akan menolaknya karena menambah defisit," tegas dari Ketua Panitia
Anggaran Abdullah Zainie di sela-sela pembahasan RAPBN 2001 dengan
pemerintah di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/9/2000).

Sebagaimana diketahui, Presiden Gus Dur menjajaki beli 'Air Force One'
sebagai pesawat kepresidenan dari Boeing. Pesawat itu seharga USD 50-60 juta
atau mendekati setengah triliun rupiah.

"DPR tidak melarang pemerintah mengajukan rencana itu. Namun soal diterima
atau tidak, itu wallahu alam. Tapi kemungkinan besar, DPR akan menolaknya
karena menambah defisit," tegas Abdullah Zainie yang berasal dari Fraksi
Partai Golkar ini.

Menurut dia, kalau pun usulan itu di panitia anggaran itu bisa lolos,
keputusannya akan tetap dibawa ke rapat paripurna dan di sanalah akan
dilakukan voting. "Seharusnya, rencana itu dibicarakan lebih dulu dengan
DPR. Namun sampai saat ini, hal itu belum pernah dilaksanakan. Jadi baru
keputusan pemerintah sendiri," papar Zainie.

"Padahal, semua masalah yang menyangkut anggaran, harus dibicarakan secara
transparan dengan panitia anggaran. Pemerintah perlu meminta pendapat rakyat
untuk menyatakan setuju atau tidak. Jadi panitia anggaranlah yang memutuskan
apakah kita perlu menggunakan anggaran untuk membeli pesawat kepresidenan
atau tidak," jelas Zainie.

Dirjen Anggaran Depkeu Ashari Ritonga sendiri terlihat bingung menanggapi
ide beli 'Air Force One'. Dia secara tidak langsung menyatakan keberatannya
dengan rencana itu mengingat saat ini anggaran masih mengalami defisit.

Sebagaimana diketahui, untuk APBN 2000, defisit mencapai Rp 44,1 triliun.
Sedang RAPBN 2001, defisit mencapai Rp 52,9 T. Defisit itu akan ditutup
melalui privatisasi BUMN, penjualan aset BPPN dan utang luar negeri.

Untuk anggaran 2000 saja, target privatisasi tidak tercapai sedang hasil
penjualan aset BPPN masih tanda tanya. Sedang nasib RAPBN 2001 belum
diputuskan, masih dalam pembahasan di DPR dengan pemerintah.

"APBN 2000 dan 2001 mengalami defisit cukup besar rata-rata 3,7% dari Produk
Domestik Bruto (PDB)," kata Ashari. "Saya tanya Anda, Anda kan tahu,
anggaran sudah defisit. Kalau ingin defisitnya bertambah, ya silakan saja.
Soal itu, diperkirakan akan memberatkan anggaran," ungkap Ashari di
sela-sela RAPBN 2001 dengan Panitia Anggaran di Gedung DPR.

Saat ditanya akan diambil dari pos belanja yang mana pesawat itu, Ashari
menjawab tidak tahu. "Saya minta Anda bertanya langsung ke Presiden Gus Dur
mengingat rencana pembelian pesawat itu belum pernah dibicarakan sama
sekali," kata mantan Dirjen Pajak ini.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Sep 2000 jam 05:08:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke